AKANKHEYYA SUTTA (6)
Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya II
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : Hanuman Sakti, Jakarta, 1997
Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava berada di vihara Jetavana,
milik Anathapindika, di Savatthi. Ketika itu, Sang Bhagava berkata
kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu." para bhikkhu menjawab:
"Ya, Bhante. "
Para bhikkhu, hiduplah dengan sila dan laksanakanlah
patimokkha. Hidup dan kendalikan diri sesuai Patimokkha, berprilaku
baik (acara) dan 'selalu berada di tempat yang pantas' (gocara), melihat
bahaya pada kesalahan kecil sekalipun, serta melaksanakan 'peraturan
latihan' (sikkhapada).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin' (akankheyya):
"Semoga saya disayangi, disukai, dihormati dan dipuji oleh teman-teman
brahmacari", maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan
sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak
lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan
terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan
sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya dengan mudah mendapat kebutuhan-kebutuhan: jubah, makanan, tempat
menginap dan obat-obatan yang digunakan sewaktu sakit, " maka
ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun
menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga
mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana)
dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
orang-orang yang berdana jubah, makanan, tempat menginap dan obat-obatan
yang saya butuhkan, akan menerima buah karma yang besar dan kemajuan
dari dana-dana itu, " maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan
sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak
lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan
terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan
sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
berdasarkan pada keyakinan dan kepatuhan dari sanak keluargaku yang
telah meninggal, mereka akan menerima buah karma dan manfaat yang
besar, " maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila
dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai
bermeditasi hingga mencapai jhana melaksanakan meditasi pandangan
terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan
sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya menjadi seorang yang mengatasi ketidakbahagiaan (dalam kebhikkhuan)
atau kesenangan (menikmati pemuasan nafsu) dan bukan orang yang dikuasai
oleh ketidakbahagiaan, namun sebagai seorang yang selalu mengatasi
ketidakbahagiaan yang muncul, " maka ia harus seseorang yang
telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha),
tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi
pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat terpencil
dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
menjadi seorang yang mengatasi kebencian dan kesukaan, dan bukan orang
yang dikuasai oleh kebencian dan kesukaan, serta selalu mengatasi
kebencian dan kesukaan, " maka ia harus seseorang yang telah
melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha),
tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi
pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil
dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
menjadi seorang yang mengatasi ketakutan dan kegentaran, dan bukan
orang yang dikuasai oleh kebencian dan kegentaran," maka ia harus
seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan
batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana,
melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal
di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
menjadi seorang yang dapat mencapai pencapaian sesuai keinginan, tanpa
kesulitan atau tanpa, mengenai Empat Rupajhana, yang dihasilkan oleh
batin yang bersih, sehingga seseorang dapat hidup dengan bahagia pada
kehidupan ini," maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila
dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai
bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan
terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan
sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
setelah saya melampaui Rupajhana, dengan pencapaian batin dan tetap
berada dalam kedamaian Arupajhana yang dihasilkan berdasarkan 'pembebasan'
(vimokkha)," maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan
sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak
lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan
terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan
sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya menjadi Sotapanna dengan melenyapkan tiga 'belenggu' (samyojana)
dan tidak akan terlahir kembali di alam menyedihkan dan menderita,
yang pasti dan akan mencapai 'penerangan agung' (bodhi)," maka
ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun
menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga
mencapai jhana, melaksanakan meditasi, pandangan terang (vipassana)
dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya menjadi Sakadagami dengan melenyapkan tiga 'belenggu' (samyojana)
dan melemahkan kemelekatan pada nafsu (raga), kebencian (dosa) serta
kebodohan (moha), akan terlahir sekali lagi demi melenyapkan dukkha"
maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik,
tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi
hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana)
dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Dengan
melenyapkan lima belenggu (samyojana) yang rendah (orambhagiya), semoga
saya terlahir secara 'langsung' (opapatika) dan tidak akan terlahir
kembali di alam lain, serta akan mencapai nibbana di alam itu,"
maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik,
tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi
hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana)
dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya memiliki bermacam-macam 'kemampuan batin fisik' (iddhividdha)
seperti: dari satu tubuh menjadi banyak tubuh, dari banyak tubuh menjadi
satu, saya menjadi terlihat atau tidak terlihat (menghilang); saya
tanpa rintangan menembus dinding, pagar maupun gunung bagaikan berjalan
di tempat terbuka; saya dapat menyelam dan keluar dari tanah bagaikan
menyelam dan keluar dari air; saya berjalan di atas air bagaikan berjalan
di tanah; saya dapat terbang ke angkasa dengan posisi duduk bagaikan
burung terbang; saya dapat menyentuh matahari dan bulan yang sangat
perkasa itu; saya dapat menguasai tubuh saya hingga dapat pergi ke
alam para Brahma," maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan
sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak
lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan
terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan
sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seseorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya dapat mendengar dua macam suara, yaitu suara para dewa dan manusia,
jauh atau dekat, dengan kemampuan mendengar yang melampaui kemampuan
mendengar manusia biasa, kemampuan mendengar yang sangat jelas seperti
kemampuan para dewa," maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan
sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak
lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan
terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan
sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya, dengan pikiran saya sendiri, mengetahui dengan jelas pikiran-pikiran
para makhluk atau individu lain; semoga saya mengetahui pikiran yang
diliputi nafsu indera (saraga); semoga saya mengetahui pikiran tanpa
nafsu indera (vitaraga) sebagai pikiran tanpa nafsu indera; semoga
saya mengetahui pikiran yang diliputi oleh kebencian (sadosa); semoga
saya mengetahui pikiran tanpa diliputi kebencian sebagai pikiran tanpa
diliputi kebencian; semoga saya mengetahui pikiran yang diliputi kebodohan
(samoha); semoga saya mengetahui pikiran tanpa diliputi kebodohan
sebagai pikiran tanpa diliputi kebodohan; semoga saya mengetahui pikiran
kebingungan (sankhitta); semoga saya mengetahui pikiran tanpa kebingungan
sebagai pikiran tanpa kebingungan; semoga saya mengetahui pikiran
mulia (mahaggata) sebagai pikiran mulia; semoga saya mengetahui pikiran
mulia; semoga saya mengetahui pikiran tidak mulia (amahaggata) sebagai
pikiran tidak mulia; semoga saya mengetahui pikiran inferior (sa-uttara)
sebagai pikiran rendah; semoga saya mengetahui pikiran superior (anuttara)
sebagai pikiran superior; semoga saya mengetahui pikiran terkonsentrasi
(samahita) sebagai pikiran terkonsentrasikan; semoga saya mengetahui
pikiran tak terkonsentrasi (asamahita) sebagai pikiran tak terkonsentrasi;
semoga saya mengetahui pikiran telah terbebas (vimutta) sebagai pikiran
telah bebas; semoga saya mengetahui pikiran belum bebas (avimutta)
sebagai pikiran belum bebas," maka ia harus seseorang yang telah
melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha),
tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi
pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil
dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya dapat mengingat 'banyak dan bermacam-macam kehidupan yang lampau'
(anekavihita pubbenivasa), seperti: mengingat satu kelahiran lampau,
dua, tiga, empat, lima, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh,
lima puluh, seratus, seribu, seratus ribu kelahiran lampau, atau dalam
banyak kali penghancuran bumi (samvattakappa), dalam banyak kali pembentukan
bumi (vivattakappa), atau dalam banyak masa pembentukan dan penghancuran
bumi, ketika itu: pada kehidupan itu saya memiliki nama, terlahir
pada keluarga, memiliki penampilan, makan makanan, menikmati kenikmatan,
saya menderita sakit; masa usiaku sepanjang itu, saya meninggal dari
kehidupan itu dan kemudian saya terlahir pada kehidupan yang lain;
pada kehidupan (baru) itu saya bernama, terlahir pada keluarga, memiliki
penampilan, makan makanan, menikmati kenikmatan, saya menderita sakit,
masa usiaku sepanjang itu, saya meninggal dari kehidupan itu dan saya
lahir kembali pada kehidupan ini. Semoga saya dapat mengingat banyak
dan macam-macam kelahiranku yang lampau seperti, bersama dengan semua
karakter dan keadaan yang berhubungan dengan kehidupan-kehidupan itu,"
'maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik,
tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi
hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana)
dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya memiliki kemampuan batin mata dewa (dibba cakkhu) yang sangat
tajam dan melebihi kemampuan mata manusia biasa, dapat melihat makhluk-makhluk
dalam proses meninggal dan lahir kembali, makhluk-makhluk inferior
atau superior, makhluk-makhluk cantik atau buruk, serta makhluk-makhluk
dengan kehidupan baik atau buruk. Semoga saya mengetahui bagaimana
makhluk-makhluk lahir sesuai dengan karma-karma mereka. Kawan-kawan!
Makhluk-makhluk ini dipenuhi perbuatan jahat yang dilakukan dengan
jasmani, ucapan dan pikiran. Mereka kejam kepada para ariya, berpandangan
keliru dan melakukan perbuatan-perbuatan berdasarkan pandangan keliru
mereka. Setelah meninggal, mereka terlahir kembali di alam penderitaan
(duggati), alam menyedihkan (apaya), alam penuh kesakitan dan kesedihan
(vinipata), di alam neraka (niraya). Tetapi, kawan-kawan, ada pula
makhluk-makhluk yang diliputi oleh perbuatan baik yang dilakukan dengan
jasmani, ucapan dan pikiran. Mereka tidak kejam kepada para ariya,
memiliki pandangan benar. Setelah mereka meninggal, mereka terlahir
kembali di alam menyenangkan, alam kebahagiaan para dewa. Dengan demikian,
semoga saya memiliki kemampuan mata dewa (dibba cakkhu) yang sangat
tajam dan melebihi kemampuan mata manusia biasa seperti itu,"
maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik,
tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi
hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana)
dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Semoga
saya dengan kemampuan batin (abhinnaya) melenyapkan semua kekotoran
batin (asava) pada kehidupan sekarang ini, mencapai dan tetap berada
dalam batin suci (cetovimutti) dan kesucian kebijaksanaan (pannavimutti),"
maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik,
tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi
hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana)
dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
Itulah berdasarkan hal ini, maka kata-kata ini telah
dinyatakan: "Para bhikkhu, hiduplah dengan sila dan laksanakanlah
patimokkha. Hidup dan kendalikan diri sesuai Patimokkha, berprilaku
baik (acara) dan 'selalu berada di tempat yang pantas' (gocara), melihat
bahaya pada kesalahan kecil sekalipun, serta melaksanakan 'peraturan
latihan' (sikkhapada).
Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu
itu senang dan gembira dengan apa yang dikatakan Sang Bhagava.