(Sumber : Kumpulan Sutta
Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama
RI, 1994)
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di Jetevana, taman
milik Anathapindika, Savatthi.
Pancakanga, tukang kayu, pergi menemui Bhikkhu Udayi, dan setelah
menghormatinya, ia berdiri di satu sisi. Setelah hal tersebut dilakukannya,
ia bertanya kepada Udayi:
"Bhante, berapa banyak macam perasaan yang telah dinyatakan
oleh Sang Bhagava?"
"Tiga macam perasaan telah dinyatakan oleh Sang Bhagava, perumah
tangga, yaitu: perasaan menyenangkan, perasaan menyedihkan dan perasaan
bukan menyedihkan pun bukan menyenangkan. Ketiga macam perasaan
ini telah dinyatakan oleh Sang Bhagava."
"Bhante, bukan tiga macam perasaan yang telah dinyatakan oleh
Sang Bhagava; dua macam perasaan yang telah dinyatakan oleh Sang
Bhagava, perasaan menyenangkan dan perasaan menyedihkan. Perasaan
bukan menyedihkan pun bukan menyenangkan telah dinyatakan oleh Sang
Bhagava sebagai satu kedamaian dan (semacam) perasaan yang luhur."
Untuk kedua kalinya ....
Untuk ketiga kalinya Bhikkhu Udayi berkata kepada Pancakanga, tukang
kayu: "Bukan dua macam perasaan yang telah dinyatakan oleh
Sang Bhagava, perumah tangga; tiga macam perasaan telah dinyatakan
oleh Sang Bhagava, perasaan menyenangkan, perasaan menyedihkan dan
perasaan bukan menyedihkan pun bukan menyenangkan. Ketiga perasaan
ini .............
Untuk ketiga kalinya tukang kayu Pancakanga berkata: "Bhante,
bukan tiga macam perasaan .... ; dua macam perasaan .... perasaan
bukan menyedihkan pun bukan menyenangkan ....... satu kedamaian
dan (semacam) perasaan yang lebih luhur." Bhikkhu Udayi tidak
dapat membuat tukang kayu Pancakanga memahami, demikian pula tukang
kayu Pancakanga tidak dapat membuat Bhikkhu Udayi memahaminya.
Bhikkhu Ananda mendengar percakapan mereka. Kemudian ia pergi
menemui Sang Bhagava, dan setelah memberi hormat kepada Beliau,
ia duduk di satu sisi. Setelah ia melakukan hal itu, ia melaporkan
percakapan antara Bhikkhu Udayi dan tukang kayu Pancakanga kepada
Sang Bhagava. Setelah hal ini dikatakan, Sang Bhagava berkata kepada
Bhikkhu Ananda:
"Ananda, sesungguhnya merupakan satu penyajian yang benar
bahwa tukang kayu Pancakanga tidak dapat menerima dari Udayi, dan
sesungguhnya merupakan satu penyajian yang benar bahwa Udayi tidak
dapat menerima dari tukang kayu Pancakanga. Saya telah menyatakan
dua macam perasaan dalam satu penyajian lain. Saya telah menyatakan
tiga macam perasaan dalam penyajian lain. Saya telah menyatakan
lima macam perasaan dalam penyajian lain. Saya telah menyatakan
enam macam perasaan dalam penyajian lain lagi. Saya telah menyatakan
delapan belas macam perasaan dalam penyajian lain. Saya telah menyatakan
tiga puluh enam macam perasaan dalam penyajian lainnya. Saya telah
menyatakan seratus delapan macam perasaan dalam penyajian lain.
Demikianlah bagaimana Dhamma telah ditunjukkan olehKu dalam penyajian
(yang berbeda) dan setelah dhamma ditunjukkan olehKu dalam penyajian
(yang berbeda) demikian, dapat diperkirakan dari mereka yang tidak
mau mengakui, tidak menyetujui, dan tidak menerima apa yang telah
dinyatakan dengan baik, yang telah dikatakan dengan baik, bahwa
mereka akan tetap bertengkar, ribut, berselisih, saling tikam dengan
pisau belati kata-kata. Demikianlah bagaimana Dhamma telah ditunjukkan
olehKu dalam penyajian (yang berbeda); dan setelah Dhamma ditunjukkan
olehKu dalam penyajian (yang berbeda) demikian, dapat diharapkan
dari mereka yang mau mengakui, menyetujui, dan menerima apa yang
telah dinyatakan dengan baik, bahwa mereka akan berdiam dalam kerukunan
sebagai kawan dan tidak berselisih, bagai susu dengan air memandang
satu sama lain dengan tatapan ramah.
Terdapat lima ikatan nafsu indera. Apakah kelima hal itu? Bentuk-bentuk
yang diterima melalui mata yang diingini, dihasrati dan disukai,
berhubungan dengan nafsu indera dan rangsangan untuk bertindak karena
nafsu. Suara-suara yang diterima melalui telinga .... bebauan yang
diterima melalui hidung .... rasa-rasa yang diterima melalui lidah
.... sentuhan-sentuhan yang diterima melalui jasmani yang diingini,
dihasrati, disetujui dan disukai, berhubungan dengan nafsu dan rangsangan
untuk bertindak karena nafsu. Inilah lima ikatan dari nafsu indera.
Sekarang kesenangan dan kegiuran yang muncul tergantung pada lima
dari nafsu indera ini disebut kesenangan dalam nafsu indera.
Jika seseorang mengatakan: 'Kesenangan dan kegiuran yang dialami
makhluk-makhluk itu adalah yang tertinggi,' Saya tidak akan mengakui
hal tersebut kepadanya. Mengapa demikian? Karena terdapat jenis
kesenangan lain yang lebih tinggi daripada kesenangan tersebut.
Lalu, apakah kesenangan itu ? Dalam hal ini cukup terpisah dari
nafsu indera, terpisah dari Dhamma yang tidak bermanfaat, seorang
bhikkhu memasuki dan berdiam di Jhana pertama, yang bersekutu dengan
perenungan permulaan dan perenungan penopang, dengan kegiuran dan
kesenangan yang lahir dari menyendiri. Inilah jenis kesenangan lain
yang lebih tinggi dan lebih unggul.
Jika seseorang mengatakan: 'Kesenangan dan kegiuran yang dialami
makhluk-makhluk tersebut adalah yang tertinggi,' Saya tidak akan
mengakui hal itu kepadanya. Mengapa demikian? Karena terdapat jenis
kesenangan lain yang lebih tinggi daripada kesenangan tersebut dan
lebih unggul. Dan apakah kesenangan itu? Dalam hal ini dengan melenyapkan
perenungan permulaan dan perenungan penopang .... Jhana II ......
..... Jhana III ............
..... Jhana IV ...........
...... Keadaan dari konsepsi ruang tanpa batas ........
...... Keadaan dari konsepsi kesadaran tanpa batas ........
....... Kesadaan dari konsepsi kekosongan ..........
....... Keadaan bukan pencerapan pun bukan-pencerapan .......
Jika seseorang mengatakan: 'Kesenangan dan kegiuran yang dialami
makhluk-makhluk tersebut adalah yang tertinggi, Saya tidak akan
mengakui hal itu kepadanya. Mengapa demikian? Karena terdapat jenis
kesenangan yang lebih tinggi daripada kesenangan itu dan lebih unggul.
Lalu apakah kesenangan itu? Dalam hal ini dengan mengatasi secara
sempurna keadaan bukan pencerapan pun bukan-pencerapan, seorang
bhikkhu memasuki dan berdiam dalam padamnya pencerapan dan perasaan.
Inilah jenis kebahagiaan lain yang lebih tinggi daripada kesenangan
di atas dan lebih unggul.
Satu contoh dapat ditemukan dari para pengembara ajaran lain yang
mengatakan demikian: 'Petapa Gotama berbicara tentang padamnya pencerapan
dan perasaan dan beliau menggambarkannya sebagai kebahagiaan. Apakah
hal ini dan bagaimana hal itu.' Para pengembara yang berkata demikian
dapat diberitahukan demikian: 'Sahabat, Sang Bhagava menggambarkan
kebahagiaan dengan tidak hanya berkenaan dengan perasaan senang.
Sahabat, seorang Tathagata menggambarkan kebahagiaan yang lebih
tinggi dari berjenis kesenangan yang diperoleh di manapun dan di
mana saja."
Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Yang Mulia Ananda
merasa puas, dan ia bergembira dalam kata-kata Sang Bhagava.