Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya V
Oleh : Lembaga Penterjemah Kitab Suci Agama
Buddha
Penerbit : CV. Danau Batur - Jakarta, 1992
Demikian yang telah kami dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava berdiam di Matula dalam kerajaan
Magadha. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu:
"Para bhikkhu." Para bhikkhu menjawab: "Ya, bhante."
Kemudian Sang Bhagava berkata:
"Para bhikkhu, jadikanlah dirimu sebagai pelita, berlindunglah
pada dirimu sendiri dan jangan berlindung pada yang lain; hiduplah
dalam dhamma sebagai pelitamu, dhamma sebagai pelindungmu dan
jangan berlindung pada yang lain.
Para bhikkhu, tetapi bagaimanakah seorang bhikkhu menjadi pelita
bagi dirinya sendiri, sebagai pelindung bagi dirinya sendiri
dan tidak berlindung pada yang lain? Bagaimana ia hidup dalam
dhamma yang sebagai pelita bagi dirinya dan tidak berlindung
pada yang lain?
Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu mengamati tubuh
(kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian,
melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang
bhikkhu mengamati perasaan (vedana)... mengamati kesadaran (citta)...
dan mengamati ide-ide (dhamma) sebagai dhamma dengan rajin,
penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan
ketidaksenangan dalam dunia.
Para bhikkhu, beginilah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai
pelita bagi dirinya sendiri, menjadikan dirinya sebagai pelindung
bagi dirinya sendiri dan tidak berlindung pada hal yang lain.
Ia menjadikan dhamma sebagai pelita bagi dirinya sendiri, ia
menjadikan dhamma sebagai pelindung bagi dirinya sendiri dan
tidak berlindung pada yang lain.
Para bhikkhu, jalanlah di lingkunganmu (gocara) sendiri, yang
pernah dijalani oleh para pendahulumu. Jikalau kamu sekalian
berjalan di tempat itu maka Mara tidak akan mendapat tempat
untuk ditempati dan tidak ada tempat untuk dihancurkan. Sesungguhnya
dengan mengembangkan kebaikan maka jasa-jasa bertambah-tambah.
Para bhikkhu, pada zaman dahulu ada seorang maharaja dunia
(cakkavatti) yang bernama Dalhanemi yang jujur, memerintah berdasarkan
kebenaran, raja dari empat penjuru dunia, penakluk, pelindung
rakyatnya, pemilik tujuh macam permata. Ketujuh macam permata
itu adalah cakka (cakra), gajah, kuda, permata, wanita, kepala
rumah tangga dan penasehat. Ia memiliki keturunan lebih dari
seribu orang yang merupakan ksatriya-ksatriya perkasa penakluk
musuh. Ia menguasai seluruh dunia sampai ke batas lautan, yang
ditaklukkannya bukan dengan kekerasan atau dengan pedang tetapi
dengan kebenaran (dhamma).
Para bhikkhu, setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan
tahun, Raja Dalhanemi memerintah seseorang dengan berkata: 'Bilamana
kau melihat Cakka permata surgawi (dibba cakka ratana) telah
terbenam sedikit dan telah bergeser dari tempatnya, maka beritahukan
hal itu kepadaku.
''Baiklah, raja,' jawab orang itu.
Setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan tahun, orang
itu melihat bahwa Cakka ratana surgawi telah terbenam sedikit
dan telah bergeser sedikit dari tempatnya. Setelah ia melihat
kejadian ini, ia pergi menghadap Raja Dalhanemi dan melapor:
'Maharaja, ketahuilah bahwa Cakka ratana surgawi telah terbenam
sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempatnya.'
Para bhikkhu, Raja Dalhanemi memanggil putra yang tertua dan
berkata:
'Anakku, dengarkanlah, Cakka ratana surgawi telah terbenam sedikit
dan telah bergeser sedikit dari tempatnya. Juga telah diberitahukan
kepadaku: 'Bilamana Cakka ratana surgawi dari maharaja dunia
(cakkavatti) terbenam dan bergeser dari tempatnya, maka raja
itu tidak akan hidup lama lagi'. Saya telah menikmati kenikmatan
duniawi. Anakku, pimpinlah dunia ini sampai di batas lautan.
Karena saya akan mencukur rambut serta janggutku, mengenakan
jubah kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi pertapa.'
Para bhikkhu, demikianlah setelah Raja Dalhanemi menyerahkan
tahta kerajaan kepada putranya, ia mencukur rambut serta janggutnya,
mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan duniawi dan
menjadi pertapa. Para hari ketujuh Cakka ratana surgawi lenyap.
Kemudian seseorang menghadap raja dan melapor kepada beliau
dengan berkata:
'Raja, demi kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka ratana surgawi
telah lenyap!'
Para bhikkhu, ketika raja mendengar kabar itu, ia menjadi sedih
dan berduka cita. Lalu ia pergi menemui pertapa raja dan berkata:
'Tuanku, demi kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka ratana surgawi
telah lenyap.'
Setelah raja berkata demikian, pertapa raja menjawab: 'Anakku,
janganlah bersedih dan berduka cita karena tidak ada hubungan
keluarga antara kau dan Cakka ratana surgawi. Tetapi anakku,
putarlah roda kewajiban maharaja yang suci. Karena bila kau
memutarkan roda kewajiban maharaja yang suci dan pada hari uposatha
di bulan purnama kau membasuh kepalamu serta melaksanakan uposatha
di teras utama pada tingkat atas istana, maka Cakka ratana surgawi
akan muncul lengkap dengan seribu ruji, roda dan as serta bagian-bagian
lain.'
'Tetapi, Tuanku, apakah yang dimaksud dengan roda kewajiban
maharaja yang suci itu?'
'Anakku, hiduplah dalam kebenaran; berbakti, hormati dan bersujudlah
pada kebenaran, pujalah kebenaran, sucikanlah dirimu dengan
kebenaran, jadikanlah dirimu panji kebenaran dan tanda kebenaran,
jadikanlah kebenaran sebagai tuanmu. Perhatikan, jaga dan lindungilah
dengan baik keluargamu, tentara, para bangsawan, para menteri,
para rohaniawan, perumah tangga, para penduduk kota dan desa,
para samana dan pertapa, serta binatang-binatang. Jangan biarkan
kejahatan terjadi dalam kerajaanmu. Bila dalam kerajaanmu ada
orang yang miskin, berilah dia dana. Anakku apabila para samana
dan pertapa dalam kerajaanmu meninggalkan minuman keras yang
menyebabkan kekurangwaspadaan dan mereka sabar serta lemah lembut,
menguasai diri, menenangkan diri serta menyempurnakan diri mereka
masing-masing, lalu selalu datang menemuimu untuk menanyakan
kepadamu apa yang baik dan apa yang buruk, perbuatan baik dan
perbuatan buruk, perbuatan yang pantas dilakukan dan yang tak
pantas dilakukan, perbuatan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat
di masa yang akan datang; kau harus mendengar apa yang akan
mereka katakan dan kau harus menghalangi mereka berbuat jahat
serta anjurkanlah mereka untuk berbuat baik. Anakku inilah roda
kewajiban maha raja yang suci.'
'Baiklah, tuanku,' jawab raja. Ia patuh melaksanakan roda kewajiban
maharaja yang suci. Pada hari uposatha raja membasuh kepalanya
dan melaksanakan uposatha di teras utama pada tingkat atas istana.
Kemudian Cakka ratana surgawi muncul lengkap dengan seribu ruji,
roda, as serta bagian-bagian yang lain. Ketika raja melihat
kejadian ini ia berpikir: 'Telah diberitahukan kepadaku bahwa
raja yang melihat Cakka ratana surgawi yang muncul, maka ia
menjadi Cakkavatti (maharaja dunia). Semoga saya menjadi penguasa
dunia!'
Para bhikkhu, kemudian raja bangkit dari tempat duduknya,
membuka jubah dari bagian salah satu bahunya, dengan tangan
kiri ia mengambil sebuah kendi dan dengan tangan kanannya ia
memercikkan air pada Cakka ratana surgawi dengan berkata: 'Berputarlah
Cakka ratana. Maju dan taklukkanlah, Cakka ratana.'
Para bhikkhu, kemudian Cakka ratana berputar maju ke arah daerah
bagian Timur dan raja cakkavatti mengikuti Cakka ratana itu.
Raja pergi bersama tentaranya, kuda-kuda, kereta-kereta, gajah-gajah
dan pasukan. Di tempat mana pun Cakka ratana itu berhenti, di
tempat itu pula raja penakluk bersama empat kelompok pasukannya
tinggal. Kemudian semua raja yang merupakan musuh di daerah
bagian Timur datang menemui cakkavatti dengan berkata: 'Datanglah,
Maharaja! Selamat datang, Maharaja! Semua ini milikmu, Maharaja!
Pimpinlah kami, Maharaja!' Raja Cakkavatti menjawab: 'Kamu sekalian
janganlah membunuh mahluk, jangan mengambil barang yang tidak
diberikan, jangan berzinah, jangan berdusta dan jangan minum-minuman
keras. Nikmatilah apa yang menjadi hak kamu sekalian.' Semua
raja-raja yang merupakan musuh di daerah bagian Timur menjadi
taklukkan Cakkavatti.
Para bhikkhu, kemudian Cakka ratana terjun ke dalam lautan
timur dan muncul kembali setelah berputar maju ke arah daerah
bagian selatan... (di sana terjadi seperti yang terjadi di daerah
bagian timur. Demikian pula Cakka ratana terjun ke dalam lautan
selatan dan muncul kembali serta berputar maju ke arah daerah
bagian barat... ke arah daerah bagian utara... semua terjadi
seperti yang terjadi di daerah bagian timur).
Setelah Cakkaratana menaklukkan seluruh dunia hingga ke batas
lautan, Cakka ratana kembali ke kota kerajaan dan diam, sehingga
orang-orang berpikir bahwa Cakka ratana telah tetap tidak akan
bergerak di depan gedung pengadilan di gerbang istana raja Cakkavatti.
Cakka ratana menambah keagungan istana dengan berada di depan
gerbang istana raja Cakkavatti.
Para bhikkhu, demikian pula raja Cakkavatti kedua... raja
Cakkavatti ketiga ... raja Cakkavatti keempat ... raja Cakkavati
kelima ... raja Cakkavatti keenam... dan raja Cakkavatti ketujuh
setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun dan setelah ribuan
tahun, beliau memerintah seseorang dengan berkata: 'Bilamana
kau melihat Cakka ratana surgawi telah terbenam sedikit dan
telah bergeser sedikit dari tempatnya, maka beritahukan hal
itu kepadaku.'
'Baiklah, raja,' jawab orang itu.
Setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun, dan setelah ribuan
tahun, orang itu melihat bahwa Cakka ratana telah terbenam sedikit
dan telah bergeser sedikit dari tempatnya. Ketika melihat kejadian
ini, ia pergi menghadap raja Cakkavatti dan melaporkan apa yang
telah dilihatnya.
Para bhikkhu, raja cakkavatti memanggil putranya yang tertua
dan berkata: 'Anakku, dengarkanlah, Cakka ratana surgawi telah
terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempatnya.
Juga telah diberitahukan kepadaku: 'Bilamana Cakka ratana surgawi
telah terbenam dan bergeser dari tempatnya maka raja Cakkavatti
tidak akan hidup lama lagi'. Saya telah menikmati kenikmatan
duniawi, tibalah saatnya bagiku untuk mencari kebahagiaan surgawi.
Anakku, pimpinlah dunia ini yang sampai di batas lautan. Karena
saya akan mencukur rambut serta janggutku, mengenakan jubah
kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi pertapa.'
Demikianlah setelah raja Cakkavatti menyerahkan tahta kerajaan
kepada putranya, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan
jubah kuning, meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi pertapa.
Pada hari ketujuh setelah raja menjadi pertapa, Cakka ratana
surgawi lenyap.
Kemudian seseorang menghadap raja dan melapor kepada beliau
dengan berkata: 'Raja, demi kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka
ratana surgawi telah lenyap!' Ketika raja mendengar berita ini
ia menjadi sedih dan berduka cita, tetapi ia tidak pergi menemui
pertapa raja untuk menanyakan roda kewajiban maharaja yang suci.
Dengan idenya dan caranya sendiri ia memerintah rakyatnya dan
rakyat yang diperintah seperti itu, yaitu cara yang berbeda
dengan apa yang mereka ikuti dahulu, menjadi tidak sukses seperti
apa yang mereka biasa capai di masa raja-raja terdahulu yang
melaksanakan kewajiban maharaja yang suci dari seorang raja
Cakkavatti.
Para bhikkhu, kemudian para menteri, para pegawai istana, para
pejabat keuangan, para pengawal dan penjaga serta orang-orang
yang hidup dengan melaksanakan pembacaan mantra pergi menemui
raja dan berkata: 'Wahai raja, rakyatmu yang raja perintah berdasarkan
idemu dan caramu sendiri, yang berbeda dengan cara-cara yang
mereka ikuti dahulu tidak sukses seperti apa yang mereka biasa
capai di masa raja-raja terdahulu yang melaksanakan kewajiban
maharaja yang suci. Dalam kerajaan ini ada para menteri, para
pegawai istana, para pejabat keuangan, para pengawal dan penjaga
serta orang-orang yang hidup dengan melaksanakan pembacaan mantra
-- semua kami ini dan yang lain-lain -- memiliki pengetahuan
tentang kewajiban maharaja yang suci dari raja Cakkavatti. Apabila
raja menanyakan hal itu kepada kami, maka kami akan menerangkannya.'
Para bhikkhu, kemudian raja mempersilahkan para menteri dan
orang-orang lainnya duduk, setelah itu raja bertanya kepada
mereka tentang kewajiban maharaja yang suci dari raja cakkavatti.
Mereka menerangkan hal itu kepada beliau. Ketika raja telah
mendengar hal itu, beliau memperhatikan, menjaga dan melindungi
rakyatnya dengan baik, tetapi ia tidak memberikan dana kepada
orang-orang miskin. Karena ia tidak berdana kepada orang-orang
miskin maka kemelaratan bertambah.
Ketika kemiskinan telah meluas, seorang tertentu mengambil barang
yang tidak diberikan kepadanya, perbuatan ini disebut mencuri.
Ia ditangkap orang-orang dan ia dihadapkan kepada raja dan mereka
berkata: 'Raja, orang ini telah mengambil barang yang tidak
diberikan kepadanya, perbuatan itu adalah mencuri.'
Lalu raja bertanya sebagai berikut kepada orang itu: 'Apakah
benar bahwa kau telah mengambil barang yang tak diberikan kepadamu,
dan dengan demikian kamu telah melakukan perbuatan yang disebut
mencuri?'
'Benar, raja.'
'Mengapa kau melakukannya?'
'Raja, saya tak memiliki sesuatu untuk mempertahankan hidupku.'
Kemudian raja memberikan dana kepada orang itu dengan berkata: 'Dengan
dana ini kau dapat menyambung hidupmu, peliharalah orang tuamu,
anak-anakmu dan istrimu. Kerjakanlah pekerjaanmu dan berdanalah
selalu kepada para samana dan pertapa, karena perbuatan ini berpahala
untuk terlahir kembali di alam surga.'
'Baiklah, raja,' jawab orang itu.
Para bhikkhu, kemudian ada orang lain mencuri. Ia ditangkap
orang-orang dan mereka membawanya menghadap kepada raja, mereka
berkata: 'Raja, orang ini telah mencuri.' Raja bertanya kepada
orang itu dan beliau melakukan perbuatan yang sama seperti yang
beliau lakukan kepada pencuri yang lalu, dengan memberikan dana
kepada orang itu.
Para bhikkhu, orang-orang mendengar bahwa bagi mereka yang
mencuri mendapat dana dari raja. Karena mendengar hal ini mereka
berpikir: 'Marilah kita mencuri.' Di antara mereka itu ada orang
tertentu yang melakukannya. Orang ini ditangkap dan dibawa kehadapan
raja. Raja bertanya kepada orang tersebut:
'Apa sebab kau mencuri?'
'Saya mencuri sebab tak dapat mempertahankan hidupku.'
Namun raja berpikir: 'Jika saya memberikan dana kepada siapa
setiap orang yang mencuri maka pencuri akan bertambah banyak.
Saya harus menghentikan perbuatan ini, ia harus diganjar dengan
hukuman berat, yaitu kepalanya dipancung.' Selanjutnya raja
memerintah bawahannya dengan berkata:
'Perhatikanlah, ikatlah tangan orang ini ke belakang tubuhnya
dan ikatlah dengan kencang. Gunduli kepalanya dan bawalah dia
berkeliling disertai genderang yang nyaring ke jalan-jalan,
ke persimpangan-persimpangan jalan. Bawalah dia keluar melalui
gerbang selatan dan berhentilah di selatan kota. Ganjarlah dia
dengan hukuman terberat berat, yaitu kepalanya dipancung.'
'Baiklah, raja,' jawab orang-orang itu dan mereka melaksanakan
perintah itu.
Para bhikkhu, pada waktu itu telah banyak orang yang mendengar
bahwa orang yang mencuri dihukum mati. Karena telah mendengar
hal ini maka beberapa orang tertentu berpikir: 'Sekarang kitapun
harus menyediakan pedang tajam dan orang-orang yang barangnya
kita ambil dengan tanpa mereka berikan -- perbuatan yang disebut
mencuri -- kita hentikan mereka dengan kepala mereka kita pancung.'
Selanjutnya, mereka mempersenjatai diri mereka dengan pedang-pedang
tajam, lalu mereka, pergi merampok di desa-desa, di kampung-kampung
dan di kota-kota serta di jalan-jalan. Orang-orang yang mereka
rampoki mereka bunuh dengan kepala dipancung.
Para bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
kepada orang yang miskin maka kemelaratan meluas. Karena kemelaratan
bertambah maka pencuri bertambah. Karena pencuri bertambah maka
kekerasan berkembang dengan cepat. Disebabkan adanya kekerasan
yang meluas maka pembunuhan menjadi biasa. Karena pembunuhan
terjadi maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang,
sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 80.000 tahun,
akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 40.000
tahun.
Selanjutnya, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan 40.000
tahun ada yang mencuri. Pencuri ditangkap oleh orang-orang dan dia
dihadapkan kepada raja. Orang-orang itu memberitahukan kepada raja
dengan berkata: 'Raja, orang telah mencuri.'
Raja bertanya kepada orang itu: 'Apakah benar bahwa kau telah
mencuri?'
'Tidak, raja,' jawabnya. Dengan jawaban ini orang itu telah
berdusta dengan sengaja.
Demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang
yang miskin maka kemelaratan meluas... mencuri ... kekerasan
... pembunuhan... hingga berdusta menjadi biasa. Karena berdusta
telah menjadi biasa maka batas usia kehidupan dan kecantikan
manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada
masa itu adalah 40.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
anak-anak mereka hanya 20.000 tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan 20.000 tahun
ada orang yang mencuri. Ada orang tertentu yang melaporkan hal
ini kepada raja: 'Raja, ada orang yang mencuri', demikianlah
ia mengatakan kata-kata jahat tentang orang itu.
Para bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan kepada
orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri... kekerasan...
pembunuhan... berdusta... memfitnah berkembang. Karena memfitnah
berkembang maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang.
Sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 20.000
tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 10.000
tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan 10.000 tahun ada
yang cantik dan ada yang buruk, sehingga mereka yang berparas buruk
merasa iri terhadap yang berparas cantik. Akibatnya orang-orang
yang berparas buruk ini berzinah dengan istri-istri tetangga mereka.
Para bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
kepada orang-orang miskin maka kemelaratan meluas... mencuri...
kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah... berzinah
berkembang. Karena perzinahan berkembang maka batas usia kehidupan
dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan
manusia pada masa itu adalah 10.000 tahun, akan tetapi batas
usia kehidupan anak-anak mereka hanya 5.000 tahun.
Pada masa kehidupan dari orang-orang yang batas usia kehidupan
mereka hanya 5.000 tahun berkembang dua hal yaitu kata-kata
kasar dan membual. Karena ke dua hal ini berkembang maka batas
usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 5.000 tahun, akan
tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka ada yang hanya
2.500 tahun ada yang hanya 2.000 tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 2.500
tahun, iri hati dan dendam berkembang. Karena ke dua hal ini
berkembang maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia
berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu
adalah 2.500 tahun 2.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
anak-anak mereka hanya 1.000 tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 1.000 tahun,
pandangan sesat (miccha ditthi) muncul dan berkembang. Karena pandangan
sesat ini berkembang maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia
berkurang, sehingga batas usia kehidupan dan kecantikan pada masa
itu adalah 1.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka hanya 500 tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 500 tahun,
ada tiga hal yang berkembang, yaitu: berzinah dengan saudara
sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu. Karena tiga hal ini
berkembang maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia
berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu
adalah 500 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak
mereka ada yang 250 tahun dan ada yang hanya 200 tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 250 tahun,
hal sebagai berikut ini berkembang -- kurang berbakti kepada
orang tua, kurang hormat kepada para samana dan pertapa dan
kurang patuh kepada pemimpin masyarakat.
Para bhikkhu, demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan
kepada orang-orang miskin maka kemelaratan meluas... mencuri...
kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah... perzinahan...
kata-kata kasar dan membual... iri hati dan dendam ... pandangan
sesat... berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan dan pemuasan
nafsu... hingga kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat
kepada para samana dan pertapa dan kurang patuh kepada pemimpin
masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal-hal ini berkembang
dan meluas maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia
berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu
adalah 250 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak
mereka hanya 100 tahun.
Para bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia
itu akan mempunyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Di antara
orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun, umur
lima tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa
kehidupan orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee),
mentega, minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Bagi mereka
ini, biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan yang terbaik.
Seperti pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan makanan
yang terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada
masa orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan
baik akan hilang, sedangkan sepuluh macam cara melakukan perbuatan
jahat akan berkembang dengan cepat, di antara mereka tidak ada
lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik -- Siapa
yang akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada
lagi rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat
kepada para samana dan pertapa serta tidak ada lagi kepatuhan
kepada para pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang orang-orang
masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada para samana
dan pertapa serta patuh kepada para pemimpin, namun pada masa
orang-orang... yang batas usia kehidupan mereka hanya 10 tahun,
rasa berbakti, hormat dan patuh tidak ada lagi.
Para bhikku, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan
mereka 10 tahun tidak akan ada lagi (pikiran yang membatasi
untuk kawin dengan) ibu, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak
ayah, bibi dari pihak ayah yang merupakan istri dari kakak ayah
atau istri guru. Dunia akan diisi oleh cara bersetubuh dengan
siapa saja, bagaikan kambing, domba, burung, babi, anjing dan
srigala.
Di antara orang-orang ini saling bermusuhan yang kuat akan menjadi
hukum, perasaaan yang benci yang hebat, dendam yang kuat serta
keinginan membunuh dari ibu terhadap anaknya, anak terhadap
ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak
terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya dan seterusnya... Hal
ini terjadi bagaikan pikiran dari para olahragawan yang menghadiri
pertandingan, begitulah pikiran mereka.
Para bhikku, bagi orang-orang yang batas kehidupan mereka
10 tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang
selama seminggu. Selama masa ini mereka akan melihat individu
lain sebagai binatang liar: pedang tajam akan nampak selalu
tersedia di tangan mereka dan mereka berpikir: 'Individu ini
adalah binatang liar.' Dengan pedang mereka saling membunuh.
Sementara itu ada orang-orang tertentu yang berpikir: 'Sebaiknya
kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh
kita. Marilah kita menyembunyikan diri ke dalam belukar, ke
dalam hutan, ke cekungan di tepi sungai, ke dalam gua gunung
dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di hutan.'
Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada hari
ke tujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan dan gua,
mereka akan saling berangkulan dan akan saling membantu, dengan
berkata: 'O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih
hidup!'
Para bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul keinginan-keinginan
sebagai berikut : 'Karena kita melakukan cara-cara yang jahat,
maka kita kehilangan banyak sanak saudara. Marilah kita berbuat
kebajikan-kebajikan. Sekarang, kebajikan apakah yang dapat kita
lakukan? Marilah kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan.
Itu merupakan perbuatan baik yang dapat kita lakukan.' Mereka
akan berusaha untuk tidak membunuh, hal yang baik ini mereka
laksanakan terus. Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya
batas usia kehidupan dan kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka
yang batas usia hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
anak-anak mereka mencapai 20 tahun.
Para bhikkhu, hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang
yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun: 'Sekarang, karena
kita mengikuti dan melaksanakan kebajikan maka batas usia kehidupan
dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan kebajikan
kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa yang tidak
diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita berusaha
untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak memfitnah, kita
berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar, kita berusaha
untuk tidak membual, kita berusaha untuk tidak serakah, kita
berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha untuk tidak berpandangan
sesat, kita berusaha untuk tidak melakukan tiga hal berikut,
yaitu: tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri, tidak tamak
dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada orang
tua kita, kita menghormati para samana dan pertapa serta kita
patuh kepada pemimpin masyarakat. Marilah kita selalu melaksanakan
kebajikan-kebajikan ini.'
Demikianlah mereka akan selalu melaksanakan kebajikan: tidak mengambil
apa yang tidak diberikan... berbakti kepada ke dua orang tua, menghormat
para samana dan pertapa serta patuh kepada pemimpin masyarakat.
Karena mereka melaksanakan kebajikan-kebajikan itu, maka batas usia
kehidupan anak-anak dan kecantikan manusia bertambah, sehingga mereka
yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi batas usia
kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun. Selanjutnya, bagi
mereka yang batas usia kehidupan hanya 40 tahun, akan tetapi batas
usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 80 tahun; .... anak-anak
mereka mencapai 160 tahun;... anak-anak mereka mencapai 320 tahun;...
anak-anak mereka mencapai 640 tahun;... anak-anak mereka mencapai
2.000 tahun;... anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun;... anak-anak
mereka mencapai 8.000 tahun;... anak-anak mereka mencapai 20.000
tahun; anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun; dan mereka yang pada
masa itu hanya berbatas usia kehidupan 40.000 tahun, akan tetapi
anak-anak mereka akan mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun.
Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan
mereka 80.000, maka usia perkawinan bagi wanita adalah pada
usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini hanya akan ada tiga
macam penyakit -- keinginan, lupa makan dan ketuaan. Pada masa
kehidupan orang-orang ini Jambudipa akan makmur dan jaya, desa-desa,
kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan akan berdekatan
satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat terbang dari
satu kota ke kota yang lain. Pada masa kehidupan orang-orang
ini, Jambudipa -- bagaikan avici -- akan penuh dengan penduduk
bagaikan hutan yang dipenuhi semak belukar. Pada masa kehidupan
orang-orang ini, kota Baranasi yang kita kenal sekarang akan
bernama Ketumati yang merupakan kota kerajaan yang besar dan
makmur, berpenduduk banyak dan padat serta berpangan cukup.
Pada masa kehidupan orang-orang ini, di Jambudipa akan terdapat
84.000 kota dengan Ketumati sebagai ibu kota.
Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini di Ketumati,
ibu kota kerajaan, akan muncul seorang raja Cakkavatti bernama
Sankha, yang jujur, memerintah berdasarkan kebenaran, penguasa
empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyatnya dan pemilik
tujuh macam permata, yaitu: cakka, gajah, kuda, permata, wanita
(istri), kepala rumah tangga dan panglima perang. Ia akan memiliki
keturunan lebih dari 1000 orang yang merupakan ksatriya-ksatriya
digjaya, penakluk musuh-musuh. Ia akan menguasai dunia sampai
ke batas lautan, tetapi ia menguasai dunia ini bukan dengan
kekerasan atau dengan pedang melainkan dengan kebenaran.
Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam
dunia akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha bernama
Metteyya, yang sempurna dalam pengetahuan dan pelaksanaannya,
sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia
yang tiada taranya, yang sadar serta yang patut dimuliakan,
yang sama seperti saya sekarang. Ia, dengan dirinya sendiri
akan mengetahui dengan sempurna dan melihat dengan jelas alam
semesta bersama alam-alam kehidupan para dewa, brahma, mara,
serta para samana, para pertapa, para pangeran dan orang-orang
lainnya, seperti apa yang saya tahu dengan sempurna dan lihat
dengan jelas sekarang. Dhamma kebenaran yang indah pada permulaan,
indah pada pertengahan dan indah pada akhir akan dibabarkan
dalam kata-kata dan semangat, kehidupan suci akan dibina dan
dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang
saya lakukan sekarang. Ia akan diikuti oleh beberapa ribu bhikkhu
sangha, seperti saya sekarang ini yang diikuti oleh beberapa
ratus bhikkhu sangha.
Para bhikkhu, Raja Sankha akan membangun kembali tempat suci
yang pernah dibangun oleh Raja Maha Panada. Raja Sankha akan
tinggal di tempat suci itu, tetapi tempat itu akan diberikannya
sebagai dana kepada para samana, para pertapa, para pengembara,
para pengemis dan mereka yang membutuhkan. Ia sendiri akan mencukur
rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan
berumah tangga dan menjadi siswa dari Bhagava Arahat Sammasambuddha
Metteyya. Setelah Raja Sankha meninggalkan kehidupan duniawi,
ia akan hidup menyendiri dan dengan usaha sungguh-sungguh, tekad,
penuh kewaspadaan berusaha mengusahai dirinya. Tidak lama kemudian
ia akan mencapai tujuan yang merupakan cita-cita dari mereka
yang meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup sebagai pertapa.
Masih dalam kehidupan dalam dunia ini, ia akan mencapai, mengetahui
dan merealisasi tujuan akhir dari penghidupan suci.
Para bhikkhu, jadikanlah dirimu sebagai pelita; berlindunglah
pada dirimu sendiri dan jangan berlindung pada orang lain. Hiduplah
dalam dhamma kebenaran yang sebagai pelitamu, dengan dhamma
sebagai pelindungmu dan jangan berlindung pada yang lain.
Para bhikkhu, tetapi bagaimana seorang bhikkhu menjadi pelita
bagi dirinya sendiri, sebagai pelindung bagi dirinya sendiri
dan tidak berlindung pada yang lain?
Para bhikkhu, dalam hal ini, seorang bhikkhu mengamati tubuh
(kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian,
melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang
bhikkhu mengamati perasaan (vedana)... mengamati kesadaran (citta)...
dan mengamati ide-ide (dhamma) sebagai dhamma dengan rajin penuh
pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan
dalam dunia.
Para bhikkhu, beginilah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai
pelita bagi dirinya sendiri, menjadikan dirinya sebagai pelindung
bagi dirinya sendiri dan tidak berlindung pada yang lain. Ia
menjadikan dhamma sebagai pelita bagi dirinya sendiri, ia menjadikan
dhamma sebagai pelindung bagi dirinya sendiri dan tidak berlindung
pada hal yang lain.
Para bhikkhu, jalanlah di lingkunganmu sendiri, di mana para
pendahulumu berjalan. Jikalau kamu sekalian berjalan di tempat
itu maka usia akan bertambah, kecantikan akan bertambah, kebahagiaan
akan bertambah, kekayaan akan bertambah dan kekuatan akan bertambah.
Para bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan usia? Dalam hal ini
seorang bhikkhu mengembangkan Empat dasar kemampuan batin (iddhipada)
dengan membangkitkan (chanda), semangat (viriya), kesadaran
(citta), dan penyelidikan (vimamsa) tentang pelaksanaan, usaha
dan meditasi. Dengan dikembangkannya Empat Iddhipada ini, maka
bila ia menginginkan, ia dapat hidup selama satu kalpa (kappa)
atau selama masa kappa di mana ia hidup. Inilah yang dimaksud
dengan usia.
Para bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan kecantikan? Dalam
hal ini, seorang bhikkhu melaksanakan peraturan-peraturan moral
(sila), mengendalikan dirinya sesuai dengan Patimokkha, sempurna
dalam sikap dan tingkah laku; ia melihat bahaya sekalipun itu
hanya merupakan kesalahan kecil dan ia menghindarkan diri dari
kesalahan itu. Ia melatih diri dengan melaksanakan sila. Inilah
yang dimaksudkan dengan kecantikan.
Para bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan? Dalam
hal ini, seorang bhikkhu menjauhkan diri dari pemuasan nafsu,
bebas dari pikiran-pikiran jahat, mencapai dan tetap berada
dalam Jhana I dengan memiliki usaha untuk menangkap obyek (vitakka),
obyek dikuasai (vicara), kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha)
dan ketenangan (viveka) batin. Dengan melenyapkan vitakka dan
vicara ia mencapai dan tetap berada dalam Jhana II dengan diliputi
kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) dan ketenangan (viveka)
batin. Dengan melenyapkan piti ia mencapai dan tetap berada
dalam Jhana III dengan diliputi kebahagiaan (sukha) dan ketenangan
(viveka) batin. Dengan melenyapkan sukha ia mencapai dan tetap
berada dalam Jhana IV dengan pikiran terpusat dan penuh ketenangan
batin.
Para bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan kekayaan? Dalam hal
ini, seorang bhikkhu membiarkan batinnya diliputi oleh cinta
kasih (metta) yang dipancarkannya ke satu arah, ke dua arah,
ke tiga arah dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian
seluruh dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh penjuru
dunia dipancarkan cinta kasihnya yang tanpa batas, yang mulia,
tak terukur, yang bebas dari kebencian dan iri hati. Ia pun
membiarkan dirinya diliputi dengan kasih sayang atau welas asih
(karuna) ... simpati (mudita) ... dan keseimbangan batin (upekkha)
yang dipancarkannya ke satu arah, ke dua arah, ke tiga arah
dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian seluruh dunia
dipancarkan keseimbangan batinnya yang tanpa batas, yang mulia,
tak terukur, yang bebas dari kebencian dan iri hati. Inilah
yang dimaksud dengan kekayaan.
Para bhikkhu apakah yang dimaksud dengan kekuatan? Dalam hal
ini, seorang bhikkhu melenyapkan kekotoran batin (asava) sehingga
pada kehidupan sekarang ini ia sendiri mencapai dan tetap berada
dalam keadaan batin yang suci dan kebijaksanaan yang suci. Inilah
yang dimaksud dengan kekuatan.
Para bhikkhu, tidak ada kekuatan lain yang sulit sekali ditaklukkan
selain kekuatan mara. Tetapi perbuatan baik (kusala) yang dikembangkan
sendiri (hingga mencapai kearahatan) akan merupakan cara yang
paling baik untuk menaklukkannya."
Demikianlah yang diucapkan oleh Sang Buddha. Para bhikkhu menjadi
gembira setelah mendengar uraian Sang Bhagava.