(Sumber : Kitab Suci
Sutta Pitaka II, Modul 7-12, Oleh : Corneles Wowor, MA.,
Penerbit : Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha
dan Universitas Terbuka, 1992)
Demikianlah yang saya dengar
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, taman milik
Anathapindika, Savatthi.
Kemudian Brahmana Pingalakoccha pergi menemui Sang Bhagava, saling
memberi salam, setelah saling menyapa dengan sopan, ia duduk. Lalu
ia berkata kepada Sang Bhagava: "Samana Gotama, ada petapa-petapa
dan para brahmana, masing-masing dengan sanghanya, dengan kelompoknya,
memimpin, sebuah kelompok, masing-masing seorang filosof yang terkenal
dan dipandang oleh banyak orang sebagai orang suci -yang saya maksudkan
adalah Purana Kassapa, Makhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakuddha
Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, dan Nigantha Nataputta -mereka
semua mempunyai pengetahuan seperti yang mereka nyatakan, atau tak
satupun dari mereka yang mempunyai pengetahuan, di antara mereka
ada yang memiliki pengetahuan (abhinna) atau ada yang tidak memiliki
pengetahuan."
"Cukup, brahmana, apakah mereka semua mempunyai pengetahuan
seperti yang mereka minta, tak satupun dari mereka atau beberapa
dari mereka tidak beberapa dari mereka, biarkanlah itu, saya akan
mengajarkan kamu dhamma, brahmana. Dengarkan dan perhatikan dengan
baik apa yang saya katakan."
"Baiklah, Bhante," jawab Pingalakoccha. Selanjutnya
Sang Bhagava berkata:
"Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras,
mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian
bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang
mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah
kayu yang keras dan bagian yang basah, kulit dalamnya dan luar,
ia memotong ranting-ranting dan daun-daun, lalu membawanya dengan
berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; kemudian
seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya untuk memperhatikan
perbuatannya dan berkata: "Apa pun yang akan dilakukan oleh
orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak
akan terpenuhi.""
"Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras,
mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian
bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang
mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah
kayu yang keras dan bagian yang basah, memotong kulit dalamnya dan
luar, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah
kayu yang keras; kemudian seorang dengan penglihatan yang baik,
melihatnya untuk memperhatikan perbuatannya dan berkata: "Apa
pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu
yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.""
"Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras,
mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian
bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang
mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah
kayu yang keras dan bagian yang basah, memotong kulit dalamnya,
lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu
yang keras; kemudian seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya
untuk memperhatikan perbuatannya dan berkata: "Apa pun yang
akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras,
maksudnya tidak akan terpenuhi.""
"Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras,
mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian
bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang
mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah
kayu yang keras dan memotong bagian yang basah, lalu membawanya
dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras;
kemudian seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya untuk
memperhatikan perbuatannya dan berkata: "Apa pun yang akan
dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya
tidak akan terpenuhi.""
"Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras,
mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian
bagian tengah kayu yang keras lalu melihat sebuah pohon besar yang
mempunyai bagian tengah kayu yang keras, ia memotong bagian tengah
kayu yang keras, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah
bagian tengah kayu yang keras; kemudian seorang dengan penglihatan
yang baik, melihatnya untuk memperhatikan perbuatannya dan berkata:
"Apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah
kayu yang keras, maksudnya akan terpenuhi.""
"Brahmana, demikian pula, ini beberapa orang karena keyakinan,
meninggalkan kehidupan duniawi menjadi tak berumah-tangga, berpikir:
"Saya adalah korban dari kelahiran, lahir dan mati, dari kesedihan-kesedihan
dan dukacita, kesakitan, ratapan, dan keputusasaan. Saya adalah
korban penderitaan, mangsa dari penderitaan. Secara pasti akhir
dari seluruh penderitaan yang besar ini dapat diketahui." Jika
ia melakukan, ia memperoleh hasil yang besar, kehormatan dan kemashyuran.
Dia senang dengan itu dan keinginannya yang terpenuhi. Dengan catatan
ia memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain yaitu: "Saya
mempunyai hasil, saya dikenal, tetapi bhikkhu-bhikkhu ini tidak
diketahui, tanpa catatan."
"Dengan begitu ia membangkitkan ketidakadaan keinginan untuk
melakukan tindakan,ia tidak melakukan usaha, untuk merealisasi
dhamma lain yang lebih tinggi daripada hasil yang diperolehnya,
kehormatan dan kemashyuran dan yang lebih tinggi daripada itu."
"Saya mengatakan orang ini seperti seseorang memerlukan
bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang
keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras,
lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu
yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian
yang basah, memotong kulit dalamnya dan luar, lalu membawanya
dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras,
maka apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian
tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.""
"Ada beberapa orang yang berdasarkan pada keyakinan meninggalkan
pemuasan duniawi menjadi tanpa berumah-tangga, berpikir: "Saya
adalah korban dari kelahiran, lahir dan kematian, dan penderitaan
dan ratapan, kesakitan, dukacita dan keputusasaan. Saya adalah seorang
korban penderitaan, sasaran dari penderitaan. Secara pasti akhir
dari seluruh penderitaan yang besar ini dapat diketahui." Jika
ia telah melakukannya, ia memperoleh hasil yang besar, kehormatan
dan kemashyuran. Ia tidak senang dengan ini dan keinginannya dipenuhi.
Ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia menimbulkan
keinginan untuk melakukan dan membuat usaha-usaha untuk menyadari
dhamma yang lain yang lebih tinggi daripada basil itu, kehormatan
dan kemashyuran dan lebih unggul daripada itu; ia tidak bergantung
dan menurun. Ia mencapai kebajikan yang sempurna. Ia senang dengan
kebajikan yang sempurna dan keinginannya terpenuhi."
"Dengan catatan ia memuji dirinya sendiri dan menghina orang
lain: "Saya seorang yang saleh, mempunyai sifat yang baik,
tetapi bhikkhu-bhikkhu yang lain ini tidak saleh, dan mempunyai
kelakuan yang jahat." Maka ia membangkitkan ketidakinginan
untuk melakukan tindakan, ia tidak berusaha untuk merealisasi
dhamma-dhamma lain yang tinggi daripada konsentrasi yang sempurna,
membuat bersifat masa bodoh.
"Saya berkata bahwa orang ini seperti seorang memerlukan
bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang
keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras,
lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu
yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian
yang basah, memotong kulit dalamnya, lalu membawanya dengan berpikir
bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang
akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras,
maksudnya tidak akan terpenuhi.""
"Di sini beberapa orang karena keyakinan, meninggalkan kehidupan
duniawi menjadi tak berumahtangga, berpikir: "Saya korban dari
kelahiran, lahir dan mati, kesedihan dan ratapan, kesakitan, duka
cita dan keputusasaan. Saya adalah seorang korban penderitaan, mangsa
dari penderitaan. Secara pasti akhir dari seluruh penderitaan yang
besar itu dapat diketahui." Jika ia telah melakukannya, ia
mendapatkan hasil yang besar, kehormatan dan kemashyuran. Ia tidak
senang dengan itu dan keinginannya tidak terpenuhi. Ia tidak memuji
dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia mempunyai keinginan
untuk bertindak dan membuat usaha untuk menyadari dhamma yang lain
yang lebih tinggi dan unggul dari itu."
"Ia tidak bergantung dan tidak merosot. Ia mencapai kebajikan
yang sempurna. Ia senang dengan itu, tetapi keinginannya tidak
terpenuhi. Ia tidak memuji diri sendiri dan menghina orang lain.
Ia ingin bertindak, dan membuat usaha, untuk menyadari dhamma
yang lain yang lebih tinggi dari kebajikan yang sempurna. Ia tidak
bergantung dan merosot. Ia mencapai konsentrasi yang sempurna.
Ia senang dan keinginannya terpenuhi. Berdasarkan hal itu ia memuji
dirinya sendiri dan menghina orang lain: "Saya berkonsentrasi,
pikiran saya terpusat, tetapi bhikkhu-bhikkhu ini tidak terkonsentrasi
dan pikiran mereka kacau." Maka ia membangkitkan ketidakinginan
untuk berbuat, ia tidak berusaha untuk merealisasikan dhamma-dhamma
yang lebih tinggi daripada konsentrasi sempurna, ia bersikap masah
bodoh."
"Saya berkata orang ini seperti orang memerlukan bagian tengah
kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana
dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah
pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati
bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, memotong kulit
dalamnya, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian
tengah kayu yang keras; maka apa pun yang akan dilakukan oleh orang
ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi."
"Di sini ada beberapa orang yang berdasarkan pada keyakinan,
meninggalkan kehidupan duniawi menjadi tak berumah-tangga, berpikir:
"Saya adalah korban dari kelahiran, lahir dan mati, dari kesedihan
dan ratapan, kesakitan duka cita dan keputusasaan. Saya adalah korban
dari penderitaan, mangsa dari penderitaan. Secara pasti akhir dari
seluruh penderitaan ini dapat diketahui." Jika ia telah melakukannya,
ia memperoleh hasil yang besar, kehormatan dan kemashyuran. Ia tidak
senang dengan ini dan keinginannya tidak dipenuhi. Dengan catatan,
ia tidak membanggakan dirinya sendiri dan menghina yang lain. Ia
mempunyai keinginan untuk bertindak, dan ia membuat usaha, untuk
menyadari dhamma yang lebih tinggi daripada hasil, kehormatan dan
kemashyuran dan lebih unggul daripada itu."
"Ia tidak bergantung dan mengalami kemerosotan. Ia mencapai
kebajikan yang sempurna. Ia senang dengan pencapaiannya itu, namun
keinginannya belum terpenuhi. Berdasarkan hal itu ia tidak membanggakan
dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia membangkitkan keinginan
berbuat, berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma yang lebih tinggi
dari kebajikan sempurna. Ia tidak bersikap masa bodoh. Ia mencapai
konsentrasi sempurna. Ia sedang senang dengan itu tetapi keinginannya
belum terpenuhi. Berdasarkan hal itu, ia tidak memuji dirinya
sendiri dan menghina orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk
berbuat, ia berusaha untuk merealisasikan dhamma-dhamma yang lebih
tinggi daripada konsentrasi sempurna. Ia tidak masa bodoh. Ia
mencapai pengetahuan dan penglihatan (nanadassana). Ia
senang dengan hal itu dan keinginannya terpenuhi. Berdasarkan
hal itu ia memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain: "Saya
hidup mengetahui dan melihat, tetapi bhikkhu-bhikkhu ini hidup
tanpa mengetahui dan melihat." Maka ia membangkitkan ketidakinginan
untuk berbuat, ia tidak berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma
lain yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan. Ia
bersikap masa bodoh."
"Saya berkata bahwa orang ini seperti seorang yang memerlukan
bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang
keras, berkelana mencari bagian tengah kayu yang keras melihat
sebuah pohon yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, dan
melewati bagian tengah kayu yang keras, ia memotong bagian kayu
yang basah dan membawanya, berpikir bahwa itu adalah bagian tengah
kayu yang keras; maka apa pun yang ia lakukan dengan bagian tengah
kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi."
"Di sini ada beberapa orang yang berdasarkan keyakinan, meninggalkan
kehidupan duniawi menjadi hidup tanpa berumah-tangga .... Ia mendapat
hasil yang besar, kehormatan dan pujian. Ia tidak senang dengan
itu, keinginannya tidak terpenuhi .... Ia mencapai kebajikan sempurna.
Ia senang dengan itu, namun keinginannya belum terpenuhi .... Ia
mencapai pengetahuan dan penglihatan. Ia senang dengan itu tetapi
keinginannya belum terpenuhi. Berdasarkan hal itu ia tidak memuji
dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia membangkitkan keinginan
untuk berbuat, ia berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma lain
yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan dan melebihi
itu. Ia tidak masa bodoh. Tetapi apakah dhamma-dhamma yang lebih
tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan dan melebihi itu?"
"Brahmana, dalam hal ini, dengan menjauhi keingian nafsu,
jauh dari dhamma-dhamma yang tak bermanfaat, ia mencapai dan berada
dalam Jhana I, yang disertai vitakka dan vicara, dengan kegiuran
serta kebahagiaan yang dihasilkan oleh ketenangan. Ini dhamma yang
lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan."
"Dengan melenyapkan vitakka dan vicara, ia mencapai dan berada
dalam Jhana II disertai keyakinan diri, pikiran terpusat dan kegiuran
yang dihasikan oleh pemusatan pikiran. Ini dhamma yang lebih tinggi
daripada pengetahuan dan penglihatan."
"Selanjutnya, dengan melenyapkan kegiuran, ia seimbang, pikiran
terpusat dan sadar, dengan kebahagiaan tubuh, ia mencapai dan berada
dalam Jhana III, yang dinyatakan oleh para Ariya sebagai: "Ia
mencapai keadaan yang menyenangkan karena memiliki keseimbangan
dan pikiran waspada sekali."
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan."
"Kemudian, dengan menghilangkan kebahagiaan dan ketidaksenangan
dari tubuh (sukha-dukkha) dan setelah terlebih dahulu melenyapkan
kegiuran dan kesedihan, ia mencapai dan berada dalam Jhana IV dengan
'bukan sakit ataupun bukan kebahagiaan', kesadaran yang
suci karena keseimbangan (upekha).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada, pengetahuan dan penglihatan."
"Setelah dengan sempurna melampaui pencerapan jasmani (rupasanna)
dan lenyapnya pencerapan ketidaksenangan (patighasanna, tanpa memperhatikan)
pencerapan perbedaan (nanattasanna), menyadari "ruang
tanpa batas", ia mencapai dan berada dalam 'keadaan ruang
tanpa batas' (akasanancayatana).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan."
"Setelah dengan sempurna melampaui 'keadaan ruang tanpa
batas', menyadari 'kesadaran tanpa batas', ia mencapai
dan berada dalam 'keadaan kesadaran tanpa batas' (vinnanancayatana).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan."
"Setelah dengan sempurna melampaui 'keadaan kesadaran
tanpa batas', menyadari 'kekosongan', ia mencapai dan
berada dalam 'keadaan kekosongan' (akincannayatana).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan."
"Setelah dengan sempurna melampaui 'keadaan kekosongan',
ia mencapai dan berada dalam 'keadaan bukan pencerapan atau
pun tidak bukan pencerapan' (n'evasanna nasannayatana).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan."
"Setelah dengan sempurna melampaui 'keadaan bukan pencerapan
ataupun tidak bukan pencerapan', ia mencapai dan berada dalam
'lenyapnya pencerapan dan perasaan' (sannavedayitanirodha).
Semua kotoran batinnya (asava) lenyap oleh pengetahuan dan
penglihatan (nanadassana). Ini dhamma yang lebih tinggi daripada
pengetahuan dan penglihatan."
"Saya berkata orang ini seperti seorang memerlukan bagian
tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana
dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah
pohon besar yang_mempunyai bagian tengah kayu yang keras, ia memotong
bagian tengah kayu yang keras, lalu membawanya dengan berpikir bahwa
itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang akan
dilakukannya pada bagian tengah kayu yang keras itu, maksudnya akan
terpenuhi."
"Brahmana, hidup ini tidak mempunyai keuntungan, kehormatan
dan kemashyuran tidak ada gunanya, tidak ada kebajikan yang sempurna,
atau konsentrasi yang sempurna, atau pengetahuan dan khayalan. Tetapi
tidak dapat disangkal pembebasan pikiran merupakan tujuan dari kehidupan
suci. Inilah 'bagian tengah kayu yang keras' dan akhirnya."
Ketika ini dikatakan Brahmana Pingalakoccha berkata kepada Sang
Bhagava: "Menakjubkan, Samana Gotama! Menakjubkan ....! Mulai
hari ini semoga Samana Gotama menerima saya sebagai upasaka yang
telah berlindung kepada-Nya selama hidup."