(Sumber : Kumpulan Sutta
Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama
RI, 1994)
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, Kalandakanivapa,
Rajagaha. Pada ketika itu upasaka Visakha pergi menemui Bhikkhuni
Dhammadinna, sesudah memberi hormat kepadanya, ia duduk di tempat
yang tersedia. Setelah duduk ia bertanya:
(Perwujudan)
"Bhante, perwujudan, perwujudan telah dikatakan. Apakah sebenarnya
yang dimaksud dengan perwujudan oleh Sang Bhagava?"
"Saudara Visakha, kemelekatan pada khandha-khandha (kelompok-kelompok)
itu dinamakan perwujudan oleh Sang Buddha, yaitu: kemelekatan pada
khandha jasmani (rupakhandha), kemelekatan pada khandha perasaan
(vedanakhandha), kemelekatan pada khandha pencerapan (sannakhandha)
kemelekatan pada khandha bentuk-bentuk pikiran (sankharakhandha)
dan kemelekatan pada khandha kesadaran (vinnanakhandha). Kelima
khandha yang dipengaruhi oleh kemelekatan ini disebut perwujudan
oleh Sang Bhagava."
Dengan berkata: "Baik," upasika Visakha menjadi gembira
karena kata-kata Bhikkhuni Dhammadinna itu, menyetujui kata-kata
itu, selanjutnya ia bertanya:
"Bhante, asal mula perwujudan, asal mula perwujudan telah
dikatakan. Apa yang dimaksud dengan asal mula perwujudan oleh Sang
Bhagava."
"Saudara Visakha, itu adalah keinginan untuk terlahir kembali
yang disertai kesenangan dan nafsu indera, kesenangan di sini dan
di sana, yaitu: keinginan nafsu indera (kamatanha), keinginan untuk
menjadi (bhavatanha) dan keinginan untuk tak menjadi (vibhavatanha).
Inilah yang dimaksud dengan asal mula perwujudan oleh Sang Bhagava."
"Bhante, lenyapnya perwujudan, lenyapnya perwujudan telah
dikatakan. Apakah yang dimaksud dengan lenyapnya perwujudan oleh
Sang Bhagava?"
"Saudara Visakha, itu adalah sisa-sisa dari keinginan yang
memudar, lenyap, dilepaskan, dibiarkan dan ditolak. Inilah yang
dimaksud dengan lenyapnya perwujudan oleh Sang Bhagava."
"Bhante, jalan menuju pelenyapan perwujudan, jalan menuju
pelenyapan perwujudan, telah dikatakan. Apakah yang dimaksud dengan
jalan menuju pelenyapan perwujudan oleh Sang Bhagava?"
"Saudara Visakha, itu adalah jalan berunsur delapan, yaitu:
pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata
pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi
benar."
"Bhante, apakah kemelekatan itu sama dengan lima khandha
yang dipengaruhi oleh kemelekatan, atau apakah kemelekatan itu adalah
sesuatu yang terpisah dari lima khandha yang dipengaruhi oleh kemelekatan?"
"Saudara Visakha, kemelekatan itu adalah tidak sama dengan
lima khandha yang dipengaruhi oleh kemelekatan, juga tidak merupakan
sesuatu yang terpisah dari lima khandha unsur yang dipengaruhi oleh
kemelekatan. Itu adalah keinginan dan nafsu indera yang terdapat
dalam lima khandha ini dipengaruhi oleh kemelekatan itulah kemelekatan."
(Timbulnya perwujudan)
"Bhante, bagaimana pandangan salah tentang adanya aku yang
kekal (sakhayaditthi) terjadi?"
"Saudara Visakha, orang awam yang tidak belajar, tidak menghormat
terhadap orang-orang mulia (ariya), tidak mempunyai pengetahuan
dhamma dan tidak melaksanakan dhamma; tidak hormat kepada orang-orang
benar (sappurisa), tidak mempunyai pengetahuan dengan dhamma mereka
dan tidak melaksanakan dhamma mereka, melihat jasmani itu sebagai
pribadi, pribadi memiliki jasmani, jasmani di dalam pribadi atau
pribadi di dalam jasmani. Ia melihat perasaan sebagai pribadi, pribadi
memiliki perasaan, perasaan ada dalam pribadi atau pribadi ada dalam
perasaan. Ia melihat pencerapan sebagai pribadi, pribadi memiliki
pencerapan, pencerapan di dalam pribadi atau pribadi di dalam pencerapan.
Ia melihat bentuk-bentuk pikiran sebagai pribadi, pribadi memiliki
bentuk-bentuk pikiran, bentuk-bentuk pikiran di dalam pribadi atau
pribadi di dalam bentuk-bentuk pikiran melihat kesadaran sebagai
pribadi, pribadi memiliki kesadaran, kesadaran di dalam pribadi
atau pribadi di dalam kesadaran.
Itulah bagaimana pandangan salah tentang adanya aku yang kekal (sakhayaditthi)
terjadi."
"Bhante, bagaimana agar pandangan salah tentang adanya aku
yang kekal tidak terjadi?"
"Saudara Visakha, siswa ariya yang terpelajar, menghormat terhadap
orang-orang mulia (ariya), mempunyai pengetahuan dhamma dan melaksanakan
dhamma; menghormat kepada orang-orang benar (sappurisa), mempunyai
pengetahuan dengan dhamma mereka dan melaksanakan dhamma mereka,
tidak melihat jasmani itu sebagai pribadi, pribadi memiliki jasmani,
jasmani di dalam pribadi atau pribadi di dalam jasmani. Ia tidak
melihat perasaan sebagai pribadi, pribadi memiliki perasaan, perasaan
ada dalam pribadi atau pribadi ada dalam perasaan. Ia tidak melihat
pencerapan sebagai pribadi, pribadi memiliki pencerapan, pencerapan
di dalam pribadi atau pribadi di dalam pencerapan. Ia tidak melihat
bentuk-bentuk pikiran sebagai pribadi, pribadi memiliki bentuk-bentuk
pikiran, bentuk-bentuk pikiran di dalam pribadi atau pribadi di
dalam bentuk-bentuk pikiran. Ia tidak melihat kesadaran sebagai
pribadi, pribadi memiliki kesadaran, kesadaran di dalam pribadi
atau pribadi di dalam kesadaran. Itulah bagaimana pandangan salah
tentang adanya aku yang kekal (sakhayaditthi) tidak terjadi."
(Delapan jalan mulia)
"Bhante, apakah jalan mulia berunsur delapan?"
"Saudara Visakha, jalan mulia berunsur delapan adalah: pandangan
benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian
benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar"
"Bhante, apakah jalan mulia berunsur delapan berkondisi atau
tidak berkondisi?"
"Saudara Visakha, jalan mulia berunsur delapan adalah berkondisi."
"Bhante, apakah tiga kelompok dimasukkan oleh jalan mulia
berunsur delapan, atau jalan mulia berunsur delapan dimasukkan oleh
tiga kelompok?"
"Saudara Visakha, tiga kelompok tidak dimasukkan oleh jalan
mulia berunsur delapan, tetapi jalan mulia berunsur delapan dimasukkan
oleh tiga kelompok. Setiap ucapan benar, setiap perbuatan benar
dan setiap mata pencaharian benar: dhamma-dhamma ini dimasukkan
ke dalam kelompok Moral (Sila), setiap usaha benar, setiap kesadaran
benar, setiap konsentrasi benar; dhamma-dhamma ini dimasukkan ke
dalam kelompok Meditasi (Samadhi), setiap pandangan benar dan setiap
pikiran benar: dhamma-dhamma ini dimasukkan ke dalam kelompok Kebijaksanaan
(Panna)."
(Konsentrasi)
"Bhante, apakah yang dimaksud dengan konsentrasi, apakah
tanda meditasi, apa perlengkapan meditasi, bagaimana mengembangkan
meditasi?"
"Saudara Visakha, suatu pemusatan pikiran adalah meditasi,
empat dasar perhatian (satipatthana) adalah tanda meditasi, empat
usaha benar (sammappadhana) adalah perlengkapan meditasi: pengulangan
berulang-ulang kali, pengembangannya dan mengusahakan meditasi adalah
yang dimaksud dengan mengembangkan meditasi (samadhibhavana)."
(Proses)
"Bhante, ada beberapa banyak proses (sankhara) yang ada?"
"Saudara Visakha, ada tiga buah proses: proses jasmani/badan
(kayasankhara), proses bicara/verbal (vacisankhara) dan proses berpikir."
"Bhante, tetapi apa yang dimaksud dengan proses jasmani,
proses bicara serta proses berpikir?"
"Saudara Visakha, menarik nafas dan mengeluarkan nafas adalah
proses jasmani, usaha untuk mencari ide (vitakha) dan ide telah
ada (vicara) adalah proses berbicara, sedangkan pencerapan (sanna)
dan perasaan (vedana) adalah proses berpikir."
"Bhante, tetapi mengapa menarik dan mengeluarkan nafas merupakan
proses jasmani, mengapa usaha menangkap obyek dan obyek telah tertangkap
merupakan proses berbicara, mengapa pencerapan dan perasaan merupakan
proses berpikir?"
"Saudara Visakha, menarik dan mengeluarkan nafas itu menjadi
bagian dari jasmani; ini adalah hal-hal yang terikat dengan jasmani,
itulah sebabnya maka tarik dan keluar nafas merupakan proses jasmani.
Setelah terlebih dahulu 'ide dicari' dan 'ide ada' merupakan proses
berbicara. Pencerapan dan perasaan terikat pada pikiran, ini adalah
hal-hal yang terikat dengan pikiran, itulah sebabnya mengapa pencerapan
dan perasaan itu merupakan proses berpikir."
(Pencapaian pelenyapan)
"Bhante, bagaimana lenyapnya pencerapan dan perasaan (sannavedaniyatanirodha)
dapat terjadi?"
"Saudara Visakha, apabila seorang bhikkhu sedang mencapai pelenyapan
pencerapan dan perasaan, tidak muncul pikiran 'saya akan mencapai
pelenyapan pencerapan dan perasaan' atau 'saya sedang mencapai pelenyapan
pencerapan dan perasaan'; 'saya telah mencapai pelenyapan pencerapan
dan perasaan'; tetapi agaknya pikirannya sudah lebih dahulu dikembangkan
begitu bijaksananya sehingga batinnya mengarah ke keadaan itu."
"Bhante, ketika seorang bhikkhu sedang mencapai pelenyapan
pencerapan dan perasaan, dhamma-dhamma manakah yang terjadi terlebih
dahulu padanya: proses jasmani, proses berbicara atau proses berpikir?"
"Saudara Visakha, ketika seorang bhikkhu sedang dalam pencapaian
pelenyapan pencerapan dan perasaan, yang pertama-tama lenyap adalah
proses berbicara, lalu proses jasmani, akhirnya proses berpikir."
"Bhante, bagaimana caranya bangun dari pelenyapan pencerapan,
dan perasaan, terjadi?"
"Saudara Visakha, ketika seorang sedang bangun dari pencapaian
pelenyapan pencerapan dan perasaan, tidak akan pikiran: 'Saya akan
bangun dari pencapaian pelenyapan pencerapan dan perasaan' atau
'Saya bangun dari pencapaian pelenyapan pencerapan dan perasaan'
atau 'Saya telah bangun dari pencapaian pelenyapan pencerapan dan
perasaan'; tetapi agaknya pikirannya telah terlebih dahulu dikembangkan
begitu bijaksananya sehingga mengarah ke keadaan itu."
"Bhante, ketika seorang bhikkhu sedang bangun dari pencapaian
pelenyapan pencerapan dan perasaan, hal-hal mana yang timbul pertama
kali padanya: proses jasmani, proses berbicara atau proses berpikir?"
"Saudara Visakha, ketika seorang bhikkhu sedang bangun dari
pencapaian pelenyapan pencerapan dan perasaan, pertama-tama yang
timbul adalah proses berpikir, lalu proses jasmani, kemudian proses
berbicara."
"Bhante, ketika seorang bhikkhu telah bangun dari pencapaian
pelenyapan pencerapan dan perasaan, ada berapa banyak jenis kontak
yang menyentuhnya?"
"Saudara Visakha, ketika seorang bhikkhu telah bangun dari
pencapaian pelenyapan pencerapan dan perasaan, ada tiga jenis kontak
yang menyentuh padanya: kontak kosong (sunnato phassa), kontak tanpa
tanda (animitta phassa) dan kontak tanpa keinginan (appanihita phassa)."
"Bhante, ketika seorang bhikkhu telah bangun dari pencapaian
pelenyapan pencerapan dan perasaan, kepada apakah pikirannya cenderung
bersandar dan tertuju?"
"Saudara Visakha, ketika seorang bhikkhu telah bangun dari
pencapaian pelenyapan pencerapan dan perasaan, pikirannya itu cenderung
bersandar dan tertuju pada pengasingan."
(Perasaan)
"Bhante, ada berapa banyak perasaan?"
"Saudara Visakha, ada tiga macam perasaan: perasaan menyenangkan,
perasaan menyakitkan dan perasaan tidak menyakitkan maupun tidak
menyenangkan.
"Bhante, tetapi apa yang dinamakan perasaan menyenangkan,
perasaan menyakitkan dan bukan perasaan menyenangkan maupun bukan
menyakitkan?"
"Saudara Visakha, apa pun yang dirasakan badan maupun mental
sebagai menyenangkan dan memuaskan adalah perasaan menyenangkan.
Apa pun dirasakan oleh badani dan mental sangat menyakitkan dan
melukai adalah perasaan menyakitkan. Apa pun yang dirasakan badan
dan mental sebagai yang tidak memuaskan juga tidak atau melukai
adalah perasaan bukan menyenangkan maupun bukan menyakitkan."
"Bhante, apakah perasaan menyenangkan dari kebajikan menyenangkan
dan dari kebajikan menyakitkan? Apakah perasaan menyakitkan dari
kebajikan menyakitkan dan dari kebajikan menyenangkan? Apakah perasaan
bukan menyenangkan maupun menyakitkan dari kebajikan menyenangkan
dan dari kebajikan menyakitkan?"
"Saudara Visakha, perasaan menyenangkan adalah kebajikan menyenangkan
karena keberadaannya dan kebajikan menyakitkan dari perubahan. Perasaan
menyakitkan adalah menyakitkan dalam kebajikan karena keberadaannya
dan kebajikan menyenangkan dari perubahan. Perasaan bukan menyenangkan
maupun bukan menyakitkan adalah menyenangkan dalam kebajikan pengetahuan
dan menyakitkan dalam kebajikan ingin pengetahuan."
(Kecenderungan Laten)
"Bhante, kecenderungan laten (anusaya) apakah yang ada pada
perasaan menyenangkan? Kecenderungan laten apakah yang ada pada
perasaan menyakitkan? Kecenderungan laten apakah yang ada pada perasaan
bukan menyakitkan maupun bukan menyenangkan?"
"Saudara Visakha, kecenderungan laten yang ada pada perasaan
menyenangkan adalah keserakahan (lobha). Kecenderungan laten yang
ada pada perasaan menyakitkan adalah ketidaksenangan (dosa). Kecenderungan
laten yang ada pada perasaan bukan menyenangkan maupun bukan menyakitkan
adalah kebodohan (moha)."
"Bhante, apakah kecenderungan laten keserakahan mendasari
dalam semua perasaan menyenangkan? Apakah kecenderungan laten ketidaksenangan
mendasari dalam semua perasaan menyakitkan? Apakah kecenderungan
laten kebodohan mendasari dalam semua perasaan bukan menyenangkan
maupun bukan menyakitkan?"
"Saudara Visakha, kecenderungan laten keserakahan tidak mendasari
dalam semua perasaan menyenangkan. Kecenderungan laten ketidaksenangan
tidak mendasari semua perasaan menyakitkan. Kecenderungan laten
kebodohan tidak mendasari dalam semua perasaan bukan menyenangkan
maupun bukan menyakitkan."
"Bhante, apakah yang dapat ditinggalkan sehubungan dengan
perasaan menyenangkan ? Apa yang dapat ditinggalkan sehubungan dengan
perasaan menyakitkan dan apa yang dapat ditinggalkan sehubungan
dengan perasaan yang bukan menyakitkan maupun bukan menyenangkan?"
"Saudara Visakha, kecenderungan laten keserakahan dapat ditinggalkan
sehubungan dengan perasaan menyenangkan. Kecenderungan laten ketidaksenangan
dapat ditinggalkan sehubungan dengan perasaan menyenangkan. Kecenderungan
laten kebodohan dapat ditinggalkan sehubungan dengan perasaan bukan
menyakitkan maupun bukan menyenangkan."
"Bhante, apakah kecenderungan laten keserakahan dapat ditinggalkan
sehubungan dengan semua perasaan menyenangkan ? Apakah kecenderungan
laten ketidaksenangan dapat ditinggalkan sehubungan dengan semua
perasaan menyakitkan? Apakah kecenderungan laten kebodohan dapat
ditinggalkan sehubungan dengan semua perasaan bukan menyakitkan
maupun bukan menyenangkan?"
"Saudara Visakha, bukan berhubungan dengan semua perasaan menyenangkan,
maka kecenderungan laten keserakahan dapat ditinggalkan, bukan berhubungan
dengan semua perasaan menyakitkan maka kecenderungan laten ketidaksenangan
dapat ditinggalkan, bukan berhubungan dengan semua perasaan bukan
menyakitkan maupun bukan menyenangkan maka kecenderungan laten kebodohan
dapat ditinggalkan. Seorang bhikkhu, jauh dari nafsu indera, jauh
dari akusala dhamma, ia mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai
vitakha usaha pikiran untuk menangkap obyek, vicara (obyek telah
tertangkap oleh pikiran), kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha)
yang muncul karena ketenangan: dengan ini ia meninggalkan keserakahan
dan kecenderungan laten keserakahan tidak ada. Seorang bhikkhu berpikir:
'Kapan saya akan masuk dan berada dalam keadaan yang telah dicapai
dan ditinggali oleh para ariya ?' Maka dengan cara ini ia mengembangkan
cinta-kasih untuk pembebasan tertinggi (anuttara vimokha), kesedihan
muncul dengan cinta-kasih sebagai kondisinya: dengan itu ia meninggalkan
ketidaksenangan dan kecenderungan laten ketidaksenangan tidak ada.
Dengan meninggalkan kesenangan dan kesedihan dengan lebih dahulu
melenyapkan kesenangan dan duka cita mental, seorang bhikkhu mencapai
dan berada dalam Jhana IV dengan 'bukan kesakitan maupun bukan menyenangkan',
perhatian yang murni karena keseimbangan batin: dengan itu ia meninggalkan
kebodohan, dan kecenderungan laten kebodohan tidak ada."
"Bhante apa lawan dari perasaan menyenangkan?"
"Saudara Visakha, perasaan menyakitkan adalah lawan dari perasaan
menyenangkan."
"Bhante, apa lawan dari perasaan menyakitkan."
"Saudara Visakha, perasaan menyenangkan adalah lawan dari perasaan
menyakitkan."
"Bhante, apa lawan dari perasaan bukan menyenangkan maupun
bukan menyakitkan?"
"Saudara Visakha, kebodohan adalah lawan dari perasaan bukan
menyenangkan maupun bukan perasaan menyedihkan."
"Bhante, apa lawan dari kebodohan?"
"Saudara Visakha, pengetahuan benar adalah lawan dari kebodohan."
"Bhante, apa lawan dari pengetahuan sejati?"
"Saudara Visakha, pembebasan adalah lawan dari pengetahuan
sejati."
"Bhante, apa lawan dari pembebasan?"
"Saudara Visakha, Nibbana adalah lawan dari pembebasan."
"Bhante, apa lawan dari Nibbana?"
"Saudara Visakha, anda telah bertanya terlalu jauh. Anda tak
dapat menemukan kesimpulan rantai pertanyaan; karena kehidupan suci
(brahmacari) yang menembus Nibbana, menuju Nibbana. Jika anda mau,
anda dapat menemui Sang Bhagava dan tanyakan kepada Beliau arti
dari hal ini. Ketika beliau menjawab, anda harus mengingatnya."
(Kesimpulan)
Upasika Visakha sangat gembira karena kata-kata Bhikkhu Dhammadinna,
setelah mengiakan, ia pergi menemui Sang Bhagava. Setelah memberi
hormat kepada Beliau, ia duduk di tempat yang tersedia. Setelah
duduk, ia menceritakan kembali semua pembicaraannya dengan Bhikkhuni
Dhammadinna. Ketika ceritanya itu selesai, Sang Bhagava berkata:
"Visakha, Bhikkhuni Dhammadinna itu adalah bijaksana, bhikkhuni
Dhammadinna mempunyai pengertian luas. Jika kamu menanyakan pertanyaan
itu kepada-Ku, saya akan memberikan jawaban yang sama. Karena Bhikkhuni
Dhammadinna menjawab pertanyaanmu, mengenai artinya, maka kamu harus
mengingatnya."
Itulah yang dikatakan oleh Sang Buddha. Upasika Visakha puas dan
gembira karena kata-kata Sang Bhagava.