Vihara Samaggi Jaya  
Panti Semedi Balerejo  
Sangha Theravada Indonesia  
Naskah Dhamma  
Tipitaka  
Download File  
Forum Tanya Jawab  
Multimedia  
Bursa Buddhis  
Dana Anda  
Tentang Kami  
Kontak Kami  
Buku Tamu  
Link  
Home  

 

 
 
     
 
ANGUTTARA NIKAYA
  
 
ANGUTTARA NIKAYA
 

Dalam Anguttara Nikaya, pembagiannya benar-benar merupakan pembagian menurut nomor. Ada sebelas kelompok yang diklasifikasikan (nipata); pokok pembahasan yang pertama merupakan bagian-bagian tunggal, yang diikuti oleh kelompok-kelompok dua dan seterusnya sampai kelompok sebelas. Tiap nipata dibagi dalam vagga-vagga yang masing-masing memuat sepuluh sutta atau lebih, yang seluruhnya berjumlah 2.308 sutta.

Pendahuluan I

Pendahuluan II

 

1.
Ekaka-Nipata. Pikiran-pikiran terpusat/tidak terpusat, terlatih/tidak terlatih, dikembangkan / tidak dikembangkan; usaha, ketekunan, Sang Buddha, Sariputta, Moggallana, Mahakassapa; pandangan-benar/salah; konsentrasi-benar / salah.
   
2.
Duka. Dua jenis kamma vipaka (baik yang membuahkan hasil dalam kehidupan sekarang maupun yang membawa kepada tumimbal lahir), sebab musabab kebaikan dan kejahatan; harapan dan keinginan, keuntungan dan panjang umur; dua jenis dana (dana benda-benda material dan dana Dhamma); dua golongan bhikkhu: mereka yang telah menyelami/belum menyelami Empat Kesunyataan Mulia - mereka yang hidup/tidak hidup dalam keselarasan.
   
3.
Tika Tiga pelanggaran - jasmani, ucapan dan pikiran; tiga perbuatan yang patut dipuji: kedermawanan, penglepasan, pemeliharaan orang tua; usaha untuk mengendalikan munculnya keadaan-keadaan tidak baik yang belum muncul, mengembangkan keadaan-keadaan baik yang belum muncul, melenyapkan keadaan-keadaan tidak baik yang telah muncul; pandangan-pandangan yang menyimpang dari ajaran: bahwa pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan menyedihkan ataupun yang tidak menyenangkan dan tidak menyedihkan disebabkan oleh perbuatan-perbuatan lampau, bahwa pengalaman-pengalaman ini telah ditentukan, bahwa pengalaman-pengalaman ini tanpa sebab.
   
4.
Catukka. Orang-orang yang tak berdisiplin tidak mempunyai sikap, konsentrasi, pengertian, pembebasan; si dungu menambah cela dengan jalan memuji yang tak patut dipuji, mencela yang patut dihargai, bergembira tatkala orang tidak bergembira, tidak bergembira tatkala orang bergembira; empat jenis orang: tidak bijaksana dan tidak pula beriman, tidak bijaksana tetapi beriman, bijaksana tetapi tidak beriman, bijaksana dan beriman; bhikkhu hendaknya puas dengan jubah, pemberian, tempat tinggal, dan obat-obatan yang mereka miliki; empat jenis kebahagiaan; hidup dalam lingkungan yang sesuai, bergaul dengan orang yang baik, memiliki keinsafan diri, telah mengumpulkan kusalakamma pada kehidupan lampau; empat Brahma Vihara: metta, karuna, mudita, upekkha; empat sifat yang menjaga bhikkhu dari kekeliruan: ketaatan terhadap sila, pengendalian pintu-pintu indria, kesederhanaan dalam makanan, kesadaran penuh yang mantap; empat cara pemusatan diri: untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup ini, untuk memperoleh pengetahuan dan pengertian, untuk mencapai kesadaran dan pengendalian diri, untuk menghancurkan kekotoran-kekotoran; empat macam orang yang memupuk kebencian, kemunafikan, keuntungan dan kehormatan selain dari yang berhubungan dengan Dhamma; empat macam pandangan keliru: ketidakkekalan untuk kekekalan, dukkha untuk sukha, tanpa-aku untuk aku, ketidaksucian untuk kesucian; empat kesalahan para pertapa dan brahmana: minum minuman keras yang mengacaukan pikiran, kecanduan pada kenikmatan indria, menerima uang, mencari nafkah dengan cara tercela; empat lapangan dalam kebahagiaan yang membawa pahala: secara benar meyakini Sang Buddha sebagai Yang Maha Mengetahui, Dhamma sebagai yang telah dibabarkan dengan baik, Sangha sebagai yang telah dibentuk dengan baik, para siswa yang bebas dari kekotoran; empat cara hidup bersama: yang jahat dengan yang jahat, yang jahat dengan yang baik, yang baik dengan yang jahat, yang baik dengan yang baik; persembahan makanan memberikan si penerima: hidup dengan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan fisik; empat kondisi untuk mencapai kesejahteraan duniawi: usaha yang terus menerus, perlindungan terhadap penghasilan, persahabatan yang baik, penghidupan yang seimbang; empat kondisi untuk mencapai kesejahteraan batin: keyakinan, sila, dana, dan Pañña; empat musuh yang kepadanya metta hendaknya dikembangkan; empat Usaha Benar; Empat Hal Yang Tak Terpikirkan: lingkungan seorang Buddha, jhana-jhana, kamma-vipaka, spekulasi atas asal mula dunia; empat tempat ziarah: ke tempat kelahiran Buddha, tempat mencapai Penerangan, tempat membabarkan khotbah pertama, dan tempat wafat; empat jenis ucapan yang berfaedah/tidak berfaedah: kebenaran/kebohongan, bukan fitnahan/fitnahan, kelembutan/kekasaran, bijaksana/ semberono; empat sifat esential: sila, samadhi, Pañña dan pembebasan; empat kemampuan: keyakinan, kekuatan daya, kesadaran, konsentrasi; empat unsur; empat macam orang yang patut dikenang dengan monumen: Buddha, Paccekka Buddha, Arahat dan para Raja "Pemutar Roda"; para bhikkhu hendaknya tidak mengundurkan diri ke hutan jika menyerah kepada: nafsu, kedengkian, iri hati, atau pikiran tidak sehat.
   
5.
Pancaka. Lima ciri yang baik dari seorang siswa: kehormatan, kesederhanaan, penghindaran diri dari perbuatan-perbuatan tidak baik, kekuatan daya, kebijaksanaan; lima rintangan batin: nafsu indria, kemauan jahat, kemalasan, kegelisahan dan kekuatiran, keragu-raguan; lima obyek meditasi: kekotoran, tanpa-aku, kematian, ketidaksukaan terhadap makanan, ketidakenakan di dunia; lima sifat buruk: tidak bebas dari nafsu, kebencian, khayalan, kemunafikan, dendam; lima perbuatan baik: metta, perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran, kepatuhan pada sila dan berpandangan benar.
   
6.
Chakka. Kewajiban rangkap-enam dari seorang bhikkhu: penghindaran diri dari perbuatan (yang menghasilkan kamma), perdebatan, tidur dan berkawan, kerendahan hati dan pergaulan dengan orang bijaksana.
   
7.
Sattaka. Tujuh jenis kekayaan: kehormatan, kelakuan baik, kesederhanaan, penjauhan diri dari perbuatan-perbuatan tidak baik, pengetahuan, penglepasan, kebijaksanaan; tujuh jenis kemelekatan: harapan akan pemberian, kebencian, keyakinan keliru, keragu-raguan, kesombongan, kehidupan duniawi, ketidak tahuan.
   
8. Atthaka. Delapan sebab kesadaran/pemberian dana/gempa bumi.
   
9. Navaka. Sembilan perenungan: kekotoran, kematian, ketidaksukaan terhadap makanan, ketidakacuhan terhadap dunia, ketidakkekalan, dukkha yang disebabkan oleh ketidakkekalan, ketidaktampakan dukkha, penglepasan, ketenangan hati; sembilan jenis manusia: mereka yang telah menempuh empat jalan ke Nibbana dan menikmati "buah" bersama puthujjana (manusia biasa yang belum mencapai kesucian); dll.
   
10. Dasaka. Sepuluh perenungan: ketidakkekalan, tanpa-aku, kematian, ketidaksukaan terhadap makanan, ketidakacuhan terhadap dunia, tulang, dan empat tahap pembusukan mayat - dihinggapi cacing, hitam dengan kerusakan, merekah karena kerusakan, bengkak; sepuluh jenis penyucian: melalui pengetahuan benar, pembebasan benar, dan delapan langkah dari Delapan Jalan Mulia.
   
11. Ekadasaka. Sebelas jenis kebahagiaan/jalan menuju Nibbana/sifat-sifat baik dan buruk dari seorang penggembala dan bhikkhu.
   
 
   
 
‹‹ Ke Sebelumnya ‹‹ Ke Ikhtisar Tipitaka
Kirim naskah keteman
 
© 2003 samaggi-phala.or.id