Perjalanan
sejarah Vihara Metta Kirana ternyata membukakan pengertian
yang lebih luhur dalam diri keluarga Bapak Suroto. Mereka
bermaksud mempersembahkan Vihara ini kepada Sangha Theravada
Indonesia. Dengan mengambil waktu yang paling tepat yaitu
Hari Waisaka Puja 2532 / 1988, Vihara Metta Kirana dengan
luas tanah 210 m2 serta bangunan 80 m2 terdiri dari satu
ruangan yang difungsikan sebagai Dhammasala dan satu ruangan
yang sama besarnya untuk kuti, perpustakaan,
ruang tamu, ruang makan dan sekaligus gudang
secara resmi dipersembahkan kepada Sangha. Dalam
kesempatan itu, Sangha Theravada diwakili Yayasan Dhammadipa Arama
menerima persembahan ini dengan mudita citta.
Setelah serah terima berlangsung, maka oleh Sanghanayaka Sangha
Theravada Indonesia, Sri Paññavaro Thera, nama vihara
ini diganti menjadi VIHARA SAMAGGI JAYA, yang artinya PERSATUAN
MEMBUAHKAN KEMENANGAN atau dalam bahasa Jawa sering dikenal sebagai
"Rukun Agawe Santoso".
Dalam usaha mempermudah pengelolaan Vihara
Samaggi Jaya ini maka Sangha Theravada Indonesia menunjuk Bhikkhu
Uttamo yang baru saja kembali dari belajar di Thailand untuk
menjadi ketua vihara. Selain itu, Sangha juga merestui berdirinya
Yayasan Dhammadipa Arama cabang Blitar yang ketuanya dirangkap
oleh Bhikkhu Uttamo. Perangkapan jabatan ini dapat terjadi karena
memang jumlah bhikkhu Sangha Theravada Indonesia saat itu kurang
mencukupi jumlahnya.