(Sumber : Kumpulan Sutta
Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama
RI, 1994)
Demikian yang saya dengar.
Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Jetavana, taman milik Anathapindika,
Savatthi. Kotbah ini dibabarkan berkenaan dengan pertanyaan Malunkyaputta
kepada Sang Buddha.
Pada suatu ketika bhikkhu Malunkyaputta sedang berdedikasi sendiri
dan muncul tentang:
Dunia kekal
Dunia tidak kekal
Dunia terbatas
Dunia tak terbatas
Jiwa sama dengan jasmani
Jiwa tidak sama dengan jasmani
Setelah meninggal, Tathagata ada
Setelah meninggal, Tathagata tidak ada
Setelah meninggal, Tathagata ada dan tidak ada
Setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada
Saya akan menanyakan hal-hal ini kepada Sang Bhagava. Jika, Sang
Bhagava menerangkan salah satu diri hal-hal itu, maka saya akan
tetap melaksanakan penghidupan suci di bawah bimbingan beliau;
bila ia tidak menerangkannya, saya akan meninggalkan penghidupan
suci.
Ketika hari telah petang, Malunkyaputta bangun dari meditasi
dan pergi menjumpai Sang Buddha. Malunkyaputta menanyakan sepuluh
hal itu dan mohon Sang Buddha memberikan jawaban dapat menjawabnya
atau tidak. "Malunkyaputta, apakah saya pernah mengatakan kepadamu:
Malunkyaputta, datang dan laksanakanlah penghidupan suci (brahmacari)
di bawah bimbinganku dan saya akan menerangkan padamu bahwa, 'dunia
kekal', 'dunia tidak kekal', setelah menilai, Tathagata bukan ada
dan bukan tidak ada."
"Tidak. Bhante." "Apakah engkau pernah mengatakan
kepadaku: 'Saya akan melaksanakan penghidupan suci di bawah bimbingan
Sang Bhagava, dan Sang Bhagava akan menerangkan kepadaku tentang
'dunia kekal', 'dunia tidak kekal', .... setelah meninggal, Tathagata
bukan ada dan bukan tidak ada."
"Tidak, Bhante."
"Bila demikian, siapakah anda dan yang akan kau tinggalkan?
Jika ada orang berkata: 'Saya tidak akan melaksanakan penghidupan
suci di bawah bimbingan Sang Bhagava bila Sang Bhagava tidak menerangkan
padamu 'dunia kekal', ....... setelah meninggal, Tathagata bukan
ada dan bukan tidak ada'; karena hal itu belum diterangkan oleh
Sang Tathagata maka orang itu akan mati. Misalnya, ada orang yang
terkena panah beracun, lukanya dalam, karena kenalan dan keluarganya
membawa seorang dokter operasi, tetapi orang itu berkata: 'Saya
tak mau dokter saya, kedudukannya, aramanya, apakah ia pendek atau
tinggi, hitam atau cerah kulitnya, ia tinggal di kota atau di desa
.... bentuk panah yang melukai itu. Hal-hal itu belum dapat diketahui,
orang itu telah meninggal, demikian pula halnya dengan kamu Malunkyaputta.
Tidak ada penghidupan suci (brahmacari) bila masih ada pandangan,
'dunia kekal', 'dunia tidak kekal', .... setelah meninggal, Tathagata
bukan ada dan bukan tidak ada, juga masih ada kelahiran, usia tua,
kematian, penderitaan, kesedihan, kesakitan, ratap tangis dan putus
asa, yang saya terangkan untuk dilenyapkan sekarang di sini.
Malunkyaputta ingatlah apa yang saya tidak terangkan adalah tidak
diterangkan, apa yang saya terangkan adalah diterangkan. Apakah
yang saya tidak terangkan? Itu adalah 'dunia kekal, dunia tidak
kekal, ..... setelah meninggal Tathagata bukan ada dan bukan tidak
ada.' Apa yang saya tidak terangkan ini adalah tidak menghubungkan
dengan kesejahteraan, itu tidak termasuk dalam prinsip berhubungan
dengan kesejahteraan, itu tidak termasuk dalam prinsip penghidupan
suci (brahmacari) itu tidak mengarah ke pelenyapan nafsu, pemusnahan,
kedamaian. Pengetahuan langsung (abhinna), penerangan agung (sambodhi),
nibbana.
Apakah yang saya terangkan ? Itu adalah dukkha, asal mula dukkha,
lenyapnya dukkha serta jalan melenyapkan dukkha (magga).
Mengapa saya terangkan ? Karena itu berhubungan dengan kesejahteraan,
termasuk dalam prinsip brahmacari, mengarah ke pelenyapan nafsu,
pemusnahan, kedamaian, pengetahuan langsung, penerangan agung (sambodhi),
nibbana."
Itulah yang dibabarkan Sang Bhagava Bhikkhu Malunkyaputta menjadi
puas dan gembira.