Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya II
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : Hanuman Sakti, Jakarta, 1997
Demikianlah yang saya dengar:
Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava berada di Jetavana, milik Anathapindika,
di Savatthi. Sementara Beliau berada di sana, Bhikkhu Sariputta
berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu", Para bhikkhu
menjawab: "Ya, bhante". Selanjutnya bhikkhu Sariputta
berkata:
"Avuso, ada empat macam orang di dunia; apakah mereka? Avuso,
di dunia ini ada orang yang 'bermental ternoda' (angana) dan yang
tidak mengetahui dengan benar: "Saya bermental ternoda".
Ada orang yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: "Saya
bermental ternoda". Ada orang tidak bermental ternoda dan tidak
mengetahui dengan benar: "Saya tidak bermental ternoda".
Ada orang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: "Saya
tidak bermental ternoda".
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang bermental ternoda,
ia yang bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: "Saya
bermental ternoda", adalah disebut inferior.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang bermental ternoda,
ia yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: "Saya
bermental ternoda", adalah disebut superior.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang tidak bermental
ternoda, ia yang tidak bermental ternoda dan tidak mengetahui
dengan benar: "Saya tidak bermental ternoda", adalah
disebut inferior.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang tidak bermental
ternoda, ia yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan
benar: "Saya tidak bermental ternoda," adalah disebut
superior."
Setelah hal ini dikatakan, maka Bhikkhu Mahamoggallana bertanya
kepada Bhikkhu Sariputta:
"Avuso Sariputta! Dari dua macam orang yang bermental ternoda,
seorang disebut inferior dan yang lain disebut superior. Apakah
alasan dan apa sebabnya?
"Avuso Sariputta! Dari dua macam orang yang tidak bermental
ternoda, seorang disebut inferior dan yang lain disebut superior.
Apakah alasan dan sebabnya?"
"Avuso, di antara dua macam orang, orang yang bermental ternoda
dan tidak mengetahui dengan benar: "Saya bermental ternoda",
tidak akan memunculkan keinginan, tidak berusaha, atau tidak mengembangkan
semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Ia akan meninggal dunia
dengan batin dipenuhi kemelekatan, kemarahan, kebodohan, noda-noda
mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh sebuah "wadah perunggu" (kamsapati)
yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang diliputi
oleh abu dan kotoran, yang mungkin dibiarkan tidak digunakan oleh
pemiliknya, tidak dibersihkan dan dibiarkan dipenuhi debu. Avuso,
bukankah setelah berselang beberapa waktu patta perunggu itu akan
lebih ternoda dan kotor oleh kotoran?"
"Ya, avuso."
"Avuso, dengan cara yang sama, orang yang bermental ternoda
dan tidak mengetahui dengan benar: "Saya bermental ternoda",
tidak akan memunculkan keinginan, tidak berusaha, atau tidak mengembangkan
semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Ia akan meninggal
dunia dengan batin dipenuhi kemelekatan, kemarahan, kebodohan,
noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi
padanya.
Avuso, di antara mereka, orang bermental ternoda dan mengetahui
dengan benar: "Saya bermental ternoda", akan memunculkan
keinginan, berusaha atau mengembangkan semangat untuk melenyapkan
noda mental itu. Akan meninggal dunia dengan pikiran tanpa kemelekatan,
tanpa kebencian, tanpa kebodohan, tanpa noda-noda mental dan tanpa
ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh, sebuah "wadah perunggu" (kamsapati)
yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang diliputi
oleh debu dan kotoran, yang mungkin dibersihkan oleh pemiliknya,
tidak dibiarkan diliputi debu. Avuso, bukankah setelah berselang
beberapa waktu patta perunggu itu menjadi bersih dan tanpa noda?"
"Ya, avuso."
"Avuso, sama halnya, orang yang bermental ternoda dan mengetahui
dengan benar: "Saya bermental ternoda", akan memunculkan
keinginan, berusaha atau mengembangkan semangat untuk melenyapkan
noda mental itu. Akan meninggal dunia dengan pikiran tanpa kemelekatan,
tanpa kebencian, tanpa kebodohan, tanpa noda-noda mental dan tanpa
ketidaksucian. Pasti, hal inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, di antara mereka, orang yang tidak bermental ternoda dan
tidak mengetahui dengan benar: "Saya tidak bermental ternoda"
akan tertarik pada hal-hal yang menyenangkan, karena tertarik pada
hal-hal menyenangkan, maka batinnya akan ternoda karena kemelekatan,
kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti,
inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu yang baru dibeli
dari toko atau tukang perunggu, yang agak bersih dan tidak ternoda,
tetapi yang mungkin tidak digunakan dan tidak dibersihkan oleh
pemiliknya dan dibiarkan di tempat berdebu. Avuso, bukankah setelah
berselang beberapa waktu patta perunggu itu ternoda dan kotor
oleh kotoran?"
"Ya, avuso."
"Avuso, sama halnya orang yang tidak bermental ternoda
tetapi tidak mengetahui dengan benar: "Saya tidak bermental
ternoda", akan tertarik pada hal-hal yang menyenangkan, karena
tertarik pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya akan ternoda
oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin diliputi
kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian.
Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, di antara mereka, orang yang tidak bermental ternoda dan
mengetahui dengan benar: "Saya tidak bermental ternoda"
tidak akan tertarik pada hal-hal menyenangkan, karena tidak tertarik
pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya tidak akan ternoda oleh
kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin tidak diliputi
kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian.
Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu yang baru dibeli
dari toko atau tukang perunggu, yang agak bersih dan agak tidak
ternoda, tetapi yang mungkin digunakan dan dibersihkan oleh pemiliknya
dan tidak dibiarkan di tempat berdebu. Avuso, bukankah setelah
berselang beberapa waktu patta perunggu itu menjadi lebih bersih
dan tidak ternoda?"
"Ya, avuso."
"Avuso, sama halnya, orang yang tidak bermental ternoda
dan mengetahui dengan benar: "Saya tidak bermental ternoda"
tidak akan tertarik pada hal-hal menyenangkan, karena tidak tertarik
pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya tidak akan ternoda oleh
kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin tanpa kemelekatan,
kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidak sucian. Pasti,
inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso Moggallana! Inilah alasan dan sebab dari pernyataan bahwa
dari dua macam yang bermental ternoda, seorang disebut inferior
dan orang yang lain disebut superior.
Avuso Moggallana! Inilah alasan dan sebab dari pernyataan bahwa
dari dua macam orang yang tidak bermental ternoda, seorang disebut
inferior dan orang yang lain disebut superior.
"Avuso, telah tersebut: 'Noda, noda.' Apa yang dimaksud dengan
'noda'?
Avuso, 'noda' ini adalah sebutan untuk faktor-faktor jahat (papakanam)
yang muncul dari 'keinginan-keinginan buruk' (akusalaiccha).
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Saya akan melakukan pelanggaran peraturan (apatti), mungkin
para bhikkhu tidak mengetahui perbuatanku." Kemudian bhikkhu
itu berpikir, "Para bhikkhu tahu bahwa saya telah melakukan
apatti", lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan
ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Saya akan melakukan apatti, mungkin para bhikkhu akan menuduhku
secara pribadi dan tidak di tengah-tengah sangha." Avuso,
tetapi mungkin para bhikkhu menuduhnya di tengah-tengah sangha
dan bukan secara pribadi. Kemudian bhikkhu itu berpikir, "Para
bhikkhu menuduhku di tengah-tengah sangha, bukan secara pribadi,"
lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan
adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Saya akan melakukan apatti, mungkin saya akan dituduh oleh
teman (yang telah melakukan apatti) dan bukan oleh 'bukan temanku'
(yang tidak melakukan apatti)." Avuso, mungkin bahwa ia tidak
dituduh oleh temannya, tetapi oleh bukan temannya. Bhikkhu itu berpikir,
"Saya dituduh oleh 'bukan temanku', namun bukan oleh temanku,"
lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan
adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sangat baik bila Guru (sattha) membabarkan dhamma kepada
para bhikkhu, hanya bertanya kepada saya dan bukan kepada bhikkhu
lain." Avuso, tetapi mungkin Guru membabarkan dhamma kepada
para bhikkhu dan bertanya kepada bhikkhu lain dan tidak bertanya
kepada bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir, "Guru mengajar
dhamma kepada para bhikkhu dan bertanya kepada bhikkhu lain, tetapi
tidak kepadaku," lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah
dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sungguh baik bila para bhikkhu memasuki desa untuk menerima
makanan dengan saya selalu sebagai pemimpin dan bukan bhikkhu lain
yang memimpin." Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu memasuki
desa untuk menerima makanan dengan dipimpin oleh bhikkhu lain dan
bukan bhikkhu itu yang memimpin. Bhikkhu itu berpikir, "Para
bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan dipimpin oleh
bhikkhu lain dan bukan saya yang selalu memimpin," lalu ia
marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah
noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sungguh baik bila saya sendiri mendapat tempat yang terbaik,
air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan,
sedangkan bhikkhu yang lain tidak mendapat hal-hal itu."
Avuso, tetapi mungkin bhikkhu yang lain mendapat tempat terbaik,
air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan,
sedangkan bhikkhu itu tidak mendapat hal-hal itu. Bhikkhu itu
berpikir, "Para bhikkhu mendapat tempat terbaik, air terbaik
dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan
saya tidak mendapat hal-hal itu," lalu ia marah dan tidak
senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sungguh baik bila saya sendiri membabarkan dhamma sebagai pernyataan
'anumodana' (membabar dhamma setelah menerima dana), setelah makan
dana-makanan, di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu
lain tidak melakukannya. Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain membabarkan
dhamma setelah makan dana-makanan di tempat makan yang ditentukan,
sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir,
"Bhikkhu lain membabarkan dhamma setelah makan dana-makanan
di tempat makan yang ditentukan, sedangkan saya tidak melakukannya,"
lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan
adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sungguh baik bila saya sendiri yang membabarkan dhamma kepada
para bhikkhu yang mengunjungi vihara dan tidak ada bhikkhu lain
yang melakukannya." Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain yang
membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara,
sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir,
"Bhikkhu lain membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang
mengunjungi vihara, sedangkan saya tidak melakukannya," lalu
ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah
noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sungguh baik bila saya sendiri yang membabarkan dhamma kepada
para bhikkhuni ... dst .. ... kepada upasaka yang mengunjungi vihara...
dst .. ... kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan
bhikkhu lain tidak melakukannya." Avuso, tetapi mungkin bhikkhu
lain yang membabarkan dhamma kepada para upasika yang mengunjungi
vihara, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir,
"Bhikkhu lain membabarkan dhamma kepada para upasika yang mengunjungi
vihara, sedangkan saya tidak melakukannya," lalu ia marah dan
tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda
batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sungguh baik bila para bhikkhu menghormat, memuja, memuji
dan menghargai saya sendiri, sedangkan para bhikkhu tidak menghormati,
memuja, memuji atau menghargai bhikkhu lain." Avuso, tetapi
mungkin para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai
bhikkhu lain, sedangkan para bhikkhu tidak menghormat, memuja,
memuji dan menghargai bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir: "Para
bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain,
sedangkan saya tidak dihormat, dipuja, dipuji dan dihormati oleh
para bhikkhu," lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah
dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sungguh baik bila para bhikkhuni ... para upasaka sendiri,
sedangkan para upasika tidak menghormat, memuja, memuji atau menghargai
bhikkhu lain." Avuso, tetapi mungkin para upasika menghormat,
memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan para upasika
tidak menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu itu. Bhikkhu
itu berpikir: "Para upasika menghormat, memuja, memuji dan
menghargai bhikkhu lain, sedangkan saya tidak dihormat, dipuja,
dipuji dan dihormati oleh para upasika," lalu ia marah dan
tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda
batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sungguh baik bila hanya saya sendiri menerima jubah yang
bagus, sedangkan bhikkhu lain tidak menerima jubah yang bagus."
Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain menerima jubah yang bagus,
sedangkan bhikkhu itu tidak menerima jubah yang bagus. Bhikkhu
itu berpikir: "Bhikkhu lain menerima jubah yang bagus, sedangkan
saya tidak menerima jubah yang bagus," lalu ia marah dan
tidak senang. Avuso, marah dan tidaksenangan adalah noda-noda
batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan:
"Sungguh baik bila hanya saya sendiri menerima dana-makanan
yang baik ... tempat tinggal saya bagus ... obat-obatan yang bagus
dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan
bhikkhu yang lain tidak menerima hal-hal itu." Avuso, tetapi
mungkin bhikkhu lain menerima obat-obatan dan kebutuhan pengobatan
yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan bhikkhu itu tidak
menerima hal-hal itu. Bhikkhu itu berpikir, "Bhikkhu lain menerima
obat-obatan yang bagus dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam
keadaan sakit, sedangkan saya tidak menerima hal-hal itu,"
lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan
adalah noda-noda batin.
Avuso, 'noda' ini adalah sebutan untuk faktor-faktor buruk yang
muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Avuso, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang
bahwa bhikkhu itu tidak melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul
dari keinginan-keinginan jahat walaupun bhikkhu itu melakukan 'praktik
keras', seperti, 'tinggal dihutan' (arannako) atau 'tempat terpencil'
(pantasenasano), menerima dana-makanan (pindapatiko) atau 'menerima
makanan dari rumah-rumah' (sapadanacari), mengenakan jubah yang
dibuat dari kain bekas pembungkus mayat' (pamsukuliko) atau jubah
yang dibuat dari kain-kain kasar yang kurang berharga' (lukhacivara),
ia tidak akan dihormati, dipuja, dipuji atau dihargai oleh rekan-rekannya
yang 'melaksanakan penghidupan suci' (sabrahmacari). Apa alasannya?
Karena melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu belum melenyapkan
faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Avuso, sebagai contoh, sebuah 'wadah perunggu' (kamsapati) bersih
dan tidak ternoda yang dibeli dari toko atau tukang perunggu dan
pemiliknya pergi ke pasar mengisinya dengan (potongan) bangkai
ular membusuk, bangkai anjing atau potongan mayat manusia dan
menutupi wadah itu dengan wadah perunggu lain. Orang-orang yang
melihat wadah perunggu itu, mungkin berkata: "Kawan, mengapa
anda membawa hadiah bagus ini?" bangkit dari duduk, membukanya
dan melihat ke dalamnya. Namun, segera setelah mereka melihat
isinya, mereka akan merasa mau muntah, jijik dan muak, sehingga
orang yang lapar pun tidak berkeinginan untuk makan, apalagi mereka
yang kenyang.
Avuso, begitu pula halnya, bilamana seorang bhikkhu dilihat
atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu tidak melenyapkan
faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat
walaupun bhikkhu itu melakukan 'praktik keras', seperti, 'tinggal
dihutan' (arannako) atau 'tempat terpencil' (pantasenasano), menerima
dana makanan (pindapatiko) atau 'menerima makanan dari rumah-rumah'
(sapadanacari), mengenakan jubah yang dibuat dari kain pembungkus
mayat (pamsukuliko) atau jubah yang dibuat dari kain-kain kasar
yang kurang berharga (lukhacivara), ia tidak akan dihormati, dipuja,
dipuji atau dihargai oleh rekan-rekannya yang 'melaksanakan penghidupan
suci' (sabrahmacari). Apa alasannya? Karena mereka melihat atau
mendengar bahwa bhikkhu itu belum melenyapkan faktor-faktor buruk
yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Avuso, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang
bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul
dari keinginan-keinginan jahat walaupun ia menetap di sebuah vihara
desa, menerima dana-makanan dari mereka yang mengundangnya dan mengenakan
jubah yang didanakan para umat, ia akan dihormati, dipuja, dipuji
dan dihargai oleh para rekannya yang melaksanakan penghidupan suci.
Apakah alasannya? Karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu
itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan
jahat.
Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu bersih dan tak
ternoda yang dibeli dari toko atau tukang perunggu, lalu pemiliknya
pergi ke pasar, mengisinya dengan nasi matang yang bagus, tanpa
bijian hitam, bersama banyak kari kacang, daging dan ikan, setelah
itu menutupinya dengan wadah perunggu lain. Orang-orang yang melihat
wadah perunggu itu, mungkin berkata: "Kawan! Mengapa anda
membawa hadiah bagus ini?" bangkit dari duduk, membukanya
dan melihat ke dalamnya. Namun, segera setelah mereka melihat
isinya, mereka akan merasa gembira, tanpa merasa muak atau jijik.
Sehingga orang yang telah kenyang pun berkeinginan untuk makan,
apalagi mereka yang lapar.
Avuso, begitu pula halnya, bilamana seorang bhikkhu dilihat
atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan
faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat
walaupun menetap di sebuah vihara desa, menerima dana-makanan
dari mereka yang mengundangnya dan mengenakan jubah yang didanakan
para umat, ia akan dihormati, dipuja, dipuji dan dihargai oleh
para rekannya yang melaksanakan penghidupan suci. Apakah alasannya?
Karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan
faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Setelah hal ini dikatakan, lalu Bhikkhu Moggallana berkata kepada
Bhikkhu Sariputta: "Avuso Sariputta, sebuah perumpamaan muncul
dalam pikiranku."
"Avuso Moggallana, ungkapkanlah perumpamaan itu."
"Avuso, saya pernah menetap di Giribbaje, dekat kota Rajagaha.
Pada suatu pagi, setelah saya mengenakan jubah dan membawa patta
serta civara, pergi ke Rajagaha untuk pindapata (menerima makanan).
Ketika itu, Samiti, putra pembuat kereta, sedang membentuk bagian
sisi roda kereta, sedangkan petapa telanjang (ajiviko) bernama
Panduputta, mantan pembuat kereta, sedang berdiri di dekatnya.
Avuso, kemudian muncul ide pada petapa telanjang Panduputta:
"Akan baik bila Samiti memperbaiki lengkungan, bagian yang bengkok
dan kerusakan dari bagian sisi roda kereta. Dengan demikian maka
bagian sisi roda kereta akan tanpa lengkungan, bagian yang bengkok
dan rusak, maka bagian sisi roda kereta akan tanpa cacad dan bagus.
Avuso, Samiti memperbaiki lengkungan, bagian yang bengkok dan
yang rusak, sesuai dengan ide petapa telanjang Panduputta. Kemudian
petapa telanjang Panduputta gembira, dengan mengucapkan teriakan
kegembiraan: "Nampaknya ia melakukan perbaikan (bagian luar
dari roda) bagaikan ia, melalui pikirannya, mengetahui pikiran
orang lain."
Avuso, begitu pula halnya, orang-orang yang tanpa keyakinan
(Tiratana), meninggalkan kehidupan berumah-tangga menjadi petapa
yang bukan karena berdasarkan pada kepercayaan (pada hukum kamma),
tetapi sebagai mata pencaharian. Mereka licik, penipu, pemalsu,
bingung, arogan, keji, pesolek dan cerewet; mereka tidak menjaga
indera-indera, makan tidak sederhana (bhojane amattannuta), tidak
selalu waspada (jagariya ananuyutta), tidak berkehidupan samana
dengan baik (samane anapekhavanto), tidak melaksanakan peraturan
dengan baik (sikkhaya na tibbagarava), ingin hidup mewah, lalai,
kemauan baik menurun, tak bertanggung jawab dalam usaha untuk
melenyapkan dukkha (nibbana), malas, kurang bersemangat, tidak
berperhatian, tidak berpengertian, tidak menenangkan pikiran,
pikiran tidak tetap, pikiran tak terkendali, tidak bijak dan pikiran
tumpul. Nampaknya seperti ayasma (saudara) Sariputta mengetahui
pikiran mereka melalui pikiran yang mengatur (membentuk) pikiran
mereka dengan uraian Dhamma.
Tetapi, ada pula orang-orang dengan keyakinan meninggalkan kehidupan
berumah tangga menjadi petapa, yang tidak licik, tidak menipu,
bukan memalsu, tidak bingung, tidak arogan, tidak keji, tidak
pesolek dan tidak cerewet; menjaga indera-indera, makan sederhana,
selalu waspada, berkehidupan samana dengan baik, melaksanakan
peraturan dengan baik, hidup sederhana, bersemangat, berkemauan
baik, berusaha untuk melenyapkan dukkha, rajin, berperhatian,
berpengertian, pikiran tenang, pikiran tetap, pikiran terkendali,
bijak dan pintar. Setelah mereka mendengar uraian dhamma dari
Ayasma Sariputta, bagaikan mereka minum (saripati) ungkapannya
dan makan maknanya, dengan berkata: "Baik sekali! Ayasma Sariputta
telah menyebabkan rekan brahmacari-nya meninggalkan hal-hal buruk
(akusala) dan mengembangkan hal-hal yang baik (kusala).
Avuso, seperti seorang wanita atau pria, remaja dan berusia
muda yang biasa merias diri, mandi, mengambil bunga teratai, melati,
akasia dan membawanya dengan kedua tangan atau menaruh itu di
kepala, begitu pula orang-orang itu dengan keyakinan meninggalkan
kehidupan berumah tangga menjadi petapa, yang tidak licik, tidak
menipu, bukan memalsu, tidak bingung, tidak arogan, tidak keji,
tidak pesolek dan tidak cerewat; menjaga indera-indera, makan
sederhana, selalu waspada, berkehidupan samana dengan baik, melaksanakan
peraturan dengan baik, hidup sederhana, bersemangat, berkemauan
baik, berusaha untuk melenyapkan dukkha, rajin, berperhatian,
berpengertian, pikiran tenang, pikiran tetap, pikiran terkendali,
bijak dan pintar. Setelah mereka mendengar uraian dhamma dari
Ayasma Sariputta, bagaikan mereka minum (saripati) ungkapannya
dan makan maknanya, dengan berkata: "Baik sekali! Ayasma Sariputta
telah menyebabkan rekan brahmacarinya meninggalkan hal-hal buruk
(akusala) dan mengembangkan hal-hal yang baik (kusala).
Dengan cara ini kedua maha arahat (mahanaga) gembira dalam pembicaraan
mereka.