Pada
tahun 1966 para umat Buddha di kota Blitar, khususnya yang biasa
hanya mengadakan
puja bhakti di rumah sendiri secara perseorangan dan sporadis, mulai
berinisiatif untuk mengadakan puja bhakti secara "arisan".
Disebut sebagai "arisan" adalah karena sistem puja bhakti
ini diadakan secara berpindah - pindah dari satu rumah ke rumah
yang lainnya. Kebaktian arisan yang diadakan setiap hari Kamis malam
ini dapat bertahan selama kurang lebih dua tahun. Ketidaktetapan
lokasi puja bhakti ini ternyata mengetuk hati kedermawanan Bapak
Viriyacitra Suroto sekeluarga. Mereka dengan tulus ikhlas menyediakan
sebagian halaman depan rumah mereka untuk dijadikan cetiya tempat
para umat Buddha berkumpul membaca paritta dan membahas Dhamma ajaran
Sang Buddha.
Maka, mulai tahun 1968 sebuah cetiya
berukuran 2 ½ x 7 meter berdiri di jalan Dr. Cipto No.
4 yang dalam pembangunannya telah direstui oleh Yang Mulia Bhikkhu
Girirakkhito. Beliau berkesempatan hadir untuk menguncarkan paritta
- paritta suci pada saat peletakan batu pertama pembangunan cetiya
tersebut. Kiranya, dengan memperhatikan uraian di atas, tahun
1968 dapatlah dijadikan tonggak sejarah awal berdirinya tempat
ibadah di kota Blitar.
Sejak itulah, cetiya kecil yang tidak
memiliki nama ini berfungsi seakan - akan sebuah tempat ibadah
yang besar, yaitu dengan mengadakan kebaktian rutin setiap hari
Kamis malam dan Minggu pagi; termasuk pula selalu mengadakan perayaan
hari - hari besar Agama Buddha, Hari Waisak misalnya. Disamping
itu, pasangan pengantin yang akan diberkahi secara Buddhis juga
dengan senang hati mempergunakan jasa cetiya ini. Kegiatan yang
baik ini bisa bertahan selama dua tahun.
Kiranya kemajuan dan perkembangan
pembangunan kota Blitar membawa pengaruh positif untuk perkembangan
Agama Buddha di kota ini. Jalan Dr. Cipto, tempat cetiya tersebut
berada, telah diputuskan oleh pemerintah untuk dilebarkan seluas
3 m ke arah kiri - kanan jalan itu. Akibatnya, pekarangan depan
rumah keluarga Bapak Suroto tersebut sudah tidak memungkinkan
lagi untuk dipertahankan sebagai cetiya. Namun, ternyata keluarga
Bapak Suroto masih belum mengenal putus asa dalam menjaga kelestarian
perkembangan Agama Buddha di kota Blitar. Kini, mereka menyediakan
bagian belakang rumah tinggal mereka untuk dijadikan cetiya. Tentu
saja, walaupun cetiya tersebut terletak di lantai dua yang tidak
dipakai oleh keluarga, para umat Buddha merasa kurang pada tempatnya
bila akan mengadakan puja bhakti haruslah mengganggu keluarga
Suroto dengan melewati rumah tangga mereka. Akhirnya, para umat
semakin jarang berkunjung ke cetiya dan bahkan tidak ada sama
sekali.
Masa kosong dari kegiatan puja bhakti
ini kembali mengetuk hati keluarga Bapak Suroto untuk mengusahakan
tempat puja bhakti yang lebih sesuai. Pikiran mereka kemudian
diarahkan pada pekarangan mereka yang masih belum diolah. Tanah
ini terletak di jalan Slamet Riyadi No. 21, kira - kira 400 m
Selatan makam Ir. Soekarno yang amat terkenal itu. Maka pada tahun
1972 dengan bantuan para umat Buddha, para tokoh umat dan juga
para dermawan yang memberikan bantuan berupa pikiran, tenaga dan
materi, berdirilah sebuah cetiya yang pada kenyataannya hanyalah
sebuah ruangan berukuran 5 x 8 m. cetiya ini dinamakan "METTA
KIRANA" yang diartikan sebagai SINAR CINTA KASIH. Istilah
'cetiya' ini tidak dapat dipertahankan lagi; hal ini sehubungan
dengan peraturan pemerintah agar tempat ibadah mendaftarkan diri
pada Departemen Agama. Prosedur pendaftaran ini hanya melayani
tingkat vihara saja. Oleh karena itu, Cetiya Metta Kirana kini
harus "naik tingkat" menjadi vihara. Pendaftaran ke
Departemen Agama tersebut terjadi dalam tahun 1987.
Kenaikan tingkat menjadi Vihara Metta
Kirana mempunyai konsekuensi logis. Bahwa suatu vihara haruslah
memiliki kuti sebagai sarana tinggal para bhikkhu yang berkunjung
ke vihara tersebut. Maka dengan semangat gotong royong para umat
Buddha berjuang sepenuh tenaga untuk mewujudkan kuti tersebut.
Akhirnya dengan melewati masa - masa yang cukup sulit, kuti idaman
terbangun walau cukup sederhana. Kesederhanaan ini ternyata tidak
mengurangi semangat para bhikkhu dan samanera untuk berkenan tinggal
di Vihara Metta Kirana demi pembabaran Buddha Sasana.