(Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya II,
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Hanuman Sakti, Jakarta, 1997)
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Kutagarasala, Mahavana,
Vesali.
Pada saat itu Saccaka Niganthaputta sedang tinggal di Vesali,
seorang pendebat dan pembicara ulung, dianggap oleh kebanyakan orang
sebagai orang suci. Ia mengucapkan kata-kata ini di hadapan suatu
sidang di Vesali : "Aku tidak melihat petapa maupun brahmana,
kepala dari sebuah sangha, kepala dari suatu sekte, guru dari sebuah
sekte, sekalipun apabila ia mengaku sebagai seorang Arahat dan mencapai
Penerangan Sempurna, yang tidak gemetar dan tergoyang serta menggigil
dan berkeringat di bawah ketiak mereka apabila sedang terlibat dalam
perdebatan dengan diriku. Bahkan apabila aku sedang terlibat dalam
perdebatan tanpa arti, perdebatan itu akan menggetarkan, menggoncangkan
serta menggigilkan mereka yang sedang terlibat dalam perdebatan
dengan diriku. Oleh karena itu apa yang harus saya katakan tentang
manusia itu."
Di pagi hari, Bhikkhu Assaji mengenakan jubah, mengambil patta
dan jubah luar (civara), lalu beliau pergi ke Vesali untuk pindapata.
Ketika Saccaka Niganthaputta sedang berjalan-jalan dan mondar-mandir
melakukan latihan (cankamana) di Vesali, ia melihat bhikkhu Assaji
mendatangi dikejauhan. Ketika ia melihatnya, ia pergi menghampiri
Assaji dan sesudah penyambutan serta penghormatan dengannya, dan
setelah ucapan-ucapan saling menghormat telah selesai dilakukan,
ia berdiri di samping, kemudian Saccaka Niganthaputta berkata:
"Bagaimana caranya Samana Gotama mendisiplinkan siswa-siswa,
Guru Assaji; dan dengan cara bagaimana biasanya Samana Gotama memberikan
instruksi-instruksi kepada para siswanya itu?"
"Ini adalah bagaimana Sang Bhagava itu mendisiplinkan siswa-siswa
Aggivessana; dan dengan cara demikian instruksi-instruksi dari Sang
Bhagava itu biasanya disampaikan kepada para siswa: 'Bhikkhu, bentuk
itu adalah tidak kekal, pencerapan adalah tidak kekal; bhikkhu,
bentuk itu adalah bukan pribadi, perasaan itu adalah bukan pribadi,
bentukan-bentukan adalah bukan pribadi, dhamma-dhamma itu adalah
semua bukan pribadi.' Itu adalah cara bagaimana Sang Bhagava mendisiplinkan
para siswa; itu adalah cara bagaimana instruksi-instruksi dari Sang
Bhagava disampaikan kepada para siswa."
"Apabila ini adalah apa yang dikemukakan oleh Samana Gotama,
ternyata kita mendengar tentang apa yang salah. Sekarang, seandainya,
pada suatu waktu atau waktu lain, kita dapat bertemu dengan Guru
Gotama, seandai kita dapat mengadakan beberapa pembicaraan dengan
beliau? Seandai kita dapat melenyapkan pandangan dari pada-Nya?"
Kebetulan pada waktu itu lima ratus penduduk dari Licchavi telah
berkumpul bersama dalam suatu sidang di dalam ruangan, untuk suatu
urusan lain. Kemudian, Saccaka Niganthaputta pergi menemui mereka
dan berkata: "Marilah, tuan-tuan dari Licchavi, marilah. Hari
ini akan diadakan pembicaraan antara saya dengan Samana Gotama.
Apabila Samana Gotama tetap mempertahankan pendapat Beliau kepadaku
seperti apa yang diucapkan oleh satu di antara murid-murid terkenal
Beliau, yaitu bhikkhu yang bernama Assaji, maka dengan argumentasi
aku akan menyeret Samana Gotama, menyeret ke sana kemari dan menyeret
ke sekeliling, tepat seperti halnya seorang laki-laki perkasa menangkap
lembu jantan pada rambutnya dan menyeretnya ke sana kemari, dan
menyeret ke sekelilingnya; demikian juga dengan perdebatan akan
menyeret Samana Gotama, menyeret ke sana kemari, menyeret ke sekeliling
tepat seperti halnya seorang pekerja pada pembuat arak yang melemparkan
saringan besar masuk ke dalam tangki air yang dalam, dan sambil
memegangnya di kedua sudutnya, menyeretnya kian kemari dan menyeretnya
ke sekeliling; maka dengan perdebatan aku akan mengguncang Samana
Gotama ke bawah dan menggoncang-Nya naik serta menenggelamkannya,
tepat seperti halnya pegawai pembuat arak yang kuat memegang tapisan
di kedua sudutnya dan menggoncangnya ke bawah dan ke atas. Tepat
seperti halnya wajah berumur enam puluh tahun mungkin akan turun
masuk ke dalam kolam dan membenamkan badannya di dalam lumpur sebagaimana
mereka mandi dan berolah raga itu, demikian juga aku akan berolah
raga besar, aku berangan-angan, dalam permainan memandikan Samana
Gotama itu. Marilah, tuan-tuan dari Licchavi, marilah. Hari ini
akan terjadi tukar pembicaraan antara diriku dengan Samana Gotama."
Oleh karena itu beberapa orang dari Licchavi berkata: "Apakah
sekarang Samana Gotama akan menyangkal pendapat dari Saccaka, anak
lelaki dari Nigantha; atau apakah yang akan menyangkal pendapat
dari Samana Gotama itu?"
Dan beberapa orang Licchavi berkata: "Bagaimanakah Saccaka
anak dari Nigantha akan menyangkal pendapat dari Sang Bhagava; sebaliknya,
Sang Bhagava malah akan menyangkal pendapat dari Saccaka Niganthaputta."
Kemudian Saccaka Niganthaputta pergi bersama-sama dengan lima ratus
orang Licchavi ke Kutagarasala, Mahavana.
Pada saat itu beberapa bhikkhu sedang berjalan mondar-mandir di
tempat terbuka. Kemudian Saccaka Niganthaputta pergi menghampiri
mereka dan bertanya: "Di manakah Guru Gotama sekarang berada,
kita ingin melihat Guru Gotama."
"Aggivessana, Sang Bhagava telah pergi ke Mahavana, Beliau
sedang duduk di bawah pohon untuk istirahat tengah hari."
Kemudian Saccaka Niganthaputta pergi bersama-sama dengan banyak
pengikut dari kaum Licchavi menuju hutan besar ke tempat di mana
Sang Bhagava berada dan saling memberikan salam penghormatan dengan
beliau, dan setelah melakukan pembicaraan permulaan yang lemah lembut,
ia duduk pada satu sisi. Dan beberapa kaum Licchavi memberikan hormat
kepada Sang Bhagava dan duduk pada satu sisi; beberapa saling memberi
salam, dan setelah semua pembicaraan-pembicaraan permulaan serta
lemah lembut itu selesai dilakukan, mereka duduk di satu sisi; beberapa
dari mereka menyebutkan nama-nama mereka serta suku-sukunya di hadapan
Sang Bhagava dan duduk di satu sisi; beberapa tinggal diam saja
dan duduk di satu sisi.
Ketika Saccaka Niganthaputta telah duduk, ia berkata kepada Sang
Bhagava: "Saya ingin menanyakan kepada Guru Gotama tentang
suatu masalah, apakaah Guru Gotama sudi memberikan jawaban atas
pertanyaan itu kepadaku?"
"Tanyakanlah tentang apa yang kau inginkan, Aggivessana."
"Bagaimana cara Guru Gotama mendisiplinkan (membimbing para
siswa); dan dalam cara bagaimanakah instruksi Guru Gotama itu biasanya
diberikan di antara siswa?"
"Ini adalah bagaimana cara aku mendisiplinkan siswa-siswa Aggivessana;
dan ini adalah cara instruksi-instruksi saya biasanya disampaikan
kepada para siswa: bentuk adalah tidak kekal, perasaan adalah tidak
kekal, pencerapan adalah tidak kekal, bentuk-bentuk adalah bukan
pribadi, dhamma-dhamma adalah semuanya bukan pribadi, itu adalah
cara bagaimana aku mendisiplinkan siswa-siswa; dan itu adalah cara
dalam mana instruksi biasanya disampaikan kepada para siswa."
"Satu persamaan terjadi kepadaku, Guru Gotama."
"Aggivessana, biarkanlah itu terjadi kepadamu," kata Sang
Bhagava.
"Tepat seperti halnya bibit-bibit serta tanaman-tanaman, apapun
jenisnya, telah mencapai tingkat pertumbuhan, semuanya itu tergantung
pada tanah, didasarkan pada tanah; dan tempat seperti apabila jenis-jenis
pekerjaan harus dikerjakan oleh yang kuat, semuanya itu dikerjakan
bergantung pada tanah, berdasarkan atas tanah demikian juga, Guru
Gotama, seseorang memiliki bentuk sebagai pribadi, ia menghasilkan
jasa berdasarkan pencerapannya. Ia mempunyai bentuk-bentuk pikiran
sebagai pribadi, ia membuat jasa atau menentang jasa adalah berdasarkan
bentuk. Ia mempunyai perasaan sebagai pribadi, ia membuat atau tidak
membuat jasa berdasarkan perasaan. Ia mempunyai daya pencerapan
sebagai pribadi, ia menghasilkan jasa berdasarkan pencerapannya.
Ia mempunyai bentuk-bentuk pikiran sebagai pribadi, ia menghasikan
atau tidak menghasilkan jasa-jasa didasarkan atas bentuk-bentuk
pikiran itu. Ia memiliki kesadaran sebagai pribadi. Ia menghasilkan
atau tidak menghasilkan jasa-jasa berdasarkan atas kesadaran."
"Aggivessana, apakah kamu tidak mengemukakan sebagai berikut:
jasmani adalah diri pribadiku, perasaan adalah diri pribadi. Pencerapan
adalah diri pribadi, bentuk-bentuk pikiran adalah diri pribadi,
kesadaran adalah diri pribadi?"
"Demikianlah halnya pendapatku, Guru Gotama: bentuk adalah
diri pribadiku, perasaan adalah diri pribadiku, bentuk-bentuk pikiran
adalah diri pribadiku, kesadaran adalah diri pribadiku. Dan demikian
juga halnya adalah pendapat sebagian besar dari orang-orang itu."
"Apa hubungan keadaan yang besar itu dengan dirimu, Aggivessana?
Silahkan batasi saja hingga ke pendapatmu itu."
"Kalau begitu Guru Gotama, pendapat saya adalah demikian bentuk
adalah pribadiku, perasaan adalah pribadiku, pencerapan adalah pribadiku,
bentuk-bentuk pikiran adalah pribadiku, kesadaran adalah pribadiku."
"Aggivessana, dalam hal ini. Saya akan mengajukan pertanyaan
kepadamu sebagai giliran. Jawablah sebagaimana kamu sukai."
"Aggivessana, bagaimana kamu meyakini ini, apakah seorang raja
mulia kesatria yang mempunyai kekuasaan di dalam tangannya sendiri
untuk mengeksekusi hukuman kepada mereka yang harus dihukum, mendenda
mereka yang harus didenda, mengucilkan mereka yang harus dikucilkan,
umpama saja, Raja Pasenadi dari Kosala, atau Raja Ajatasattu Vedhiputta
dari Magadha?"
"Guru Gotama, seorang raja mulia kesatria mempunyai kekuasaan
untuk melakukan hukuman terhadap mereka yang harus dihukum, mendenda
mereka yang harus didenda, mengucilkan mereka yang harus dikucilkan,
seperti umpama: Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajatasattu Vedhiputta
dari Magadha. Sebab sekalipun masyarakat ini serta masyarakat seperti
kaum Vajji dan Malla, mereka mempunyai kekuasaan mereka sendiri
untuk menghukum mereka yang harus dihukum, mendenda mereka yang
harus didenda, mengucilkan atau memencilkan mereka yang harus dipencilkan.
Oleh sebab itu makin banyak raja mulia kesatria seperti Raja Pasenadi
dari Kosala atau Raja Ajasattu Vedhiputta dari Magadha, ia akan
memilikinya, Guru Gotama, dan ia patut untuk memilikinya (kekuasaan
itu)."
"Bagaimana kamu menerima di akalmu hal ini Aggivessana, ketika
kamu mengatakan demikian: jasmani adalah diri pribadiku, apakah
kamu memiliki kekuasaan seperti itu terhadap jasmanimu seperti:
'Biarkan jasmani seperti ini; biarkan jasmani tidak seperti itu?'"
Ketika hal ini dikatakan, Saccaka Niganthaputta diam saja. Untuk
kedua kalinya Sang Bhagava berkata kepadanya: "Bagaimana kamu
menerima di akalmu hal ini, Aggivessana, ketika mengatakan demikian:
'Jasmani adalah diri pribadiku', apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan
terhadap jasmanimu seperti: 'Biarkan jasmaniku sebagai demikian;
biarkan jasmani tidak seperti itu?' "
Untuk kedua kalinya Saccaka Niganthaputta tetap berdiam saja. Kemudian
Sang Bhagava berkata kepadanya: "Aggivessana, jawablah sekarang.
Sekarang adalah bukan waktunya lagi untuk berdiam. Apabila seseorang
tidak menjawab ketika ditanya tentang Dhamma hingga sampai ketiga
kalinya oleh Sang Tathagata, kepalanya akan terbelah tujuh bagian
pada waktu itu juga."
Pada saat itu dewa Vajirapani (dewa halilintar) dengan membawa
vajra (vajira) di kepalanya, yang terbakar, menyala, bersinar-sinar
muncul di angkasa di atas Saccaka Niganthaputta (sambil berpikir):
"Apabila Saccaka Niganthaputta ini tidak menjawab ketika ditanya
menurut Dhamma hingga ketiga kalinya, aku akan membelah kepalanya
menjadi tujuh bagian sekarang juga." Sang Bhagava melihat dewa
Vajirapani dengan perilakunya itu, juga Saccaka Niganthaputta. Ketika
itu Saccaka Niganthaputta menjadi takut, menjadi panik dan rambutnya
berdiri, sambil mencari Sang Tathagata sebagai tempat berteduh,
tempat suaka serta tempat berlindung, ia berkata: "Tanyakanlah
aku, Guru Gotama, aku akan menjawab."
"Aggivessana, bagaimana pendapatmu, ketika kamu berkata:
'Jasmani adalah pribadiku', apakah kamu mempunyai kekuasaan terhadap
jasmani, sehingga umpamanya kamu dapat memerintahkan: 'Biarkanlah
jasmaniku menjadi seperti ini, semoga jasmaniku tidak menjadi seperti
itu?' "
"Tidak, Guru Gotama."
"Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan bila menjawab. Apa
yang kamu katakan sebelumnya tidaklah sama dengan apa yang kamu
katakan sesudahnya, atau apa yang kamu katakan sesudah itu adalah
tidak sama dengan sebelumnya. Bagaimana kamu menerimanya dengan
akalmu tentang hal ini. Aggivessana, ketika kamu mengatakan demikian:
'Perasaan adalah pribadiku.' Apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan
terhadap perasaan itu seperti: 'Biarkanlah perasaanku menjadi demikian;
biarkanlah perasaanku tidak menjadi demikian?' "
"Tidak, Guru Gotama."
"Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan terhadap apa yang
kamu jawab. Apa yang kamu katakan sebelumnya tidaklah sama dengan
apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang kamu katakan sesudahnya
tidaklah sama dengan yang sebelumnya. Bagaimana kamu menanggapi
dengan akalmu hal ini, Aggivessana, apabila kamu mengatakan demikian:
'Pencerapan adalah pribadiku', apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan
terhadap pencerapanmu sehingga kamu dapat mengatakan: 'Biarkan pencerapanku
menjadi demikian; biarkan pencerapanku tidak menjadi demikian?'
"
"Tidak, Guru Gotama."
"Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan terhadap apa yang
kau jawab itu. Apa yang kamu katakan sebelumnya tidaklah sama dengan
apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang dikatakan sesudahnya
tidaklah sama dengan sebelumnya. Bagaimana kamu menanggapinya dengan
akalmu, Aggivessana. Ketika kamu mengatakan demikian: 'Bentuk-bentuk
pikiran adalah pribadiku', apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan
terhadap bentuk-bentuk pikiran itu sehingga dapat berkata: 'Biarkan
bentuk-bentuk pikiranku menjadi demikian: biarkanlah bentuk-bentuk
pikiranku tidak menjadi demikian?'"
"Tidak, Guru Gotama."
"Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan tentang apa yang
kamu jawab. Apa yang kamu katakan sebelumnya adalah tidak sama dengan
apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang kamu katakan sesudahnya
adalah tidak sama dengan yang sebelumnya Bagaimana kamu menanggapinya
dengan akalmu, Aggivessana, ketika kamu mengatakan demikian: 'Kesadaran
adalah pribadiku', apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan terhadap
kesadaran itu sehingga dapat berkata: 'Biarkanlah kesadaranku menjadi
demikian; biarkanlah kesadaranku tidak menjadi demikian?' "
"Tidak, Guru Gotama."
"Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan terhadap bagaimana
kamu menjawabnya. Apa yang kamu katakan sebelumnya adalah tidak
sama dengan yang kamu katakan sesudahnya; atau apa yang dikatakan
sesudahnya tidak sama dengan sebelumnya. Bagaimana kamu menanggapinya
dengan akalmu, Aggivessana, apakah jasmani itu kekal atau tidak
kekal?"
"Tidak kekal, Guru Gotama."
"Sekarang, apa yang tidak kekal itu tidak menyenangkan atau
menyenangkan?"
"Tidak menyenangkan, Guru Gotama."
"Sekarang, apa yang tidak kekal, tidak menyenangkan dan patut
terkena hukuman perubahan, cocok untuk dianggap sebagai: 'Ini adalah
milikku, ini adalah aku, ini adalah pribadiku?' "
"Tidak, Guru Gotama."
"Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu hal ini, Aggivessana,
apakah perasaan itu kekal atau tidak kekal?"
"Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu hal ini, Aggivessana,
apakah bentuk pikiran itu kekal atau tidak kekal?'"
"Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu hal ini, Aggivessana,
apakah pencerapan itu kekal atau tidak kekal?"
"Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu hal ini, Aggivessana,
apakah kesadaran itu kekal atau tidak kekal?"
"Tidak, Guru Gotama."
"Sekarang, apa yang tidak kekal, tidak menyenangkan dan patut
terkena hukum perubahan, cocok untuk disebut sebagai: 'Ini adalah
kepunyaanku, ini adalah aku, ini adalah diri pribadiku?' "
"Tidak, Guru Gotama."
"Bagaimana kamu menanggapi dengan akalmu hal ini, Aggivessana,
apabila seseorang melekat pada penderitaan, memberikan tempat pada
penderitaan, menerima penderitaan, selalu memandang penderitaan
sebagai: 'Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku
pribadi.' Apakah ia sendiri pernah sepenuhnya mengerti penderitaan
atau selalu berpandangan dengan penderitaan dapat melenyapkannya?"
"Mengapa harus ia, Guru Gotama? Tidak, Guru Gotama."
"Bagaimana kamu menanggapi dengan akalmu hal ini, Aggivessana,
bahwa dengan menjadikannya demikian, kau tidak melekat pada penderitaan,
kamu tidak selalu memandang penderitaan sebagai: 'Ini kepunyaanku,
ini adalah aku, ini adalah diri pribadiku?'"
"Mengapa tidak, Guru Gotama? Ya, Guru Gotama."
"Hal ini adalah bagaikan seseorang memerlukan kaku/keras
hati, mencari kayu hati, berkelana mencari kayu hati, mengambil
kapak tajam dan pergilah ke dalam hutan; dan di sana ia melihat
batang pohon tunggal, lurus, muda, tanpa ada pucuk buah. Kemudian
ia memotong akarnya, ia memotong mahkotanya, dan setelah memotong
mahkotanya ia membuka gulungan pelepah daun; tetapi ketika ia sedang
membuka gulungan pelepah daun itu ia tidak pernah sampai kepada
sesuatu getah kayu, belum lagi kayu kerasnya. Demikian juga Aggivessana,
ketika kamu ditekan dan ditanya kembali olehku tentang pendapatmu
sendiri itu, kamu adalah kosong, lowong dan dalam keadaan salah.
Tetapi kata-katamu itu diucapkan dihadapan sidang ini: 'Aku tidak
melihat Samana atau orang suci, kepala Sangha, kepala Sekte, Guru
dari suatu suku, sekalipun apabila ia mengatakan bahwa dirinya adalah
Arahat dan ber-Penerangan Sempurna, tidak bakal bergetar dan bergoncang
serta berkeringat di ketiaknya apabila terlibat dalam perdebatan
dengan aku. Sekalipun apabila aku terlibat dalam perdebatan yang
tidak bermakna, ia akan bergetar, gemetar dan bergoncang, oleh karena
itu apa yang akan aku katakan tentang makhluk hidup itu?' Sekarang
terdapatlah butiran-butiran keringat itu telah membasahi sekujur
jubah atasmu dan menetes ke tanah, tetapi sekarang tidak terdapat
keringat pada tubuhku."
Sang Bhagava membuka tutup dari tubuh Beliau yang berwarna kuning
keemas-emasan di hadapan para sidang. Ketika hal ini telah dikatakan,
Saccaka Niganthaputta diam saja, penuh cemas, dengan pundaknya menurun
ke bawah sedangkan kepalanya tunduk, bermuram durja serta tidak
dapat mengatakan apa-apa.
Kemudian Dummukha Licchaviputta, karena melihat Saccaka Niganthaputta
menjadi demikian keadaannya, ia berkata kepada Sang Bhagava demikian:
"Satu persamaan terjadi padaku, Guru Gotama."
"Terjadi kepadamu, Dummukha."
"Bhante, seandainya tidak jauh dari desa atau kota terdapatlah
sebuah kolam yang berisi kepiting di dalamnya, kemudian banyak anak
laki-laki serta perempuan pergi dari kota atau desa menuju ke kolam
itu, mereka masuk ke dalam kolam serta mengambil kepiting-kepiting
itu dan meletakkan mereka di tanah. Apabila kepiting itu merenggangkan
kakinya, mereka memotong kaki itu, memutusnya, menghancurkannya
dengan tongkat dan batu-batu, sedemikian sehingga mereka tidak dapat
kembali lagi ke kolam. Begitu pula halnya, semua penyimpangan Saccaka
Niganthaputta, paradok-paradok, lawan azas, dan ejekan-ejekan telah
diputus, dihancurkan serta dipotong oleh Sang Bhagava, sekarang
ia tidak dapat lagi mendekati Sang Bhagava, sebagai tujuan dari
kata-katanya."
Ketika hal itu diucapkan, Saccaka Niganthaputta berkata kepadanya:
"Tunggu, Dummukkha, tunggu. Kami tidak berurusan dengan kamu,
di sini kami berurusan dengan Guru Gotama." (kemudian ia berkata):
"Biarkanlah pembicaraan kita diteruskan, Guru Gotama. Seperti
dari banyak Samana dan Orang Mulia yang terdiri dari banyak kata-kata
itu, demikian yang aku kira. Tetapi bagaimana cara siswa dari Guru
Gotama melaksanakan perintah, memberi tanggapan terhadap nasehat,
mengatasi segala ketidakpastian, kehilangan keragu-raguannya, memenangkan
keberanian dan menjadi tidak tergantung dari orang-orang lain di
dalam amanat Guru itu?"
"Aggivessana, di sini segala macam bentuk apapun, apakah di
waktu yang lampau, yang akan datang atau sekarang, di dalam diri
sendiri atau luar, kasar maupun lembut, inferior atau superior,
jauh maupun dekat, seorang siswaku melihat dengan pengertian semua
bentuk seperti apa keadaan sebenarnya sebagai berikut: 'Ini adalah
bukan milikku, ini bukan diriku, ini adalah bukan aku sendiri.'
Setiap jenis perasaan apapun ........... setiap jenis pencerapan
apapun ........setiap jenis bentukan apapun ....... setiap jenis
kesadaran apapun .......apakah ia berasal dari waktu lampau, yang
akan datang atau sekarang di dalam diri sendiri atau di luar, kasar
atau lembut, inferior atau superior, jauh atau dekat seorang siswa
dariku melihat dengan pengertian benar semua kesadaran sebagaimana
keadaan sebenarnya sebagai berikut: 'Ini adalah bukan milikku, ini
adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku.' Ini adalah bagaimana
seorang siswa dariku melaksanakan amanat, memberi tanggapan terhadap
nasehat, mengatasi segala ketidakpastian, kehilangan keragu-raguannya,
memenangkan keberanian dan menjadi bebas atau tidak bergantung kepada
orang-orang lain di dalam amanat Sang Guru."
"Samana Gotama, bagaimana seorang bhikkhu bisa menjadi Arahat,
dengan noda-noda telah terkikis habis, yang telah menjalani hidup,
melakukan apa yang harus dilakukan, melepas beban, mencapai tujuan
tertinggi, menghancurkan penggoda-penggoda dari makhluk, dan yang
melalui pengertian akhir yang benar yang dibebaskan?"
" Aggivessana, di sini setiap jenis bentuk apapun, apakah dari
waktu yang lampau, yang akan datang atau sekarang, di dalam diri
sendiri atau di luar, kasar maupun halus, inferior maupun superior,
jauh maupun dekat, seorang bhikkhu melihat dengan pengertian benar
segala macam bentuk sebagaimana mereka sebenarnya sebagai berikut:
'Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukan
pribadiku', dan dengan melalui tidak melekat pada mereka maka ia
menjadi terbebas.
Setiap jenis perasaan apapun ..................
Setiap jenis kesadaran apapun ................
Setiap jenis persepsi pencerapan apapun ...................
Setiap jenis bentuk apapun .......................
Setiap jenis kesadaran apapun, baik di waktu yang lampau, akan datang
maupun sekarang, di dalam diri sendiri atau di luar, kasar atau
lembut, inferior atau superior, jauh atau dekat, seorang bhikkhu
melihat mereka dengan pengertian benar semua kesadaran sebagaimana
mereka sebenarnya sebagai berikut: 'Ini adalah bukan milikku, ini
adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku', dan dengan melalui
jalan tidak melekat kepada mereka maka ia telah terbebas. Itu adalah
bagaimana seorang bhikkhu menjadi Arahat, dengan noda-noda terkikis
habis, yang telah menjalani hidup, melakukan apa yang harus dilakukan,
menyingkirkan beban, mencapai tujuan tertinggi, menghancurkan penggoda-penggoda
makhluk, dan melalui pengetahuan akhir yang benar telah terbebaskan.
Apabila pikiran dari sang bhikkhu telah terbebaskan sedemikian
itu, ia memiliki tiga buah keadaan yang tidak dapat dilampaui atau
dilewati; pandangan atau penglihatan yang tidak dapat dilampaui
atau dilewati, tidak dapat dilewati dalam melaksanakan atau mempraktekkan
sang jalan dan tidak dapat dilewati dalam pembebasan atau pelepasan.
Apabila seorang bhikkhu telah dibebaskan sedemikian, ia hanya menghormat,
memandang tinggi, memuja-muja, memuliakan hanya Sang Tathagata saja.
Sang Bhagava telah mencapai Penerangan Sempurna itu. Sang Bhagava
adalah tenang dan Beliau mengajar Dhamma dengan ketenangan. Sang
Bhagava telah menyeberang dan Beliau mengajar Dhamma dengan menyeberang
itu. Sang Bhagava telah mencapai Nibbhana dan Beliau mengajar Dhamma
dengan telah mencapainya Nibbhana itu."
Ketika kata-kata ini telah diucapkan, Saccaka Niganthaputta menjawab:
"Samana Gotama, kami adalah berani dan maju dalam memahami
Samana Gotama untuk diserang dengan perdebatan. Seseorang harus
menjadi demikian sehingga ia dapat dengan kebebasan dari hukuman
menyerang gajah gila, namun begitu ia tidak dapat menyerang Samana
Gotama dengan kebebasan dari hukuman itu. Seseorang mungkin dapat
dengan kebebasan dari hukuman suatu nyala kobaran api yang besar,
namun begitu ia tidak dapat menyerang Samana Gotama dengan kebebasan
dari hukuman itu. Seseorang bisa menjadi demikian sehingga ia dapat
dengan kebebasan dari hukuman menyerang ular berbisa, namun begitu
ia tidak dapat menyerang Samana Gotama dengan kebebasan hukuman
itu. Kami sangat berani dan maju dalam memahami Samana Gotama untuk
menyerangnya dengan perdebatan itu.
Biarlah Sang Tathagata bersama-sama dengan bhikkhu Sangha, menerima
makanan besok dariku."
Sang Bhagava menerima undangan itu dengan berdiam diri.
Kemudian setelah ia mengetahui bahwa Sang Bhagava menerima undangannya
itu, ia menyampaikan pesan kepada kaum Licchavi: "Dengarlah
daku, kaum Licchavi. Samana Gotama bersama dengan bhikkhu sangha
telah saya undang untuk menghadiri makan besok pagi. Kamu boleh
membawa kepadaku apa saja yang kamu pikir pantas bagi Beliau."
Kemudian ketika malam telah berakhir kaum Licchavi membawa lima
ratus hidangan upacara terdiri dari nasi, susu sebagai hadiah makanan.
Saccaka Niganthaputta mempunyai makanan-makanan enak berbagai macam
yang dipersiapkan di rumahnya sendiri, dan ia telah mengumumkan
waktunya bagi Sang Bhagava: "Waktunya telah tiba Samana Gotama,
hidangan makan telah siap."
Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagava mengenakan jubah, dan
dengan membawa mangkok serta jubah luar, beliau pergi bersama-sama
dengan Bhikkhu Sangha ke rumah Saccaka Niganthaputta dan duduk di
atas tempat duduk yang telah dipersiapkan. Kemudian, dengan tangannya
sendiri, Saccaka anak lelaki dari Nigantha melayani serta memuasi
Sangha dari para Bhikkhu yang dikepalai oleh Sang Bhagava, dengan
berbagai jenis makanan. Kemudian ketika Sang Bhagava telah selesai
makan dan tidak lain memegangi mangkok-Nya, Saccaka Niganthaputta
duduk di tempat yang bawah dan duduklah pada satu sisi. Ketika ia
telah berbuat hal itu, ia berkata kepada Sang Buddha:
"Guru Gotama, apapun jasa dan (diharapkan di waktu yang akan
datang) kebesaran dikarenakan jasa dalam (ini) melakukan pemberian
sedekah, semoga bisa menjadi kebahagiaan bagi si pemberi."
"Aggivessana, jasa dan kebesaran yang diharapkan karena jasa
semacam itu yang muncul disebabkan karena memberikan dana cocok
bagi pemberian-pemberian dalam cara yang kamu lakukan, (kamu tanpa)
tiada adanya nafsu, tanpa kebencian, dan tanpa adanya khayalan,
akan menjadi pahala bagi si pemberi; tetapi pemberian semacam yang
datangnya dari (memberikan kepada) seorang yang cocok bagi pemberian-pemberian
dalam cara seperti Aku, (aku yang) tanpa nafsu, tanpa kebencian
dan tanpa khayal, akan menjadi milikmu (yang telah memberikan pemberian
kepadaku)."