Agama Buddha dan Kosmologi

AGAMA BUDDHA DAN KOSMOLOGI

Oleh :
F. Mark Davis

Apabila anda menyukai sesuatu kejutan yang menarik dan menyenangkan hati, saya mempunyai yang anda inginkan itu. Walaupun tidak mengejutkan bagi seorang cendekiawan Buddhis, yang akan saya ceriterakan itu akan mengejutkan anda, apabila anda adalah seorang Barat, yang percaya bahwa hanya kebudayaan Barat saja yang memegang monopoli atas pengetahuan yang ilmiah. Agak menahan untuk tidak segera menerangkan sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, supaya anda tetap memillki perhatian terhadap masalah yang akan saya kemukakan, terlebih dahulu saya hanya akan mengungkapkan secara garis besarnya saja. Yang saya katakan mungkin merupakan kejutan bagi anda itu, adalah sebagai berikut ini. Kita telah memiliki fakta-fakta bahwa para cendekiawan Buddhis, yang hidup di masa-masa awal dari perkembangan Buddhisme, pada saat mana Dunia Barat masih melangkah tersendat-sendat di Zaman Kegelapannya, pada saat itu para cendekiawan Buddhis telah memiliki pengetahuan tertulis yang menerangkan mengenai Kosmos, atau Alam Semesta, yang hampir sangat mirip, dan sangat sesuai dengan apa yang sekarang dikenal oleh para Astronomer dan para Astrophysicist Dunia Barat, yang kompeten.

Mengapa, mungkin anda bertanya, para cendekiawan Buddhis di masa-masa awal dari perkembangan Buddhisme, itu tertarik pada masalah-masalah seperti kosmologi dan struktur dari alam physik, sedang kita semua mengetahui bahwa Buddhisme itu adalah Agama yang perhatian utamanya adalah terhadap masalah-masalah tentang penderitaan manusia dan cara-cara melenyapkannya?. Dan dari hasil analisa yang telah anda lakukan, mungkin anda berpendapat bahwa deskripsi tentang segi physiknya dari alam itu hanya sedikit saja kaitannya atau manfaatnya terhadap masalah penderitaan manusia.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan yang baik dan benar dan saya akan berusaha untuk menjawabnya. Apabila kita berpendapat bahwa sebaiknya prioritas diletakkan pada masalah-masalah sifat-sifat dan tujuan manusia, dan bukan pada masalah sifat-sifat dan asal dari Alam Semesta, maka pemahaman terhadap masalah yang disebutkan terakhir itu tetap bermanfaat, karena dapat memberikan kepada kita pengetahuan tentang sifat-sifat benda-benda seperti apa adanya. Tetapi ini bukan satu-satunya alasan (mengapa para cendekiawan Buddhis di masa-masa awal dari perkembangan Buddhisme, telah menganggap juga perlu membicarakan tentang Kosmologi). Manusia itu dilahirkan, mengalami penderitaan, dan meninggal dunia di dunia-gejala-gejala-alamiah, yang tidak permanen sifatnya. Demikian juga, walaupun kita berpendapat bahwa alam yang berisi penderitaan atau kesengsaraan (yang istilahnya bersifat “samsaric”) ini merupakan “persinggahan sebentar (dalam perjalanan hidup kita yang panjang, melalui tumimbal-lahir secara berulang-ulang atau “reinkarnasi” itu), namun kita juga bertanya : “mengapa kita tidak mempelajari Alam Semesta, agar kita dapat memahami sifat-sifatnya!?!. Dan usaha untuk memahami Samsara (= Penderitaan), yang caranya sama seperti para cendekiawan Buddhis di masa-masa awal dari perkembangan Buddhisme (yang juga dengan mempelajari sifat-sifat dan asal dari Alam Semesta itu), menurut hemat saya merupakan sikap yang terpuji. Atas dasar alasan-alasan yang demikikan itu, maka kita sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya kita tidak perlu heran, kalau kita mendapati adanya deskripsi tentang sifat-sifat dan asal dari Alam Semesta pada teks-teks naskah Buddhisme di masa-masa awal dari perkembangan Buddhisme itu.

Walaupun dibagian belakang dari uraian ini, nanti kita akan membicarakan makrokosmos, namun, sebelumnya, saya ingin mengemukakan sepatah dua patah kata tentang mikrokosmos. Setelah kita meneliti semua uraian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa uraian tentang mikrokosmos itu telah terdapat didalam uraian tentang makrokosmos. Demikianlah, cukup kiranya kalau kita sebutkan bahwa sudah sejak permulaan sejarahnya, Agama Buddha itu telah selalu memiliki theori tentang atom (= atomic theory), walaupun Sang Buddha sendiri tidak menerangkannya sampal ke hal yang sekecil-kecilnya. Sekalipun demikian, Sang Buddha telah menerangkan bahwa bagian yang paling kecil dari zat-zat itu berada didalam keadaan mengalir secara tetap (in a state of constant flux), tidak pernah berkeadaan sama, dari satu saat, ke saat yang lain. Para cendekiawan Buddhis di masa-masa belakangan dari perkembangan Buddhisme, memiliki konsep dan memberikan deskripsinya tentang atom, secara sama seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha.

Mengenai alam yang luas, yang jauh, yang ada disebelah sananya dari alam tempat kita diam ini, diantara semua bangsa-bangsa yang telah memiliki kebudayaan yang tinggi, di zaman kuno, terdapat banyak spekulasi, atau renungan-renungan, yang cukup rasional. Para pemikir Bangsa Yunani dan Bangsa India telah membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan yang menonjol dibidang pemikiran yang rasional, walaupun banyak dari kesimpulan-kesimpulan mereka, dikemukakan pada syair-syair yang penuh fantasi, dan sedikit saja yang dimunculkan dalam bentuk yang lainnya. Sangatlah mengherankan, namun juga sangat sehat dan benar jalan fikirannya, dan merupakan yang pertama kalinya didalam sejarah fikiran-fikiran manusia, bahwa Buddhisme itu hingga sekarang tetap mengemukakan konsepsinya tentang Alam Semesta, yang sangat berarti, jika dibandingkan dengan konsepsinya ilmu pengetahuan modern, tentang Alam Semesta. Untuk meyakinkan anda tentang benarnya pernyataan saya yang saya sebutkan terakhir itu, perkenankanlah saya menceriterakan kepada anda, deskripsi tentang Alam Semesta, yang terdapat didalam naskah Buddhis, yang dinamai “Visuddhimagga”.

Didalam bagian-bagian yang tertentu, dari naskah “Visuddhimagga” itu, diberikan deskripsinya tentang Alam Semesta, yang disebutkan sebagai terdiri atas tiga tingkatan, yang paling kecil, dinamai “Sistem Dunia Minor” (=Minor World System), yang berisi ribuan bintang-bintang. Sistem ini dapat kita bandingkan dengan konsep modern tentang Galaxy Tunggal (= Satu Galaxy), dengan ribuan bintang-bintang, dan yang barangkali didalamnya terdapat planit-planit yang dihuni oleh makhluk-makhluk hidup. Dua contohnya, misalnya Galaxy Bima Sakti (= Milky Way) kita, atau M31, dan Galaxy Andromeda. Tingkatan berikutnya dinamai “Sistem Dunia Pertengahan” (=Middling World System), yang dapat kita bandingkan dengan Kelompok Galaxy-Galaxy, seperti yang telah kita ketahui terdapat pada Coma Berenices, jika kita hanya menyebutkan satu contohnya saja. Kalau pada Sistem Dunia Pertengahan itu terdapat ratusan atau ribuan Galaxy-Galaxy, maka Tingkatan terakhir, Kumpulan Sistem Dunia Pertengahan, yang membentuk “Sistem Dunia Mayor” (=Mayor World System), dapat kita bandingkan dengan yang oleh Hannes Alfven dinamai Metagalaxy. Barangkali sejenis yang dinamai Metagalaxy itu terdapat didalam Gugusan Bintang-Bintang di Langit Sebelah Utara, yang bentuknya seperti Gayung Bertangkai, yang besar, yang dinamai “Kelompok Bintang-Bintang Gayung Besar” (“The Dipper”), yang pada bagian kedalaman dari Gayungnya dikenal sebagai berisi jutaan Galaxy-Galaxy.

Disebelah quasar-quasar (quasar adalah benda angkasa seperti bintang, yang sangat kecil, yang menjadi sumber kosmik, yang memancarkan cahaya dan gelombang-gelombang radio), Galaxy-Galaxy yang ajaib itu, pada lingkaran luarnya dari Alam Semesta, astronomi modern berhenti hanya pada Tingkatan Ke-Tiga saja, karena keterbatasan daya observasinya,- bahkan walaupun dipergunakan peralatan-peralatan penyelidikan yang sangat canggih. Pembatasan ini, tidak harus berarti terdapatnya batasan pada Alam Semesta, karena Alam Semesta itu dapat tetap berkembang terus, tanpa mengalami keterbatasan. Sama seperti itu, teks-teks pada naskah-naskah Buddhisme pada masa-masa awal dari perkembangannya, itu pembahasannya juga tidak berhenti pada Tingkatan Sistem Dunia Mayor saja. Ajaran Buddhisme itu, pernyataan-pernyataan fikiran atau pandangannya cenderung tidak bersifat dogmatis, tetapi mengarah membiarkan fikiran yang bersifat terbuka untuk dipermasalahkan, yaitu disini cenderung tidak memihak kepada pandangan apakah Alam Semesta itu bersifat terbatas atau tidak terbatas.

Edwin Hubble menggolongkan Galaxy-Galaxy itu menurut bentuknya. Dari enam ratus Galaxy-Galaxy yang diselidiki, beliau membaginya menjadi empat golongan, yaitu : (1). Galaxy yang bentuknya elliptical, (2). Galaxy yang bentuknya spiral, (3). Galaxy yang bentuknya spiral berjajar atau bergaris-garis (= barred spiral), dan (4). Galaxy yang bentuknya tidak teratur (= irregular) atau ajaib (= peculiar). Sangatlah menarik perhatian bahwa kepustakaan Buddhis yang ada di masa-masa awal dari perkembangannya, mempergunakan istilah dalam bahasa Pali : “Cakkavala”, sebagai salah satu sinonimnya dari Sistem Dunia (= World System). Tetapi, salah satu dari makna kata “Cakkavala” itu juga berarti “Roda”, dan ini secara suggestif, mengingatkan kita kepada jenis Galaxy-nya Hubble, yang dinamai jenis bentuk spiral. Bentuk-bentuk lainnya tidak disebutkan. Memperbandingkan sebuah Galaxy yang bentuknya spiral, dengan bentuk “Roda”, sangatlah bersesuaian, sama seperti yang sekarang ini telah kita ketahui, yaitu bahwa banyak entitas-entitas cosmic (= benda-benda angkasa) yang tidak hanya bentuknya seperti spiral, tetapi juga ber-rotasi, berputar, didalam cara seperti jalannya Roda. Didalam Galaxy Bima Sakti kita, misalnya, rotasi yang sedemikian itu membawa Matahari dan sistem-sistem planitnya, mengelilingi keseluruhan bagian dari Galaxy, sekali setiap 250 juta tahun. Kesusasteraan berbahasa Pali, yang ada di masa-masa awal perkembangan Buddhisme, tidak hanya menjadi satu-satunya sumber konsepsi-konsepsi dan informasi-informasi cosmic, menurut ajaran Buddhis, sebagai misalnya tentang struktur Galaxy yang bentuknya menyerupai Roda itu. Demikianlah, nanti akan kita ketahui bahwa naskah-naskah Buddhis, dari aliran Mahayana, yang walaupun mempergunakan symbolisme yang puitis, namun mengungkapkan banyak deskripsi-deskripsi yang realistis.

Salah satu dari naskah Buddhis, yang berbahasa Sanskrit, misalnya yang kita kenal dengan nama “Sutra Untaian Bunga” (= Garland Sutra), yang naskahnya sampai ditangan kita, melalui naskah yang berbahasa Cina, yang dinamai “Sutra Hwa Yen”. Didalam naskah tersebut, Sang Bodhisattva Samantabhadra kepada para siswanya yang berkerumun mendengarkan ajaran Buddhisme, antara lain telah berkata sebagai berikut : “Beberapa (dari Sistem Dunia atau Galaxy-Galaxy) itu bentuknya menyerupai Untaian Bunga”.

Kecuali kita mau mengembangkan imaginasi kita, kiranya agak sukar menerima fakta bahwa ada Galaxy yang bentuknya menyerupai sebuah bunga. Namun, jika kita tidak cepat-cepat menanggapinya sebagai fantasi puitis belaka, kita dapat memakai Sutra tersebut sebagai suatu referensi tentang adanya sebuah sistem dunia yang benar-benar riil ada,- yaitu apabila kita menafsirkan bentuk cincin sebagai sesuatu yang menyerupai Bunga. Karena tampaknya ada bukti-bukti nyata bahwa (di Alam Semesta ini) terdapat awan-awan gas intergalactic, yang tidak nampak, baik oleh telescopy optical, maupun telescopy radio. Beberapa astronomer percaya bahwa struktur yang demikian itu, yang bentuknya menyerupai ombak atau awan, dapat menyerupai bentuk bunga. Hal yang demikian itu, terjadi apabila ada perbenturan antara sebuah Galaxy dan sebuah gas, yang lalu menimbulkan sebuah “ledakan” gas-gas antar bintang-bintang, yang timbul dari Galaxy yang bentuknya menyerupai cincin awan. Awan gas yang demikian itu, kata para astronomer, dapat berisi bilyunan bintang-bintang.

“Beberapa (dari kumpulan Galaxy-Galaxy itu) adalah maha luas, seluas Samudera”, demikian bunyi selanjutnya dari teks naskah Buddhis, yang tersebut diatas, yang menunjukkan bahwa (di Alam Semesta ini) banyak terdapat Galaxy-Galaxy yang luar biasa besar atau luasnya, sehingga dapat kita misalkan seperti Sandera.”

“Berputar-putar seperti Roda Maha Besar yang menggelinding”, demikian permulaan kalimat pada teks berikutnya, yang mengingatkan kita bahwa itu tepat sesuai dengan yang terdapat pada teks berbahasa Pali, yang sudah kita sebutkan terdahulu, yang dinamai “Cakkavala”.

Bagian yang agak akhir dari kalimat yang sama, yang kita pelajari, berbunyi sebagai berikut : “Beberapa (dari Galaxy-Galaxy itu) bentuknya ramping “suatu pernyataan yang memberikan gambaran bahwa itu sangat mirip dengan yang dinamai Galaxy golongan yang bentuknya seperti spiral yang berjajar-jajar atau yang bergaris-garis. Galaxy-Galaxy yang demikian ini, dapat kita lihat pada konstellasi-konstellasi Cetus, Pegasus dan Hercules; dan Galaxy yang disebutkan terakhir itu memiliki penampakan yang sangat ramping, dengan spiral-spiralnya yang jarang nampak.

“Beberapa (dari Galaxy-Galaxy itu) berkeadaan kecil”, demikian kalimat selanjutnya yang terdapat didalam teks tersebut diatas. Pernyataan ini benar-benar merupakan suatu kenyataan, walaupun yang jenisnya seperti Galaxy-nya Seyfert itu berkeadaan kecil, jika kita bandingkan, katakanlah, dengan Galaxy Bima Sakti kita atau M31. Masih lebih kecil lagi, adalah quasar-quasar, yang letaknya sangat jauh dari tempat kita. Cahaya yang memancar dari daerah quasar 3C273, misalnya, kurang dari satu tahun cahaya diameternya; dan, paling sedikitnya, satu quasar itu mungkin memiliki tali central, atau garis central, yang kurang dari satu minggu cahaya.

“Karena mereka (Galaxy-Galaxy) bentuknya tak terhitung jumlahnya”, demikian yang dapat kita baca pada teks Sutra yang kita ambil sebagai contohnya, yang memberi saran kepada kita tentang terdapatnya konfigurasi-konfigurasi galactic lainnya, selain yang disebutkan dalam penggolongan bentuk galaxy menurut Hubble. Dalam hal lain, kalimat-kalimat yang terdapat pada teks Sutra tersebut di atas, mungkin menunjuk kepada unit-unit cosmic lainnya, selain Galaxy-Galaxy, yang tentang hal ini, beberapa keterangannya dapat disajikan sebagai berikut ini.

  • “Dan (mereka: Bintang-Bintang atau Galaxy-Galaxy itu) berputar-putar, didalam berbagai cara ………………………..
  • Beberapa dari Dunia-Dunia itu bentuknya menyerupai Roda yang menyala-nyala”,

demikian bunyi dua kalimat berikutnya. Komentar lebih lanjut yang karena diuraikan secara berulang-ulang, (karena mungkin agak membosankan) kita lampaui membicarakannya.

“Sebuah Gunung Berapi”, demikian dapat kita baca pada bagian permulaan dari kalimat berikutnya, adalah suatu (contoh yang tepat) yang perlu kita utarakan, karena merupakan satu dari dua tafsiran (yang baik untuk kita renungkan). Pertama-tama, marilah kita pelajari sifat-sifat sebuah Gunung Berapi.!

Beberapa Gunung Berapi itu meletus dengan ledakan yang dahsyat, terutama yang kawah-kawah atau kepundannya berisi lava yang padat. Gunung-Gunung Berapi sebagai misalnya Gunung Pelee di India Barat Wilayah Perancis, dan di Gunung Lassen Peak California, yang merupakan jenis Gunung Berapi yang kawahnya berisi lava yang padat, apabila meletus, akan memuntahkan lava-lavanya, tidak pada lubang kepundannya atau kawahnya, tetapi pada bagian samping dari lereng-lerengnya, yang sering dengan menimbulkan bencana-bencana (yang cukup dahsyat). Tanyalah kepada diri anda sendiri, entitas cosmic atau benda angkasa apa, yang dapat meletus seperti sebuah Gunung Berapi itu?.

Tentu saja, jawabannya, adalah : “Galaxy-Galaxy. Dan bencana gempa bumi yang maha dahsyat, seperti apa yang akan terjadi, kiranya dapat kita bayangkan! Tampaknya sukar dipercaya keterangan yang mengatakan bahwa keseluruhan bagian dari sebuah Galaxy, itu meletus semuanya. Namun, hal yang demikian ini merupakan suatu fakta, seperti yang diungkapkan oleh telescopy radio. Quasar-quasar tertentu juga dapat ditentukan, pada suatu ketika akan aktif, dan meledak. Quasar 3C273 telah menunjukkan pernah melemparkan bagian-bagiannya yang terdiri dari zat-zat tertentu, seluas hingga 250.000 tahun cahaya, suatu jarak yang dua kali lebih panjang dari diameternya Galaxy Bima Sakti kita. Walaupun penyebab dari gejala tersebut itu tidak kita ketahui (secara pasti), namun dapat kita duga bahwa penyebabnya adalah ledakan yang maha hebat. Juga, kemudian dapat kita ketahui bahwa M87 yang terdapat pada Virgo adalah merupakan suatu Galaxy yang sedang meledak, seperti sebuah photo menunjukkan, terdapat sejumlah maha besar dari zat-zat tertentu, yang terlempar keluar dari intinya.

Dibawah tingkatan Galaxy, Unit lainnya, yang meledak, yang mempunyai arti (yang cukup besar), adalah Bintang ( = Star), yang kadang-kadang terdapat pada Galaxy-Galaxy yang jauh dari tempat kita, dan kadang-kadang terdapat didalam Galaxy Bima Sakti kita. Setiap waktu, sekarang, atau kapan saja, tanpa ada pemberian tahu atau tanda-tandanya terlebih dahulu, sebuah Bintang yang tidak berarti, yang lemah, tiba-tiba dapat mengintensifkan kecemerlangan cahayanya, hingga satu juta kali atau lebih, dari yang semula. Bintang yang demikian itu, menjadi sebuah Bintang “Nova”, atau Bintang “Supernova”, tergantung besar kecilnya kecemerlangan cahayanya. Tidaklah kami lebih-lebihkan keterangan kami, kalau kami katakan bahwa didalam sejarah, Bintang Supernova yang paling berarti, adalah yang terlihat pada musim panas pada tahun 1054 A.D. Catatan dari peralatan perbintangan Tiongkok, mencatat bahwa “Bintang Tamu”, yang dijuluki demikian, yang tampak didalam Taurus, bercahaya dengan sangat terang, seterang Venus pada malam hari, dan tampak siang dan malam, selama 23 hari. Kemudian setelah delapan puluh malam (dari waktu yang periodenya dua tahun), Bintang “Supernova” itu memudar, dan lenyap. Sekarang ini, Nebula Kepiting, yaitu nama bagi Awan Gas Supernova, yang maha besar, menjadi objek penyelidikan astronomi, yang sangat intensif.

Alasan pemberian nama yang demikian itu, ialah karena terdapat fakta bahwa Awan Gas yang telah terpecah-pecah, yang lalu menghasilkan sebuah Nebula, itu menyelimuti sebuah Bintang Neutron yang sangat padat, dan sangat kecil, yang juga dikenal dengan nama Pulsar. (Pulsar adalah sumber cosmic, yang memancarkan signal-signal radio). Sebuah Pulsar, sama dengan sumber cosmic lainnya, itu memperoleh nama yang demikian, karena terdapatnya fakta bahwa sumber cosmic tersebut memiliki kecepatan perputaran yang hampir sukar dipercaya, misalnya Pulsar Kepiting (Crab’s Pulsar), perputarannya hingga tiga puluh kali putaran per detik. Kelak, setelah melampaui masa sepanjang aeon, atau berjuta-juta tahun, atau bahkan bilyunan tahun, pulsar itu akan menurun kecepatan gerakannya, dan pada suatu saat, apabila waktunya telah tiba, menjadi berhenti sama sekali; hal yang demikian ini menjadi objek diskusi yang paling menarik dan luas pembahasannya didalam astronomi modern. Dan hal tersebut, menjadi topek dari uraian kita berikut ini.

“Istilah “Mulut Singa” (= Lion’s Mouth) disebutkan sesudah istilah Gunung Berapi. Pertama-tama, perumpamaan ini tampaknva merupakan suatu teka-teki yang mysterious; tetapi apabila kita fikirkan dalam-dalam, untuk mencari yang dimaksudkan, yaitu dengan memperhatikan kebiasaan hewan jenis kucing (harimau, atau singa), maka akan muncul maknanya. Mulut Singa itu memakan daging-daging dari hewan-hewan lainnya. Benda Angkasa apa gerangan, yang keadaannya seperti Mulut Singa, yang memakan segala sesuatu yang terdapat didalam pengaruh gravitasi (daya tarik)-nya?.

Jawabannya, kami yakini benar, adalah : sebuah “Lubang Hitam” (= Black Hole). Agar keyakinan bahwa istilah “Mulut Singa” itu benar-benar merupakan suatu perumpamaan yang tepat, yaitu mewakili sebuah “Lubang Hitam”, maka marilah kita bicarakan gejala alam yang sangat menarik ini, secara lebih dekat lagi.

Dibawah kondisi yang tertentu, sebuah pulsar itu dapat mengalami menjadi mengecil (seakan-akan diperas), sampai dibawah diameter-nya, sehingga dapat terkurangi besarnya sampai hanya enam kilometer saja, atau kurang. Setelah demikian, sesuatu peristiwa yang sangat luar biasa terjadi. Pertama-tama, baiklah kami berikan keterangannya, sebagai berikut ini.

Cahaya itu menurut theori relativitas, mempunyai massa (= mass); oleh karena itu terkena pengaruh daya tarik. Demikianlah, kita juga dapat menerangkan bahwa cahaya yang memancar keluar dari sesuatu Bintang, itu dalam batas-batas tertentu mengalami hambatan oleh lapangan gravitasi dari Bintang itu sendiri. Daya tarik dari sesuatu Bintang yang dimensinya normal, – katakanlah yang diameternya 1.600.000 + kilometer -, itu tidaklah cukup besar untuk menahan pancaran cahaya yang keluar dari Bintang tersebut. Sebaliknya, dari keadaan yang demikian itu, apabila zat dari sesuatu Bintang itu terperas menjadi keadaan yang sangat padat, kekuatan gravitasinya menjadi sangat mentakjubkan kehebatannya. Keadaan demikian sering terjadi pada inti neutron dari sebuah Bintang yang meledak. Apabila inti yang demikian itu mengerut sampai menjadi radius beberapa kilometer, daya tarik permukaannya menjadi bilyunan kali lebih besar dari daya tarik Bintang yang normal. Daya tarik dari kekuatan yang fantastic itu lalu mencegah segala sesuatu, – bahkan cahaya yang sifatnya tidak padat dan sangat ringan itu pun tidak luput dari sedotan daya tariknya. Dari sejak saat itu Sang Bintang lenyap dari Alam Semesta, dan timbul gejala alam yang berwarna Hitam; itu lalu menjadi Lubang yang tidak tampak, atau Black Hole. Dan, sama keadaannya seperti Mulut Singa, yang sifatnya garang, dan suka memakan hewan-hewan lainnya, demikian jugalah “Sang Lubang-Hitam” itu “Memakan” segala sesuatu yang berada dilingkungan dekatnya, dengan garangnya.

Apakah kita yakin bahwa Lubang Hitam itu benar-benar ada!?!. Tidak, sebabnya ialah karena Lubang Hitam itu tidak tampak; itu hanya mungkin ada didalam theorinya saja. Namun, Astronomi yang mempergunakan sinar – X, secara sementara telah memberikan bukti bahwa Lubang-Hitam (- Black Hole) itu benar-benar ada, sungguh-sungguh bersifat rill. Kita katakan demikian, karena observasi dengan mempergunakan sinar – X yang dibuat oleh Sateliat dan Rocket-Rocket telah mengungkapkan adanya sumber sinar – X yang sangat kuat di Cygnus, yang dinamai Bintang Salib Utara (= Northern Cross). Yang dinamai Cygnus X-1, sumber sinar- X ini terletak dekat Bintang Super Raksasa (Bintang yang luar biasa besarnya), yang merupakan anggota dari Binary Spectroscopic; suatu Binary Spectroscopic, adalah Sepasang Bintang yang tidak nampak sebagai terpisah. Bintang Anggotanya, didalam hal ini, tampaknya merupakan Sumber sinar – X-nya. Tetapi, apa yang dikerjakan sinar-sinar-X ini terhadap Lubang Hitam?. Penjelasan mengenai hal ini, kami sampaikan dalam tata urutan sebagai berikut ini.

Apabila Bintang-Bintang Binary, yang normal, itu berdekatan dalam jarak yang cukup dekat, maka kekuatan daya tarik dari masing-masing Bintang menyebabkan adanya saling tukar menukarnya zat-zat. Dalam hal lain, apabila salah satu dari Bintang tersebut, adalah Lubang Hitam, tidak akan terjadi saling tukar menukarnya zat-zat, tetapi terjadi satu aliran yang mengarah ke satu arah saja, yang bergerak menuju ke Lubang Hitam. Karena terdapatnya gas dari Bintang yang normal, yang ada di dekat Lubang Hitam, maka lalu tercipta kekuatan berputar (yang menyedot zat-zat); gerakan gas-nya akan mempercepat daya berputarnya menjadi sangat luar biasa tinggi perputarannya, ini disebabkan karena Sang Lubang Hitam itu mempunyai daya tarik yang zat-zat yang tertarik tak mampu menahan dirinya (untuk tersedot). Ketika zat-zat (yang tersedot) itu mendekati Lubang Hitam, partikel-partikel gas yang bergerak secara sangat cepat itu, bertubrukan, yang satu dengan yang lainnya, dan menimbulkan panas yang luar biasa hebatnya, serta membentuk aliran sinar-sinar-X yang sangat energetic. Walaupun beberapa Astronomer mengingatkan kepada kita bahwa Pulsar-Pulsar itu juga memancarkan sinar-sinar-X, terdapatnya radiasi yang disebutkan dimuka tadi, membimbing para Astronomer lainnya untuk percaya bahwa Lubang Hitam itu sungguh-sungguh ada pada Cygnus.

Mengenai “Mulut Singa”, Sutra (teka dari naskah Buddhis) yang kita pelajari, selanjutnya tidak menyebut-nyebut lagi. Namun, sesudah itu, kita mencatat bahwa, pada bagian akhir dari kalimat dalam teks yang sama, terdapat beberapa jenis Sistem Dunia, yang dikemukakan deskripsinya sebagai berbentuk menyerupai bentuk Kerang-Kerang Laut. Deskripsinya yang dikemukakan, sangat jelas, menggambarkan Galaxy yang bentuknya spiral; tentang hal ini, karena (jika kami kemukakan keterangannya, mungkin agak membosankan, sebab dikemukakan secara berulang-ulang), keterangan-keterangannya tidak kami sajikan. Demikianlah, kami lampaui saja, membicarakannya (tentang Galaxy-Galaxy yang bentuknya seperti Kerang-Kerang Laut itu).

Setelah kita lampaui beberapa bagian dari Sutra (teks dari naskah Buddhis itu), akhirnya dapat kita baca keterangan sebagai berikut ini : “Beberapa dari Dunia (yang ada di alam Semesta ini) bentuknya Bulat, dan yang lainnya bentuknya Persegi).” Mengenai hal ini, paling sedikitnya dapat kita katakan kalimat itu merupakan suatu teka-teki yang mysterious. Diluar kalimat yang ajaib ini, dapat kita baca dua kalimat yang nampaknya uraiannya berlebihan; kita katakan demikian, karena kita telah membicarakan tentang masalah Galaxy-Galaxy dan Bintang-Bintang yang meledak.

Adapun bunyi kalimat yang dimaksudkan itu adalah sebagai berikut ini :

  • Beberapa dari Sistem-Sistem Dunia itu kehidupannya, hanya sepanang satu Kalpa,
  • Sedang (Sistem-Sistem Dunia) yang lainnya kehidupannya, sampai ratusan Kalpa, bahkan ribuan Kalpa, atau bahkan hingga waktu abadi yang periode-nya ber-aeon-aeon.

Setelah kita lewati beberapa bagian dari teks tersebut, lalu dapat kita baca kalimat sebagai berikut ini :

  • Banyaklah dari (Sistem-Sistem Dunia) yang keadaannya Baru (baru saja tercipta), dan yang lainnya berada pada saat-saat akan mengalami kemundurannya.
  • Sedang banyak dari (Sistem-Sistem Duma) yang lainnya lagi, segera akan mengalami titik henti (dari kehidupannya).

Kalau kita tangkap pengertiannya, atau kita anggap, bahwa yang disebut sebagai (Sistem-Sistem Dunia), disini, lebih menunjuk kepada Bintang-Bintang, dan kurang menunjuk kepada Galaxy-Galaxy, maka kita dapat mengetahui bahwa Bintang-Bintang yang Tua umurnya, itu ada, – khususnya yang terdapat didalam Galaxy-Galaxy yang berbentuk eliptical. Apabila sebagian besar dari Bintang-Bintang didalam Galaxy yang demikian itu, berkeadaan Tua umurnya, maka Galaxy-Galaxy yang bentuknya elliptical itu sendiri haruslah juga Tua umurnya. Bertentang dengan itu, Galaxy-Galaxy yang bentuknya ajaib, tampaknya khusus berisi banyak Bintang-Bintang Muda yang terang sinarnya, tetapi hanya memiliki Bintang-Bintang yang Tua umurnya, dalam jumlah yang sedikit saja. Tampaknya ini menunjukkan bahwa Galaxy-Galaxy yang demikian itu relatif berkeadaan Muda. Tetapi pernyataan yang demikian itu, tidaklah selalu benar. Mengapa?. Karena didalam ruang antar Bintang-Bintang dan sesuatu Galaxy, gas dan debu itu memiliki kepadatan yang sangat jarang. Dengan adanya daya tarik dan kesempatan untuk saling bertubrukan, zat-zat yang kepadatannya jarang, itu tertimbun selama aeon (jutaan atau biyunan tahun), dan membentuk suatu Awan Maha Raksasa. Begitu Awan yang sangat besar itu mengalami pertumbuhannya, perbedaannya makin menjadi satu, dan lalu menjadi Bintang-Bintang Embryonic, atau Proto-Bintang Proto-Bintang. Didalam Galaxy Bima Sakti kita, misalnya, Nebulae tertentu, Nebula Besar didalam orien, misalnya, jika kita hanya mengambil satu saja sebagai contohnya, adalah Induk Cosmic yang mengarah ke terciptanya Proto-Bintang yang demikian itu. Apabila demikian keadaannya, bagaimana caranya sebuah Proto-Bintang itu menjadi Tungku-Api Hydrogen, yang masak, atau yang dewasa?.

Dengan aksinya daya tarik, yang tetap bertahan terus, sebuah Proto-Bintang menjadi mengalami keadaan yang lebih padat lagi. Tekanan-tekanan yang terbentuk, selanjutnya, menghasilkan panas. Dalam waktu yang bersamaan, katakanlah sepuluh juta tahun atau lebih, temperatur dari Proto-Bintang itu naik sampai berjuta-juta derajat, dan Inti-Inti Hydrogen yang saling bertubrukan dengan energi yang cukup besar, ber-counter-aksi terhadap kekuatan elektris yang melawannya, yang biasanya memisahkannya. Pengaruh dari saling berbenturannya, atau bertubrukannya Inti-Inti Hydrogen itu, menyebabkan Atom-Atom Hydrogen itu menyatu dan membentuk Helium. Lalu, – mungkin anda bertanya, bagaimana caranya, apa yang tadinya berupa Awan Gas itu, kemudian dapat menjadi sebuah Bintang yang bersinar dengan terangnya, secara penuh?. Sekarang, Sang Bintang itu mulai “dapat menghidupi kehidupannya sendiri”; dan barangkali sesudah dua puluh juta tahun atau lebih, lalu mengalami keadaan yang stabil, yang mantap, yaitu setelah tekanan dari luar, yang berasal dari fusinya Inti-Inti yang memiliki panas yang luar biasa hebatnya, telah dapat seimbang dengan tarikan kedalam dari gravitasinya. Kemudian, untuk beberapa bilyun tahun kemudian, kehidupan Sang Bintang tetap dapat berkeadaan seimbang.

“Lamanya kehidupan dari beberapa Sistem Dunia itu hanya berlangsung satu Kalpa”, demikian dapat kita baca pada Sutra (dari naskah Buddhis, yang kita pelajari). Apabila pernyataan ini kita terapkan untuk kehidupan sebuah Bintang yang besar, maka pernyataan ini tepat, dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan Astronomi yang ilmiah. Karena (ilmu pengetahuan Astronomi yang ilmiah) menerangkan bahwa, makin besar massa-nya sesuatu Bintang, maka makin kecil, atau makin pendek-lah umur Bintang itu. Menurut Tradisi India, yang dinamai Satu Kalpa, itu adalah perhitungan waktu, yang periodenya, kurang dari Empat Sepertiga Bilyun Tahun. Demikianlah (dapat kita katakan bahwa), apabila sebuah Bintang yang massanya besar, yang kehidupannya hanya berlangsung selama satu Kalpa, jangka waktu kehidupannya itu, memang pendek saja, jika dibandingkan dengan sebuah Bintang yang relatif kecil massanya. Oleh karena itu, ilmu Astronomi menerangkan bahwa sebuah Bintang yang massanya kurang dari Sembilan puluh persen dan massanya Matahari kita, itu dapat mengeluarkan cahaya selama tiga trilyun tahun. Dan jangka waktu yang luar biasa lamanya ini, enam puluh persen, lebih besar, dari perkiraan mengenai umur (suatu bagian tertentu dari) Alam Semesta. Demikianlah, kalau kita ungkapkan dengan suatu permasalahan yang puitis, Dunia-Dunia yang demikian itu dapat mempunyai masa kehidupan yang “ber-aeon-aeon” (berjuta-juta tahun, berbilyun-bilyun tahun, atau mungkin bertrilyun-trilyun tahun), hingga kita bayangkan sebagai kehidupannya bersifat tak terbatas, atau abadi”.

Helium itu mengalami penimbunan-penimbunan pada inti Bintang, sebagai akibat dari berfusinya Hydrogen. Apabila Helium telah tertimbun dalam jumlah yang amat banyak, maka Bintang mulai mengalami Masa-Tua-nya; dan Masa Tua ini merupakan saat menjelang tibanya kematiannya. Tetapi, sejumlah amat besar dari Hydrogen itu tetap masih berada di lapisan bagian luar dari Bintang, yang cenderung mengalami pengerutannya, yang lalu menjadi makin panas, sehingga itu dapat mengalami fusi. Begitu Bintang itu mulai kekurangan bahan bakarnya, bertentangan dengan yang kita harapkan, atau kita sangka, Bintang itu menjadi makin cemerlang cahayanya. Setelah bagian paling besar dari Hydrogen dari Bintang, itu berubah menjadi Helium, intinya mengerut, karena kena gravitasi. Dalam waktu yang bersamaan, temperaturnya lalu naik, hingga Helium itu sendiri mulai berubah menjadi elemen-elemen yang lebih berat. Kemudian Sang Bintang mengalami pertambahan kecemerlangan sinarnya, sedang lapisan luarnya meluas, sampai sejauh tertentu, sehingga apabila Bintang tersebut mempunyai Planit-Planit, banyak dari Planit-Planitnya itu ditelan oleh Bintang tersebut. Selanjutnya, Bintang tersebut menjadi bintang yang dinamai Si raksasa Merah (= Giant Red), sebagai misalnya Betelgeuse dan Antares. Sekali lagi, Sang Bintang tersebut lalu mengerut dalam periode waktu yang singkat, setelah itu Sang Bintang menggembung lagi menjadi Bintang “Raksasa Merah” yang luar biasa besarnya. Dengan sekarang sebagian besar dari bahan bakarnya berkurang, inti Bintang tersebut berubah menjadi “Si Cebol atau Si Kecil, yang berwarna putih” (White Dwarf), dengan lapisan-lapisan luarnya lenyap menghilang ke Angkasa. Akhirnya, tiba saatnya, setelah habis bahan bakarnya, “Si Cebol Putih” itu menjadi dingin, yang pada akhir dari riwayatnya, berubah menjadi batu-arang, yang tak mungkin lagi menjadi bahan bakar api lagi. Dalam hal yang lain, bagian terbesar dari Bintang-Bintang “Raksasa Merah” itu pada saatnya akan meledak, menjadi : “Novae, Pulsar-Pulsar dan akhirnya menjadi Lubang Hitam.

Walaupun bagian sisanya dari Sutra (teks Buddhis yang kita pelajari) itu hanya berisi sedikit uraian kosmologi, namun karena cukup menarik, berikut ini kami sajikan pernyataan atau keterangannya mengenai Bintang (yang kami rasa cukup penting) sebagai berikut ini :

  • “Banyaklah Sistem-Sistem Dunia yang memiliki Planit (seperti Bumi), yang tanahnya berbatu-batu karang, yang pecah-pecah dan tajam-tajam.
  • Yang berbahaya dan bersifat dapat menghancurkan (bagi tubuh yang menginjak atau menyentuhnya).”

Kalau yang dikemukakan dalam kalimat tersebut itu mungkin benar di Planit-Planit yang mungkin ada di Galaxy-Galaxy lainnya, dan mungkin benar di Planit-Planit yang mungkin ada didalam Galaxy Bima Sakti kita, maka hal ini terbukti benar, pada Planit di dalam Tata Surya (= Solar System) kita. Agar kita lebih yakin, kita perlu mengadakan penyelidikan, lebih dari pada hanya berdasarkan hasil photo-photo yang dibuat oleh Satelit Viking, mengenai sisi tersembunyinya dari Planit Mars.

Marilah sekarang kita tinggalkan pembahasan kita mengenai isi naskah “Sutra Hwa Yen”, dan perhatian kita kembali kita arahkan ke pembahasan mengenai isi teks Buddhis, yang ada di masa-masa awal dari perkembangannya yang berisi uraian tentang Kosmos. Didalam naskan-naskah tersebut kita memperoleh keterangan bahwa Alam Semesta itu mengalami dua periode besar perubahan : perluasan dan pengerutan. Pandangan ini sangat bersesuaian dengan model modern tentang Alam Semesta yang Ber-Ayun (= Oscillating Universe), suatu theori yang diterima oleh beberapa Astronomer, walaupun masih ada juga beberapa yang menolaknya.

Model ini menyarankan kepada kita untuk menerima theori terkenal, yang dinamai theori “Big Bang” yang uraiannya sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, banyak pada naskah-naskah Astronomi. Mengenai theori tersebut kita cukupkan keterangannya, bahwa theori ini didalam bentuk aselinya, diwarnai dengan pandangan theistis tertentu, yang mengemukakan pandangannya bahwa peristiwa yang dinamai “Big Bang” itu hanya terjadi satu kali saja, tidak pernah terulang lagi. Didalam kita menerima theori Oscillasi itu, dalam hal lainnya, – kita tidak memperhatikan Theori Keadaan Yang Mantap (= Steady State Theory), karena terbukti bahwa theori tersebut tidak tahan terhadap kritik-kritik; sedang jika kita menerima Theori “Big Bang”, maka uraian kita akan menjadi berulang-ulang sama. Pecahan-pecahan dari Bola Api Yang Meledak, akan melayang-layang dan membentuk Galaxy-Galaxy, kata theori “Big Bang” yang aseli, dan akan melayang-layang terus secara abadi. Untuk membuktikannya, kata para pendukung theori ini orang hanya perlu menyadari bahwa Galaxy-Galaxy itu bergerak menjauhi satu terhadap yang lainnya. Ya, kata para pendukung theori Oscillasi, Galaxy-Galaxy itu memang melayang-layang mejauhi satu terhadap yang lainnya; tetapi proses ini tidak berlanjut terus secara tidak terbatas. Karena, pada suatu saat, akan tiba waktunya, kekuatan dari peledakan itu sendiri akan habis tenaga gerakannya, dan daya tarik akan mengambil peranan, dan bagian dari Alam Semesta ini akan berdekatan satu terhadap yang lainnya, dan membentuk dunia zat-zat (= globe of matter) yang lainnya. Pada waktunya kelak, dunia zat-zat itu akan meledak lagi, dan membentuk bagian dari Alam Semesta, yang lainnya. Dan, demikianlah yang selalu terjadi, tampaknya pada aeon (berjuta-juta, atau bahkan bilyunan tahun, atau lebih) di masa yang telah lampau, telah ada bagian-bagian dari Alam Semesta, yang tak terhitung banyaknya, dan di masa-masa yang akan datang pun, akan ada bagian-bagian dari Alam Semesta, yang lainnya, dan demikian selalu terjadi bagian-bagian dari Alam Semesta, yang lama, dan yang baru, secara tidak ada henti-hentinya.

Walaupun nampaknya theori Alam Semesta yang Ber-Ayun-Ayun : Memekar dan lalu Mengerut (= Oscillating Universe) itu dapat diterima dan benar, namun ada dua kesukaran, yang mencegah dapatnya theori itu diterima secara universal. Hanya satu, yang akan kami sebutkan disini, ialah untuk mendemonstrasikan mengapa theori ini, tidak dapat diterima secara universal. Yang kami maksudkan adalah keterangan berikut ini. Kepadatan dari zat di Alam Semesta ini kurang memperoleh perhatian, dalam hal dapatnya berhenti mengalami perluasannya ke arah keluar. Alam Semesta itu akan selalu meluas, kata penentang theori Alam Semesta yang Ber-Oscillasi.

Walaupun tampaknya bukti-buktinya kurang mantap, dalam hal tertentu, semua Astronomer bukan saling tidak setuju. Demikianlah, maka kita lihat terdapat pertanyaan yang masih terbuka untuk dipermasalahkan. Yang mana dari kedua theori itu yang akan diterima, theori “Big Bang” atau “theori Alam Semesta yang Ber-Oscillasi”?. Sampai dengan para Astronomer dapat memberikan jawaban yang konklusif, pertanyaan-pertanyaan semacam berikut ini tetap akan dipertanyakan : Apakah Alam Semesta ini pernah mengalami masa permulaannya?. Apakah Alam Semesta ini pada satu ketika akan berhenti keberadaannya?.

Dari sudut pandangan Ilmu Pengetahuan (= Science) dan Ilmu Filsafat (= Philosophy), pertanyaan-pertanyaan semacam itu, atau yang sejenis lainnya lagi, tidak akan pernah terjawab secara memuaskan. Tetapi jawabannya telah ada, asal pertanyaan-pertanyaannya mengandung makna yang penuh arti tidak dengan cara berfikir yang konsepsional, tetapi dengan pandangan yang diwarnai intuisi atau ilham (= insight = pandangan terang), yang lebih tinggi tingkatannya dari cara berfikir yang biasa. Dengan sejenis pemikiran tingkat tinggi, yang dinamai Pandangan-Terang, yang kami maksudkan diatas ini, umat Buddha yang sudah tinggi tingkatan Pandangan Batiniahnya, dapat memberi keterangan dengan ketelitian yang cukup, walaupun diungkapkan dalam bentuk puisi, deskripsi-deskripsi tentang Alam Semesta, seperti diuraikan didalam teks-teks Buddhis, aliran Theravadin (= Hinayana), dan didalam naskah Buddhis yang dinamai “Sutra Hwa Yen” (dari aliran Mahayana).

Para penulis teks-teks Buddhis tersebut diatas, itu merupakan gema dari ajaran Sang Tathagata (= Sang Buddha Gautama), dan mungkin juga merupakan penemuan mereka sendiri, yang tidak dengan mempergunakan telescope optical, atau telescope radio, maupun speptroscope, juga tidak dengan berdasarkan perhitungan mathematika yang tinggi, atau pun tanpa mempergunakan alat bantu tehnologis lainnya, dalam memberikan sesuatu deskripsinya tentang Kosmos atau Benda-Benda Angkasa… Kiranya mudah kalau dikatakan bahwa mereka adalah para pengira-ira yang baik, namun ini diluar permasalahannya; karena ada terdapat banyak sekali deskripsi-deskripsi yang sangat teliti, yang tidak mungkin hanya merupakan hasil dari pengira-iraan saja. Kita hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa para cendekiawan Buddhis di masa-masa awal dari perkembangan Buddhisme, itu telah memiliki pengetahuan yang demikian tingginya, sehingga mereka itu dengan mempergunakan suatu methode tertentu, yaitu dengan memperkembangkan Pandangan Batin, yang berdasarkan Penerangan Agung (= Enlightenment Insight). Dan ini menimbulkan pertanyaan berikutnya : Bagaimana caranya agar kita dapat memperkembangkan Pandangan Batin yang berdasarkan Penerangan Agung itu?.

Itu dapat dilaksanakan, demikian kita pinjam kata-katanya R.G. de S. Wettimuny, dengan jalan “menjinakkan, atau menenangkan permainan dari konsep-konsep”, yang demikian ini mungkin masih merupakan pemikiran yang sifatnya abstrak dan discursive (meloncat-loncat kesana-kemari), atau yang oleh Alam Watts dinamai “Pembicaraan didalam fikiran yang dengan tak-henti-hentinya” (“Incessant internal chatter”). Ini yang menjadi Tujuan, yang ingin dicapai oleh semua umat Buddhis, baik dari aliran Theravada (= Aliran Hinayana), maupun aliran Mahayana, sama saja. Sekali lagi, dengan meminjam kata-kata dari Wettimuny : “hendaklah seseorang membiarkan fikirannya berhenti bekerja, menenangkannya, dan perhatian diletakkan pada satu titik perhatian tertentu, sampai…. muncullah Cahaya, yang menyembul keluar. “Pandangan Terang yang berdasarkan Penerangan Agung, atau “Satori”, seperti istilahnya Buddhis Jepang, juga dapat diperoleh dengan jalan mengadakan konsentrasi secara mendalam, dan ini yang oleh kebanyakan orang dinamai meditasi. “Satori” dapat dicapai, selagi orangnya sedang duduk bermeditasi, atau sedang dalam sikap yang lainnya. Apabila meditasi itu dipraktekkan secara konsisten, maka “Satori” akan muncul dengan sendirinya, selagi anda sama sekali sedang tidak mengharapkannya. Tercapainya “Satori” itu dapat terjadi, kapan saja, apakah anda sedang mencuci piring, selagi mengergaji kayu, atau meminjam kata-kata dari Soto Zen Roshi, mungkin ketika anda sedang duduk di kamar W.C (selagi buang air besar). Tetapi hanya meditasi saja, tidak cukup. Sesuatu yang penting lainnya, harus menemaninya.

Sang Tathagata (= Sang Buddha Gautama) mengajarkan bahwa Pandangan Terang (= Insight) itu hanya datang, apabila jiwa (= mind) telah dapat dibersihkan dari Ke-Lima Rintangan. Kecuali hal itu dilakukan, anda tidak dapat bermeditasi (dengan hasil tercapainya Pandangan Terang), hingga dunia kiamat, dan hanya kekecewaan saja yang akan anda temui. Adapun ajaran Ke-lima Rintangan, yang diajarkan oleh Sang Buddha itu, adalah Kenikmatan Sensual, Kemauan-Jahat, Kemalasan, Ketidak-tenangan, dan Keragu-raguan. Semua Pandangan Terang hanya muncul, apabila orang telah dapat menekan Ke-Lima Rintangan tersebut; dan, Tujuan Luhur untuk dapat memperoleh Penerangan Sempurna, hanya dapat dicapai, apabila Ke-Lima Rintangan telah dapat dilenyapkan sama sekali. Tujuan Luhur itu tidak mudah didekati; tetapi, apabila anda ingin dapat mencapainya, anda harus berusaha sekuat tenaga. Hanya apabila hal itu telah dapat dicapai, oleh diri anda, atau oleh seseorang, – apakah orang yang telah dapat mencanai Penerangan Sempurna itu seorang ilmuwan, atau orang yang pekerjaannya menjadi tukang sapu, keadaannya sama saja -, maka berarti anda, atau dia, telah dapat mempraktekkan ajaran Sang Buddha, yang berbunyi : “Laksanakanlah apa yang harus anda laksanakan; lenyapkanlah beban kehidupan yang memberati pundak anda itu; apabila anda telah dapat melakukannya, maka tidak akan ada lagi penderitaan yang datang, yang harus anda alami di alam kehidupan ini!.

REFERENSI.

– Alfven, Hannes. Worlds-Antiworlds, 1966, San Fransisco & London, W.H. Freeman & Co. 103.p
– Baptist, Egerton C. The Supreme Science of The Buddha, 2 nd edition, 1959, Colombo, Sri Lanka, 70 p.
– Bonnor, W.B. The Mystery of The Expanding Universe, New York, The Macmillan Co 212 p.
– Canby, Thomas Y. “Skylab, Outpost On The Frontiers of Space” National Geographic, Washington, D.C. 146: 4 (October 1974).
– Capra, Fritjof The Tao of Physics, 1975, Boulder, Colorado, Shambala Publications, Inc. 330 P.
– Chang, Garma Chen-Chi The Buddhist Teaching of Totality, The Philosophy of Hwa Yen Buddhism, 1971, University Park, Pennsylvania & London, The Pennsylvania State University Press, 270 p.
– Friedman, Herbert The Amazing Universe, 1975, Foreword by Philip Morrison, Washington, D.C. Special Publication Division, National Geographic Society, 199 P.
– Goddard, Dwight A Buddhist Bible, Edited Dwight Goddard, 1952, New York, E.P. Dutton & Co, Inc 677 p.
– Hodge, Paul W. Concepts of The Universe, 1969, New York, Mc Graw-Hill Inc, 125 p.
– Hoyle, Fred Frontiers of Astronomy, 1955, New York, Harper & Brothers, 360 p.
– Jayatilleke, K.N. The Message of The Buddha, 1974, edited by Ninian Smart, New York, The Free Press, Division of Macmillan Publishing Co, Inc, 262 p.
– Linsenn, Robert Living Zen, 1954, Translated from the French by Diana Abrahams-Curiel. Preface by Christmas Humphreys and Foreword by Dr.R.Godel, London, George Allen & Unwin, Ltd, 384 p.
– Menzell, Donald H. Astronomy, 2 nd printing, date not given, New York, Random House, Inc. 320 p.
– Reichenbach, Hans The Rise of Scientific Philosophy, paper, 13 th printing, 1968, Berkeley and Los Angeles, California, University of California Press, 333 p.
– Senzaki, Nyogen &
Mc Cartless, Ruth Strout
Buddhism and Zen, paper, 1952, New York Philosophical Library, 87 p.
– Weaver, Kenneth F. The Incredible Universe “National Geographic, Washington, D.C. 145 : 5 (May 1974).
– Gore, Rick “Sifting for Life in the Sands of Mars”, National Geographic, Washington, D.C. 151 : 1 (Januari 1977).

Leave a Reply 0 comments