Kepala Vihara

BIODATA

SAMAGGI JAYA BLITAR

dan

VIHARA BODHIGIRI BALEREJO

Download Foto di Atas (1,5 Mb)

Nama : Bhikkhu Uttamo
Lahir : Yogyakarta, 13 November 1960
Pendidikan : Lulusan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1985)
Pabbajja Samanera : Jakarta, 21 Juli 1985
Upasampada Bhikkhu : Bangkok, 27 Des 1986
Domisili : Vihara Bodhigiri (Panti Semedi BALEREJO)
d.a. Vihara Samaggi Jaya
Jl. Ir. Soekarno 67
(eks. Slamet Riyadi 21)
Blitar - 66113
Telp. 0342 - 802616
Email : samaggi_jaya @ yahoo.com
Website : http://www.samaggi-phala.or.id
Facebook
: Bodhigiri Balerejo
Instagram
insta
: BODHIGIRI

Riwayat Keorganisasian   :

1995 – 1999:
Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Propinsi Sulawesi Selatan

1995 – 1999:
Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Propinsi Jawa Timur

1995 – 1999:
Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Propinsi Sumatera Utara

1995 – 1999:
Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Propins Riau

1995 – 1999:
Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Propinsi Kalimantan Timur

1995 – 1999:
Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Propinsi Irian Jaya

1996 – 1999:
Kepala Biro Pendidikan dan Pengembangan Sangha Theravada Indonesia

1998 – 1999:
Kepala Biro Penelitian / Penyeleksian Sangha Theravada Indonesia

2000 – 2003:
Wakil Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia

2003 – 2006:
Wakil Ketua Bidang Vinaya Sangha Theravada Indonesia

1989 – sekarang:
Kepala Vihara Samaggi Jaya Blitar, Jawa Timur

1990 – sekarang:
Kepala Vihara Bodhigiri Balerejo, Kab. Blitar, Jawa Timur

Foto Bhikkhu Uttamo untuk di download

Sekilas tentang Bhikkhu Uttamo

Bhante Uttamo adalah salah seorang Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia yang cukup aktif. Dalam membina umatnya, beliau tidak pernah mengenal lelah. Didukung gaya ceramahnya yang demikian menarik, tidaklah heran bila beliau cukup terkenal di kalangan umat Buddha Indonesia, terutama di Jawa Timur.

Ikutilah hasil wawancara reporter kami agar dapat mengenal beliau lebih dekat —Redaksi.

Kalau tidak salah, dulunya bhante bukan seorang umat Buddha. Apa sebenarnya yang mendorong bhante untuk menjadi bhikkhu?

Mulanya bukan apa yang mendorong saya menjadi bhikkhu, tapi apa yang mendorong saya memilih Agama Buddha. Ketika saya mempelajari agama yang terdahulu, pertanyaan saya mengenai kepincangan-kepincangan dalam hidup ini (ada yang kaya, miskin, pintar, bodoh, sehat, sakit-sakitan, dan lain-lain) hanya dijawab bahwa itu adalah rahasia Tuhan. Lalu saya renungkan, kalau hidup ini saja rahasia, apakah ada jaminan bahwa setelah mati akan masuk surga? Kalau itu juga suatu rahasia, untuk apa saya memuja yang serba rahasia, itu ‘kan tidak masuk akal! Nah, mulailah saya mencari agama-agama lain. Bukan hanya masuk untuk pasif, tapi ikut aktif di dalamnya, tapi saya tetap tidak puas. Lalu saya pikir, bagaimana ya, kalau saya masuk Agama Buddha?

Jadi, bukan karena diajak teman?

Oh bukan, melainkan rasa ketidak-puasan dan keingin-tahuan saya yang besar itulah. Lalu saya mencari alamat vihara, dapat di Jogya, di Cetiya Buddha Prabha.

Kenapa harus di Jogya?

Karena saya berasal dari Jogya, lahir di Jogya, tinggal di Jogya, sekolah di Jogya, dan kerja di Jogya. Kemudian pada Tahun Baru Imlek 1980, saya mulai melangkahkan kaki ke Cetiya Buddha Prabha. Dan bukan ajarannya yang pertama memasuki hati dan pikiran saya, tapi irama membaca parittanya (paritta Karaniyametta Sutta yang dilagukan) yang walaupun asing di telinga, demikian menyentuh hati dan perasaan saya. Demikian damai…. saat itulah saya berpikir, di sinilah tempat saya, lalu saya mulai belajar Agama Buddha sedikit demi sedikit. Setelah mempelajari bermacam agama inilah, saya simpulkan bahwa hanya Agama Buddhalah yang dapat menjawab dengan jelas segala pertanyaan itu dalam salah satu ajarannya (Hukum Karma dan Tumimbal Lahir).

Bagaimana tanggapan keluarga bhante tentang hal ini?

Ketika saya bertekad menjadi bhikkhu pada tahun 1982, saya minta ijin pada ibu saya (ayah saya sudah meninggal). Tentu saja beliau menolak mati-matian, karena tidak ada keluarga kami yang Buddhis saat itu (kecuali saya, tentunya), dan kalaupun Buddhis, kenapa harus hidup sebagai bhikkhu, tanyanya. Saat itu saya hanya bisa menunggu waktu. Tiga tahun kemudian, saya bertanya padanya, “Apakah orang tua menginginkan anaknya bahagia?” “Tentu saja”, jawabnya. “Saya bahagianya menjadi bhikkhu, bagaimana?” kata saya selanjutnya. Beliau tidak dapat menjawab, lalu dengan setengah hati melepaskan saya untuk menjadi bhikkhu. Tapi selalu saya tekankan bahwa menjadi bhikkhu adalah menjadi orang baik, jadi tidak perlu disedihkan, malah harusnya didukung. Juli 1985 saya ditahbiskan menjadi samanera dan akhir vassa 1986 saya dikirim ke Thailand untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu. Dengan perpisahan ini, ibu saya mulai bisa menerima bahwa kita tidak bisa menggenggam sesuatu terus menerus, suatu ketika pasti akan berpisah.

Apakah bhante putra tunggal?

Bukan, saya putra bungsu, kakak saya dua, lelaki semua.

Setelah bhante menjadi bhikkhu, bagaimana bubungan bhante dengan keluarga?

Mula-mula mereka memang masih keberatan. Suatu ketika saya diundang dalam reuni keluarga dan ketika saya diminta berceramah, saya mencoba menjelaskan secara singkat apa sesungguhnya Agama Buddha. Bahwa itu bukanlah agama kelenteng, bukanlah agama upacara, bukanlah agama kuno, tapi adalah agama yang sederhana yang dapat diterapkan dalam hidup sehari-hari. Sejak itu mereka mulai tertarik dan kini mulai mengerti akan ajaran Agama Buddha. Sering saya dengar mereka menyetel kaset khotbah saya di pagi hari.

Ketika pertama kali bertemu mereka dengan berjubah kuning, apakah bhante merasa canggung?

Tidak, biasa-biasa saja, karena saya memang suka yang nyentrik-nyentrik. Juga tentang jubah saya yang warnanya lain sendiri ini, saya tidak merasa canggung, ‘kan tidak melanggar sila.

Apakah sejak kecil bhante kurang mendapat pendidikan agama non-Buddhis?

Justru penuh! Sejak belum bersekolah (4 tahun), saya sudah ïkut sekolah minggu agama terdahulu. Mempelajari ajarannya mulai kelas 5 SD, Masuk SMP, anak-anak belum nakal, saya sudah nakal; anak-anak mulai nakal, saya sudah baca buku-buku filsafat.

Di antara semua ajaran Sang Buddha, materi/bidang ajaran apa yang paling bhante suka?

Selain ajarannya tentang Hukum Karma dan Tumimbal Lahir, saya paling suka dengan meditasi, karena sejak SMP saya memang suka meditasi (bahkan yang aneh-aneh) cuma arahnya tidak jelas. Nah, sejak mendapat bimbingan dari Bhante Jinaphalo (bhikkhu tertua di Indonesia yang meninggal pada usia 113 tahun) di tahun 1980 —sebagai guru pertama— saya baru mempelajari meditasi Buddhis yang sesungguhnya. Karena usianya juga sudah lanjut beliau mengajarkan jurus-jurus meditasi yang kuno-kuno, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Bila ditinjau secara Buddhis, apakah benar, bhante?

Waktu itu saya tidak mengerti secara Buddhis, tapi yang jelas saya mempunyai hal yang bisa memberikan alasan/jawaban yang masuk akal, jadi saya mantap.

Mengapa bhante tertarik dengan meditasi?

Ini ada hubungannya dengan hal lain. Setelah mempelajari Agama Buddha lebih lanjut, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Agama Buddha adalah agama praktek, bukan agama teori. Meskipun hafal seluruh isi perpustakaan Narada ini, tapi kalau tidak dipraktekkan, tidak ada gunanya bagi hidup, paling-paling untuk diskusi Dhamma, untuk debat. Padahal Dhamma ajaran Sang Buddha adalah ajaran untuk hidup, bukan ajaran untuk diperdebatkan, untuk ditonjolkan, tapi untuk dilaksanakan sehingga memberikan ketenangan batin. Sarana yang paling cepat dalam hal ini adalah dengan meditasi, dan meditasi yang bisa ‘fulltime’ (penuh) adalah dengan menjadi bhikkhu, jadi ini erat kaitannya.

Apakah benar bhante dikenal sebagai bhikkhu hutan?

(Beliau tersenyum sejenak sebelum menjawab…)

Ceritanya begini: Ketika di Thailand itu, saya belajar meditasi satu setengah tahun di bawah bimbingan Lueng Phu Thate, di daerah Nonkhai. Karena meditasi membutuhkan tempat yang tenang agar pikiran tidak mudah menyimpang, maka saya coba tinggal di hutan bersama guru saya. Dan karena seorang bhikkhu yang melatih meditasi tinggalnya di hutan, maka sering disebut bhikkhu hutan.

Hutan biasa atau hutan khusus, bhante?

Hutan biasa, di tepi sungai Mekhong, kurang lebih 2 km dari rumah penduduk terdekat. Sebagian sudah ada yang dibangun dhammasala, uposathagara dan kuti-kuti, sehingga para bhikkhu dapat tinggal di sana walaupun jarak antar kuti cukup jauh. Setiap pagi kami menyeberangi sungai Mekhong untuk berpindapatta ke desa, walaupun terkadang umat suka masak di vihara.

Bagaimana dengan binatang buas yang ada di hutan itu?

Binatang buas yang paling banyak adalah ular, termasuk yang berbisa. Di atas atap kuti tempat saya tinggal, berdiam tiga ekor ular hijau berekor merah yang cukup beracun. Kalau saya diam bemeditasi, ular-ular itu juga diam tenang, tapi begitu saya berniat mengusirnya, baru saja ambil kayu, ular itu sudah turun dan mau menyerang saya. Dari sini saya simpulkan bahwa sesungguhnya kalau pikiran kita positif, semua hasil yang kita terima akan positif, tetapi kalau pikiran kita negatif, hasilnya juga negatif. Ada ular merayap di kaki, kalau kita berpikir positif dan tenang, ular tidak akan menggigit, diam saja, tapi kalau kita ingin mengusir, pasti digigit. Ini cara berpikir positif yang langsung diterapkan. Inilah satu manfaat dengan tinggal di hutan, belajar langsung dari alam bagaimana seharusnya kita berbuat, belajar langsung dari kehidupan aslinya untuk hidup. Belajar hidup dalam kehidupan untuk hidup.

Bagaimana perasaan bhante ketika pertama kali masuk hutan?

Pertama ngeri juga, tapi kemudian timbul pikiran: Kenapa saya harus ngeri, apa yang saya takutkan? Apakah saya takut mati karena ular, dsb? Kenapa harus takut mati, bukankah orang hidup cepat atau lambat akan mati juga?

Tapi ‘kan kita berusaha untuk menghindarinya, bhante?

Ya, tapi itu perlu direnungkan! Kemudian berpikir lagi: Semuanya sudah ditinggalkan, kenapa saya masih harus melekat dengan badan ini, dengan kehidupan ini? Mati pun suatu ketika akan saya alami, karena itu saya jalani saja, dan buktinya juga tidak mati sampai sekarang, masih bisa berbincang-biricang dengan kalian.

(Kamipun langsung tertawa).

Sekarang bhante masih suka meditasi di hutan?

Sementara tidak, karena di Indonesia belum ada hutan yang sesuai. Tapi bersamaan dengan pembangunan vihara di Blitar, akan dibangun pula pusat latihan meditasi untuk kawasan Jawa Timur di dekat desa Wlingi, Blitar yaitu suatu hutan, bukit kecil seluas 8500 m2 (yang sekarang sudah seluas 60.000 m2).

Apakah menjadi bhikkhu itu enak, bhante?

Memang banyak orang bilang bahwa jadi bhikkhu itu enak, makan gratis, tidur gratis, pakaian gratis, obat-obatan gratis dsb. Lalu kalau enak, kenapa bhikkhunya tidak ribuan orang? Memang yang diceritakan enaknya saja, tanpa melihat sisi lainnya. Seperti halnya dua sisi mata uang logam, demikianlah seorang bhikkhu mempunyai dua misi dalam kehidupannya. Karena itu jubah dibuat dua, kanan dibuka, kiri ditutup. Walaupun hal ini telah dijelaskan oleh Sang Bhagava, bagi saya mempunyai arti yang lain yaitu untuk mengingatkan antara lahir dan batin. Bahwa yang dibuka adalah tulang dan daging yang bertekad melepas, meninggalkan keduniawian, mengurangi lobha, dosa, dan moha dengan memperdalam meditasi dan menjalankan dhamma dan vinaya. Sedang yang ditutup adalah fungsi di dalam masyararakat bahwa seorang bhikkhu harus menyantuni/melayani umat, harus menyebarkan Dhamma dan mengemban misi khusus dalam masyarakat Buddhis. Kadang-kadang kedudukannya tidak seimbang antara pribadi dan fungsinya ini. Karena itu kalau ia seorang bhikkhu yang sungguh-sungguh, kanan dibuka kiri ditutup, ada satu manfaat, ada satu jalan. Jalan Tengah dalam kebhikkhuan. Jadi kalau mengatakan jadi bhikkhu enak, memang fisiknya enak, tapi batin harus lebih dijaga, karena tugas seorang bhikkhu adalah mengikis lobha, dosa, moha, mengurangi kejahatan, menambah kebaikan dan menyucikan hati dan pikiran.

Manfaat apa yang terutama bhante terima selama menjadi bhikkhu hingga saat ini?

Yang jelas, ketika saya menjadi bhikkhu, saya mempunyai kesempatan untuk melaksanakan sila sebaik-baiknya. Keinginan saya sejak SMP terpuaskan, karena orang tidak akan heran bila seorang bhikkhu puasa karena tugasnya memang melatih diri mengurangi lobha, dosa, moha.

Kalau bhikkhu lain ada yang makan dua kali sehari, terserah. Saya cukup sehari sekali. Malah kadang saya puasa untuk mengurangi lobha terhadap makanan, dan tetap terjaga setelah jam 12.00 tiap malam.

Apa tidak ada maksud lain dalam berpuasa?

Ya itu tadi, untuk mengurangi lobha, dosa, moha, karena saya belum mencapai taraf yang lebih tinggi yang dapat mengatasi nafsu itu.

Tidak mengganggu kesehatan, bhante?

Saya sudah menjalankan ini dua setengah tahun, bukan satu dua minggu saja, tapi tidak apa-apa (bhante memang tampak sehat dan penuh vitalitas hidup), karena saya sudah mempunyai takaran sendiri, tidak memaksakan. Selain itu juga, saya lebih meningkatkan latihan meditasi saya.

Apakah mempunyai jadwal khusus untuk bermeditasi?

Jelas, karena meditasi adalah untuk mengatur cara berpikir, melatih daya berpikir, bukan untuk kesaktian, bukan untuk berdoa, bukan untuk mengatur nafas. Jadi harus disiplin. Kalau kita bisa disiplin dengan badan kita, kita juga harus bisa disiplin dengan batin kita yang lebih halus.

Karena itu Vinaya memang menentukan. Kalau vinayanya tetap dan penuh, kemungkinan (tidak selalu) untuk mengembangkan meditasi lebih besar. Tapi kalau vinayanya saja sudah kendor, ya susah deh.

Di luar itu semua, selama ini bhante pernah ke daerah mana saja (di Indonesia)?

Karena saya mempunyai daerah pembinaan di Jawa Timur —sebagai Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Jawa Timur— maka sebagian besar aksi saya di Jawa Timur, khususnya di Blitar yang merupakan basis Agama Buddha di Jawa Timur, dan di Banyuwangi.

Bagaimana perkembangan umat Buddha di sana?

Umat Buddha di sana seratus prosen pribumi, tapi mereka mempunyai semangat juang yang besar sekali. Tidak setiap tahun mereka memperoleh seorang bhikkhu, tidak setiap saat mereka dapat melihat seorang bhikkhu, tapi semangat mereka mempertahankan dhamma, baik sekali.

Dalam satu kecamatan saja bisa berdiri dua vihara (yang sangat sederhana) karena banyaknya umat. Masing-masing selalu penuh setiap kali kebaktian. Keinginan mereka demikian besar untuk dapat mendirikan vihara yang besar yang dapat menampung mereka menjadi satu, tapi mereka tidak mempunyai uang.

Karena itu mereka menjual sapi, beras, dll untuk didanakan sebagai dana pembangunan vihara. Ini suatu semangat yang luar biasa yang mungkin orang-orang di kota yang punya jutaan pun belum tentu mau. Dan menurut rencana, vihara yang diidam-idamkan itu akan dibangun bulan September ini, bertempat kurang lebih 400 meter sebelah Selatan makam Bung Karno, Blitar.

Vihara yang besar, yang representatif. Dengan harapan bila orang mengunjungi makam tersebut, tentu akan tertarik untuk mengunjungi vihara ini. Bila ia bukan Buddhis ia dapat mencari informasi tentang Agama Buddha di vihara ini. Vihara ini mempunyai prospek yang cukup bagus dan diharapkan akan menjadi pusat perkembangan Agama Buddha di Jawa Timur.

Apakah ada kesulitan dengan penduduk sekitar atau pemerintah setempat?

Tidak ada sama sekali, karena kepala desanya juga Buddhis. Bahkan dulu pemerintah setempat hendak memberikan sebuah bukit untuk dibangun vihara. Tapi karena umat tidak mampu, tidak diterima dan sekarang sudah didirikan sekolah. Kini, bila umat mampu, bisa beli tanah di sana, dan sudah ada listrik dan air.

Meskipun tempatnya kurang lebih 500 meter di atas permukaan laut, pemandangannya indah sekali, dikelilingi jurang dan gunung-gunung (Gunung Kelud dan Gunung Kawi) dan di hadapannya tampak desa Wlingi dan di kejauhan terlihat kota Wlingi.

Bagaimana pandangan bhante tentang umat Buddha dewasa ini?

Cukup memberikan titik cerah, karena banyak umat Buddha yang kini aktif dalam kegiatan keagamaan.

Apa bedanya antara yang di desa dengan di kota?

‘Sense of belonging’ itu yang beda, meskipun tidak semua. Secara global saya katakan bahwa pada umat Buddha di desa, rasa memiliki keagamaan lebih besar daripada di kota. Bila yang khotbah bukan pandita, mereka mau dengar, kalau yang khotbah pandita, lebih mau dengar; kalau samanera, lebih mau dengar lagi; apalagi kalau bhikkhu.

Tidak demikian halnya dengan umat Buddha di kota. Mereka (sebagian besar) cenderung melihat nama di atas dhamma. Ya, mungkin karena tingkat pemikiran orang-orang di kota lebih canggih, tingkat intelektualnya lebih tinggi, sehingga tidak mau dengar kalau yang ceramah hanya pandita-pandita biasa.

*. BUDDHA CAKKHU No.19/XI/90; Yayasan Dhammadipa Arama