ARIYAPARIYESANA SUTTA (26)
(Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima
Nikaya I,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Keagamaan Buddha Departemen Agama RI, 1993)
Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada Jetavana,
taman milik Anathapindika, Savatthi.
Ketika hari telah pagi, Beliau mengatur pakaian dan
dengan membawa patta serta jubah-Nya, Beliau menuju Savatthi untuk
menerima dana makanan.
Kemudian banyak bhikkhu menemui Bhikkhu Ananda dan berkata
kepadanya: "Avuso Ananda, sudah lama kami tidak mendengar pembicaraan
Dhamma dari Sang Bhagava sendiri. Alangkah baik apabila kami dapat
mendengar demikian."
"Silahkan para bhikkhu pergi ke Rammaka tempat
pertapaan para Brahmana; barangkali kalian akan mendengar suatu pembicaraan
Dhamma dari Sang Bhagava sendiri."
"Baiklah, avuso," jawab mereka.
Ketika Sang Bhagava telah berkeliling menerima dana
makanan di Savatthi dan telah kembali dari pindapata setelah bersantap,
Beliau menyapa Bhikkhu Ananda, marilah kita pergi ke Pubbarama, pasangrahan
milik Migaramata (Visakha) untuk istirahat sepanjang siang."
"Baiklah, Bhante," jawab Ananda. Kemudian
Sang Bhagava pergi bersama Bhikkhu Ananda ke Pubbarama, pasangrahan
Migara, untuk berdiam sepanjang siang.
Ketika hari telah sore, Sang Bhagava bangkit dari meditasi,
dan Beliau menyapa Bhikkhu Ananda: "Ananda, marilah kita pergi
ke tempat pemandian Pubbakotthaka untuk mandi."
"Baiklah, Bhante," jawab Bhikkhu Ananda.
Kemudian Sang Bhagava pergi bersama bhante Ananda ke
Pubbakotthaka dan mandi. Setelah melakukan hal itu, Beliau ke luar
dari air dan berdiri dalam satu jubah sambil mengeringkan badan. Bhikkhu
Ananda -- berkata: "Bhante, Rammaka tempat pertapaan para Brahmana
berada dekat sini. Pertapaan itu sesuai dan menyenangkan. Bhante,
alangkah baiknya apabila Sang Bhagava bersedia pergi ke sana."
Sang Bhagava menyetujui dengan berdiam diri.
Kemudian Sang Bhagava menuju Rammaka tempat pertapaan
para Brahmana. Pada saat itu banyak bhikkhu berkumpul bersama di sana
untuk membahas Dhamma. Sang Bhagava berdiri di luar pintu menunggu
akhir dari diskusi mereka. Ketika Beliau tahu bahwa diskusi telah
selesai, Beliau berdehem dan mengetuk pintu. Para bhikku membuka pintu
untuk Beliau. Kemudian Beliau masuk dan duduk pada tempat duduk yang
telah disediakan. Setelah melakukan hal itu Beliau menyapa para bhikkhu
demikian: "Para bhikkhu, apakah yang kamu sekalian diskusikan
dengan berkumpul di sini sekarang? Juga apakah yang sementara ini
didiskusikan dan belum diselesaikan?"
"Bhante, diskusi kami yang belum terselesaikan
adalah mengenai Dhamma dan mengenai diri Sang Bhagava sendiri. Kemudian
Sang Bhagava tiba."
"Bagus, para bhikkhu. Sebagai orang yang meninggalkan
kehidupan duniawi yang didasarkan pada keyakinan dan hidup tak berumah-tangga,
kamu sekalian berkumpul untuk mendiskusikan Dhamma. Ketika kalian
berkumpul bersama maka ada dua pilihan yaitu: mendiskusikan Dhamma
atau diam seperti para ariya.
Para bhikkhu, ada dua macam pencarian: pencarian luhur
(ariya-pariyesana) dan pencarian rendah (anariya pariyesana).
Apakah pencarian rendah?
Dalam hal ini seseorang yang dirinya sendiri mengalami
kelahiran, usia tua, penyakit, kesedihan dan kekotoran, mencari apa
yang juga mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan
dan kekotoran.
Apakah yang dikatakan mengalami kelahiran? Istri dan
anak-anak mengalami kelahiran, demikian juga para wanita dan pria
yang berkeluarga, kambing, domba, unggas, babi, gajah, lembu, kuda-kuda
jantan dan betina, berbulu emas dan perak. Inilah kehidupan yang mengalami
kelahiran, seseorang yang terikat dengannya dan tak waspada sehingga
terlibat padanya adalah orang yang mengalami kelahiran serta mencari
apa yang juga mengalami kelahiran.
Apakah yang dikatakan mengalami usia tua? Istri dan
anak-anak mengalami usia tua, demikian juga ... emas dan perak. Inilah
kehidupan yang mengalami usia tua, seseorang yang terikat dengannya
dan tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang mengalami usia
tua, mencari apa yang juga mengalami usia tua.
Apakah yang dikatakan mengalami sakit? Istri dan anak-anak
mengalami sakit, demikian juga ... emas dan perak. Inilah kehidupan
yang mengalami sakit, seseorang yang terikat dengannya dan tak waspada
sehingga terlibat padanya adalah orang mengalami sakit, mencari apa
yang juga mengalami sakit.
Apakah yang dikatakan mengalami kematian? Istri dan
anak-anak mengalami kematian, demikian juga ... emas dan perak. Inilah
kehidupan yang mengalami kematian, seseorang yang terikat dengannya
dan tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang mengalami sakit,
mencari apa yang juga mengalami kematian.
Apakah yang dikatakan mengalami kesedihan? Istri dan
anak-anak mengalami kesedihan, demikian juga ... emas dan perak. Inilah
kehidupan yang mengalami kesedihan, seseorang yang terikat dengannya
dan tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang mengalami kesedihan,
mencari apa yang juga mengalami kesedihan.
Apakah yang dikatakan mengalami kekotoran batin? Istri
dan anak-anak mengalami kekotoran batin, demikian juga para wanita
dan pria yang berkeluarga, kambing, domba, unggas, babi, gajah, lembu,
kuda-kuda jantan dan betina, berbulu emas dan perak. Inilah kehidupan
yang mengalami kekotoran batin, seseorang yang terikat dengannya dan
tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang yang mengalami
kelahiran serta mencari apa yang juga mengalami kekotoran batin lahiran.
Inilah pencarian rendah.
Apakah pencarian luhur?
Dalam hal ini seseorang yang dirinya sendiri mengalami
kelahiran usia tua, penyakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, mengetahui
bahaya dalam dhamma seperti ini dan mencari yang tidak dilahirkan,
tanpa usia tua, tanpa kesakitan, tanpa kesedihan, tanpa kotoran batin,
ketenangan meditasi yang tertinggi untuk melenyapkan kotoran batin,
Nibbana.
Inilah pencarian luhur.
Pencarian Penerangan Sempurna.
Para bhikkhu, sebelum mencapai penerangan sempurna,
sementara saya masih seorang Bodhisatta yang belum mencapai penerangan
sempurna, Saya juga, diriku sendiri mengalami kelahiran, usia tua,
sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, mencari apa yang mengalami
kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran.
Saya (berpikir) demikian: 'Mengapa, dengan diriku sendiri
mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran,
Saya mencari apa yang mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian
dan kekotoran? Seandainya, diriku yang masih mengalami dhamma seperti
itu, mengetahui bahaya dalam dhamma seperti itu, Saya mencari yang
tidak mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan
kekotoran, mengatasi ikatan yang kuat, yaitu Nibbana?'
Kemudian, ketika Saya masih anak-anak, seorang pemuda
berambut hitam yang masih remaja, dalam masa hidupku yang pertama,
aku mencukur habis rambut dan jenggotku meskipun ibu dan ayahku berkeinginan
sebaliknya dan berduka dengan wajah berurai air mata. Saya mengenakan
jubah kuning dan pergi meninggalkan kehidupan duniawi menuju kehidupan
tak berumah-tangga (pabbaja).
Sesudah berkelana mencari apa yang bermanfaat, mencari
kedamaian tertinggi yang suci, Saya pergi menemui Alara Kalama dan
berkata kepadanya: 'Kawan Kalama, Saya ingin menjalani hidup suci
dalam Dhamma dan Vinaya.'
Alara Kalama menjawab: 'Saudara dapat tinggal di sini.
Dhamma ini adalah sedemikian, sehingga dalam waktu tidak lama seorang
yang bijaksana dapat menyelami dan menghayatinya, ajaran gurunya dapat
ia realisasikan sendiri dengan abhinna-nya.'
Saya dengan cepat belajar dhamma tersebut. Saya menyatakan
bahwa sejauh sekedar pengucapan dan pengulangan ajarannya ketika Saya
dapat berbicara dengan pengetahuan dan keyakinan, bahwa Saya tahu
dan melihat juga banyak orang lain yang melakukan hal sama.
Saya (berpikir): 'Bukanlah melalui kepercayaan semata
Alara Kalama membabarkan Dhammanya; (ia melakukannya) karena ia menyelami
dan menghayatinya sendiri, menyadarinya sendiri melalui pengetahuan
langsung. Tentulah Alara Kalama menghayati Dhamma ini dengan mengetahui
dan melihat.'
Kemudian Saya menemui Alara Kalama, dan Saya berkata:
'Teman Kalama, dalam cara apa engkau menyatakan telah menyelami Dhamma
ini, menyadarinya sendiri melalui abhinna?'
Ia menjawabnya dengan uraian yang didasarkan pada 'kekosongan'
(akincannayatana).
Saya berpikir: 'Tidak saja Alara Kalama memiliki keyakinan;
Sayapun memiliki keyakinan. Bukan hanya Alara Kalama memiliki semangat;
Sayapun memiliki semangat. Bukan hanya Alara Kalama memiliki perhatian
(sati); Sayapun memiliki perhatian. Bukan hanya Alara Kalama memiliki
samadhi; Sayapun memiliki samadhi. Bukan hanya Alara Kalama memiliki
kebijaksanaan (panna); Sayapun memiliki kebijaksanaan. Seandainya
Saya melatih pengendalian diri untuk merealisasikan Dhamma yang dinyatakan
telah diselaminya, direalisasikannya sendiri melalui abhinnanya?'
Saya dengan segera menghayati dan menyelami Dhamma tersebut,
merealisasikannya sendiri dengan abhinna. Lalu Saya menemui Alara
Kalama dan Saya berkata kepadanya: 'Kawan Alara, apakah dengan jalan
ini engkau menyatakan menyelami Dhamma ini, merealisasikannya sendiri
dengan abhinna?'
'Kawan, dengan jalan inilah yang saya nyatakan saya
telah menghayati dan menyelami Dhamma, merealisasikannya sendiri dengan
abhinna.'
'Suatu keuntungan bagi kami, kawan! Suatu keuntungan
besar bagi kami, kawan! Karena kami memiliki seorang sahabat dalam
kehidupan suci. Maka Dhamma yang aku nyatakan telah diselami, yang
saya sendiri telah merealisasikannya dengan abhinna. Dhamma tersebut
telah Anda selami dan hayati, dirimu sendiri telah merealisasikannya
dengan abhinna. Dhamma tersebut saya nyatakan telah saya selami, saya
sendiri telah merealisasikannya dengan abhinna. Dengan demikian Anda
mengetahui Dhamma yang saya ketahui; saya mengetahui Dhamma yang Anda
ketahui. Sebagaimana diriku, demikian juga dirimu; sebagaimana dirimu,
demikian juga diriku. Marilah, kita pimpin bersama-sama kelompok ini.'
Demikianlah guru-Ku Alara Kalama, menempatkan diri-Ku
(yang adalah siswanya) pada kedudukan yang sama dengan dirinya sendiri,
dan menghargai saya dengan penghormatan tertinggi.
Saya berpikir: 'Dhamma ini tidak membawa pada pelenyapan
nafsu, pada memudarnya hawa nafsu, pada penghentian, pada kedamaian,
pada abhinna, pada penerangan sempurna, Nibbana, tetapi hanya didasarkan
pada kekosongan (akincannayatana) saja.' Demikianlah maka Saya tidak
merasa puas dengan dhamma tersebut, saya meninggalkannya.
Sesudah berkelana mencari apa yang bermanfaat, mencari
kedamaian tertinggi yang suci, Saya pergi menemui Uddhaka Ramaputta
dan berkata kepadanya: 'Kawan, Saya ingin menjalani hidup suci dalam
Dhamma dan Vinaya.'
Uddaka Ramaputta menjawab: 'Saudara dapat tinggal di
sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga dalam waktu tidak lama
seorang yang bijaksana dapat menyelami dan menghayatinya, sehingga
ajaran gurunya ia dapat direalisasikan sendiri dengan abhinna-nya.'
Saya dengan cepat belajar dhamma tersebut. Saya menyatakan
bahwa sejauh sekedar pengucapan dan pengulangan ajarannya ketika Saya
dapat berbicara dengan pengetahuan dan keyakinan, bahwa Saya tahu
dan melihat, juga banyak orang lain yang melakukan hal sama.
Saya (berpikir): 'Bukanlah melalui kepercayaan semata
Ramaputta membabarkan Dhammanya; (ia melakukannya) karena ia menyelami
dan menghayatinya sendiri, menyadarinya sendiri melalui pengetahuan
langsung. Tentulah Uddaka Ramaputta menghayati Dhamma ini dengan mengetahui
dan melihat.'
Kemudian Saya menemui Uddaka Ramaputta, dan Saya berkata:
'Teman Ramaputta, dalam cara apa engkau menyatakan telah menyelami
Dhamma ini menyadarinya sendiri melalui abhinna?'
Ia menjawabnya dengan uraian yang didasarkan pada 'Bukan
pencerapan maupun bukan tidak pencerapan (nevasanna nasannayatana)'.
Saya berpikir: 'Tidak saja Uddaka Ramaputta memiliki
keyakinan; sayapun memiliki keyakinan. Bukan hanya Uddaka Ramaputta
memiliki semangat; Sayapun memiliki semangat. Bukan hanya Uddaka Ramaputta
memiliki perhatian (sati); Sayapun memiliki perhatian. Bukan hanya
Uddaka Ramaputta memiliki samadhi; Sayapun memiliki samadhi. Bukan
hanya Uddaka Ramaputta memiliki kebijaksanaan (panna); Sayapun memiliki
kebijaksanaan. Seandainya Saya melatih pengendalian diri untuk merealisasikan
Dhamma yang dinyatakan telah diselaminya, direalisasikannya sendiri
melalui abhinna-nya?'
Saya dengan segera menghayati dan menyelami Dhamma tersebut,
merealisasikannya sendiri dengan abhinna. Lalu Saya menemui Uddaka
Ramaputta dan Saya berkata kepadanya: 'Kawan Ramaputta, apakah dengan
jalan ini engkau menyatakan menyelami Dhamma ini, merealisasikannya
sendiri dengan abhinna?'
'Kawan, dengan jalan inilah yang saya nyatakan saya
telah menghayati dan menyelami Dhamma, merealisasikannya sendiri dengan
abhinna.'
'Kawan, sayapun dengan jalan ini telah menghayati dan
menyelami Dhamma ini, merealisasikannya dengan abhinna.'
'Suatu keuntungan bagi kami, kawan! Suatu keuntungan
besar bagi kami, kawan! Karena kami memiliki seorang sahabat dalam
kehidupan suci. Maka Dhamma yang aku nyatakan telah diselami, yang
saya sendiri telah merealisasikannya dengan abhinna. Dhamma tersebut
telah anda selami dan hayati, dirimu sendiri telah merealisasikannya
dengan abhinna. Dhamma tersebut saya nyatakan telah saya selami, saya
sendiri telah merealisasikannya dengan abhinna. Dengan demikian Anda
mengetahui Dhamma yang saya ketahui; saya mengetahui Dhamma yang Anda
ketahui. Sebagaimana diriku, demikian juga dirimu; sebagaimana dirimu,
demikian juga diriku. Marilah, kita pimpin bersama-sama kelompok ini.'
Demikianlah guru-Ku Uddaka Ramaputta, menempatkan diri-Ku
(yang adalah siswanya) pada kedudukan yang sama dengan dirinya sendiri,
dan menghargai Saya dengan penghormatan tertinggi.
Saya berpikir: 'Dhamma ini tidak membawa pada pelenyapan
nafsu, pada memudarnya hawa nafsu, pada penghentian, pada kedamaian,
pada abhinna, pada penerangan sempurna, Nibbana, tetapi hanya didasarkan
pada 'Bukan pencerapan juga bukan tidak pencerapan (nevasannanasannayatana)'
saja. Demikianlah maka Saya tidak merasa puas dengan dhamma tersebut,
saya meninggalkannya.
Masih dalam pencarian apa yang bermanfaat, mencari kedamaian
tertinggi yang suci, Saya berkelana di daerah Magadha mengunjungi
tempat-tempat yang belum pernah saya datangi, hingga saya tiba Senanigama
dekat Uruvela. Di sana Aku melihat sebidang tanah yang sesuai, sebuah
hutan kecil yang menyenangkan, sungai jernih yang mengalir dengan
tepi yang halus menyenangkan dan di dekatnya ada sebuah desa untuk
pindapata. Demikianlah, Saya berpikir: 'Ada sebidang tanah yang sesuai,
hutan kecil yang menyenangkan, sungai yang mengalir jernih dengan
tepinya yang halus menyenangkan dan di dekatnya sebuah desa untuk
pindapata. Ini akan menunjang penemuan bagi seseorang yang mencari
penemuan.' Dan aku duduk di sana (berpikir): 'Ini akan menunjang penemuan.'
Penerangan Sempurna
Diriku sendiri yang masih mengalami kelahiran, usia
tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, dengan mengetahui bahaya
dalam dhamma ini, mencari yang tidak mengalami kelahiran, usia tua,
sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, penghentian yang tertinggi
dari segala ikatan, yakni Nibbana, Saya mencapai tanpa kelahiran,
tanpa usia tua, tanpa sakit, tanpa kematian, tanpa kesedihan, tak
ternoda penghentian tertinggi dari segala ikatan, yakni Nibbana.
Pengetahuan serta pandangan muncul dalam diriku: 'Pembebasan-Ku
tidak dapat dikalahkan lagi. Inilah kelahiranku yang terakhir. Tidak
akan ada lagi kelahiran yang berikutnya.'
Saya berpikir: 'Dhamma yang telah Kucapai sangat mulia,
sukar ditemukan. Inilah kedamaian tertinggi dan terutama (dari segala
tujuan), tidak dapat dicapai oleh akal pikiran saja, halus dan hanya
dialami oleh para bijaksana. Tetapi generasi ini suka, senang dan
gembira pada sesuatu yang dapat disadari. Sukar bagi generasi seperti
ini untuk melihat kebenaran seperti ini, yakni: sebab musabab yang
saling bergantungan (paticcasamuppada), terhentinya segala bentuk
(sankhara), pelepasan semua sebab pemunculan kehidupan, lenyapnya
keinginan (tanhakkhaya), hilangnya nafsu indera, penghentian, Nibbana.
Jika Saya mengajarkan Dhamma, orang lain tidak akan mengerti dan hal
ini akan melelahkan dan mengganggu bagiku.'
Kenyataannya, segera muncul dalam diriku syair-syair
yang tidak pernah terdengar sebelumnya:
Sudahlah, jangan ajarkan
Dhamma
Yang bahkan bagi-Ku sukar untuk dicapai;
Karena tidak akan pernah diresapi
Oleh mereka yang hidup dalam hawa nafsu dan kebencian.
Manusia yang diliputi nafsu indera,
Dan tertutup oleh awan kegelapan, tidak akan melihat apa yang menentang
arus, yang halus;
Dalam, sukar dilihat, sulit dimengerti. Berpikir
demikian, Saya memilih diam daripada mengajarkan Dhamma. Kemudian (Brahma)
Dewa Sahampati mengetahui dalam pikirannya apa yang saya pikirkan, dan
ia berpikir; 'Dunia akan kehilangan, dunia akan sangat kehilangan, karena
jalan pikiran Sang Tathagata Sang Arahat dan yang Telah Mencapai Penerangan
Sempurna, memilih diam daripada mengajarkan Dhamma.'
Kemudian secepat seseorang yang merentangkan tangannya
yang terlipat atau melipat tangannya yang terentang, Brahma Sahampati
menghilang dari alam Brahma dan muncul di hadapan-Ku. Kemudian beliau
mengatur jubah atasnya sehingga menutupi satu bahu dan merangkapkan
kedua telapak tangannya (beranjali) ke arah-Ku, ia berkata : 'Bhante,
semoga Sang Bhagava mengajarkan Dhamma. Ada makhluk-makhluk yang hanya
memiliki sedikit debu di matanya, yang akan sia-sia bila tidak mendengar
tentang Dhamma. Sebagian dari mereka akan mencapai pengetahuan Dhamma
tertinggi.'
Brahma Sahampati berkata seperti itu, selanjutnya ia berkata:
'Di Magadha sampai sekarang Dhamma belum dimurnikan,
Direnungkan oleh mereka yang masih ternoda.
Bukalah pintu gerbang Tanpa Kematian, biarlah mereka
Mendengar Dhamma yang telah ditemukan oleh Yang Maha Suci;
Sebagaimana seseorang melihat segenap rakyat di sekeliling
Yang berdiri di atas gundukan batu karang padat,
Selidiki, O Yang Bebas dari Kesedihan,
Petapa yang maha melihat,
Umat manusia ini diliputi oleh kesedihan
Karena Kelahiran dan Usia Tua.
Bangkitlah Pahlawan kemenangan, Pembawa - Pengetahuan
Bebas dari segala hutang dan berkelana di dunia
Membabarkan Dhamma; ada sebagian,
O Sang Bhagava, akan mengerti.'
Kemudian Saya
mendengarkan permohonan Brahma. Berdasarkan kasih sayang terhadap semua
makhluk Saya mengamati dunia dengan mata seorang Buddha, Saya melihat
para makhluk dengan sedikit debu di mata mereka dan yang banyak debu
di mata mereka, dengan kemampuan yang meyakinkan dan kemampuan kurang,
dengan mutu yang baik dan mutu yang buruk, mudah diajar dan sukar diajar,
dan sebagian yang hidup dengan rasa takut terhadap kebencian dan di
alam lain.
Sebagaimana dalam sebuah kolam terdapat bunga-bunga teratai
biru atau merah atau putih, sebagian bunga teratai yang tumbuh dan berkembang
di dalam air tenggelam dalam air tanpa muncul kepermukaan, sebagian
bunga teratai lain yang tumbuh dan berkembang di dalam air muncul pada
permukaan air, dan sebagian bunga teratai lainnya yang tumbuh dan berkembang
di dalam air bertumbuh ke permukaan air dan berdiri dengan baik, tidak
basah; demikian juga, mengamati dunia dengan mata seorang Buddha ....
dan sebagian yang hidup dengan rasa takut terhadap kebencian dan alam
lain.
Kemudian Saya menjawab Brahma Sahampati dalam bait-bait
berikut:
Terbukalah untuk mereka pintu-pintu Tanpa Kematian,
Biarlah mereka yang mendengar sekarang menunjukkan keyakinannya (Bila
hanya) melihat kesulitannya maka
Saya tidak berbicara pada umat manusia
Dhamma yang halus dan luhur, Brahma. Kemudian Brahma
Sahampati (berpikir): 'Aku telah memungkinkan Dhamma diajarkan oleh
Sang Bhagava.' Setelah memberikan penghormatan pada-Ku, dengan Saya
ada di sebelah kanannya, Brahma Sahampati pergi.
Selanjutnya Saya berpikir: 'Kepada siapa Saya harus mengajarkan
Dhamma? Siapakah yang akan segera mengerti Dhamma ini?
Saya berpendapat: 'Alara Kalama bijaksana, terpelajar
dan cerdas. Ia telah lama hanya memiliki sedikit debu di matanya. Bagaimana
bila Saya mengajarkan Dhamma pertama-tama kepada Alara Kalama? Ia akan
segera mengerti.'
Kemudian para dewa datang pada-Ku dan berkata: 'Bhante,
Alara Kalama meninggal dunia tujuh hari yang lalu.' Lalu pengetahuan
serta pandangan (nana-dassana) muncul dalam diriKu: 'Alara Kalama telah
meninggal dunia tujuh hari yang lalu.' Saya berpikir demikian: 'Kehilangan
Alara Kalama merupakan kehilangan besar. Jika ia mendengar Dhamma ini,
ia akan segera mengerti.'
Kemudian Saya berpikir: 'Kepada siapa Saya akan ajarkan
Dhamma? Siapakah yang akan segera mengerti Dhamma ini?'
Selanjutnya Saya pikir: 'Uddaka Ramaputta bijaksana, terpelajar
dan cerdas. Ia telah lama hanya memiliki sedikit debu di matanya. Seandainya
Saya mengajarkan Dhamma pertama-tama kepada Uddaka Ramaputta, ia akan
segera mengerti.'
Kemudian para dewa datang pada-Ku dan berkata: 'Bhante,
Uddaka Ramaputta meninggal dunia semalam.' Lalu pengetahuan serta pandangan
muncul dalam diriku: 'Uddaka Ramaputta telah meninggal dunia semalam.'
Saya berpikir demikian: 'Kehilangan Uddaka Ramaputta merupakan kehilangan
besar. Jika ia mendengar Dhamma ini, ia akan segera mengerti.'
Lalu Saya berpikir: 'Kepada siapa Saya pertama-tama harus
mengajarkan Dhamma ini? Siapakah yang akan mengerti Dhamma ini?'
Selanjutnya Saya berpikir demikian: 'Para bhikkhu dari
kelompok lima, yang membantu dan melayani Saya berjuang mengendalikan
diri. Seandainya Saya mengajarkan Dhamma pertama-tama pada mereka?'
Saya berpikir demikian: 'Di manakah para bhikkhu dari
kelompok lima sekarang?' Dengan mata dewa (dibba cakkhu), yang murni
dan melampaui manusia biasa, Aku melihat bahwa mereka berada di Taman
Rusa Isipatana, Baranasi.
Selanjutnya setelah Saya tinggal di Uruvela selama saya
inginkan, Saya mengadakan perjalanan dengan bertahap ke Benares. Antara
Gaya dan tempat Pencapaian Penerangan, Upaka bertemu dengan Saya di
Jalan. Ketika melihat Saya, ia berkata: 'Saudara, warna kulitmu cerah
dan cemerlang. Di bawah bimbingan siapa engkau menjalani hidup suci?
Siapakah gurumu? Dhamma siapakah yang engkau anut?'
Saya menjawab pertanyaan petapa Upaka dalam syair-syair berikut:
'Melampaui semua makhluk, Saya Maha Tahu,
Tak ternoda dalam segala Dhamma, melepaskan semuanya
Dengan terbebas dari keinginan. Ini utang-Ku pada batin-Ku, kepada siapakah
Saya mengakuinya?
Aku tidak memiliki Guru ataupun rekan yang setara
Tidak ada satupun di seluruh alam
Dengan semua dewanya, karena Aku memiliki yang
Tak seorangpun sebagai sebanding-Ku.
Aku adalah Guru bagi dunia
Tanpa bandingan, seorang Arahat pula
Aku sendiri telah Mencapai Penerangan Sempurna
Terpadamkan, api siapa telah padam.
Saya menuju kota Kasi sekarang
Untuk menggerakkan Roda Dhamma:
Dalam dunia yang buta
Aku akan menabuh genderang Tanpa Kematian.'
'Saudara, dengan pengakuanmu, engkau seharusnya Penguasa Alam Semesta.'
'Seorang penguasa seperti Saya, Upaka,
Adalah yang menang dalam melenyapkan noda-noda ini.
Aku menaklukkan semua akusala dhamma:
Karena itulah Aku Pemenang.'
Ketika ini dikatakan,
petapa Upaka berkata: 'Semoga demikianlah saudara.' Sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya, ia mengambil jalan simpang dan berlalu.
Setelah mengadakan perjalanan secara bertahap, akhirnya
Saya tiba di Taman Rusa, Isipatana, Baranasi, tempat para bhikkhu kelompok
lima berada.
Mereka melihat Saya datang dari kejauhan, dan mereka bersepakat
di antara mereka demikian: 'Saudara-saudara, Samana Gotama yang telah
memanjakan diri datang ke mari, ia melalaikan pengendalian diri dan
kembali pada kemewahan. Kita tidak perlu memberikan penghormatan pada-Nya
atau bangkit bagi-Nya atau mengambil patta dan civara-Nya. Tetapi sebuah
tempat duduk dapat disiapkan untuk-Nya. Jika ia suka, ia akan duduk.'
Namun, segera setelah Saya mendekat, mereka ternyata tidak
mampu mempertahankan kesepakatan mereka. Seorang menemui Saya dan menerima
patta dan jubah (luar)-Ku; yang lain menyiapkan tempat duduk; -- sedangkan
yang lainnya lagi menyiapkan air untuk membasuh kaki-Ku; kemudian mereka
menyapa-Ku dengan panggilan 'avuso'.
Setelah mereka berkata begitu, Saya berkata kepada mereka:
'Para bhikkhu, janganlah menyapa seorang Tathagata dengan sebutan avuso.
Tathagata adalah seorang Arahat dan Telah Mencapai Penerangan Sempurna.
Dengarkanlah, para bhikkhu keadaan Tanpa Kematian telah dicapai. Aku
akan membimbing kalian; Aku akan mengajarkan Dhamma pada kalian. Dengan
melatih sebagaimana kalian dibimbing, kalian akan, dengan merealisasikan
sendiri di sini dan sekarang juga dengan abhinna menghayati dan menyelami
tujuan tertinggi dari kehidupan suci (brahmacari) yang merupakan tujuan
orang meninggalkan kehidupan nafsu indera menjadi tak berumah-tangga.
Selesai kata-kata ini diucapkan, para bhikkhu dari kelompok
lima menjawab: 'Avuso Gotama, dengan tingkah laku seperti itu dan menjalani
puasa yang berat, yang telah anda laksanakan anda tidak mencapai tujuan
yang berharga bagi pengetahuan dan pandangan suci (ariyananadassana)
yang melebihi kemampuan (dhamma) manusia biasa. Karena sekarang anda
telah memanjakan diri, melalaikan pengendalian dan kembali pada kemewahan,
bagaimana dapat anda mencapai tujuan seperti itu?'
Ketika ini dikatakan, Saya berkata kepada mereka: 'Seorang
Tathagata bukanlah seorang yang memanjakan diri, juga tidak yang melalaikan
pengendalian dan berpaling pada kemewahan. Seorang Tathagata adalah
seorang Arahat dan Telah Mencapai Penerangan Sempurna. Dengarlah, para
bhikkhu, keadaan Tanpa Kematian telah dicapai ... dari kehidupan duniawi
menuju kehidupan suci.'
Untuk kedua kalinya para bhikkhu kelompok lima berkata
kepadaku: 'Avuso Gotama ... bagaimana anda dapat mencapai tujuan seperti
itu?'
Untuk kedua kalinya Saya berkata kepada mereka: 'Seorang
Tathagata bukanlah seorang yang memanjakan diri ... dari kehidupan duniawi
menuju kehidupan suci.'
Untuk ketiga kalinya para bhikkhu kelompok lima berkata
kepadaku: 'Teman Gotama... bagaimana anda dapat mencapai tujuan seperti
itu?'
Ketika ini dikatakan Saya bertanya kepada mereka: 'Para
bhikkhu, pernahkah kalian mendengar Saya berbicara seperti ini sebelumnya?'
'Tidak, bhante.'
'Para bhikkhu, Tathagata adalah seorang Arahat dan Telah
Mencapai Penerangan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu keadaan Tanpa
Kematian telah dicapai. Aku akan membimbing kalian; Aku akan mengajarkan
Dhamma pada kalian. Dengan melatih sebagaimana kalian dibimbing, kalian
akan, dengan merealisasikan sendiri di sini dan sekarang juga dengan
abhinna, menghayati dan menyelami tujuan tertinggi dari kehidupan suci
(brahmacari) yang merupakan tujuan orang meninggalkan kehidupan nafsu
indera menjadi tak berumah tangga.'
Saya dapat meyakinkan para bhikkhu kelompok lima. Kadang-kadang
aku memberi petunjuk pada dua orang bhikkhu sementara tiga lainnya pergi
pindapata; kami berenam hidup dari apa yang dibawa pulang dari pindapata
oleh ketiganya. Kadang-kadang aku memberi petunjuk pada tiga orang bhikkhu
sementara dua lainnya pergi pindapata; dan kami berenam hidup dari pindapata
yang dibawa pulang oleh keduanya.
Kemudian para bhikkhu kelompok lima, setelah diajarkan
dan diberi petunjuk sedemikian oleh-Ku, mereka sendiri yang mengalami
kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran batin,
dengan mengetahui bahaya dalam dhamma-dhamma ini, mencari apa yang tanpa
dilahirkan, tanpa usia tua, tanpa sakit, tanpa kematian, tanpa kesedihan,
memutus semua ikatan yakni tercapainya Nibbana; mencapai tanpa kelahiran,
tanpa usia tua, tanpa sakit, tanpa kematian, tanpa kesedihan, pemutusan
semua ikatan yang kuat, Nibbana.
Pengetahuan dan pandangan muncul dalam diri mereka: 'Pembebasanku
tidak dapat disangkal. Inilah kelahiranku yang terakhir kalinya. Tidak
akan ada lagi kelahiran yang berikutnya.'
Nafsu-nafsu Indera
Para bhikkhu, terdapatlah lima saluran nafsu indera.
Apakah kelimanya? Bentuk-bentuk yang dapat disadari melalui mata yang
diharapkan, diinginkan, disetujui dan disukai, dihubungkan dengan
nafsu indera dan dirangsangan oleh hawa nafsu. Suara-suara yang dapat
disadari melalui telinga .... Bau-bauan yang dapat disadari melalui
hidung .... Rasa yang dapat disadari melalui lidah .... Sentuhan-sentuhan
yang dapat disadari melalui badan .... dirangsang oleh hawa nafsu.
Inilah kelima saluran nafsu indera.
Apabila seorang petapa dan brahmana terlibat dengannya
dan tanpa bosan melibatkan diri pada lima saluran nafsu indera dan
mengembangkannya tanpa memandang akan bahaya yang ada di dalamnya
dan tanpa pengertian mengenai cara melepaskan diri dari nafsu indera
tersebut, dapat dimengerti bahwa, 'Mereka akan mengalami bencana dan
kehancuran serta diperlukan semuanya oleh pembuat kejahatan (papimato).'
Apabila ada seekor rusa hutan yang terikat, dan terbaring
di atas perangkap, dapat dimengerti bahwa 'Ia akan mengalami bencana
dan kehancuran serta diperlukan semuanya oleh pemburu', demikian pula
apabila para petapa dan brahmana..' ... diperlukan semuanya oleh pembuat
kejahatan.
Apabila ada seorang petapa dan brahmana tidak terlibat
pada nafsu indera dan bosan melibatkan diri di dalam lima saluran
nafsu indera dan tidak mengembangkannya, mempunyai pandangan akan
bahaya yang ada di dalamnya dan mengerti mengenai cara melepaskan
diri dari nafsu indera tersebut maka dapat dimengerti bahwa mereka
tidak akan mengalami bencana, tidak akan mengalami kehancuran, tidak
akan diperlakukan semaunya oleh 'pembuat kejahatan'.
Apabila ada seekor rusa hutan yang tidak terikat, namun
terbaring di atas perangkap, dapat dimengerti bahwa 'Ia tidak akan
mengalami bencana, tidak akan mengalami kehancuran, tidak akan diperlakukan
semaunya oleh pemburu', demikian pula apabila para bhikkhu dan brahmana
...., .... tidak diperlakukan semaunya oleh pembuat kejahatan.
Apabila ada seekor rusa hutan berkelana di hutan liar,
ia berjalan tanpa rasa takut, berdiri tanpa rasa takut, duduk tanpa
rasa takut berbaring tanpa rasa takut. Mengapa demikian? Karena ia
di luar penglihatan pemburu, demikian juga dengan mengasingkan diri
dari nafsu indera, mengasingkan diri dari dhamma yang tidak menguntungkan
(akusala dhamma), seorang bhikkhu mencapai Jhana I disertai dengan
'usaha pikiran untuk menangkap objek' (vitakka), 'pikiran telah menangkap
objek' (vicara), kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) yang muncul
dari mengasingkan diri. Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan
mata Mara tidak terlihat oleh 'Pembuat Kejahatan' karena telah melenyapkan
kesempatan bagi Mara untuk melihat.
Kemudian, dengan meninggalkan vitakka dan vicara...
mencapai Jhana II ... lahir dari pemusatan pikiran. Para bhikkhu ini
dikatakan telah membukakan mata Mara, tidak terlihat oleh 'Pembuat
Kejahatan' karena telah melenyapkan kesempatan bagi Mara untuk melihat.
Kemudian, dengan meninggalkan kegiuran (piti)... mencapai
Jhana III... Ia memiliki kebahagiaan (sukha), keseimbangan batin dan
perhatian (sati). Para bhikku ini dikatakan telah membutakan mata
Mara, tidak terlihat oleh 'Pembuat Kejahatan' karena telah melenyapkan
kesempatan bagi Mara untuk melihat.
Selanjutnya, dengan meninggalkan kebahagiaan (sukha)
dan penderitaan (dukkha) ... mencapai Jhana IV disertai perasaan bukan
menyenangkan (asukha) atau bukan penderitaan (adukkha) ia memiliki
keseimbangan batin (batin) dan perhatian (sati) yang murni. Para bhikkhu
ini dikatakan telah membutakan mata Mara, tidak terlihat oleh 'Pembuat
Kejahatan' karena telah melenyapkan kesempatan bagi Mara untuk melihat.
Kemudian, dengan mengatasi secara penuh persepsi mengenai
bentuk (rupasanna) dan persepsi ketidaksenangan (patighasanna), dengan
tidak memberikan perhatian terhadap 'persepsi tentang perbedaan' (natattasanna)
ia menyadari tentang 'ruang adalah tidak terbatas', ia mencapai dan
menyadari keadaan 'ruang tanpa batas' (akasanancayatana). Para bhikkhu
ini dikatakan telah membutakan mata mara ... melenyapkan kesempatan
bagi Mara untuk melihat.
Lalu, dengan mengatasi secara penuh Akasanancayatana
ia menyadari tentang 'kesadaran tanpa batas' (vinnanancayatana), ia
mencapai dan menyadari keadaan 'kesadaran tanpa batas' (vinnanancayatana).
Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan mata Mara ... melenyapkan
kesempatan bagi Mara untuk melihat.
Kemudian, dengan mengatasi secara penuh keadaan Vinnanan-cayatana
ia menyadari tentang kekosongan (akincannayatana), ia mencapai dan
menyadari keadaan 'kekosongan' (akincannayatana). Para bhikku ini
dikatakan telah membutakan mata Mara,.. melenyapkan kesempatan bagi
Mara untuk melihat.
Kemudian, dengan mengatasi secara penuh keadaan Akinvannayatana
ia menyadari tentang bukan pencerapan atau bukan tidak pencerapan
(nevasannanasannayatana), ia mencapai dan menyadari keadaan 'bukan
pencerapan atau bukan tidak pencerapan' (nevasannanasannayatana).
Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan mata Mara ... melenyapkan
kesempatan bagi Mara untuk melihat.
Selanjutnya, dengan mengatasi secara penuh keadaan Nevasannana
sannayatana, ia menyadari 'terhentinya pencerapan dan perasaan' (sannavedayitanirodha),
ia mencapai dan menyadari keadaan 'terhentinya pencerapan dan perasaan'
(sanavedayitanirodha). Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan
mata Mara, tidak terlihat oleh 'Pembuat Kejahatan' karena telah melenyapkan
kesempatan bagi Mara untuk melihat, serta telah mengatasi kemelekatan
pada dunia.
Ia berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring tanpa rasa
takut. Mengapa demikian? Ia di luar penglihatan 'Pembuat Kejahatan'
(Mara)."
Itulah yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa
puas dan mereka berbahagia dengan kata-kata Sang Bhagava.