Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya I
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : Yayasan Pancaran Dharma - Jakarta, 1992
Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava tinggal di daerah suku Sakya, di
Kapilavastu, di Taman Nigrodha.
Lalu Mahanama, seorang Sakya menemui Sang Bhagava, dan sesudah
memberikan penghormatan, ia duduk di salah satu sisi. Setelah itu
ia berkata: "Bhante, telah lama saya ketahui tentang Dhamma
yang diajarkan Sang Bhagava demikian: 'Keserakahan merupakan kekotoran
pikiran, kebencian merupakan kekotoran pikiran, ketidaktahuan merupakan
kekotoran pikiran.' Namun, walaupun saya tahu tentang Dhamma yang
diajarkan Sang Bhagava demikian, sering kali hal-hal (dhamma) keserakahan
menyerang dan tinggal dalam pikiranku, hal-hal kebencian menyerang
dan tinggal dalam pikiranku, hal-hal ketidaktahuan menyerang dan
tinggal dalam pikiranku. Aku (heran), Bhante, dhamma apakah yang
masih melekat dalam diriku sehingga sering kali hal-hal (dhamma)
tadi menyerang dan tinggal dalam pikiranku."
"Mahanama, masih ada dhamma yang melekat pada dirimu, sehingga
sewaktu-waktu hal-hal (dhamma) keserakahan ... kebencian ... ketidaktahuan
... menyerang dan tinggal dalam pikiranmu; karena jika dhamma tersebut
telah disingkirkan olehmu dari dalam dirimu engkau tak akan hidup
berumah-tangga, tak akan menikmati kesenangan-kesenangan indera.
Karena masih ada dhamma yang belum dihapuskan dari dirimu, sehingga
engkau menjalani kehidupan berumah tangga dan menikmati kesenangan-kesenangan
indera.
Jika walaupun seorang siswa suci telah melihat dengan jelas, sebagaimana
adanya dan disertai pengertian benar, bagaimana nafsu-nafsu indera
memberikan sedikit kesenangan dan lebih banyak penderitaan dan putus
asa dan bagaimana besar bahaya yang ada di dalamnya, tetapi selama
ia belum merasakan kebahagiaan dan kenikmatan di luar nafsu-nafsu
indera, di luar dhamma yang tidak menguntungkan, atau mencapai sesuatu
yang bahkan lebih membawa kedamaian dari hal-hal itu, dia tetap
belum mengalahkan nafsu-nafsu indera.
Tetapi apabila seorang siswa suci telah melihat dengan jelas, sebagaimana
adanya dan disertai pengertian benar, bagaimana nafsu-nafsu indera
memberikan sedikit kesenangan dan lebih banyak penderitaan dan putus
asa dan bagaimana besar bahaya yang ada di dalamnya, kemudian dia
merasakan kebahagiaan dan kenikmatan di luar dari nafsu-nafsu indera,
di luar dhamma yang tidak menguntungkan, atau mencapai sesuatu yang
bahkan lebih membawa kedamaian dari hal-hal itu, dia tidak lagi
dikuasai nafsu-nafsu indera.
Sebelum Aku mencapai penerangan sempurna, ketika Aku masih sebagai
Boddhisatta, ketika itu Aku juga melihat dengan jelas, sebagaimana
adanya, disertai pengertian benar bagaimana nafsu-nafsu indera memberikan
sedikit kesenangan dan lebih banyak penderitaan dan putus asa, dan
bagaimana besar bahaya yang ada di dalamnya, tetapi selama Aku belum
merasakan kebahagiaan dan kenikmatan di luar dari nafsu-nafsu indera,
di luar dari Dhamma yang tidak menguntungkan, atau mencapai sesuatu
yang bahkan lebih membawa kedamaian dari hal-hal itu, Aku menyadari
bahwa Aku tetap belum mengalahkan nafsu-nafsu indera.
Tetapi ketika Aku telah melihat dengan jelas, sebagaimana adanya
dan disertai pengertian benar, bagaimana nafsu-nafsu indera memberikan
sedikit kesenangan dan lebih banyak penderitaan dan putus asa, dan
bagaimana besar bahaya di dalamnya, kemudian Aku merasakan kebahagiaan
dan kenikmatan di luar nafsu-nafsu indera, di luar dhamma yang tidak
menguntungkan, atau mencapai sesuatu yang bahkan lebih membawa kedamaian
dari hal-hal itu, Aku menyadari bahwa Aku telah mengalahkan nafsu-nafsu
indera.
(i) Lalu, apakah kesenangan dalam hal nafsu-nafsu indera? Mahanama,
ada ... lima saluran dari nafsu indera. Apakah kelimanya? Bentuk-bentuk
dikenal melalui mata yang diharapkan, diinginkan, disetujui dan
disukai, dihubungkan dengan nafsu indera dan dibangkitkan oleh hawa
nafsu. Suara dikenal melalui telinga .... Bau-bauan dikenal melalui
hidung .... Rasa dikenal melalui lidah .... Sentuhan dikenal melalui
badan yang diharapkan, diinginkan, disetujui dan disukai, dihubungkan
dengan nafsu indera dan dibangkitkan oleh nafsu. Ini adalah lima
saluran dari nafsu indera.
Kenikmatan dan kegembiraan yang timbul pada lima saluran nafsu indera
adalah kesenangan dalam hal nafsu indera.
(ii) Dan apakah bahaya dari nafsu-nafsu indera? Begini para bhikkhu,
karena seorang anggota masyarakat dituntut mencari penghidupan,
apakah itu memeriksa, membukukan, menghitung, menanam, berdagang,
beternak, memanah sebagai prajurit, atau apa saja tuntutan itu,
ia harus menghadapi dingin, ia harus menghadapi panas, ia diganggu
oleh nyamuk dan lalat, angin dan matahari dan binatang melata, menanggung
resiko mati karena lapar dan haus.
Bahaya dalam masalah nafsu indera, berupa tumpukan penderitaan yang
tampak di sini dan sekarang juga, nafsu indera yang menimbulkannya,
nafsu indera sebagai sumbernya, nafsu indera sebagai penyebabnya,
yang menimbulkannya hanyalah nafsu indera.
Bila tidak ada harta yang didapat oleh anggota masyarakat itu,
ketika ia bekerja, berjuang dan berusaha demikian, ia menderita,
sedih dan menyesal, memukul dadanya, ia menangis sampai menjerit-jerit,
(meratapi:) 'Pekerjaanku sia-sia, pekerjaanku tak ada hasilnya!'
Bahaya ini juga dalam hal nafsu indera ... yang menimbulkannya hanyalah
nafsu indera.
Bila harta didapat oleh anggota masyarakat itu, ketika ia bekerja,
berjuang dan berusaha, ia mengalami sakit dan ketakutan dalam melindungi
hartanya: 'Bagaimana supaya baik para raja ataupun para pencuri
tidak mengambil harta ini ataupun kebakaran memusnahkannya ataupun
banjir menghanyutkannya atau ahli warisnya yang mendendam merebutnya.
Dan sewaktu ia menjaga dan melindungi hartanya, para raja atau para
pencuri merebutnya atau api membakarnya atau banjir menghanyutkannya
atau ahli waris yang mendendam merebutnya. Dan ia menderita, takut
dan mengeluh, memukul dadanya dan menangis sampai menjerit-jerit,
(meratapi:) 'Apa yang telah kumiliki kini tiada lagi.'
Bahaya ini juga dalam hal nafsu indera ... yang menimbulkannya hanyalah
nafsu indera.
Lagi, dengan nafsu indera yang menimbulkannya, nafsu indera sebagai
sumbernya, nafsu indera sebagai penyebabnya, yang menimbulkannya
hanyalah nafsu indera, para raja berselisih dengan para raja, para
prajurit dengan prajurit, para pertapa dengan para pertapa, para
perumah-tangga dengan para perumah-tangga, ibu dengan anak, anak
dengan ibu, ayah dengan anak, anak dengan ayah, saudara laki-laki
dengan saudara laki-laki, saudara laki-laki dengan saudara perempuan,
teman dengan teman. Lalu dalam perselisihan, persengketaan dan pertengkaran
itu, mereka menyerang satu sama lain dengan tinju atau pentungan
atau tongkat atau dengan pisau, di mana mereka mengalami kematian
dan penderitaan hebat.
Bahaya ini juga dalam hal nafsu indera ... yang menimbulkannya hanyalah
nafsu indera.
Lagi, dengan nafsu-nafsu indera menimbulkannya ... (laki-laki)
menghunus pedang, memakai perisai dan pelindung dada dan kotak tempat
anak panah dan mereka bertempur masal dalam dua kelompok dengan
panah-panah dan tombak-tombak beterbangan dan pedang-pedang berkelebatan;
dan mereka terluka oleh panah-panah dan tombak-tombak itu, kepala
mereka terpancung oleh pedang-pedang, di mana mereka mengalami kematian
atau penderitaan hebat.
Bahaya ini juga dalam hal nafsu indera ... yang menimbulkannya hanyalah
nafsu indera.
Lagi, dengan nafsu indera menimbulkannya ... (laki-laki) menghunus
pedang, memakai perisai dan pelindung dada dan kotak tempat anak
panah mereka memperkuat serangan, dengan panah-panah dan tombak-tombak
beterbangan, pedang-pedang berkelebatan; dan mereka terluka oleh
panah-panah dan tombak-tombak itu. Tersiram cairan mendidih, dihantam
beban berat, kepala mereka terpancung oleh pedang, di mana mereka
mengalami kematian dan penderitaan hebat.
Bahaya ini juga dalam hal nafsu indera ... yang menimbulkannya hanyalah
nafsu indera.
Lagi, dengan nafsu indera yang menimbulkannya ... (laki-laki)
melanggar hukum, mencuri, menjadi bandit, merampok di jalan raya,
berzina dengan istri orang lain; sehingga bila tertangkap, raja
menjatuhkan berbagai macam hukuman bagi mereka. Mereka dilecut,
dipukul dengan batang tebu, dipukul dengan tongkat, tangan-tangan
mereka dipotong, kaki-kaki mereka dipotong, tangan-tangan dan kaki-kaki
mereka dipotong, hidung mereka dipotong, mereka menghadapi kuali
panas, pisau cukur tajam, parang, gonggongan anjing, tandukan rusa,
penggantung daging, lempengan logam panas, cairan racun, jarum tajam,
mereka diputar-putar dan mereka disiram minyak mendidih, dicabik-cabik
oleh anjing, kepala mereka dipancung dengan pedang, di mana mereka
mengalami kematian atau penderitaan hebat.
Bahaya ini juga dalam hal nafsu indera ... yang menimbulkannya hanyalah
nafsu indera.
Lagi, dengan nafsu indera yang menimbulkannya, nafsu indera sebagai
sumbernya, nafsu indera sebagai penyebabnya, hanya nafsu indera
yang menimbulkannya, orang memuaskan diri dengan melakukan perbuatan
yang tidak benar melalui badan jasmani, perkataan dan pikiran; pada
saat jasmaninya hancur sesudah kematian, mereka muncul kembali dalam
keadaan kekurangan, di tempat yang menyedihkan, dalam kehancuran
dan bahkan di neraka. Bahaya dalam hal nafsu indera ini, bentuk
dari penderitaan pada kehidupan mendatang, ditimbulkan oleh nafsu
indera, nafsu indera sebagai sumbernya, nafsu indera sebagai penyebabnya,
yang menimbulkannya hanyalah nafsu indera.
Mahanama, suatu ketika Aku tinggal di Rajagaha pada Bukit Batu
Burung Pemakan Bangkai. Pada waktu itu beberapa orang Nighanta (Jain)
tinggal pada Bukit Batu Hitam di lereng Isigili sedang mempraktikkan
berdiri terus-menerus, menolak untuk duduk dan merasakan sakit,
menyiksa, menyakiti perasaan dengan paksaan.
Lalu, pada sore itu, Aku beranjak dari meditasi dan menemui orang-orang
Nigantha di sana. Aku bertanya kepada mereka: 'Teman-teman, mengapa
anda mempraktikkan berdiri terus menerus, menolak untuk duduk dan
merasakan sakit, menyiksa, menyakiti perasaan dengan paksaan?'
Ketika hal itu ditanyakan mereka menjawab: 'Teman, Nigantha Nataputta,
orang suci yang maha mengetahui, menyatakan memiliki pengetahuan
dan penglihatan yang lengkap demikian: 'Apakah aku berdiri, berjalan,
tidur ataupun bangun, pengetahuanku dan penglihatanku terus-menerus
terpelihara tanpa henti.' Ia mengatakan demikian: 'Kaum Nigantha,
engkau telah berbuat kamma buruk di masa lampau, hapuslah dengan
penyiksaan diri. Lalu dengan mengekang perbuatan, ucapan dan pikiran
terus-menerus, berarti penyiksaan diri. Lalu dengan mengekang perbuatan,
ucapan dan pikiran terus-menerus, berarti tidak melakukan kamma
buruk untuk masa mendatang. Oleh karenanya dengan pemusnahan, melalui
penebusan kamma buruk masa lalu dan dengan tidak membuat kamma buruk
yang baru, tidak akan ada lagi akibat di masa mendatang. Dengan
tidak ada akibat di masa mendatang, habislah segala kamma. Dengan
habisnya segala kamma maka habislah segala penderitaan. Dengan habisnya
penderitaan maka habislah perasaan. Dengan habisnya perasaan maka
semua penderitaan akan habis.' Inilah yang lebih kami sukai dan
memuaskan kami.'
Sesudah ini dikatakan mereka, Kukatakan pada mereka: 'Tetapi teman-teman,
apakah engkau tahu bahwa engkau ada, dan bukannya tidak ada di masa
lalu?'
'Tidak, teman.'
'Tetapi teman-teman apakah engkau tahu bahwa engkau telah melakukan
kamma buruk atau tidak di masa lalu?'
'Tidak, teman.'
'Tetapi teman-teman, apakah engkau tahu bahwa begitu banyak penderitaan
telah ditebus atau masih belum ditebus atau bila semua penderitaan
telah ditebus maka semua penderitaan telah tertebus?'
'Tidak, teman.'
'Tetapi teman-teman, tahukah engkau penghindaran dhamma yang tidak
menguntungkan dan bagaimana melakukan dhamma yang menguntungkan?
'Tidak, teman.'
'Jadi, teman-teman, nampaknya engkau tidak mengetahui apakah engkau
ada dan bukannya tidak ada di masa lalu; apakah engkau telah melakukan
kamma buruk atau tidak; apakah begitu banyak penderitaan telah ditebus;
atau apabila begitu banyak kamma telah ditebus, apakah semua penderitaan
telah tertebus; atau apakah menghindarkan dhamma yang tidak menguntungkan
itu dan melakukan dhamma yang menguntungkan. Dengan cara demikian,
jika seorang pembunuh, orang yang senang melakukan pembunuhan di
dunia lalu menjadi pertapa seperti orang-orang Nigantha. Kapan mereka
terlahir kembali di antara manusia?'
'Teman Gotama, kebahagiaan tidak didapat dari kesenangan; kebahagiaan
didapat melalui rasa sakit. Jika saja kebahagiaan didapat melalui
kesenangan lalu Raja Seniya Bimbisara dari Magadha akan menikmati
kebahagiaan mereka karena ia dilindungi kesenangan yang lebih besar
dibandingkan Bhante.'
Pasti para pertapa Nigantha telah menyatakan hal itu tanpa berpikir
panjang dan perenungan mendalam. Seharusnya Aku ditanya: 'Siapakah
yang lebih menikmati kebahagiaan, Raja Seniya Bimbisara dari Magadha
atau bhikkhu Gotama?'
'Memang, teman Gotama, kami menyatakan kata-kata itu tanpa berpikir
panjang dan perenungan mendalam. Tetapi biarlah. Sekarang kami akan
bertanya kepada Bhante Gotama: 'Siapakah yang lebih menikmati kebahagiaan,
Raja Seniya Bimbisara dari Magadha, atau Bhante Gotama?' '
'Kalau demikian, teman-teman, Aku akan balik bertanya pada kalian.
Jawablah menurutmu. Bagaimana engkau membayangkan hal ini, teman-teman,
dapatkah Raja Seniya Bimbisara dari Magadha berdiam tanpa menggerakkan
tubuh atau mengucapkan kata-kata selama tujuh hari berturut turut
menikmati kebahagiaan tanpa henti?'
'Tidak, teman.'
'Bagaimana engkau membayangkan hal ini, teman-teman, dapatkah Raja
Seniya Bimbisara dari Magadha tanpa menggerakkan tubuh ... enam
hari .... lima ... empat ... tiga ... dua ... satu hari merasakan
kebahagiaan tanpa henti?'
'Tidak, teman.'
'Teman-teman, Aku dapat berdiam tanpa menggerakkan tubuh-Ku atau
mengucapkan sepatah katapun selama satu hari ... dua ... tiga ...
empat ... lima ... enam ... tujuh hari untuk merasakan kebahagiaan
tanpa henti.
Bagaimana engkau membayangkan hal ini, teman-teman, jika demikian,
siapa yang lebih menikmati kebahagiaan, Raja Seniya Bimbisara dari
Magadha atau Aku?'
'Jika demikian, Bhante Gotama lebih menikmati kebahagiaan daripada
Raja Seniya Bimbisara dari Magadha.' "
Itulah yang telah dikatakan Sang Bhagava. Mahanama dari suku Sakya
merasa puas dan bergembira dengan kata-kata Sang Bhagava.