(Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya II,
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Hanuman Sakti, Jakarta, 1997)
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Ginjakavasathe,
Nadika.
Pada saat itu pula Bhikkhu Anuruddha, Bhikkhu Nandiya dan Bhikkhu
Kimbila tinggal di Hutan pohon Sala Gosinga.
Saat sore hari, Sang Bhagava bangkit dari meditasinya dan pergi
ke Hutan pohon Sala Gosinga. Penjaga taman melihat Sang Bhagava
datang, lalu berkata kepada beliau: "Janganlah datang ke taman
ini, Bhante. Ada tiga orang di sini sedang berusaha. Jangan ganggu
mereka."
Bhikkhu Anuruddha mendengar penjaga taman berbicara kepada Sang
Bhagava. Beliau berkata demikian: "Sobat penjaga taman, jangan
mengusir Sang Bhagava. Itu guru kami, Sang Bhagava datang."
Lalu mereka menghadap Sang Bhagava. Satu orang membawakan patta
dan jubah luarnya, satu lagi menyiapkan sebuah tempat duduk, dan
lainnya menyiapkan air untuk membersihkan kaki. Sang Bhagava duduk
pada tempat yang telah disiapkan lalu membasuh kakinya. Kemudian
mereka memberi hormat kepada Beliau dan duduk di tempat yang tersedia.
Setelah itu, Sang Bhagava berkata demikian kepada mereka "Saya
harap kalian semua dalam keadaan baik, Anuruddha, semuanya senang,
dan tidak mempunyai masalah dalam berpindapata."
"Sang Bhagava, kami dalam keadaan baik. Kami merasa senang
dan tidak mempunyai masalah dalam berpindapata."
"Anuruddha, saya harap kalian semua hidup damai dan bersepakat,
tanpa pertengkaran bagaikan susu dan air, melihat satu sama lain
dengan maksud baik."
"Memang demikian, Bhante."
"Anuruddha, tetapi bagaimana kalian hidup di sini?"
"Bhante, saya berpikir begini: "Hal ini bermanfaat bagi
saya, sangat bermanfaat bagi saya, sangat bermanfaat bagi saya bahwa
saya tinggal dengan para sahabat di dalam kehidupan luhur."
Saya menjaga badan, ucapan, pikiran yang penuh kasih sayang terhadap
para bhikkhu tersebut baik secara umum maupun secara pribadi. Saya
berpikir: Mengapa saya tidak menyampaikan apa yang saya ingin lakukan
? Saya bertindak sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Bhante, tubuh
kami berbeda, tetapi satu di dalam pikiran, menurut saya."
Bhikkhu Nandiya dan Bhikkhu Kimbila berbicara serupa. Mereka menambahkan:
"Bhante, begitulah bagaimana kami hidup damai, bersahabat dan
tidak bertengkar seperti susu dan air, melihat satu sama lain dengan
maksud baik."
"Anuruddha, bagus, Aku berharap kalian semua hidup tekun,
bersemangat, dan mengendalikan diri."
"Tentu kami lakukan demikian, Bhante."
"Anuruddha, tetapi bagaimana kamu hidup seperti itu ?"
"Bhante, mengenai itu, siapa saja di antara kami yang pertama
kali kembali dari desa setelah berpindapata akan menyiapkan tempat-tempat
duduk, menyiapkan air untuk minum dan mencuci, membersihkan dan
meletakkan keranjang sampah pada tempatnya. Siapa saja di antara
kami kembali paling akhir memakan makanan yang masih ada, jika dia
inginkan. Kalau tidak dia akan membuangnya ke tempat di mana tidak
ada tumbuh-tumbuhan atau membuangnya ke dalam saluran air, di mana
tidak ada kehidupan. Dia menyimpan kembali tempat-tempat duduk,
air minum dan air untuk mencuci. Dia menyimpan keranjang sampah
setelah membersihkannya, dan membersihkan ruang makan. Barang siapa
melihat tempat air minum atau tempat air untuk mencuci atau air
di kamar bilas bersisa sedikit atau kosong maka mengurusnya. Jika
tempat air tersebut terlalu berat baginya, dia akan memanggil yang
lainnya dengan memberikan isyarat tangan dan mereka akan memindahkannya
secara gotong-royong.
Kami tidak berbicara untuk hal-hal seperti itu. Tetapi setiap
hari sekali kami selalu bersama-sama membicarakan tentang Dhamma
di malam hari, itulah bagaimana kami hidup tekun, bersemangat,
dan mengendalikan diri."
"Anuruddha, bagus, tetapi sementara kalian hidup tekun, bersemangat
dan mengendalikan diri dengan cara ini, sudahkah kalian memperoleh
pencapaian yang menyenangkan yang layak bagi pengetahuan dan pandangan
seorang suci, yang melebihi Dhamma biasa?"
"Mengapa tidak, bhante? Di sini kapanpun kami mau, dengan
menghindarkan diri dari nafsu-nafsu keinginan, menghindari diri
dari Dhamma yang tidak menguntungkan, kami masuk dan berdiam dalam
Jhana pertama, yang disertai oleh pencerapan awal dan lanjutan,
dengan kebahagian dan kesukacitaan, hasil dari ketenangan. Bhante,
ini adalah sebuah perbedaan yang layak bagi pengetahuan dan pandangan
yang dimiliki oleh seorang suci, yang lebih tinggi daripada yang
dimiliki oleh umat awam, yang telah kami capai sebagai tempat
berdiam yang menyenangkan selagi hidup tekun, bersemangat, dan
mengendalikan diri."
"Anuruddha, bagus, tetapi apakah ada perbedaan lain yang
layak bagi pengetahuan dan pandangan yang dimiliki oleh Ariya yang
lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh umat awam, yang telah kamu
capai sebagai tempat berdiam yang menyenangkan dengan pemenuhan,
dengan menenangkan tempat berdiam tersebut?"
"Mengapa tidak, bhante? Di sini kapanpun kami mau dengan
menenangkan vitakka dan vicara ...Jhana II ...mengendalikan diri."
"Bagus ... dengan menenangkan tempat berdiam tersebut?"
"Mengapa tidak, bhante? Di sini kapanpun kami mau, dengan
pudarnya kebahagiaan ... Jhana III ... mengendalikan diri."
"Bagus ... dengan menenangkan tempat berdiam tersebut?"
"Mengapa tidak, bhante? Di sini kapanpun kami mau, dengan
melepaskan kesenangan dan kesakitan (secara badaniah) .... Jhana
IV .... mengendalikan diri."
"Bagus ... dengan menenangkan tempat berdiam tersebut?"
"Mengapa tidak, bhante? Di sini kapanpun kami mau, dengan
pemenuhan total atas pencerapan bentuk ... dasarnya terdiri dari
ruang batas."
".... dasarnya terdiri dari kesadaran tanpa batas ..."
" .... dasarnya terdiri dari kehampaan .... "
" .... dasarnya terdiri dari bukan pencerapan dan bukan tanpa
pencerapan ... mengendalikan diri."
"Anuruddha, bagus, tetapi apakah ada perbedaan lain yang
layak bagi pengetahuan dan pandangan yang dimiliki oleh seorang
Ariya, yang lebih tinggi dari pada yang dimiliki oleh umat awam,
yang telah kalian capai sebagai kediaman yang menyenangkan dengan
pemenuhan dan penenangan tempat berdiam tersebut ?"
"Mengapa tidak, bhante? Di sini kapanpun kami mau, dengan
pemenuhan total yang pada dasarnya terdiri dari bukan pencerapan
dan bukan tanpa pencerapan, kami masuk dan berdiam di dalam penghentian
pencerapan dan perasaan. Dan noda-noda kami memudar karena kami
melihat dengan pengertian. Bhante, ini adalah sebuah perbedaan
yang layak bagi pengetahuan dan pandangan yang dimiliki oleh Ariya,
yang lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh umat awam, yang
telah kami capai sebagai tempat berdiam yang menyenangkan melalui
pemenuhan dan penenangan tempat berdiam yang menyenangkan tersebut."
"Anuruddha, bagus, tidak ada tempat yang menyenangkan yang
lebih tinggi atau mulia dari pada hal itu."
Selanjutnya, setelah Sang Bhagava telah melatih, menganjurkan,
membangkitkan, dan mendorong Bhikkhu Anuruddha, Bhikkhu Nandiya
dan Bhikkhu Kimbila dengan pembicaraan tentang Dhamma. Sang Bhagava
bangkit dari tempat duduknya dan pergi.
Setelah mereka menemui Sang Bhagava keluar dan kembali lagi ke
tempat mereka, Bhikkhu Nandiya bertanya kepada Bhikkhu Anuruddha
dan Bhikkhu Kimbila: "Apakah saya pernah memberitahukan kepada
Bhante Anuruddha tentang perolehan kami berupa tempat berdiam dan
pencapaian seperti semuanya yang dikatakan di muka Sang Bhagava
sampai dengan memudarnya noda-noda?"
"Para bhante tidak pernah memberitahukan saya tentang pencapaian
mereka berupa tempat berdiam dan pencapaian. Tetapi dengan peliputan
pikiran-pikiran para bhante tersebut dengan pikiran saya dapat
saya ketahui bahwa para bhante sudah memperoleh kemampuan dan
pencapaian seperti itu. Di samping itu para dewa mengatakan pemyataan
demikian kepada saya: Para bhante telah memperoleh kemampuan dan
pencapaian seperti itu. Kemudian saya menyatakan hal tersebut
ketika ditanya langsung oleh Sang Bhagava."
Kemudian yakkha (makhluk halus) ahli sihir bernama Digha menghadap
Sang Bhagava, setelah memberi hormat, dia berdiri di samping. Dengan
berdiri ia berkata kepada Sang Bhagava :"Bhante, ini adalah
suatu berkah bagi kaum Vajji, di lingkungan mana Sang Tathagata
tinggal, Arahat Samma Sambuddha, beserta tiga pertapa tersebut,
Bhikkhu Anuruddha, Bhikkhu Nandiya, dan Bhikkhu Kimbila." Setelah
mendengar kata-kata yakkha ahli sihir Digha, para Dewa Catumaharajika
berkata: "Inilah suatu berkah ...".
".... para dewa Tavatimsa ...."
".... para dewa Yama ...."
".... para dewa Tusita ...."
".... para dewa Nimmanarati ...."
Setelah mendengar suara kata-kata para dewa, para dewa Brahma
berkata: "Ini adalah suatu berkah bagi kaum Vajji, di lingkungan
mana Sang Tathagata tinggal, Arahat Samma Sambuddha beserta tiga
pertapa tersebut, Bhikkhu Anuruddha, Bhikkhu Nandiya, dan Bhikkhu
Kimbila."
"Digha, demikianlah. Dari suku mana ketiga pertapa tersebut
berasal, yaitu dari hidup berumah tangga yang lalu menuju kehidupan
tanpa rumah tangga, lalu mengingat mereka dengan penuh keyakinan,
hal ini akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan yang panjang
bagi suku tersebut. Dari para pelayan suku manapun ketiga pertapa
itu berasal .... desa manapun .... kota manapun .... dari negara
manapun ketiga pertapa tersebut berasal dari kehidupan berumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah tangga, lalu mengingat mereka dengan
penuh keyakinan, hal itu akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan
bagi negara itu. Jika semua kesatria .... jika semua brahmana ....
jika semua pengusaha .... jika semua pekerja mengingat dengan penuh
keyakinan, hal itu akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi
ksatria, pekerja. Jika dunia dengan para dewanya, para makhluk.
Mara dan Brahma, generasi ini dengan para bhikkhu dan brahmananya,
para raja dan rakyat, mengingat mereka dengan penuh keyakinan, akan
membawa kesejahteraan dan kebahagiaan pada dunia.
Digha, lihatlah betapa jauh ketiga pertapa tersebut melaksanakan
jalan kesejahteraan dan kebahagiaan berdasarkan kasih sayang pada
dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa
dan manusia!"
Itulah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Yakkha ahli sihir
Digha sangat puas, ia gembira dengan kata-kata Sang Bhagava.