Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya II
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : Hanuman Sakti, Jakarta, 1997
Demikianlah yang saya dengar pada suatu ketika Sang Bhagava
berada di Jetavana, milik Anathapindika, Savatthi.
Kemudian Brahmana Janussoni pergi menemui Sang Bhagava, setelah
bertemu, ia bersalaman dengan Sang Bhagava; setelah saling bersalaman
dengan rasa persahabatan dan hormat, ia duduk di tempat yang telah
tersedia. Setelah duduk, ia berkata kepada Sang Bhagava :
"Saudara Gotama, ketika para perumah tangga meninggalkan kehidupan
berkeluarga menjadi pabbaja (petapa) karena yakin kepada Saudara
Gotama, apakah mereka menjadikan Saudara Gotama sebagai pemimpin
mereka, penolong dan pembimbing mereka? Apakah orang-orang ini
mengikuti pengertian pandangan Saudara Gotama?"
"Brahmana, begitulah. Ketika para perumah tangga meninggalkan
kehidupan berkeluarga menjadi pabbaja karena yakin kepada saya,
mereka menjadikan saya pemimpin, penolong dan pembimbing mereka.
Mereka mengikuti pengertian pandangan saya."
"Saudara Gotama, tetapi tinggal di hutan yang terpencil adalah
sulit dipertahankan, kesepian adalah sulit dicapai dan sulit
menikmati keterpencilan. Seseorang berpikir bahwa hutan akan
mengacaukan pikiran seorang bhikkhu, bila ia tidak bersamadhi."
"Brahmana, begitulah. Tinggal di hutan yang terpencil adalah
sulit dipertahankan, kesepian adalah sulit dicapai dan sulit
menikmati keterpencilan. Seseorang berpikir bahwa hutan akan
mengacaukan pikiran seorang bhikkhu, bila ia tidak bersamadhi."
"Sebelum saya mencapai penerangan agung (sambodhi), ketika saya
masih Bodhisatta yang belum mencapai penerangan agung, Saya pun
bepikir :' Tinggal di hutan yang terpencil adalah sulit dipertahankan,
kesepian adalah sulit dicapai dan sulit menikmati keterpencilan.
Seseorang berpikir bahwa hutan akan mengacaukan pikiran seorang
bhikkhu, bila ia tidak bersamadhi.' "
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
(petapa) atau brahmana tinggal di hutan yang terpencil dengan
"perbuatan jasmani yang tidak suci" (aparisuddhakayakammanta),
Karena mereka memiliki kekurangan dalam perbuatan, yaitu perbuatan
jasmani yang tidak suci, maka muncul rasa takut dan kegentaran
yang tak berguna pada para samana dan brahmana ini. Tetapi saya
tinggal di hutan yang terpencil dengan "perbuatan jasmani yang
suci" (parisuddhakayamanta). Saya tinggal di hutan yang terpencil,
sebagai seorang ariya dengan perbuatan jasmani suci.' Dengan melihat
kesucian perbuatan jasmani pada diriku, Saya sangat terhibur tinggal
dalam hutan."
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di hutan yang terpencil dengan ucapan yang
tidak suci (aparisuddhavacikammanta), karena mereka memiliki kekurangan
dalam perbuatan, yaitu ucapan yang tidak suci, maka muncul rasa
takul dan kegentaran yang tak berguna pada para samana dan brahmana
ini. Tetapi Saya tinggal di hutan yang terpencil dengan ucapan
yang suci. Saya tinggal di hutan yang terpencil, sebagai seorang
ariya dengan ucapan suci. Dengan melihat kesucian ucapan pada
diriku, Saya sangat terhibur tinggal dalam hutan."
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana serakah, sangat bernafsu dengan keinginan-keinginan
mereka namun sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar,
maka para samana dan brahmana ini karena serakah, bernafsu dengan
keinginan-keinginan, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang
tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tanpa keserakahan maupun
tanpa nafsu pada keinginan-keinginan, juga sering tinggal di tempat
terpencil di hutan dan belukar. Saya tanpa keserakahan, saya adalah
salah seorang ariya yang tanpa keserakahan, juga sering tinggal
di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati
diri sendiri yang tanpa keserakahan, sangat terhibur hidup di
hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran yang
tidak suci (byapannacitta), berpikiran buruk yang 'didasarkan
pada ketidaksenangan' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana
ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikir buruk yang
didasarkan pada ketidaksenangan, memunculkan rasa takut dan kegentaran
yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tanpa 'pikiran
yang tidak suci', tidak berpikiran buruk yang didasarkan pada
ketidaksenangan', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan
dan belukar. Saya diliputi oleh 'pikiran cinta kasih' (mettacitta).
Saya adalah salah seorang ariya yang diliputi 'pikiran cinta kasih'
(mettacitta), juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan
dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa
'pikiran tidak suci', sangat terhibur hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'diliputi kelesuan
dan ngantuk' (thinamaddhapariyutthita), yang 'didasarkan pada ketidaksenangan'
(sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena diliputi
kelesuan dan ngantuk yang didasarkan pada ketidaksenangan, memunculkan
rasa takut dan kegentaran yang tidak berguna pada diri mereka. Tetapi,
saya tanpa 'diliputi kelesuan dan ngantuk yang didasarkan pada ketidaksenangan'.
Saya adalah salah seorang ariya yang tanpa 'diliputi kelesuan dan
ngantuk' juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar.
Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'diliputi
kelesuan dan ngantuk, sangat terhibur hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran gelisah
dan tidak tenang' (uddhata avupasantacitta), berpikiran buruk yang
'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan
brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran
buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut
dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tanpa
'pikiran gelisah dan tidak tenang', tidak 'berpikiran buruk yang
didasarkan pada kebencian'. Saya berpikir tenang', tidak berpikiran
buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang
ariya yang 'berpikiran tenang, juga sering tinggal di tempat terpencil
di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri
yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat
hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran khawatir
dan tidak pasti' (kankhi vecikicchi), berpikiran buruk yang 'didasarkan
pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini
karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang
didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran
yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tanpa 'pikiran
khawatir dan tidak pasti', tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan
pada kebencian'.
Saya adalah salah seorang ariya yang tanpa 'pikiran khawatir
dan tidak pasti', juga sering tinggal di tempat terpencil di
hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri
yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat
kuat hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'memuji diri
sendiri dan merendahkan orang lain' (attukkamsaka paravambhi),
berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu),
maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang
tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat,
memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri
mereka. Tetapi, saya 'tidak memuji diri sendiri dan tidak merendahkan
orang lain' dan tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'.
Saya adalah salah seorang ariya yang tidak memuji diri sendiri
dan tidak merendahkan orang lain', juga sering tinggal di tempat
terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri
saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan
sangat kuat hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'diliputi ketakutan
dan kegentaran' (chamba bhirukajatika), yang 'didasarkan pada kebencian'
(sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki
pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran
jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada
diri mereka. Tetapi, saya tanpa 'diliputi ketakutan dan kegentaran',
'tidak berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah
salah seorang ariya yang tanpa 'diliputi ketakutan dan kegentaran',
juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana,
saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci',
mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'diliputi keinginan
mendapat pemberian, kehormatan dan kemasyhuran' (labhasakkarasilokam
nikamayamano), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian'
(sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki
pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada
pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak
berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tidak diliputi keinginan
mendapat pemberian, kehormatan dan kemasyhuran', tidak 'berpikiran
buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah seorang ariya
yang hanya berkeinginan sedikit, juga sering tinggal di tempat
terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri
saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan
sangat kuat hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'malas dan kurang
semangat' (kusita hinaviriya), berpikiran buruk yang 'didasarkan
pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini
karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang
didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran
yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tidak malas dan
bersemangat, tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'.
Saya tidak malas dan bersemangat. Saya adalah salah seorang ariya
yang 'bersemangat', juga sering tinggal di tempat terpencil di
hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri
yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat
hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'sifat pelupa
dan tidak teliti' (muttahassati asampajana), berpikiran buruk
yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana
dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran
buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut
dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya
'berperhatian dan berpengertian', tidak 'berpikiran buruk yang
didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang ariya yang
'berperhatian dan berpengertian', juga sering tinggal di tempat
terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri
saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan
sangat kuat hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran tak
terpusat dan liar' (asamahita vibhantacitta), berpikiran buruk
yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana
dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran
buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut
dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya
berpikiran yang terpusat dengan baik dan tidak 'berpikiran buruk
yang didasarkan pada kebencian. Saya adalah salah seorang ariya
yang berpikiran terpusat dengan baik, juga sering tinggal di tempat
terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri
saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan
sangat kuat hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana
atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'tanpa pengertian
dan tolol' (dupanna elamuga), berpikiran buruk yang 'didasarkan
pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini
karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang
didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran
yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya berpengertian
yang sempurna. Saya adalah salah seorang ariya yang 'berpengertian
sempurna', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan
belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang berpengertian
sempurna', saya mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Seandainya saya pada
malam tertentu, yaitu: malam keempat belas, kelima belas dan kedelapan
pada pertengahan bulan, saya bermalam ini di tempat-tempat yang
menakutkan dan menggetarkan, seperti di Aramacetiya, Vanacetiya
atau Rukkhacetiya, maka saya dapat melihat ketakutan dan kegentaran.
Ketika saya sedang tinggal di tempat-tempat itu, binatang liar
mendatangiku, atau burung merak mematahkan ranting, atau angin
menggoyangkan dedaunan. Saya berpikir: 'Sekarang, apakah ketakutan
dan kegentaran muncul? Mengapa dengan tinggal di sini saya selalu
mengharapkan ketakutan dan kegentaran? Bagaimana, bila saya melenyapkan
ketakutan dan kegentaran yang muncul pada diriku, ketika saya
dalam posisi apapun?' "
Brahmana, ketika saya sedang berjalan, ketakutan dan kegentaran
muncul pada diriku; saya tidak berdiri, duduk atau berbaring
hingga saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu.
Ketika saya sedang berdiri, ketakutan dan kegentaran muncul
pada diriku; saya tidak berjalan, duduk atau berbaring hingga
saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu. Ketika
saya sedang duduk, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriku;
saya tidak berjalan, berdiri atau berbaring hingga saya dapat
melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu. Ketika saya sedang
berbaring, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriku; saya
tidak berjalan, berdiri atau duduk hingga saya dapat melenyapkan
ketakutan dan kegentaran itu.
Brahmana, ada beberapa samana dan brahmana menganggap malam
sebagai siang, sedangkan siang dianggap sebagai malam. Para samana
dan brahmana ini saya nyatakan mereka hidup dalam kebodohan. Brahmana,
karena bagi saya, malam adalah malam, dan siang adalah siang.
Brahmana, siapapun yang berbicara benar: "Sesosok makhluk yang
tidak dikuasai kebodohan telah muncul di dunia untuk kebaikan,
kesejahteraan dan kebahagiaan banyak orang, karena kasih sayangnya
kepada dunia demi manfaat, kesejahteraan dan kebahagiaan pada
dewa dan manusia", pernyataan seperti itu adalah tepat dinyatakan
untukku.
Semangat tanpa lelah telah muncul dalam diriku, perhatian tanpa
lupa telah mantap, tubuhku telah tenang dan tanpa gangguan, pikiranku
telah terkonsentrasi dan terpusat (ekagata).
Agak bebas dari nafsu indera, bebas dari dhamma yang tak berguna,
saya mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai oleh vitakka
(usaha pikiran untuk menangkap obyek), vicara (obyek telah tertangkap),
kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) karena pemusatan pikiran.
Dengan meninggalkan vitakka dan vicara, saya mencapai dan berada
dalam Jhana II yang disertai "percaya diri" (sampasadanam), pemusatan
pikiran, kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) karena pemusatan
pikiran, tanpa vitakka dan tanpa vicara.
Dengan lenyapnya kegiuran (piti), saya diliputi ketenangan,
penuh perhatian (sati) dan kebahagiaan jasmani saya mencapai dan
berada dalam Jhana III, yang dinyatakan oleh para Ariya sebagai:
"Ia senang karena memiliki ketenangan dan perhatian (sati)."
Dengan lenyapnya kebahagiaan (sukha) dan penderitaan (dukkha)
jasmani, yang didahului oleh lenyapnya "Kebahagiaan dan penderitaan
batin (somanassadomanassa), saya mencapai dan berada pada Jhana
IV, yang tanpa dukkha (adukkha) dan tanpa sukha (asukha) disertai
"perhatian dan keseimbangan suci" (upekhasatiparisuddhi).
Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak ternoda, bersih
dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mencapai ketenangan,
saya mengarahkan batin (citta) pada 'pengetahuan tentang kehidupan-kehidupan
yang lampau' (pubbenivasanussatinana).
Saya mengingat banyak kehidupanku yang lampau, yaitu: satu
kelahiran, dua kelahiran ... lima kelahiran, sepuluh kelahiran
... lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran,
seratus ribu kelahiran, banyak kappa penjadian dunia (samvattakappa),
banyak kappa penghancuran dunia (vivattakappa), dan banyak kappa
penjadian dan penghancuran dunia (samvattavivattakappa): "Di
sana saya bernama, ras, penampilan, makanan, mengalami kesenangan
serta penderitaan, panjang usia seperti itu; meninggal dari
sana, saya terlahir kembali di tempat-tempat lain; di sana pun
saya bernama, ras, penampilan, makanan, mengalami kesenangan
serta penderitaan, panjang usia seperti itu; dan meninggal dari
alam itu, saya terlahir di sini. Demikianlah, dengan rinci dan
khusus, saya mengingat banyak kelahiranku yang lampau.
Inilah pengetahuan pertama yang saya capai pada masa-pertama
di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan
(vijja) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah
seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak ternoda, bersih
dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mencapai ketenangan,
saya mengarahkan batin (citta) pada 'pengetahuan tentang lenyap
dan munculnya makhluk-makhluk' (cutupapatanana). Dengan pandangan
mata dewa (dibbacakkhu) yang suci dan melampaui kemampuan manusia
biasa, saya melihat makhluk-makhluk lenyap (meninggal) dan muncul
(lahir) kembali sebagai terhormat atau hina, berwajah cakap atau
jelek, berprilaku baik atau jahat; saya mengerti bagaimana makhluk-makhluk
hidup sesuai dengan karma mereka, sebagai berikut: "Makhluk-makhluk
ini yang melakukan perbuatan baik melalui ucapan perbuatan dan
pikiran, menghina para ariya, berpandangan keliru, melakukan perbuatan
berdasarkan pandangan keliru mereka, setelah mereka meninggal
dunia, mereka terlahir kembali dalam keadaan yang tidak menyenangkan,
di alam yang menyedihkan, bahkan di neraka; sedangkan makhluk-makhluk
yang melakukan perbuatan baik melalui ucapan, perbuatan dan pikiran,
tidak menghina para ariya, berpandangan benar, melakukan perbuatan
berdasarkan pada pandangan benar, setelah mereka meninggal dunia,
mereka terlahir kembali dalam keadaan menyenangkan, di alam yang
membahagiakan, bahkan di surga."Demikianlah dengan dibba cakku
yang suci dalam melampaui kemampuan manusia biasa, saya melihat
makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali sebagai terhormat atau
hina, berwajah cakap atau jelek, berprilaku baik atau jahat; saya
mengerti bagaimana makhluk-makhluk hidup sesuai dengan karma mereka.
Inilah pengetahuan kedua yang saya capai pada masa-kedua di
malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja)
muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang
yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak ternoda, bersih
dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mancapai ketenangan,
saya mengarahkan batin (citta) pada 'pengetahuan tentang pelenyapan
kotoran batin' (asavanam khayanana). Saya memiliki pengetahuan:
"Inilah Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah sebab Dukkha."
Saya memiliki pengetahuan: "Inilah lenyapnya Dukkha." Saya memiliki
pengetahuan: "Inilah jalan untuk melenyapkan Dukkha." Saya memiliki
pengetahuan: "Inilah kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki
pengetahuan: "Inilah sebab kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki
pengetahuan: "Inilah lenyapnya kekotoran-kekotoran batin. "Saya
memiliki pengetahuan: "Inilah jalan untuk melenyapkan kekotoran-kekotoran
batin."
Ketika saya mengetahui dan melihat seperti itu, batinku terbebas
dari 'kekotoran-batin nafsu indera' (kamasava), 'kekotoran-batin
untuk menjadi (bhavasava) dan 'kekotoran - batin kebodoh-an' (avijjasava).
Ketika terbebas, muncul pengetahuan: "Telah terbebas". Saya memiliki
pengetahuan: "Kelahiran telah dilenyapkan, kehidupan suci telah
direalisasi, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak
ada lagi sesuatu di seberang sana."
Inilah pengetahuan ketiga yang saya capai pada masa-ketiga di
malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja)
muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang
yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
Brahmana, mungkin anda berpikir: "Barangkali saat ini petapa
Gotama tidak terbebas dari nafsu (raga), kebencian (dosa) dan
kebodohan (avijja), itulah sebabnya maka beliau tetap tinggal
di belukar terpencil di hutan. Tetapi anda tidak perlu berpikir
begitu, karena saya melihat dua manfaat tinggal di belukar terpencil
di hutan: 'Saya melihat hal yang menyenangkan bagiku sendiri di
sini dan sekarang, serta saya memiliki kasih sayang terhadap generasi
akan datang.' "
Benar, karena saudara Gotama adalah Arahat Sammasambuddha yang
memiliki kasih sayang kepada generasi mendatang.
Mengagumkan saudara Gotama! Mengagumkan saudara Gotama! Dhamma
telah dijelaskan dengan banyak cara oleh saudara Gotama, ia bagaikan
meluruskan yang bengkok, mengungkap yang tersembunyi, menunjuk
jalan bagi yang tersesat, menerangi kegelapan dengan lampu sehingga
mereka yang memiliki mata dapat melihat obyek.
Saya berlindung pada Gotama, kepada Dhamma dan kepada Sangha.
Sejak hari ini semoga Gotama mengingat saya sebagai upasaka (umat)
yang berlindung kepadanya selama hidup.