(Sumber : Kumpulan Sutta
Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama
RI, 1994)
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Veluvana, Kalandakanivapa,
Rajagaha.
Kemudian Pangeran Abhaya pergi menemui Nigantha Nataputta, sesudah
memberi hormat kepadanya, ia duduk di tempat yang tersedia, setelah
ia duduk, Nigantha Nataputta berkata kepadanya:
"Marilah, Pangeran, buktikanlah bahwa teori dari Samana Gotama
adalah salah, suatu berita yang baik darimu akan menyebar karena
dampak ini. Teori dari Samana Gotama, yang penuh sukses serta perkasa
seperti beliau itu, telah dibuktikan salah oleh Pangeran Abhaya."
"Guru, tetapi bagaimana saya membuktikan bahwa teori dari Samana
Gotama adalah salah, sedangkan beliau adalah penuh sukses ?"
Pangeran, pergilah kepada Samana Gotama dan katakan begini: "Bhante,
akankah seorang Tathagata akan mengucapkan ucapan sedemikian yang
tidak disukai dan tidak disetujui oleh orang-orang lain." Maka
katakan kepadanya demikian: "Bhante, apa perbedaan antara kamu
dengan orang-orang biasa? Bagi seorang biasa, ia juga mengucapkan
ucapan yang disukai dan tidak disetujui oleh orang-orang lain."
Tetapi apabila Samana Gotama ketika ditanya seperti itu, kemudian
menjawab: "Pangeran, seorang Tathagata tidak akan mengucapkan
kata-kata yang tidak disukai serta tidak disetujui oleh orang-orang
lain," maka katakanlah kepadanya: "Bhante, mengapa Devadatta
telah masuk ke dalam neraka, Devadatta akan tinggal di neraka, untuk
Devadatta tidak dapat diperbaiki? Devadatta telah terganggu dan
merasa tidak puas dengan ucapan-ucapan-Mu." Ketika Samana Gotama
telah disudutkan dengan pertanyaan bertanduk dua ini, Beliau tidak
akan menelannya masuk atau menyemburkannya ke luar. Apabila sebuah
jambangan yang bertahtakan paku-paku itu tersumbat di dalam kerongkongan
seseorang, ia tak mungkin untuk dapat menelannya ke dalam atau menyemburkannya
ke luar demikian juga Pangeran, apabila Samana Gotama dipojokkan
oleh pertanyaan yang bertanduk dua ini olehmu, Beliau tidak mungkin
menelannya ke dalam maupun menyemburkannya ke luar."
"Ya, Guru," jawab Pangeran Abhaya. Ia berdiri dan setelah
memberi hormat kepada Nigantha Nataputta, ia pergi melalui sisi
kanan. Ia pergi menemui Tathagata, sesudah memberi hormat kepada
Beliau, ia duduk di tempat yang tersedia. Ketika ia telah melakukan
hal itu, ia melihat pada matahari dan ia berpikir: "Hari ini
adalah sudah terlambat untuk membuktikan teori Sang Bhagava adalah
salah. Aku akan membuktikan teori Sang Bhagava salah di rumahku
sendiri besok pagi." Lalu ia berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante,
silahkan Sang Bhagava beserta tiga bhikkhu lainnya menerima hidangan
makanan besok pagi diriku." Sang Bhagava menerima undangan
tersebut dengan bersikap diam.
Selanjutnya, setelah ia mengetahui bahwa Sang Bhagava telah menerima
undangannya itu, Pangeran Abhaya bangkit dari duduknya, dan setelah
memberi hormat kepada-Nya, dengan berjalan di sisi kanan Beliau,
ia pergi meninggalkan tempat itu.
Ketika malam telah berakhir, di pagi hari, Sang Bhagava mengenakan
jubah, sambil membawa patta serta jubah (luarnya), Beliau pergi
ke rumah Pangeran Abhaya dan duduklah di tempat yang telah disediakan.
Kemudian dengan tangannya sendiri Pangeran Abhaya melayani serta
memuaskan Sang Bhagava dengan berbagai hidangan makanan. Kemudian
setelah Sang Bhagava selesai makan dan di tangan beliau sudah tidak
lagi memegangi patta, Pangeran Abhaya mengambil tempat duduk yang
lebih rendah dan ia duduk di situ. Setelah ia duduk, ia berkata:
"Bhante, apakah seorang Tathagata akan mengucapkan ucapan
yang tidak disenangi serta tidak disetujui oleh orang-orang lain?"
"Untuk itu tidak ada (jawaban) yang langsung, Pangeran."
"Bhante, oleh karena itu Nigantha telah kalah dalam hal ini."
"Pangeran, mengapa kamu berkata 'Bhante, oleh karena itu Nigantha
telah kalah dalam hal ini?' "
Kemudian Pangeran membabarkan kembali pembicaraannya dengan Nigantha
Nataputta.
Pada kejadian itu seorang anak kecil yang lemah sedang duduk di
atas pangkuan Pangeran Abhaya. Kemudian Sang Tathagata berkata kepada
Pangeran Abhaya: "Pangeran, bagaimana kamu membayangkan hal
ini. Apabila anak ini, pada waktu kamu atau perawat anak ini tidak
ada, memasukkan sepotong kayu atau sebutir batu di dalam mulutnya,
apa yang akan kamu lakukan kepadanya ?"
"Bhante, aku harus mengeluarkan benda itu dari mulutnya. Apabila
aku tidak bisa mengambilnya dengan segera, aku akan memegang kepalanya
dengan tangan kiri dan menekuk jari tanganku, aku akan menarik benda
tersebut keluar dari dalam mulutnya, sekalipun hal itu akan menimbulkan
pendarahan pada bayi itu. Mengapa ? Sebab aku sayang pada anak itu."
"Pangeran, demikian juga dengan ucapan atau kata-kata semacam
itu yang diketahui oleh Tathagata bukan mewakili apa keadaannya
tidaklah sesuai dengan kebenaran dan tidak berhubungan dengan kebaikan,
ucapan mana adalah tidak disenangi dan tidak disetujui oleh orang-orang
lain. Tathagata tidak mengatakan ucapan-ucapan semacam itu. Ucapan
semacam itu yang diketahui oleh Sang Tathagata mewakili apa keadaannya,
sesuai dengan kenyataan, tetapi tidak berhubungan dengan kebaikan,
juga ucapan ini adalah tidak disenangi dan tidak disetujui oleh
orang-orang lain, maka ucapan-ucapan itu tidak diucapkan oleh Tathagata.
Ucapan Tathagata ketahui mewakili apa keadaannya, sesuai dengan
realita, berhubungan dengan kebaikan, tetapi ucapan itu adalah tidak
disenangi dan tidak disetujui oleh orang-orang lain, maka Tathagata
tahu waktu yang tepat untuk menggunakan ucapan itu. Ucapan yang
diketahui oleh Sang Tathagata, tidaklah mewakili keadaan, tidak
cocok dengan realita dan tidak berhubungan dengan kebaikan tetapi
ucapan itu disetujui oleh orang-orang lain : ucapan semacam itu
tidak diucapkan oleh Sang Tathagata. Ucapan yang diketahui oleh
Sang Tathagata, mewakili keadaannya sesuai dengan realita, tetapi
tidak berhubungan dengan kebaikan, ucapan ini disenangi dan disetujui
oleh orang-orang lain; ucapan semacam itu tidak diucapkan oleh Sang
Tathagata. Ucapan yang diketahui Tathagata, mewakili keadaannya,
tidak sesuai dengan realita dan berhubungan dengan kebaikan, juga
ucapan ini disenangi dan disetujui oleh orang-orang lain; Tathagata
mengetahui waktu yang tepat untuk menggunakan ucapan itu. Mengapa
? Sebab Tathagata mempunyai rasa kasih sayang terhadap makhluk-makhluk
itu."
"Bhante, apabila para ksatria cendekiawan, brahmana cendekiawan,
perumah tangga cendekiawan dan para cendekiawan menetapkan suatu
pertanyaan yang telah dirumuskan dan kemudian pergi menemui Sang
Bhagava serta menanyakannya. Apakah sudah ada di dalam pikiran Sang
Bhagava: 'Siapa saja yang datang kepadaku dan bertanya seperti itu,
saya akan menjawabnya seperti ini.' Atau apakah (jawaban) itu terjadi
pada saat pertanyaan itu diajukan kepada Sang Tathagata?"
"Pangeran, apabila itu halnya, saya akan mengajukan sebuah
pertanyaan kepadamu sebagai balasan; jawablah sesuka hatimu. Bagaimana
kamu menanggapi hal ini, apakah kamu ahli dalam pengetahuan tentang
bagian-bagian dari kereta perangmu?"
"Ya, bhante."
"Pangeran, bagaimana kamu menanggapinya, apabila orang-orang
datang kepadamu dan bertanya: 'Apa nama bagian ini dari kereta perangmu?'
Apakah sudah ada di dalam pikiranmu, siapa saja yang datang kepadaku
dan bertanya seperti ini, aku akan menjawabnya begini, atau (jawaban)
itu terjadi pada saat ditanyakan"
"Bhante, aku sangat terkenal sebagai seorang pengendara kereta
yang pandai sekali dalam pengetahuan tentang bagian-bagian kereta
itu. Semua bagian-bagian dari kereta telah aku ketahui dengan baik.
Jawaban itu akan muncul pada saat pertanyaan diajukan."
"Pangeran, demikian juga, apabila para ksatria cendekiawan,
para brahmana cendekiawan, para perumah-tangga cendekiawan atau
para petapa cendekiawan menetapkan suatu pertanyaan yang telah dirumuskan
dan kemudian menemui Tathagata dan menanyakan kepadanya, (jawabnya)
Tathagata terjadi pada saat itu juga. Mengapa? Karena unsur tentang
dhamma telah sepenuhnya ditembus oleh Sang Tathagata dan disebabkan
sepenuhnya dari unsur-unsur dhamma, maka jawaban Tathagata terjadi
pada saat itu juga."
Ketika hal ini telah diucapkan, Pangeran Abhaya berkata: "Luar
biasa, Guru Gotama .... (lihat [4] Bhayabherava Sutta) .... sejak
hari ini, ketahuilah saya sebagai upasaka yang telah berlindung
kepada beliau sepanjang hidup."