DANTHABHUMI SUTTA
(Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya I,
Oleh : Tim Penerjemah Tripitaka,
Penerbit : Yayasan Pancaran Dharma, Jakarta, 1992)
1. Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menetap di Rajagaha di Vihara Veluvana,
di Tempat Memberi Makan Tupai-tupai.
2. Pada saat itu Samanera Aciravata tinggal dalam gubuk di hutan.
Kemudian, ketika Pangeran Jayasena sedang berjalan-jalan sebagai latihan,
ia menemui Samanera Aciravata dan memberikan hormat kepadanya, dan
setelah tegur sapa menghormat dan ramah itu diucapkan, duduklah ia
di satu sisi. Setelah duduk, ia berkata: "Aggivessana, aku telah
mendengar hal ini: Seorang bhikkhu yang tinggal di sini, dengan tekun,
penuh semangat dan menguasai diri akan memperoleh penyatuan pikiran."
"Demikianlah, Pangeran, demikianlah: seorang bhikkhu yang hidup
di sini dengan tekun, penuh semangat dan menguasai diri akan dapat
memperoleh penyatuan pikiran."
3. "Baik kiranya apabila Guru Aggivessana mengajari saya Dhamma
sesuai dengan apa yang telah didengar dan dikuasainya."
"Aku tidak dapat mengajari kamu Dhamma, Pangeran, sesuai dengan
apa yang telah aku dengar dan kuasai. Kemudian Pangeran, apabila aku
mengajarkan Dhamma kepadamu sesuai dengan apa yang aku dengar dan
kuasai, kamu tidak akan mengetahui arti apa yang aku katakan itu dan
hal itu akan menimbulkan kebosanan dan gangguan bagiku."
4. "Biarlah Guru Aggivessana mengajarkan Dhamma kepadaku sesuai
dengan apa yang telah didengar dan dikuasainya. Barangkali aku bisa
mengetahui arti dari apa yang dikatakan oleh Guru Aggivessana."
"Aku mau mengajar Dhamma kepadamu, Pangeran ... apabila kamu
mengerti tentang apa yang aku katakan, itu adalah baik. Bila kamu
tidak mengerti tentang apa yang aku katakan, maka tinggalkanlah itu
dan janganlah mengajukan pertanyaan kepadaku lagi."
5. Kemudian Samanera Aciravata mengajarkan Dhamma kepada Pangeran
Jayasena sesuai dengan apa yang yang telah ia dengar dan kuasai.
Setelah hal ini dikatakan, Pangeran Jayasena berkata: "Tidak
mungkin Guru Aggivessana, tidak mungkin seorang bhikkhu yang hidup
rajin dan menguasai diri akan mencapai penyatuan pikiran."
Kemudian setelah mengatakan kepada Samanera Aciravata bahwa itu tidak
mungkin dan tidak dapat terjadi, Pangeran Jayasena bangkit dari duduknya
dan pergi.
6. Segera setelah Pangeran Jayasena pergi, Samanera Aciravata pergi
menemui Sang Buddha, dan setelah melakukan penghormatan kepada Beliau,
ia duduk di satu sisi. Setelah melakukan itu, ia menceritakan semua
kepada Sang Buddha tentang pembicaraannya dengan Pangeran Jayasena.
Setelah cerita itu selesai, Sang Buddha berkata:
7. "Aggivessana, bagaimana mungkin terjadi bahwa sesuatu yang
dikenal melalui penglepasan (nekkhamma), dilihat melalui penglepasan,
dicapai melalui penglepasan, disadari melalui penglepasan akan dapat
diketahui, dilihat, dicapai atau disadari oleh Pangeran Jayasena,
yang hidup di tengah-tengah kesenangan duniawi itu, menikmati keinginan-keinginan
duniawi, terhanyut oleh keinginan-keinginan duniawi, dilanda oleh
demam keinginan-keinginan duniawi, dan sangat cenderung mencari keinginan-keinginan
duniawi? Itu tidak mungkin.
8. Seandainya terdapat dua ekor gajah yang dapat dijinakkan, atau
dua ekor kuda yang dapat dijinakkan, atau dua ekor lembu yang dapat
dijinakkan yang kesemuanya itu sudah dijinakkan dan menjadi sangat
jinak dan berdisiplin baik, dan juga gajah-gajah yang dapat dijinakkan
atau kuda-kuda yang dapat dijinakkan atau lembu-lembu yang dapat dijinakkan
namun tidak dijinakkan dan tidak didisiplinkan; bagaimana kamu memahami
ini, Aggivessana, gajah-gajah, kuda-kuda atau lembu-lembu yang telah
dijinakkan dengan baiknya, didisiplinkan dengan baiknya, apakah barangkali
mereka yang telah dijinakkan itu akan pergi seperti mereka yang telah
jinak pergi, apakah mereka akan mencapai tingkatan dari yang telah
jinak itu?"
"Ya, Yang Mulia."
"Tetapi kedua gajah, kuda atau lembu yang dapat dijinakkan itu,
namun tidak dijinakkan dan tidak didisiplinkan; apakah mereka yang
tidak dijinakkan itu dapat pergi seperti yang jinak pergi, apakah
mereka dapat mencapai tingkatan seperti yang dilakukan oleh gajah,
kuda atau lembu yang jinak?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Demikian juga, Aggivessana, bahwa apa yang diketahui melalui
penglepasan (nekkhamma) ... akan selalu diketahui ... oleh Pangeran
Jayasena yang hidup di tengah-tengah keinginan-keinginan indera ...
itu tidaklah mungkin.
9. Seandainya di sana terdapat batu karang tinggi tidak jauh dari
desa atau kota dan dua orang pergi ke luar dari desa atau kota itu
dan mendekati batu karang dengan bergandengan tangan, dan setelah
melakukan hal itu, salah satu dari kedua orang itu tetap tinggal di
kaki batu karang itu sedangkan yang lain memanjat ke atas batu karang
itu; kemudian seorang yang tetap tinggal di kaki batu karang itu berkata
kepada temannya yang ada di atas: 'Hai teman, apa yang kamu lihat
dengan berdiri di atas batu karang itu?' Temannya menjawab: 'Berdiri
di atas batu karang ini, temanku, aku melihat taman-taman indah dan
semak belukar padang rumput dan danau-danau.' Kemudian teman yang
pertama berkata: 'Tidak mungkin teman, tidak dapat terjadi, bahwa
kamu berdiri di atas batu karang akan melihat taman-taman indah dan
semak belukar dan padang rumput dan danau-danau.' Kemudian yang lain
itu turun dari puncak batu karang itu dan sambil mengajak temannya
di kaki batu karang itu, ia menggandeng temannya menaiki puncak batu
karang itu, dan kemudian setelah membiarkannya bernapas sebentar,
ia bertanya: 'Ah, temanku, apa yang kamu lihat sambil berdiri di atas
batu karang ini?' Yang pertama menjawab: 'Berdiri di atas batu karang,
temanku, aku melihat taman-taman yang indah dan semak-semak belukar
dan padang rumput dan danau-danau.' Kemudian yang lain berkata: 'Baru
saja kita mendengar kamu berbicara demikian: Tidak mungkin, teman,
tidak bisa terjadi, bahwa kamu berdiri di atas puncak batu karang
akan dapat melihat taman-taman indah dan semak belukar dan padang
rumput dan danau-danau.' Kemudian yang pertama menjawab: 'Saya dihalangi
oleh batu karang besar ini sehingga saya tidak melihat apa yang ada
di sana untuk dilihat.'
10. Demikian juga, Aggivessana, Pangeran Jayasena telah dihalangi,
ditutupi, dirintangi dan disisihkan oleh gunung kebodohan yang lebih
besar, bahwa apa yang harus diketahui melalui penglepasan (nekkhama)
... akan selalu diketahui ... oleh Pangeran Jayasena, yang hidup di
tengah-tengah keinginan-keinginan indera ... itu tidak mungkin.
11. Aggivesana, apabila kedua perumpamaan ini terjadi padamu secara
serentak (sementara berbicara) kepada Pangeran Jayasena, ia akan memperoleh
kepercayaan dalam dirimu, dan setelah memperoleh kepercayaan, ia mengenal
dirimu dengan nyata."
"Yang Mulia, bagaimana kedua perumpamaan ini dapat terjadi padaku
secara serentak dan belum pernah terdengar sebelumnya, seperti mereka
telah lakukan kepada Yang Diberkahi?"
12. "Aggivessana, seandainya raja mulia dari kasta ksatria
yang diberkati dengan upacara-upacara perminyakan memberi perintah
kepada pengawas hutan gajah demikian: 'Pengawas hutan gajah yang baik,
naikilah gajah raja dan pergilah ke hutan gajah, kemudian apabila
kamu melihat gajah hutan, ikatlah dia ke leher gajah raja itu.' Kemudian
sambil menjawab, 'Baik, Tuan,' pengawas hutan gajah itu menunggangi
gajah raja dan pergi ke hutan gajah. Kemudian ketika ia melihat gajah
hutan, ia mengikatnya ke leher gajah raja. Kemudian gajah raja membimbingnya
keluar ke tempat terbuka dan itulah cara bagaimana gajah-gajah hutan
keluar ke daerah terbuka, karena seekor gajah hutan menggantungkan
diri pada tempat itu, yakni hutan gajah, maka penjaga hutan gajah
itu memberitahukan raja mulia ksatria yang telah diupacarai dengan
minyak: 'Tuanku, gajah hutan telah memasuki tempat terbuka.' Kemudian,
raja mulia ksatria yang telah diupacarai dengan minyak itu memberikan
perintah kepada penjinak gajahnya demikian: 'Hai, penjinak gajah yang
baik, jinakkanlah gajah hutan ini supaya ia dapat mengurangi kebiasaan-kebiasaan
hutannya, untuk mengurangi ingatan-ingatan dan keinginan-keinginan
di hutan, untuk mengurangi kegelisahan, rasa capai dan demam di hutan,
supaya dapat mempunyai kebiasaan-kebiasaan seperti kemauan manusia.'
'Baik, Tuan,' demikian penjinak gajah itu menjawab. Kemudian ia membenamkan
sebuah tiang besar di dalam tanah dan mengikat gajah hutan itu ke
tiang tersebut pada lehernya untuk mengurangi kebiasaan-kebiasaan
hutannya ... dan untuk menanamkan kecintaan padanya terhadap kebiasaan-kebiasaan
manusia. Kemudian ia melayani gajah hutan itu dengan kata-kata yang
lemah lembut, enak bagi telinga, dan penuh kasih sayang sehingga merasuk
ke dalam hati, sopan santun, diinginkan oleh banyak orang serta baik
untuk banyak orang; dan segera setelah ia dilayani dengan kata-kata
seperti itu, ia mau mendengarkan, memasang telinga, dan membentuk
pikirannya dalam pengetahuan itu; kemudian penjinak gajah menghadiahi
gajah itu dengan rumput dan air; dan segera setelah gajah hutan itu
menerima rumput dan air itu darinya, ia tahu 'Sekarang ia dapat hidup;
ia adalah gajah raja.' Kemudian penjinak gajah itu membuatnya bertingkah
laku sebagai berikut: 'Bangkit, tuan! Duduk, tuan!' dan segera setelah
gajah raja itu mematuhi perintah-perintah dari penjinak gajah untuk
bangkit dan berdiri, dan menjalankan instruksi-instruksinya, kemudian
penjinak gajah itu lebih lanjut membuatnya bertindak sebagai berikut:
'Maju, tuan; Mundur, tuan.' Dan segera setelah gajah raja itu sudah
mau mematuhi perintah-perintah untuk maju dan mundur, dan melaksanakan
instruksi-instruksinya, kemudian penjinak gajah lebih lanjut membuatnya
bertindak sebagai berikut: 'Bangun, tuan; Tidur, tuan!' dan segera
setelah gajah raja itu mematuhi perintah-perintah penjinak gajah untuk
bangun dan tidur dan untuk melakukan instruksi-instruksinya, kemudian
penjinak gajah lebih lanjut membuatnya bertindak sebagai apa yang
dinamakan keadaan tenang sekali, penjinak gajah itu mengikatkan tameng
yang sangat besar ke belalainya, dan seorang dengan sebuah tombak
di tangan duduk di atas lehernya, dan orang-orang dengan membawa lembing-lembing
di tangan mereka mengelilinginya di segala penjuru, dan si penjinak
gajah itu sendiri berdiri di depannya dengan membawa tombak panjang
di tangan, dan dalam membuat keadaan tenang sekali itu ia tidak menggerakkan
kaki depan maupun kaki belakang, juga tidak menggerakan badan depan
maupun belakang, juga tidak menggerakkan kepala atau telinganya, belalai
atau gadingnya; gajah raja itu menahan tusukan dari lembing-lembing,
pedang-pedang, anak panah dan benda-benda lain, dan suara-suara genderang
kosong serta terompet, dan dengan melenyapkan segala kesalahan dan
cacad, dengan rasa takut yang telah dilenyapkan, ia pantas menjadi
milik raja, untuk dipekerjakan dalam kerajaan, dan dianggap sebagai
salah satu kaki-tangan raja.
13. Demikian juga, Aggivessana, di sini seorang Tathagata muncul
di dunia ini, Arahat dan Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna dalam
pengetahuan dan tindak tanduk, suci, pengenal alam-alam, pemimpin
yang tak terbandingkan dari manusia yang harus dijinakkan, guru para
dewa dan manusia, mencapai penerangan sempurna dan diberkati.
14. Beliau menyatakan alam ini dengan dewata-dewatanya, Mara-maranya
dan Brahmananya, generasi ini dengan bhikkhu-bhikkhu dan orang-orang
sucinya, dengan raja-raja dan rakyat, yang telah disadari oleh diri
Beliau sendiri dengan pengetahuan sendiri.
15. Beliau mengajarkan Dhamma yang baik pada permulaan, baik di
tengah-tengah dan baik pada akhirnya, dengan arti dan ungkapan (yang
benar), dan Beliau mengumumkan suatu kehidupan luhur yang benar-benar
sempurna dan suci.
16. Seorang perumah-tangga atau anak laki-laki dari perumah-tangga
atau seseorang yang terlahir dalam suatu kasta mendengar Dhamma. Setelah
mendengar Dhamma itu ia memperoleh kepercayaan pada Tathagata. Dengan
memiliki kepercayaan itu, ia mempertimbangkan atau memikirkan demikian:
'Kehidupan rumah-tangga itu penuh sesak dan kotor; hidup bebas itu
terbuka lebar-lebar. Tidak mungkin dengan hidup dalam rumah-tangga
menjalani hidup suci dan sempurna dan suci bagaikan kulit kerang yang
digosok. Bagaimana kalau aku mencukur habis rambut kepala dan jenggot,
mengenakan jubah kuning, dan pergi dari kehidupan rumah-tangga ke
kehidupan tanpa rumah-tangga?'
Lalu pada kesempatan lain, setelah meninggalkan barangkali sejumlah
kecil, barangkali sejumlah besar harta benda, meninggalkan barangkali
sejumlah kecil, barangkali sejumlah besar sanak keluarga, ia mencukur
habis rambut kepala dan jenggotnya, mengenakan jubah kuning, dan pergilah
ia mengembara dari hidup berumah-tangga ke penghidupan tanpa rumah-tangga.
Dengan pergi berkelana dan memiliki latihan dan cara hidup bhikkhu,
dengan meninggalkan pembunuhan mahkluk hidup, ia menjadi seorang berpantang
dari membunuh mahkluk hidup; dengan pentungan serta senjata dikesampingkan,
lemah lembut dan baik, ia melakukan perbuatan penuh kasih sayang terhadap
semua makhluk.
Dengan tidak mengambil apa-apa yang tidak diberikan kepadanya, ia
menjadi seseorang yang berpantang dari mengambil apa yang tidak diberikan;
mengambil (hanya) yang diberikan saja, mengharap apa yang diberikan,
ia melakukan perbuatan suci di dalam dirinya sendiri dengan tidak
mencuri.
Dengan meninggalkan kehidupan yang tidak suci, ia menjadi seseorang
yang hidup suci, yang hidup berpisah, berpantang dari nafsu birahi
tak senonoh.
Dengan berpantang dari berbohong, ia menjadi seorang yang berpantang
dari berbicara tidak benar, ia berbicara benar, menggantungkan diri
pada kebenaran, dapat dipercaya, bertanggung jawab dan tidak menipu
dunia.
Dengan meninggalkan ucapan-ucapan memfitnah, ia menjadi seseorang
yang berpantang dari fitnahan: sebagai seorang yang bukan orang pengulang
(kata-kata) di mana-mana tentang apa yang didengar di sini dengan
tujuan mengakibatkan perpecahan dari sini, ataupun bukan sebagai pengulang
dari apa yang ia dengar di mana saja dengan tujuan menyebabkan perpecahkan
dari situ, yang karena itu menjadi seorang pemersatu dari yang terpecah-belah,
sebagai pembina persahabatan, dan menikmati keharmonisan, mensyukuri
keharmonisan, merasa senang dalam keharmonian, ia menjadi seorang
pembicara kata-kata yang mengembangkan keharmonisan atau kerukunan.
Dengan meninggalkan kata-kata kasar atau keras, ia menjadi seseorang
yang berpantang dari ucapan-ucapan kasar: ia menjadi seorang pembicara
kata-kata seperti yang tidak bersalah, menyenangkan bagi telinga dan
penuh cinta kasih, sehingga merasuk ke dalam sanubari, sopan, diinginkan
oleh banyak orang dan baik bagi banyak orang.
Dengan meninggalkan pergunjingan, ia menjadi seorang yang berpantang
dari pergunjingan itu: sebagai seseorang yang menceritakan apa yang
benar dan bermanfaat serta Dhamma dan Vinaya, ia menjadi pembicara
tentang kata-kata yang tepat, patut diingat, masuk akal, terukur dan
dihubungkan dengan kebaikan.
Ia menjadi seorang yang berpantang mengganggu biji-bijian dan tanam-tanaman.
Ia menjadi seseorang yang makan hanya dalam sebagian hari saja, menolak
(makanan) pada malam hari dan makanan terlambat (lewat tengah hari).
Ia menjadi seorang yang berpantang dari dansa, nyanyi, dan musik dan
pertunjukan-pertunjukan teater.
Ia menjadi seseorang yang berpantang mengenakan perhiasan-perhiasan,
memperindah tubuh dengan wewangian dan memolesi badannya dengan salep
wangi.
Ia menjadi seorang yang berpantang dari tempat duduk tinggi dan besar.
Ia menjadi seorang yang berpantang dari menerima emas dan perak, dan
pergi meninggalkan kehidupan berumah-tangga ke penghidupan tanpa rumah-tangga.
Lalu itulah cara seorang siswa mulia datang ke tempat terbuka karena
para dewa dan manusia berpegang erat padanya, yakni kelima buah simpul
dari keinginan indera."
17. Kemudian Sang Tathagata lebih lanjut mendisiplinkan dirinya
sebagai berikut: "Marilah bhikkhu, jadilah orang suci, kekanglah
dirimu dengan pengendalian Patimokkha (peraturan para bhikkhu), sempurna
dalam tingkah laku dan perbuatan, dan melihat ketakutan sekalipun
dalam perbuatan salah yang sekecil apapun, latihlah dengan memanfaatkan
ajaran-ajaran latihan."
Segera sesudah bhikkhu itu menjadi luhur, mengekang diri dengan pantangan-pantangan
Patimokkha, sempurna dalam tingkah laku dan perbuatan, dan melihat
ketakutan dalam perbuatan salah yang sekecil apapun, melatih diri
sendiri dengan menjalankan sila-sila latihan, kemudian Sang Tathagata
lebih lanjut mendisiplinkan dirinya:
18. "Marilah bhikkhu, jagalah pintu-pintu indera itu baik-baik.
Apabila melihat suatu bentuk dengan mata, janganlah memahami atau
melihat tanda-tanda atau bentuk-bentuk yang melalui pintu itu karena,
apabila kamu membiarkan pintu matamu itu tidak terjaga, hal-hal jahat
yang tidak menguntungkan tentang kekikiran dan kesedihan akan dapat
menerobos masuk ke dalam dirimu; latihlah cara pengekangan diri, jagalah
daya penglihatan matamu, jalanilah cara pengekangan dari daya kemampuan
mata. Apabila mendengar suara dengan telinga ... apabila membau suatu
bebauan dengan hidung ... apabila mengecap suatu rasa dengan lidah
... apabila meraba dengan anggota badan ... apabila mencerap dhamma
dengan pikiran, janganlah tanggapi adanya tanda-tanda atau bentuk-bentuk
yang melaluinya, apabila kamu tinggalkan pintu pikiranmu tidak terjaga,
hal-hal jahat yang tidak menguntungkan tentang kekikiran dan kedukaan
akan dapat masuk menerobos dirimu. Latihlah cara atau jalan tentang
pengekangan, jaga daya kemampuan pikiran, jalankanlah pengekangan
daya kemampuan pikiran."
Segera setelah bhikkhu menjaga pintu-pintu indera tetap terjaga dengan
baiknya, maka Sang Tathagata mendisiplinkan dirinya lebih lanjut:
19. "Marilah bhikkhu, jadilah seorang yang mengetahui takaran
yang tepat dalam bersantap. Dengan merefleksi diri secara bijaksana,
kamu harus merawat dirimu sendiri dengan makanan bukan untuk kesenangan,
bukan pula untuk menjadikan dirimu menjadi keracunan, pula bukan untuk
ketampanan maupun kecakapan dirimu, (tetapi) hanya untuk daya tahan
dan kelangsungan tubuh ini, untuk mengakhiri keadaan tidak mengenakkan,
dan untuk membantu kesucian hidup itu. Oleh karena itu, Aku akan mengakhiri
perasaan-perasaan lama tanpa membangkitkan perasaan-perasaan baru
dan tanpa noda, Aku akan hidup dalam kesenangan dan keadaan sehat."
Segera setelah bhikkhu mengetahui takaran yang tepat dalam makan,
kemudian Sang Tathagata mendisiplinkan dirinya lebih lanjut:
20. "Marilah bhikkhu, tetaplah bertekun diri pada kesiagaan
penuh. Pada siang hari sementara kamu sedang berjalan atau duduk,
sucikanlah pikiranmu dari hal-hal yang menghancurkan. Pada jaga pertama
terhadap datangnya sang malam ketika kamu sedang berjalan jalan atau
duduk-duduk, sucikanlah pikiranmu dari hal-hal yang menghancurkan.
Di tengah-tengah penjagaan malam, rebahlah ke sisi kanan dalam kedudukan
seperti singa tidur dengan satu kaki menindih kaki lain, penuh kesadaran
dan waspada penuh, sesudah mengingat di dalam pikiran waktu untuk
bangun. Sesudah bangun dalam jaga ketiga sementara kaku berjalan atau
duduk, sucikan pikiranmu dari hal-hal yang menghancurkan itu."
Segera setelah bhikkhu itu mencurahkan perhatiannya yang penuh, kemudian
Sang Tathagata mendisiplinkan dirinya lebih lanjut:
21. "Marilah bhikkhu, milikilah kesadaran penuh dan kewaspadaan
penuh. Jadilah seorang yang bertindak penuh kesadaran ketika sedang
bergerak ke depan dan ke belakang; yang bertingkah laku dengan penuh
kesadaran ketika memandang dan mengalihkan pandangan; yang bertingkah
laku dengan penuh kesadaran ketika melenturkan, meregangkan tubuh;
yang bertingkah laku dengan penuh kesadaran ketika sedang mengenakan
lapisan tambalan, mangkok dan jubah-jubah; yang bertingkah laku dengan
penuh kesadaran ketika sedang buang air besar serta kecil; yang bertingkah
laku dalam kewaspadaan penuh ketika sedang berjalan, berdiri, duduk,
tidur, bangun, berbicara dan berdiam."
Segera setelah bhikkhu itu memiliki kesadaran penuh serta kesiagaan
penuh, maka Sang Tathagata mendisiplinkan dirinya lebih lanjut:
22. "Marilah bhikkhu, ambillah tempat perenungan yang terpencil:
ke sebuah hutan, di bawah akar pohon, ke batu karang, ke celah bukit,
ke gua gunung, ke tempat penimbunan mayat, ke hutan kayu sunyi, ke
tempat terbuka, ke segundukan jerami."
Ia menempuh jalan ke tempat perenungan yang terpencil: ke dalam hutan
... sekembalinya dari berpindapata sesudah makan ia duduk, melipat
kakinya bersila, menegakkan badannya dan pikirannya diusahakan penuh
dengan kewaspadaan. Dengan meninggalkan sifat ketamakan akan dunia,
ia mengusahakan pikirannya agar tetap bebas dari sifat kekikiran,
ia menyucikan pikirannya dari ketamakan, meninggalkan kemauan jahat
dan kebencian, ia mengusahakan agar pikirannya tetap pada keadaan
bebas dari kemauan jahat dan selalu cinta kasih kepada semua mahkluk
hidup, ia menyucikan pikirannya dari kemauan jahat dan kebencian;
meninggalkan rasa kelesuan dan kantuk, ia tetap mengusahakan dirinya
bebas dari kelesuan kantuk, sadar akan cahaya dan waspada serta siaga
sepenuhnya ia menyucikan pikirannya dari rasa kelesuan serta kantuk
itu; dengan meninggalkan hasutan dan kecemasan, ia mengusahakan dirinya
agar tetap tidak dapat dihasut, dengan pikirannya ditenangkan di dalam
dirinya sendiri, ia menyucikan pikirannya dari hasutan serta kecemasan;
dengan meninggalkan keadaan tidak menentu, ia mengusahakan dirinya
agar selalu melenyapkan ketidakpastian, tidak meragukan dhamma yang
menguntungkan, ia menyucikan pikirannya dari ketidakpastian itu.
23. Setelah melepaskan kelima hambatan ini, kekotoran pikiran yang
memperlemah pengertian, ia mengusahakan diri agar menghayati badan
jasmani sebagai badan jasmani, tekun, siaga penuh dan sadar, telah
membuang sifat tamak dan rakus akan dunia; ia tetap mengusahakan dirinya
untuk menghayati perasaan sebagai perasaan ... ia tetap mengusahakan
dirinya untuk menghayati dhamma-dhamma itu sebagai dhamma-dhamma,
tekun, sepenuhnya siaga dan sadar, telah membuang sifat tamak dan
rakus akan dunia.
24. Tepat seperti halnya penjinak gajah membenamkan tiang besar
ke dalam tanah untuk mengikat gajah hutan di lehernya untuk mengurangi
atau memperlemah kebiasaan-kebiasaan hutan pada gajah itu ... dan
untuk menanamkan pada gajah itu kebiasaan-kebiasaan yang disukai manusia,
demikian juga empat dasar kewaspadaan merupakan penguatan bagi pikiran
siswa mulia untuk memperlemah kebiasaan-kebiasaan dari hal kerumah-tanggaannya,
untuk memperlemah keinginan-keinginan kerumah-tanggaannya, untuk mencapai
atau memperoleh jalan benar dan realisasi Nibbana."
25. Kemudian Sang Tathagata mendisiplinkan dirinya lebih lanjut
sebagai berikut: "Marilah bhikkhu, usahakan terus menghayati
badan sebagai badan tetapi jangan memikirkan bentuk pikiran yang dihubungkan
dengan badan: usahakan terus menerus menghayati perasaan-perasaan
sebagai perasaan ... pikiran sebagai pikiran ... usahakan terus menerus
menghayati dhamma-dhamma sebagai dhamma-dhamma tetapi janganlah memikirkan
bentuk pikiran yang dihubungkan dengan dhamma-dhamma.
26. Dengan penenangan penerapan awal dari penenangan berlanjut,
ia memasuki jalur dan berada di dalam jhana kedua ...
27. ... jhana ketiga ... yang mempunyai keseimbangan dan kesadaran
penuh.
28. Apabila pikirannya yang sudah terpusatkan, terang benderang,
tanpa cacad, bersih dari ketidaksempurnaan, lunak dapat ditundukkan,
berpengaruh, mantap, dan tenang tak tak tergoyahkan, ia mengatur,
ia mencenderungkan pikirannya kepada pengetahuan tentang peringatan
kembali kehidupan lampau.
Ia mengingat-ingat kehidupan lampaunya yang berganda-ganda itu, yaitu
satu kelahiran ... lima kelahiran, sepuluh kelahiran ... limapuluh
kelahiran ... seratus kelahiran ... seribu kelahiran, seratus ribu
kelahiran, banyak kalpa penyusutan alam, banyak kalpa perluasan alam,
banyak kalpa penyusutan dan perluasan alam: 'Di sana aku dinamakan
demikian, dari suku demikian, dengan sifat penampilan demikian, itulah
kehidupanku,' demikianlah pengalaman kesenangan dan penderitaan, demikianlah
jangka waktu hidupku; dan setelah meninggal dari tempat itu, saya
muncul di suatu tempat lain; dan di sana saya juga diberi nama demikian,
dari suku bangsa demikian, dengan sifat penampilan demikian, demikianlah
kehidupanku, demikianlah pengalamanku tentang kesukaan dan penderitaan,
demikianlah jangka waktu hidupku; dan setelah aku meninggal dari sana
muncul di sini. Jadi dengan ingatan rinci dan khusus ia mengingat
kembali masa kehidupannya yang banyak itu.
29. Apabila pikiran yang sudah terkonsentrasikan itu demikian disucikan,
terang benderang, tanpa cacad, bersih dari segala ketidaksempurnaan,
lunak, terkendali, mantap, dan telah mencapai keadaan tenang tak terganggu,
ia mengarahkan, ia mencenderungkan pikirannya kepada pengetahuan tentang
kemusnahan serta kemunculan kembali dari makhluk-makhluk itu.
Dengan mata surgawi yang telah disucikan dan melampaui penglihatan
manusiawi, ia melihat makhluk-makhluk mati dan lahir kembali, yang
lemah, yang kuat, cantik, buruk, berkelakuan baik dan buruk; ia mengerti
bagaimana makhluk-makhluk itu terus menerus bertumimbal lahir sesuai
dengan kamma-kamma mereka, demikian: 'Makhluk-makhluk yang tak patut
ini yang bertingkah laku, berucapan dan berpikiran tidak baik, mencaci
maki muliawan-muliawan, berpandangan salah, membawa pandangan salah
di dalam kamma-kamma mereka, setelah terurainya sang badan setelah
kematian, muncul dalam alam penderitaan, dalam nasib buruk, dalam
keadaan tanpa kebahagiaan sama sekali atau kenestapaan, bahkan pula
ke dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk yang patut ini, yang bertindak
tanduk baik dengan badan, ucapan dan pikiran, bukan pencaci maki para
Muliawan, berpandangan benar, membawa pandangan benar dalam kamma-kamma
mereka, setelah terurainya badan, setelah kematian, muncul dengan
peruntungan yang baik, bahkan di dalam alam surgawi.' Jadi, dengan
pandangan mata batin surgawi yang telah disucikan dan melampaui batas
dari manusiawi itu, ia melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali,
lemah dan kuat, bertingkah laku baik dan buruk: ia mengerti bagaimana
makhluk-makhluk itu terus menerus bertumimbal lahir sesuai dengan
kamma-kamma mereka.
30. Apabila pikiran yang terkonsentrasi itu disucikan dan terang
benderang, tanpa cacad, bersih dari ketidakmurnian, dan menjadi lunak,
terkendali, berpengaruh kuat, mantap dan mencapai keadaan tidak terganggu,
ia mengarahkan, ia mencenderungkan pikirannya kepada pengetahuan pelenyapan
noda-noda.
Ia mempunyai pengetahuan langsung demikian: 'Ini adalah penderitaan.'
Ia mempunyai pengetahuan langsung demikian: 'Ini adalah asal mula penderitaan.'
Ia mempunyai pengetahuan langsung demikian: 'Ini adalah penghentian
dari penderitaan.'
Ia mempunyai pengetahuan langsung demikian: 'Ini adalah jalan menuju
ke penghentian penderitaan.'
Ia mempunyai pengetahuan langsung demikian: 'Ini adalah noda-noda.'
Ia mempunyai pengetahuan langsung demikian: 'Ini adalah asal mula noda-noda.'
Ia mempunyai pengetahuan langsung demikian: 'Ini adalah penghentian
noda-noda.'
Ia mempunyai pengetahuan langsung demikian: 'Ini adalah jalan menuju
ke penghentian noda-noda.' Apabila ia mengetahui dan melihat demikian,
pikiran telah dibebaskan dari noda-noda keinginan atau nafsu dunia/indera,
dari noda-noda tentang menjadi/terbentuk dari noda-noda dari kebodohan.
Apabila telah dibebaskan datanglah pengetahuan 'Ia telah terbebaskan.'
Ia mempunyai pengetahuan langsung demikian: 'Kelahiran telah habis,
kehidupan suci telah dijalani, apa yang dapat dilakukan telah dilakukan,
tiada lain yang akan terjadi.'
31. Bhikkhu itu adalah seorang yang menahan dingin dan panas, lapar
dan haus, dan terkena nyamuk dan lalat, angin, matahari, dan binatang-binatang
merayap, yang menahan kata-kata yang tidak disenangi dan buruk, dan
perasaan-perasaan badani yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk,
tidak disetujui, menggelisahkan, dan mengancam kehidupan; dengan lenyapnya
segala nafsu, kebencian dan khayal, dengan cacad yang telah disingkirkan,
ia pantas mendapat hadiah-hadiah, pantas mendapat keramahtamahan,
pantas mendapat pemberian-pemberian, pantas memperoleh penghormatan,
suatu ladang perbuatan jasa yang tiada bandingnya bagi dunia.
32. Jika gajah raja menjadi tua dan mati sebelum dijinakkan dan
belum didisiplinkan, itu adalah kematian yang belum dijinakkan sehingga
ia dianggap sudah mati. Jika gajah raja meninggal pada umur setengah
baya belum terjinakkan dan belum didisiplinkan, itu adalah kematian
yang belum dijinakkan dan ia telah dianggap sudah mati. Apabila gajah
raja ketika masih muda mati dan belum dijinakkan serta belum didisiplinkan,
itu adalah suatu kematian yang belum dijinakkan dan ia telah dianggap
sudah mati.
Demikian juga halnya, apabila seorang bhikkhu sepuh mati dengan noda-noda
yang belum lenyap, itu adalah suatu kematian yang belum terjinakkan
dan ia dianggap telah mati. Jika seorang bhikkhu madya mati ... jika
seorang bhikkhu muda/baru mati dengan noda-noda yang belum habis,
itu adalah kematian belum terjinakkan dan ia dianggap telah mati.
Jika gajah raja ketika sudah tua usia mati dengan telah terjinakkan
dan terdisiplinkan dengan baik, ia adalah merupakan kematian yang
terjinakkan dan ia dianggap sudah mati. Jika gajah raja mati pada
umur setengah baya .... Apabila gajah raja ketika masih muda mati
dengan terjinakkan dan terdisiplinkan dengan baik, itu kematian yang
terjinakkan dan ia dianggap telah mati.
Demikian juga, apabila seorang bhikkhu sepuh meninggal dengan noda-noda
telah terlenyapkan, itu merupakan kematian yang telah terjinakkan
dan ia diangap telah mati. Jika seorang bhikkhu madya meninggal ...
Jika seorang bhikkhu muda mati dengan noda-noda telah habis, itu adalah
kematian yang terjinakkan dan ia dianggap telah mati."
33. Inilah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Samanera Aciravata
menjadi puas dan senang dengan kata-kata Sang Buddha itu.