(Sumber : Kumpulan Sutta
Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama
RI, 1994)
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berkelana dengan sejumlah
bhikkhu di daerah Kosal, akhirnya tiba di desa Sala.
Penduduk desa Sala mendengarkan ............ melihat para arahat
seperti itu.
Kemudian para penduduk desa Sala pergi menemui Sang Bhagava dan
duduk di tempat yang tersedia.
Ketika mereka duduk, orang yang diberkati itu bertanya kepada
mereka, "Penduduk, punyakah kamu guru yang kamu cintai di mana
kamu telah menemukan kepercayaan?"
"Tidak Yang Mulia,"
"Kemudian penduduk, walaupun kamu mempunyai guru yang kamu
cintai dalam Dhamma yang tidak berubah dapat dilatih dan dipelihara,
akan berakhir untuk kesejahteraan dan kebahagiaanmu. Apa dhamma
yang tidak berubah itu?
(Teori yang tidak mengandung apa-apa)
Penduduk setempat, ada beberapa petapa dan brahmana yang teori
dan pandangannya adalah sebagai berikut: Tak ada sesuatu yang diberikan
secara gratis, tidak ada yang ditawarkan, tidak ada yang dikorbankan,
tidak ada buah yang berasal dari kamma baik dan buruk yang telah
masak, tidak ada dunia ini, tidak ada dunia yang lain, tidak ada
ayah, tidak ada ibu, tidak ada kelahiran yang spontan, tidak ada
bhikkhu yang baik dan saleh yang menyadari dirinya sendiri dengan
pengetahuan yang diterimanya secara langsung dan dinyatakan dalam
dunia yang sekarang dan dunia yang lain.
Sekarang ada beberapa bhikkhu yang bertentangan langsung kepada
bhikkhu-bhikkhu itu dan mereka berkata seperti ini: Ada yang diberikan
dan ada yang ditawarkan dan ada yang dikorbankan, dan ada buah dari
kamma baik dan buruk yang telah masak, dan ada dunia sekarang dan
dunia yang lainnya dan ada seorang ayah dan seorang ibu dan ada
kelahiran secara spontan dan ada bhikkhu-bhikkhu yang baik dan saleh
yang disadari oleh pengetahuannya dan menyatakan ada dunia sekarang
dan dunia lainnya. Bagaimana kami memahami ini, apakah bhikkhu-bhikkhu
menerima teori-teori ini langsung bertentangan dari yang lainnya?"
"Ya, bhante."
"Sekarang kepada petapa dan brahmana yang mempunyai teori
dari pandangan sebagai berikut: Tidak ada sesuatupun yang diberikan,
tidak ada para petapa dan brahmana yang baik dan saleh yang disadari
oleh pengetahuan langsung dan menyatakan 'adanya dunia di sini dan
dunia yang lain,' diharapkan bahwa mereka akan menghindari dhamma
yang dapat dirubah, yaitu: perkataan baik, perbuatan baik, dan pikiran
yang baik, dan mereka akan memelihara dan menjalankan ketiga dhamma
yang tidak dapat berubah ini, yaitu: perkataan yang jahat, perbuatan
jahat, dan pikiran yang jahat. Mengapa harus yang itu? Karena bhikkhu-bhikkhu
dan orang-orang Suci yang saleh itu tidak melihat bahaya, keburukan
dan kekotoran di dalam dhamma yang tidak berubah itu, dan mereka
tidak melihat pemberkatan dan penolakan dalam membersihkan dhamma
yang dapat berubah
Sebenarnya ada dunia yang lain, bila ada yang mengatakan bahwa
tak ada dunia yang lain maka orang tersebut mempunyai pandangan
yang salah. Sebenarnya ada dunia yang lain, bila ada yang mengatakan
bahwa tak ada dunia yang lain, maka orang itu mempunyai perhatian
yang salah. Sebenarnya ada dunia yang lain, bila orang mengatakan
tidak ada dunia yang lain maka orang itu mempunyai perkataan yang
salah. Sebenarnya ada dunia yang lain, bila orang mengatakan tak
ada dunia yang lain maka orang itu menentang arahat yang mengetahui
adanya dunia yang lain. Sebenarnya ada dunia yang lain, bila orang
mengatakan tidak ada dunia yang lain, maka orang ini merasa tak
ada dhamma yang benar. Karena orang itu tidak merasa adanya dhamma
yang benar, maka orang itu menghina orang-orang yang lainnya. Maka
dari itu kesalahan yang didapat dilepaskannya dan digantikan oleh
kejahatan. Pandangan yang salah, perhatian yang salah, perkataan
yang salah, pertentangan dengan para bhikkhu, memuji diri sendiri
dan menghina orang yang lain dhamma-dhamma yang tidak dapat berubah
ini dibawa ke dalam nilai yang positif dengan pandangan yang salah
sebagai pernyataan mereka.
Mengenai ini seorang bijaksana berpikiran seperti ini: Jika tidak
ada dunia yang lain, pada peristiwa terputusnya rasa dari badan
ini, orang yang saleh akan membuat dirinya selamat. Tetapi jika
ada dunia yang lain, maka pada peristiwa terputusnya rasa dari badan
ini, setelah kematian, ia akan muncul kembali dalam bentuk yang
lain, dalam keadaan yang tidak bahagia, walaupun di neraka. Sekarang
dengan cara apapun biarkan tidak ada dunia yang lain, biarkan perkataan
dari petapa dan brahmana ini menjadi suatu kebenaran, walaupun begitu
orang yang saleh ini masih menjadi celaan para bijaksana dan sebagai
seorang yang tidak saleh yang mempunyai pandangan yang salah dan
teorinya tidak ada apa-apanya. Tetapi, jika ada dunia yang lain,
orang yang saleh ini mempunyai pukulan yang tidak menguntungkan
pada kedua belah pihak, karena ia menjadi celaan para bijaksana
dan sejak pelepasan jiwa dari rasanya, setelah kematian, ia akan
muncul kembali dalam bentuk yang lain, dalam keadaan yang tidak
bahagia. Walaupun di dalam neraka, ia telah menjalankan dhamma yang
tidak dapat berubah ini dengan pandangan yang keliru dengan cara
seperti itu akan memperluas satu sisi saja dengan menghilangkan
aspek-aspek yang dapat berubah.
Untuk para petapa dan brahmana yang teori dan pandangannya diberikan
dan untuk bhikkhu-bhikkhu dan orang-orang suci yang saleh dan baik
menyadari sendiri dengan pengetahuan yang diterimanya secara langsung
dan menyatakan bahwa mereka akan menghindari ketika dhamma yang
tidak dapat berubah, yaitu: perkataan, perbuatan dan pikiran yang
jahat, dan mereka akan melaksanakan dan memelihara ketiga dhamma
yang dapat dirubah ini, yaitu: perkataan, perbuatan dan pikiran
yang baik, kenapa harus yang itu ? Karena para bhikkhu dan orang-orang
yang suci itu dapat melihat adanya bahaya, pemerosotan dan kekotoran
di dalam dhamma yang tidak dapat dirubah tadi, dan mereka melihat
penolakan dalam pembersihan dhamma yang dapat berubah itu.
Sebenarnya ada dunia yang lain, seseorang yang mempunyai pandangan
adanya dunia lain selain daripada dunia yang kita diami sekarang
maka orang tersebut mempunyai pandangan yang benar. Dan orang yang
mempunyai perhatian bahwa ada dunia yang lain selain dunia yang
sekarang ini maka orang tersebut mempunyai perhatian yang benar.
Dan jika ada orang yang mengatakan bahwa ada dunia yang lain maka
orang itu mempunyai perkataan yang mengatakan bahwa ada dunia yang
lain maka orang itu mempunyai perkataan yang benar. Orang yang mengatakan
adanya dunia yang lain maka orang tersebut tidak menentang para
arahat. Bila seseorang merasa adanya dunia yang lain maka orang
tersebut merasa bahwa dhamma itu benar dan untuk membuatnya merasa
apa dhamma yang benar itu ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina
orang yang lain. Maka dari itu ketidakbajikan yang dipunyainya dilepaskannya
dan digantikan oleh kebajikan. Dan pandangan yang benar, perhatian
yang benar dan perkataan yang benar serta tidak bertentangan dengan
kesucian, seseorang merasa adanya dhamma yang benar, tidak memuji
dirinya sendiri dan menghina orang lain beberapa dhamma yang berubah
ini berada di tempat yang benar sebagai syarat mereka.
Mengenai hal ini orang bijaksana berpendapat bahwa: Jika ada dunia
yang lain, pelepasan jiwa dari rasanya, setelah kematian, orang
ini akan lahir kembali di alam yang menyenangkan, bahkan di surga.
Dengan cara apapun juga biarkanlah tidak ada dunia yang lain. Biarkan
perkataan orang yang suci ini menjadi suatu kebenaran, sehingga
orang yang saleh yang mempunyai pandangan yang benar dan teorinya
menjadi kenyataan. Sebaliknya, jika ada dunia yang lain, orang yang
baik ini mempunyai keberuntungan di kedua belah pihak: karena ia
merupakan pujian para bijaksana sekarang dan seterusnya, dan setelah
ia meninggal maka ia akan lahir kembali di alam yang menyenangkan
bahkan di surga. Dia tak menjalankan dhamma yang tidak dapat dirubah
dengan cara seperti itu yang memperbesar kedua belah pihak tidak
termasuk aspek-aspek yang tidak dapat dirubah.
Ada beberapa petapa dan brahmana yang mempunyai teori dan pandangan
sebagai berikut: Jika seseorang berbuat atau perbuatan itu sudah
dilakukan, jika ia melakukan perbedaan atau perbedaan itu telah
dilakukan ia menyiksa atau penyiksaan itu telah dilakukan, jika
ia mengakibatkan kesedihan, jika ia menindas, jika ia mengancam
atau menyebabkan ancaman, jika ia membunuh makhluk hidup, mengambil
yang bukan miliknya, merampas barang-barang curian, melakukan perampokan,
melakukan penyerangan di jalan-jalan raya, merampas isteri orang
lain, mengatakan kebohongan tidak ada perbuatan jahat yang dilakukan
tanpa pelakunya. Jika seseorang dengan pisaunya yang tajam yang
membuang makhluk hidup hancur lebur menjadi segumpal daging, atau
setumpuk daging, tidak ada perbuatan yang jahat. Jika seseorang
mengikuti gerombolan yang membunuh dan menganiaya, mengadakan perbedaan
menyiksa tidak ada sumber kejahatan dan akibat dari kejahatan itu.
Jika seseorang mengikuti sekelompok orang yang memberi, menawarkan
pengorbanan, tidak ada kebajikan bersumber dari itu dan tidak ada
akibat dari kebajikan itu. Dengan memberi, melatih, berkata yang
benar, mengendalikan nafsu, tidak ada kebajikan dan akibat dari
kebajikan itu.
Sekarang ada beberapa petapa dan brahmana yang mempunyai teori
yang langsung bertentangan dengan bhikkhu-bhikkhu dan orang-orang
suci itu, dan mereka berkata seperti itu: Jika seseorang bertindak
atau perbuatan itu telah dilakukan, jika ia mengadakan perbedaan
dan perbedaan itu telah dilakukan, jika ia menyiksa atau melakukan
penyiksaan, jika ia menyebabkan kesedihan, jika ia menentang, jika
ia mengancam atau membuat ancaman, jika ia menyiksa makhluk hidup,
mengambil yang bukan miliknya, merampas barang-barang orang lain,
merampas isteri orang lain, mengatakan kebohongan, kejahatan akan
dilakukan untuk pelakunya. Jika seseorang dengan pisaunya yang tajam
membuat makhluk hidup di dunia ini menjadi terpotong-potong, ada
sumber kejahatan yang menyebabkannya dan ada akibat dari perbuatan
jahat itu. Jika seseorang mengikuti gerombolan penjahat membunuh
dan menganiaya, membeda-bedakan orang, menyiksa, ada akar kejahatan
dan akibat dari kejahatan itu. Jika seseorang mengikuti kelompok
yang memberi, menawarkan pengorbanan, akar-akar kebaikan berasal
dari itu, dan akibat dari kebaikan itu. Dengan memberi, melatih
dan mengendalikan nafsu, ada kebajikan dan akibat dari kebajikan
itu. Sebagaimana kamu memahami ini, rakyatku, tidakkah bhikkhu-bhikkhu
ini dan orang suci mempunyai teori yang bertentangan satu dengan
yang lainnya ?"
"Ya, Yang Mulia."
"Untuk para petapa dan brahmana yang mempunyai teori dan
pandangan sebagai berikut: jika seseorang bertindak atau melakukan
perbuatan tidak ada kebaikan dan akibat dari kebaikan itu, diharapkan
mereka akan menghindari dhamma-dhamma yang dapat merubah, kenapa
harus begitu? Karena petapa dan brahmana itu tidak melihat bahaya,
kemerosotan, kekotoran di dalam dhamma, dan mereka tidak melihat
adanya penolakan dalam membersihkan dhamma yang dapat berubah itu.
Sebenarnya sedang berlangsung, seseorang yang mempunyai pandangan
'Tidak ada yang sedang berlangsung,' mempunyai pandangan yang salah.
Sedang berlangsung seseorang yang mempunyai perhatian 'Tidak ada
yang sedang berlangsung,' mempunyai perhatian yang salah. Sebenarnya
ada yang sedang berlangsung, seseorang yang mempunyai perkataan
sebagai berikut 'Tidak ada yang sedang berlangsung' mempunyai perkataan
yang salah. Seseorang mengatakan tidak ada yang sedang berlangsung,
langsung menentang arahat yang mempunyai teori bahwa ada yang seorang
berlangsung. Sedang berlangsung seseorang yang mempunyai pemahaman
yang lain 'Tidak ada yang sedang berlangsung' membuatnya memahami
apa dhamma yang tidak benar itu, dan supaya membuatnya memahami
apa dhamma yang tidak benar itu dia memuji dirinya sendiri dan menghina
orang yang lainnya. Maka dari itu kesalehan yang telah dibuangnya
dan diganti oleh ketidaksalehan. Dan pandangan yang salah perhatian
yang salah, perkataan yang salah, menentang para bijaksana, membuat
pemahaman yang lain apa itu dhamma yang tidak benar dan memuji dirinya
sendiri dan menghina orang yang lain, dhamma-dhamma yang tidak berubah
ini dibawa dalam posisi yang positif dengan pandangan yang salah
sebagai persyaratan mereka.
Mengenai hal ini orang bijaksana berpikiran sebagai berikut: Jika
tak ada yang sedang berlangsung, kemudian pada saat terlepasnya
jiwa dari raga kita orang ini akan merasa cukup aman. Tetapi jika
ada yang sedang berlangsung, kemudian pada saat terlepasnya jiwa
dari raga kita maka setelah kematian ia akan terlahir kembali ke
alam yang tidak bahagia bahkan di neraka. Sekarang dengan segala
cara biarkan tidak ada yang sedang berlangsung, biarkanlah perkataan
para petapa dan brahmana menjadi benar, sehingga orang yang saleh
ini menjadi celaan orang bijaksana dan sekarang sebagai orang yang
saleh dengan pandangan yang keliru dan teori yang mengatakan tidak
ada yang sedang berlangsung. Tetapi sebaliknya, jika ada sesuatu
yang sedang berlangsung, kemudian orang tersebut mempunyai lemparan
yang untung pada kedua sisi: karena ia menjadi celaan para bijaksana
dan sejak pelepasan jiwa dari raganya setelah kematian ia akan lahir
kembali di alam neraka. la telah memperluas hanya pada satu sisi
yang tidak termasuk aspek yang dapat berubah.
Sekarang petapa dan brahmana yang mempunyai teori dan pandangan
berikut : Jika seseorang bertindak dan melakukan kejahatan dilakukan
untuk pelakunya tidak ada kebajikan dan akibat dari kebajikan itu
diharapkan juga mereka akan menghindari dhamma-dhamma yang tidak
berubah ini kenapa begitu ? Karena para petapa dan brahmana melihat
bahaya, kemerosotan dan kekotoran dalam dhamma yang tidak berubah
dan mereka melihat penolakan dalam membersihkan dhamma yang berubah
ini.
Ada yang sedang berlangsung, seseorang yang mempunyai pandangan
sebagai berikut: 'Ada yang sedang berlangsung' mempunyai pandangan
yang benar. Sebenarnya ada yang sedang berlangsung, seseorang yang
mempunyai perhatian bahwa ada yang sedang berlangsung mempunyai
perhatian yang benar. Sebenarnya ada yang sedang berlangsung, seseorang
yang mengatakan 'Ada yang sedang berlangsung' tidak menentang para
arahat yang mempunyai teori bahwa ada yang sedang berlangsung, seseorang
yang membuat pemahaman yang lain 'Ada yang sedang berlangsung' membuatnya
memahami apa itu dhamma yang benar, dan supaya membuatnya memahami
apa itu dhamma yang benar itu ia tidak memuji dirinya sendiri dan
menghina orang lain. Maka dari itu ketidaksalehan yang dihilangkannya
dan kesalehan yang menggantikan. Dan pandangan yang benar ini, perhatian
benar, perkataan yang benar, tidak menentang orang yang bijaksana,
membuat pemahaman apa dhamma yang benar itu, dan tidak memuji dirinya
sendiri dan menghina orang lain dhamma-dhamma yang berubah ini dibawa
ke dalam keadaan yang positif dengan pandangan yang benar sebagai
persyaratan mereka.
Mengenai hal ini orang bijaksana memikirkan sebagai berikut: Jika
ada sesuatu yang sedang dilakukan, kemudian pada saat pelepasan
jiwa raganya setelah kematian orang tersebut akan muncul kembali
ke alam yang bahagia, bahkan di surga. Tetapi dengan segala cara
biarkanlah tidak ada yang sedang dilakukan, biarkanlah perkataan
para bhikkhu dan bijaksana menjadi suatu kebenaran, sehingga para
petapa dan brahmana ini menjadi pujian para bijaksana, memuji di
sini dan sekarang sebagai seorang yang saleh yang mempunyai pandangan
yang benar dan dengan teori bahwa ada yang sedang dilakukan. Dan
sebaliknya, jika ada yang sedang dilakukan, kemudian orang yang
saleh ini mempunyai lemparan yang menguntungkan pada kedua belah
pihak; sejak ia menjadi pujian para bijaksana di sini dan sekarang,
dan sejak pelepasan jiwa dari raganya setelah kematian ia akan lahir
kembali di alam yang bahagia, bahkan di surga. Dia menjalankan dan
melatih dhamma yang tidak berubah dengan memperluas kedua belah
pihak tanpa memasukkan aspek yang tidak berubah.
Ada beberapa bhikkhu dan orang suci yang teori dan pandangannya
adalah sebagai berikut: Tidak ada alasan tidak ada persyaratan,
karena adanya kekotoran; dirusak tanpa alasan atau persyaratan.
Tidak ada alasan, tidak ada persyaratan pembersihan, pembersihan
tanpa alasan atau persyaratan. Tidak ada kekuatan, energi, semangat,
kesabaran, semua makhluk, semua yang bernafas, makhluk-makhluk hidup,
semua jiwa, tanpa keunggulan, kekuatan atau energi; dibentuk oleh
nasib, secara disengaja dan merupakan pokok, mereka mengalami kesenangan
dan kesusahan dalam 6 spesies.
Sekarang beberapa bhikkhu dan orang suci yang teorinya langsung
menentang bhikkhu dan orang suci itu, mereka berkata demikian: Ada
sebuah alasan, adanya kekotoran-kekotoran itu ada alasannya dan
persyaratannya. Ada sebuah alasan, persyaratan, pembersihan, pembersihan
itu ada ada alasannya, ada persyaratannya. Ada kekuatan, energi,
semangat yang benar, kesabaran yang benar; itulah semua makhluk,
semua bernafas, semua makhluk hidup, semua jiwa, dibentuk oleh nasibnya,
tanpa sengaja dan merupakan pokok, mempunyai kesenangan dan kesusahan
dalam 6 spesies.
Sekarang bhikkhu-bhikkhu dan orang-orang suci yang teori dan pandangan
adalah sebagai berikut: Tidak ada alasan menjadi kotor menjadi suci
ditentukan oleh nasib, tanpa sengaja dan merupakan pokok, mereka
mengalami kesenangan dan kesusahan di dalam tahap, diharapkan bahwa
mereka akan menghindari ketiga dhamma yang dapat berubah dan mereka
akan menjalani dan memelihara dhamma-dhamma yang tidak berubah ini
kenapa begitu ? Karena bhikkhu-bhikkhu dan orang-orang suci itu
tidak melihat bahaya, pemerosotan di dalam dhamma yang tidak dapat
berubah, mereka tidak melihat pembersihan dalam dhamma yang dapat
berubah.
Sebenarnya ada sesuatu alasan, seseorang yang mempunyai pandangan
adalah 'Tidak ada alasan, mempunyai pandangan yang keliru.' Sebenarnya
ada sebuah alasan, seseorang yang mempunyai perhatian 'Tidak ada
alasan' mempunyai perhatian yang salah. Sebenarnya ada sebuah alasan,
seseorang yang berkata 'Tidak ada alasan' mempunyai perkataan yang
salah. Sebenarnya ada sebuah alasan, seseorang berkata 'Tidak ada
alasan' langsung bertentangan dengan arahat yang mempunyai teori
bahwa ada alasan. Sebenarnya ada sebuah alasan, seseorang membuat
pemahaman yang lain 'Tidak ada alasan' membuatnya memahami apa itu
dhamma yang tidak benar, dan supaya membuatnya memahami apa dhamma
yang tidak benar itu ia memuji diri sendiri dan menghina orang lain.
Maka dari itu kesalehan yang dihilangkannya dan digantikan ketidaksalehan.
Dan pandangan yang salah ini, perhatian yang salah, perkataan yang
salah, menentang orang-orang suci, membuat pemahaman yang lain dari
apa yang disebut dengan dhamma yang tidak benar, dan memuji diri
sendiri dan menghina orang lain, dan ide-ide jahat yang tidak berubah
ini dibawa ke dalam keadaan yang positif dengan pandangan yang salah
sebagai persyaratan mereka.
Mengenai hal ini orang yang bijaksana berpikiran sebagai berikut:
Jika tidak ada alasan, kemudian pelepasan jiwa dari raga seseorang
tersebut akan merasa aman. Tetapi jika ada sebuah alasan, pada waktu
pelepasan jiwa raganya, setelah ia meninggal, ia akan lahir kembali
di alam yang tidak menyenangkan, bahkan di neraka. Sekarang dengan
cara apapun juga biarkanlah alasan itu tidak ada, biarkanlah ucapan
para petapa dan brahmana menjadi suatu kebenaran, karena mereka
merupakan celaan para bijaksana dan sekarang sebagai orang yang
tidak saleh yang mempunyai pandangan yang salah dan teori yang mengatakan
tidak ada alasan. Tetapi sebaliknya, jika ada sebuah alasan, orang
yang saleh mempunyai ini mempunyai keberuntungan, karena ia menjadi
celaan bijaksana sekarang dan selanjutnya, dan pada waktu pelepasan
jiwa dari raganya ia akan lahir kembali di alam yang tidak menyenangkan
bahkan di neraka. Dia dengan cara yang salah menjalankan dan melatih
dhamma yang tidak berubah dengan cara memperluas hanya satu sisi
tanpa memasukkan unsur-unsur yang berubah.
Sekarang untuk para petapa dan brahmana yang mempunyai teori dan
pandangan sebagai berikut: Ada sebuah alasan, ada kekotoran, ada
pembersihan yang ditentukan oleh nasibnya, secara tidak disengaja
dan menjadi pokok, mengalami kesenangan dan kesusahan dalam enam
tahap, diharapkan bahwa mereka akan menjalankan dan memelihara ketiga
dhamma yang tidak berubah. Kenapa begitu ? Karena para petapa dan
brahmana melihat bahaya, pemerosotan dan kekotoran dalam dhamma
yang tidak berubah dan mereka melihat pembersihan dalam dhamma yang
berubah ini.
Sebenarnya ada suatu alasan, seseorang yang mempunyai pandangan
sebagai berikut: 'Ada sebuah alasan' mempunyai pandangan yang benar.
Sebenarnya ada sebuah alasan, seseorang berkata 'Ada sebuah alasan'
mempunyai perkataan 'Ada sebuah alasan' mempunyai perhatian yang
benar. Sebenarnya ada sebuah alasan, seseorang berkata 'Ada sebuah
alasan' mempunyai perkataan yang benar. Seorang yang mengatakan
adanya sebuah alasan ia tidak menentang para arahat yang mempunyai
teori sebagai berikut 'Ada sebuah alasan'. Sebenarnya ada sebuah
alasan, seseorang membuat pemahaman yang lain yaitu 'Ada sebuah
alasan' membuatnya memahami dhamma yang benar, dan supaya membuatnya
memahami dhamma yang benar ia tidak memuji diri sendiri dan menghina
orang lain. Maka dari itu segala ketidaksalehan yang telah ia hilangkan
digantikan dengan kesalehannya. Dan pandangan yang benar, perhatian
yang benar, perkataan yang benar, tidak menentang orang suci, membuat
pemahaman pada dhamma yang benar, tidak memuji diri sendiri dan
menghina orang lain beberapa dhamma yang berubah ini dibawa ke dalam
keadaan yang positif dengan pandangan yang benar merupakan syarat.
Mengenai hal ini seorang berpendapat sebagai berikut: Jika ada
sebuah alasan, pada saat pelepasan jiwa dari raganya setelah kematian
orang itu akan lahir kembali di alam yang menyenangkan, bahkan di
surga. Tetapi dengan segala cara biarkanlah tidak ada sebuah alasan,
biarkanlah ucapan para bijaksana dan orang suci menjadi suatu kebenaran
karena orang-orang suci ini menjadi pujian para bijaksana di sini
dan sekarang sebagai seorang yang saleh yang mempunyai pandangan
yang benar dan yang mempunyai teori bahwa adanya sebuah alasan.
Dan sebaliknya, jika ada sebuah alasan, kemudian orang ini mempunyai
nasib yang baik, karena ia menjadi pujian para bijaksana sekarang
dan selanjutnya, dan pada saat pelepasan jiwa dari raganya, setelah
kematian ia akan lahir kembali di alam yang menyenangkan, bahkan
di surga. Dia dengan benar menjalankan dan melatih dhamma yang tidak
berubah ini di dalam cara memperluas pada kedua sisi yang menghilangkan
aspek yang tidak berubah.
Ada beberapa petapa dan brahmana yang mempunyai teori dan pandangan
berikut 'Secara definisi tidak ada bentuk dari suatu keadaan'.
Sekarang ada beberapa petapa dan brahmana yang mempunyai teori
yang langsung menentang para petapa dan brahmana, dan mereka mengatakan
secara pasti ada keadaan-keadaan yang berbentuk.
Bagaimana kamu memahami ini, para penduduk, bukankah para petapa
dan brahmana mempunyai teori yang langsung menentang satu dengan
yang lain?"
Mengenai hal ini seorang yang bijaksana berpendapat bahwa: Jika
para petapa dan brahmana yang mempunyai teori dan pandangan bahwa
'Secara pasti tidak ada bentuk dari keadaan-keadaan' itu tidak diketahui
oleh saya. Jika saya, tanpa melihat dan mengetahui, secara keseluruhannya
hanya mengambil satu sisi mengatakan 'Hanya ini yang benar; yang
lainnya salah,' itu akan menjadi bukan saya. Jika para petapa dan
brahmana tidak mempunyai teori dan pendapat bahwa 'Secara pasti
tidak ada keadaan-keadaan yang berbentuk' adalah benar, dan itu
masih bisa dirubah bahwa kelahiran saya setelah kematian mungkin
di tempat para dewa-dewa yang berada di alam pikiran; tetapi jika
para petapa dan brahmana yang teori dan pandangannya sebagai berikut
bahwa 'Secara pasti ada keadaan-keadaan yang tidak berbentuk' benar,
itu mungkin juga tidak dapat berubah sehingga kelahiran saya setelah
kematian mengambil tempat di antara dewa-dewa yang tidak berbentuk
yang terdiri dari pengecualian. Memaksa dengan sebatang tongkat,
memaksa dengan senjata, bertengkar, mengadakan percekcokan, perselisihan,
tuduh menuduh, kedengkian, dan berkata yang tidak benar yang akan
dilihat berhubungan dengan bentuk tetapi secara pasti tidak ada
hal yang mengenai keadaan-keadaan yang tidak berbentuk. Setelah
pemantulan, ia memuji cara yang tenang, menghilang dan menghentikan
bentuk-bentuk itu.
Ada beberapa petapa dan brahmana yang teori dan pandangannya sebagai
berikut 'Secara pasti tidak ada penghentian dari suatu keberadaan.'
Sekarang ada beberapa petapa dan brahmana yang mempunyai teori
yang langsung bertentangan dengan para petapa itu dan brahmana suci,
mereka berkata bahwa 'Secara pasti tidak ada penghentian dari suatu
keberadaan.' Bagaimana kamu memahami ini, para penduduk, bukankah
para petapa dan brahmana mempunyai teori yang secara langsung bertentangan
satu dengan yang lain?
Mengenai hal ini seorang bijaksana berpendapat sebagai berikut:
Jika bhikkhu dan orang-orang suci mempunyai teori dan pandangan
bahwa 'Secara pasti tidak ada penghentian dari suatu keberadaan'
yang tidak berada pada saya. Ketika para petapa dan brahmana ini
mempunyai teori dan pandangan bahwa 'Secara pasti tidak ada penghentian
dari suatu keberadaan,' yang tidak diketahui oleh saya. Jika saya,
tidak melihat dan mengetahui, untuk mengambil satu sisi secara keseluruhan
hanya ini yang benar; yang lainnya salah; itu akan menjadi saya.
Sekarang jika para petapa dan brahmana yang teori dan pandangannya
sebagai berikut 'Secara pasti penghentian dari suatu keberadan itu
benar' maka masih mungkin tidak berubah bahwa kelahiran saya setelah
kematian mungkin berada di tempat di antara para dewa-dewa yang
tidak berbentuk yang berisi pengecualian. Tetapi jika para petapa
dan brahmana yang teori dan pandangannya bahwa 'Secara pasti ada
penghentian dari suatu keberadaan itu benar,' mungkin saya ke sini
dan sekarang mencapai Nibbana. Pandangan dari para petapa dan brahmana
yang memakai teori bahwa 'Sebenarnya secara pasti tidak ada penghentian
dari keberadaan sesuatu dekat dengan nafsu, perbudakan, kenikmatan,
penerimaan, ketergantungan,' sementara itu pandangan para bhikkhu
dan bijaksana yang teori dan pandangannya sebagai berikut bahwa
'Secara pasti penghentian keberadaan dekat dengan pengendalian nafsu,
tidak adanya perbudakan, tidak adanya kenikmatan, tidak adanya penerimaan,
tidak adanya ketergantungan.' Setelah pemantulan ia melatih cara
untuk tenang, menghilangkan dan pemberhentian, adanya suatu keadaan.
Para pendukung, ada 4 macam orang yang akan ditemukan yang berada
di dunia ini. yaitu:
Di sini jenis tertentu dari orang itu adalah menyakiti dirinya sendiri,
suka dengan penganiayaan. Ini adalah jenis tertentu yaitu orang
yang suka menyiksa orang lain, senang menyiksa. Ada lagi orang yang
suka menyakiti orang lain dan juga menyakiti dirinya sendiri. Ada
lagi orang yang tidak menyakiti dirinya sendiri, juga orang lain,
tidak suka menyiksa orang lain; karena ia tidak menyakiti dirinya
sendiri juga orang lain, sekarang ia terbakar, dipadamkan, ditenangkan,
ia tinggal di dalam mengalami kesenangan karena ia orang suci bagi
dirinya sendiri.
Apa jenis orang yang menyakiti dirinya sendiri, senang mengadakan
siksaan bagi dirinya sendiri. Di sini orang jenis tertentu ini sebenarnya
tidak tahu apa-apa menolak pada ketentuan-ketentuan sebenarnya ia
berada dalam pengejaran latihan untuk menyakiti dan menyiksa badan
dan banyak aspek-aspek yang lainnya. Ini disebut jenis orang yang
menyakiti dirinya sendiri, senang menyiksa diri sendiri.
Apa jenis orang yang menyakiti orang lain ? Orang jenis ini adalah
seorang penjagal pekerjaan yang berdarah itu. Ini disebut jenis
orang yang menyakiti orang lain, suka menyiksa orang lain.
Apa jenis orang yang menyakiti diri sendiri, senang menyiksa dirinya
sendiri dan menyiksa orang lain, senang menyiksa orang lain ? Di
sini ada beberapa orang yang manja, seorang bangsawan dikejar oleh
ancaman-ancaman dari hukuman dan oleh ketakutan. Ini disebut jenis
orang yang menyakiti dirinya sendiri atau senang menyiksa orang
lain, suka menyiksa orang lain.
Apa jenis orang yang tidak menyakiti dirinya sendiri, tidak juga
menyiksa dirinya sendiri, dan tidak menyakiti orang lain, tidak
tertarik untuk menyiksa orang lain. Karena ia tidak menyakiti dirinya
sendiri dan juga orang lain, ia terbakar, dipadamkan, dan berada
di dalam keadaan yang menyenangkan karena itu seseorang menjadi
orang suci bagi dirinya sendiri.
- 57. Di sini seorang Tathagata muncul di dunia tidak ada lagi
selain dari pada yang ini.
Ini disebut jenis orang yang menjadi orang suci bagi dirinya sendiri."
- 60. Jika ini dikatakan, penduduk Sala berkata "Bagus sekali,
Tuan Gotama untuk tempat perlindungan jiwa dan ada buah akibat dari
kamma yang baik atau yang buruk, jika tubuh kita rapuh, setelah
kematian, saya akan lahir kembali di alam yang menyenangkan, di
surga."