CATUMA SUTTA
(Sumber : Kumpulan Sutta
Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama
RI, 1994)
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di Amalakivana,
Catuma. Pada waktu itu sekitar 500 orang bhikkhu, dipimpin oleh Sariputta
dan Moggalana tiba di Catuma untuk menemui Sang Bhagava dan terjadilah
suara bising. Suara bising ini terjadi ketika para bhikkhu baru datang
bertegur sapa dengan para bhikkhu yang sudah datang terlebih dahulu,
sementara tempat untuk meletakkan patta-patta dan civara-civara. Kemudian
Sang Bhagava menegur bhikkhu Ananda, berkata : "Ananda, apakah
suara yang bising ini, suara yang sangat keras, seperti suara para
nelayan menarik hasil tangkapan."
"Sang Bhagava, sekitar 500 orang bhikkhu ini dengan
Sariputta dan Moggalana sebagai pemimpin telah tiba di Catuma untuk
menemui Sang Bhagava, dan para bhikkhu yang baru datang bertegur sapa
dengan para bhikkhu yang sudah datang lebih dulu, sementara tempat
disiapkan, mangkuk-mangkuk dan jubah-jubah diletakkan, terjadilah
suara yang bising dan keras itu."
"Kalau begitu Ananda, atas namaku kumpulkan para
bhikkhu, katakan Sang Bhagava mengumpulkan para bhikkhu."
"Baiklah bhante," jawab bhikkhu Ananda dan
segera menemui para bhikkhu dan berkata, "Sang Bhagava mempersilahkan
para bhikkhu berkumpul."
"Baiklah bhante," jawab para bhikkhu. Segera
bhikkhu Ananda menemui Sang Bhagava, sedangkan para bhikkhu duduk
dengan sopan. Sang Bhagava berkata begini, ketika para bhikkhu sedang
duduk, "Tidaklah engkau para bhikkhu berpikir bahwa suara yang
bising dan keras itu seperti suara nelayan menarik hasil tangkapannya."
"Bhante, sekitar 500 orang bhikkhu, dipimpin oleh
Sariputta dan Moggalana tiba di Catuma untuk menemui Sang Bhagava,
dan sementara ....... tempat disiapkan mangkuk-mangkuk dan jubah-jubah
diletakkan, terjadilah suara yang bising dan keras itu."
"Para bhikkhu, pergilah, engkau boleh meninggalkan
tempat. Engkau jangan duduk dekat aku."
"Baiklah Bhante," para bhikkhu menjawab dengan
segera, sambil memberi salam, tetap pada barisannya, berkemas-kemas
pergi membawa patta dan civara-nya.
Pada suatu ketika Suku Sakya sedang berkumpul di sebuah
ruangan pertemuan untuk suatu keperluan kegiatan. Suku Sakya dari
Catuma ini melihat dari jarak jauh para bhikkhu datang; dan setelah
mendekat mereka berkata begini kepada para bhikkhu, "Para bhikkhu,
hendak pergi ke manakah anda sekalian?"
"Teman-teman, para bhikkhu Sangha telah dibubarkan
oleh Sang Bhagava."
"Bhante, kalau begitu duduklah dahulu sebentar;
mungkin kami dapat membujuk Sang Bhagava."
"Baiklah teman-teman," para bhikkhu menjawab
orang-orang Sakya dengan segera. Lalu orang-orang Sakya menemui Sang
Bhagava, mereka duduk pada jarak yang sopan. Sementara mereka duduk
pada jarak yang sopan, orang-orang Sakya dari Catuma itu berkata begini
kepada Sang Bhagava: "Bhante, gembirakanlah para bhikkhu sangha,
berilah salam kepada para bhikkhu sangha. Yang Mulia, jika dulu para
bhikkhu sangha ditolong oleh Bhante, maka tolonglah para bhikkhu sangha
sekarang. Bhante ada beberapa bhikkhu baru yang belum lama menjalani
hidup kebhikkhuan, belum lama belajar dhamma dan vinaya ini. Jika
mereka tidak mendapat kesempatan untuk melihat Bhante, bisa terjadi
perubahan pada diri mereka. Seperti halnya biji-bijian yang tidak
mendapat air, mereka bisa berubah, Sang Bhagava. Karenanya Bhante,
ada beberapa (458) bhikkhu baru yang belum lama menjalani hidup kebhikkhuan,
belum lama belajar dhamma dan vinaya ini. Jika mereka tidak mendapat
kesempatan untuk melihat Bhante, bisa terjadi perubahan pada diri
mereka. Seperti halnya anak sapi tidak bertemu induknya, mereka bisa
berubah. Bhante, ada beberapa bhikkhu baru yang belum lama menjalani
hidup kebhikkhuan, belum lama belajar dhamma dan vinaya ini. Jika
mereka tidak mendapat kesempatan untuk melihat Bhante, bisa terjadi
perubahan pada diri mereka. Yang Mulia, gembirakanlah para bhikkhu
sangha, berilah mereka tegur sapa. Bhante, jika dulu para bhikkhu
sangha ditolong oleh Bhante, maka tolonglah para bhikkhu sangha sekarang."
Lalu Brahmasahampati, yang mengetahui apa yang sedang
dipikirkan Sang Bhagava, seperti seorang yang kuat menunjukkan kekuatan
lengannya ke depan dan ke belakang saja layaknya, ia menghilang dari
alam Brahma dan muncul di belakang Sang Bhagava. Lalu Brahmasahampati
mengatur jubahnya ke samping lengan, memberi salam kepada Sang Bhagava
dengan sikap anjali, berkata begini kepada Sang Bhagava, "Bhante,
senangkanlah hati para bhikkhu .... (ulangi seperti pada orang-orang
Sakya) .... Bhante .... Jika dulu para bhikkhu sangha ditolong oleh
Bhante, (459) maka tolonglah para bhikkhu sangha sekarang."
Sang Bhagava dapat menerima perumpamaan biji-bijian
dan perumpamaan anak lembu dari orang-orang Sakya dan Brahmasahampati.
Lalu bhikkhu Moggalana menyapa para bhikkhu, berkata, "Bhante,
bangunlah, ambil patta dan jubah kalian. Sang Bhagava telah menerima
orang-orang Sakya dan Brahmasahampati dengan perumpamaan biji-bijian
dan perumpamaan anak lembu."
"Baiklah Bhante," jawab para bhikkhu, segera
bangun dari tempat duduknya, mengambil patta dan jubahnya, mendekati
Sang Bhagava. Setelah mendekat, memberi salam Sang Bhagava, mereka
duduk pada tempat yang tersedia. Sang Bhagava berkata begini kepada
Bhante Sariputta, "Sariputta, apa yang kau pikirkan ketika para
bhikkhu sangha kupersilahkan pergi?"
"Ketika Sang Bhagava mempersilahkan para bhikkhu
pergi, saya berpikir, Sang Bhagava tidak merasa cemas sekarang dan
Dia akan menikmati kebahagiaan dalam Jhana. Kami pun demikian, merasa
tidak cemas sekarang dan akan menikmati kebahagian dalam Jhana."
"Apakah engkau menunggu, Sariputta, apakah engkau
menunggu, Sariputta. Sariputta, jangan lagi membiarkan pikiran semacam
itu timbul lagi." Lalu Sang Bhagava berkata kepada bhikkhu Moggalana,
"Moggalana, apa yang kau pikir ketika bhikkhu sangha saya persilahkan
pergi?"
"Bhante, ketika bhikkhu sangha dipersilahkan pergi
oleh Sang Bhagava, saya berpikir, Sang Bhagava tidak merasa cemas
sekarang. Dia akan menikmati kebahagiaan dalam Jhana. Saya dan bhikkhu
Sariputta akan memimpin bhikkhu sangha."
"Bagus Moggalana, itu bagus. Karenanya selain saya,
Moggalana maupun Sariputta dapat memimpin bhikkhu sangha."
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada bhikkhu sangha,
"Para bhikkhu, ada empat bahaya yang dapat terjadi bagi seorang
yang terjun ke dalam air. Apakah keempat bahaya itu? Bahaya dari ombak,
bahaya dari buaya, bahaya dari pusaran air, bahaya dari ikan buas.
Ini adalah empat macam bahaya yang dapat terjadi bagi seorang yang
menjalani hidup kebhikkhuan dalam dhamma dan vinaya. (460) Apakah
keempat bahaya itu ? Bahaya dari ombak, bahaya dari buaya, bahaya
dari pusaran air, bahaya dari ikan buas.
Apakah bahaya dari ombak? Para bhikkhu, ada beberapa
pemuda menjalani kehidupan kebhikkhuan dengan keyakinan, berpikir
begini 'Walaupun aku dibebani dengan kelahiran, umur tua, mati, sakit,
penderitaan, kesengsaraan, ratapan dan putus asa, dibebani dengan
penderitaan, dikuasai oleh penderitaan, mungkin akhir dari bentuk
penderitaan yang menyeluruh ini belum dapat terlihat.'
Temannya pengikut kaum Brahmana mendesak dan menyuruhnya,
'Mengapa engkau harus keluar, mengapa engkau harus kembali, mengapa
engkau harus melihat ke depan, mengapa harus melihat ke sekeliling,
mengapa harus beranjali, mengapa harus membawa jubah dan mengkuk.'
Bila ia berpikir begini, 'Ketika aku hidup berumah tangga dulu, kami
terbiasa menyuruh dan mendesak orang lain, tetapi karena mereka anak
sendiri, cucu sendiri.' Mereka berpikir mereka harus menyuruh dan
mendesak kami .... lalu melanggar latihan, dia kembali kepada kehidupan
dunia yang rendah. Para bhikkhu, mereka melanggar vinaya dan kembali
kepada kehidupan dunia yang rendah inilah yang disebut sebagai orang
yang ditakut-takuti bahaya ombak. Bahaya dari ombak ini adalah sama
artinya dengan amarah.
Para bhikkhu, apakah bahaya dari buaya? Begini, beberapa
pemuda dari keluarga yang telah menjalani kehidupan kebhikkhuan dengan
keyakinan berfikir, 'Walaupun aku dibebani dengan kelahiran, umur
tua, ......... mungkin akhir dari bentuk penderitaan yang menyeluruh
ini belum dapat terlihat.' Temannya pengikut kaum Brahmana mendesak
dan menyuruhnya, 'Ini boleh kau makan, ini tak boleh kau makan, ini
boleh kau ambil, ini tak boleh kau ambil, ini boleh kau cicipi, ini
tak boleh kau cicipi, ini boleh kau minum, ini tak boleh kau minum,
engkau harus makan apa yang diperbolehkan, engkau tidak boleh makan
apa yang tidak diperbolehkan, engkau harus mengambil apa yang diperbolehkan,
engkau tidak boleh mengambil apa yang tidak diperbolehkan, engkau
boleh mencicipi apa yang boleh untuk dicicipi, engkau tidak boleh
mencicipi apa yang tidak diperbolehkan, engkau tidak boleh minum apa
yang tidak diperbolehkan, engkau harus makan pada waktu yang tepat,
engkau tidak boleh makan pada waktu yang salah, engkau harus mengambil
pada waktu yang tepat, engkau tidak boleh mengambil pada waktu yang
salah, engkau harus mencicipi pada waktu yang tepat, engkau tidak
boleh mencicipi pada waktu yang salah, engkau harus minum pada waktu
yang tepat, engkau tidak boleh minum pada waktu yang salah.' Bila
ia berpikir begini (461) 'Dulu ketika aku masih hidup sebagai perumah
tangga, kami makan apa yang kami suka, kami tidak makan apa yang kami
tidak suka, kami mengambil apa yang kami suka, kami tidak mengambil
apa yang kami tidak suka, kami mencicipi apa yang kami suka, kami
tidak mencicipi apa yang kami tidak suka, kami minum apa yang kami
suka, kami tidak minum apa yang kami tidak suka, kami makan apa pada
waktu yang tepat, kami tidak makan apa pada waktu yang salah, kami
mengambil pada waktu yang tepat, kami tidak mengambil pada waktu yang
salah, kami mencicipi pada waktu yang tepat, kami tidak mencicipi
pada waktu yang salah, kami minum pada waktu yang tepat, kami tidak
minum pada waktu yang salah, tetapi bila seorang kepala rumah tangga
yang setia memberi kami makanan yang mewah, padat dan lembut, pada
waktu yang salah, seolah ia menguji mulut ....... dan melanggar latihan,
dia kembali kepada kehidupan dunia yang rendah. Para bhikkhu, mereka
yang melanggar vinaya dan kembali kepada kehidupan dunia yang rendah
inilah yang disebut sebagai orang yang ditakut-takuti bahaya buaya.
Bahaya dari buaya ini sama artinya dengan kerusakan.
Para bhikkhu, apakah bahaya dari pusaran air? Begini
para bhikkhu, beberapa pemuda dari keluarga, menjalani kehidupan kebhikkhuan,
berpikir begini, 'Walaupun aku dibebani dengan karena kelahiran, umur
tua, .......... mungkin akhir dari bentuk penderitaan yang menyeluruh
ini belum, dapat terlihat.' Dia lalu menjalani kehidupan kebhikkhuan
memakai jubahnya pagi hari, mengambil mangkuk dan jubah luarnya, memasuki
sebuah desa, sebuah pasar untuk berpindapata dengan jasmani yang tidak
terkendali, dengan ucapan yang tidak terkendali, dengan pikiran yang
tidak bersih, perasaan-perasaan yang tidak terkendali. Di sana dia
melihat seorang kepala rumah tangga atau anak kepala rumah tangga
memanjakan dan memberikan dirinya dengan lima saluran perasaan mendapatkan
kesenangan oleh karenanya. Bila ia berpikir begini, 'Dulu ketika aku
menjalani kehidupan rumah tangga, memanjakan dan memberikan diri dengan
lima saluran kesenangan indera, kami mendapatkan kebahagiaan. Karena
adanya kekayaan di rumahku, mungkin saja menikmati kekayaan sekaligus
melakukan hal yang terpuji.' Dia melanggar latihan, kembali kepada
kehidupan dunia yang rendah. Para bhikkhu, mereka yang melanggar vinaya
dan kembali kepada kehidupan dunia yang rendah inilah yang disebut
sebagai orang yang ditakut-takuti bahaya pusaran air. Bahaya pusaran
air ini adalah sama artinya dengan lima saluran kesenangan indera.
Para bhikkhu, apakah bahaya dari ikan buas? Begini,
para bhikkhu (462) beberapa pemuda dari keluarga, menjalani kehidupan
kebhikkhuan, berfikir begini walaupun aku dibebani dengan kelahiran,
umur tua ..... mungkin akhir dari bentuk penderitaan yang menyeluruh
ini belum dapat terlihat. Dia lalu menjalani kehidupan kebhikkhuan,
memakai jubahnya pagi hari mengambil mangkuk dan jubah luarnya, memasuki
sebuah desa, sebuah pasar untuk berpindapata dengan jasmani yang tak
terkendali, dengan ucapan yang tidak terkendali, dengan pikiran yang
tidak bersih, perasaan-perasaan yang tidak terkendali. Dia melihat
seorang wanita yang berpakaian kurang sempurna atau kurang tertutup.
Ketika dia melihat wanita dengan pakaian yang kurang sempurna dan
kurang tertutup, nafsu mengusai pikirannya dan dengan pikiran yang
dikuasai oleh nafsu, ia melanggar latihan, dia kembali kepada kehidupan
dunia yang rendah. Para bhikkhu, mereka yang melanggar vinaya dan
kembali kepada kehidupan dunia yang rendah inilah yang disebut sebagai
orang yang ditakut-takuti bahaya ikan buas. Bahaya dari ikan buas
ini adalah sama artinya dengan wanita.
Itulah para bhikkhu, empat bahaya yang dapat terjadi
pada seorang yang menjalani dhamma dan vinaya dalam kehidupan kebhikkhuan."
Demikian apa yang dikatakan oleh Sang Bhagava, para
bhikkhu bersenang hati dengan apa yang dikatakan Sang Bhagava.