Hope & Happiness

Ringkasan Ceramah
BHIKKHU UTTAMO

“HOPE & HAPPINESS”
oleh Y.M BHANTE UTTAMO MAHATHERA
Penyelenggara: BBCId

Date: Saturday, 27 March 2010
Time: 19:00 – 22:00
Location: Gdg Selecta Lt 5 & 6, Jl. Listrik No.1, Medan.

[hanya intermesso : ceramah Bhante Uttamo ini sesuai dengan sutta Buddha yaitu Anguttara Nikaya II : 65, di mana sang Buddha menyatakan beberapa keinginan yang wajar dari manusia awam yang hidup berumah tangga, yaitu:

1. Semoga saya menjadi kaya, dan kekayaan itu terkumpul dengan cara yang benar dan pantas.
2. Semoga saya beserta keluarga dan kawan-kawan dapat mencapai kedudukan sosial yang tinggi.
3. Semoga saya selalu berhati-hati di dalam kehidupan ini, sehingga saya dapat berusia panjang.
4. Apabila kehidupan dalam dunia ini telah berakhir, semoga saya dapat terlahirkan kembali di alam kebahagiaan (surga).

Ceramah malam itu dibuka dengan pertanyaan, sudahkah kita memanfaatkan berbagai ceramah Dhamma maupun informasi Dhamma yang telah diketahui selama ini?
Kalau ceramah Dhamma maupun berbagai informasi Dhamma hanya didengar, diingat dan tidak dilaksanakan, maka semuanya itu tidak akan bermanfaat.

Janganlah kita hidup bagaikan ‘Sendok yang di celup ke dalam sambal, karena walau dicelup sampai 20 tahun sendok tersebut tidak akan pernah merasa kepedasan‘ artinya bahwa hidup kita sebagai umat Buddha janganlah hanya mendengarkan Dhamma saja, tanpa pernah dipraktekkan sekalipun, Maka semua itu tiada hasilnya.

Kita hendaklah hidup bagaikan ‘lidah yang tercelup sambal, pasti akan langsung kepedasan’ artinya hendaklah kita hidup dengan mempraktekkan Dhamma sehingga hidup kita merasa bahagia dalam Dhamma.

Tahukah kita, bahwa Buddha Dhamma yang diajarkan oleh Buddha Gotama mempunyai satu kekurangan yang sangat fatal?

Apakah itu?

Kekurangannya adalah Buddha Dhamma itu haruslah DIPRAKTEKKAN oleh diri kita sendiri, dan tentu saja tidak bisa DITITIPKAN kepada orang lain agar dijalankan dan hasilnya untuk kita.

Pembahasan thema yang diangkat dalam acara tersebut yaitu ‘Hope and Happiness’ atau ‘Harapan dan Kebahagiaan’ dimulai dengan menghubungkan keduanya.

Bahwa, jika kita mempunyai sebuah harapan, maka bisa timbul kebahagiaan dalam diri kita.

Contohnya seperti ini :

“ Ada seorang pasien yang sakit kanker stadium 4, bahkan stadium 4b. Lalu ia bertanya kepada seorang paranormal apakah ia bisa sembuh?
Kemudian paranormal itu menjawab bahwa si pasien tersebut pasti akan sehat.
Kemudian setelah mendengar jawaban paranormal tersebut, si pasien tersebut merasakan kebahagiaan dalam dirinya. Tapi besoknya si pasien tersebut meninggal dunia dengan pikiran penuh kebahagiaan. Keluarga si pasien marah dan bertanya kepada si paranormal, kenapa si pasien bisa meninggal?
Si paranormal pun menjawab bahwa si pasien pasti akan sehat, maksud ‘sehat’ disini berarti ia sehat dalam kehidupan berikutnya.”

Oleh karena itu, apabila kita mempunyai sebuah harapan maka kita pun pasti akan merasa bahagia.

“Lalu apakah Anda semua sudah mempunyai harapan?”, tanya bhante kepada hadirin.

Hadirin kemudian menjawab dengan bersemangat :“Sudah, Bhante!!”.

“ Jika Anda sudah punya harapan, berarti ceramah ini sudah selesai dong.. ayo kita pulang.” canda Bhante.

“Kalau begitu apakah kalian semua tidak mempunyai harapan?” tanya Bhante kepada hadirin. Karena diliputi keraguan, tidak ada hadirin yang menjawab. Bhante pun melanjutkan, “Jika ada yang datang ke sini tanpa ada harapan, maka sungguh kasihan dirinya.”

Buddha Dhamma mengajarkan menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat dan berbahagia.

“Harapan dalam Dhamma”
Jika ada seseorang yang diajak ke vihara, maka orang tersebut cenderung untuk bertanya USA (Untung Saya Apa) jika pergi ke vihara?

Sesungguhnya harus kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Apa yang bisa saya berikan kepada vihara tersebut?”

Di dalam Dhamma ada kebahagiaan, tapi tentu saja kita harus mempraktek-kan Dhamma tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita, karena tanpa mempraktekkan Dhamma, kita tidak lah mungkin bisa memperoleh hasilnya. Kondisi ini diibaratkan seperti kita memakan apel, kalau kita tidak memetik, mencuci dan memakan apelnya, bagaimana mungkin kita bisa memperoleh hasil, bahwa apel itu manis, pahit, asam, asin atau nano-nano?

Harapan dalam Dhamma :

1. Agar kita dapat hidup dengan mandiri secara ekonomi.
Jika kita ditanya “ apakah kita ingin kaya? “ pasti kita akan menjawab bahwa kita ingin kaya.
Tapi ketika ditanyai ingin kaya apa? Kita pasti akan kebingungan untuk
menjawabnya.

Umat Buddha boleh saja kaya secara materi, tapi ukuran kekayaan bukanlah dari jumlah materi yang sudah diperoleh. Namun, kekayaan diukur ketika kita telah merasa CUKUP saat memiliki sesuatu.
Jika kita merasa cukup, maka akan timbul harapan, jika ada harapan maka kita akan bahagia.
Maka dari itu, kita harus berusaha membentuk pola pikir untuk merasa CUKUP.
Rasa CUKUP itu ada dalam bathin kita, bukan karena berbagai materi yang ada di luar diri.

Ketika menghadapi makanan enak dan lezat, kita sering merasa sulit untuk mengatakan CUKUP. Kadang-kadang alasan kita makan bukan karena kita lapar atau membutuhkannya. Kita makan karena mata kitalah yang lapar. Kita tidak tahan melihat makanan enak yang terhampar di depan mata. Lihat ada yang enak, langsung makan.
Seharusnya kita makan untuk bertahan hidup, bukan hidup untuk makan.

Jika resep CUKUP pada makanan ini diterapkan oleh umat Buddha khususnya para wanita, maka hasilnya pasti akan manjur sekali. Para wanita tersebut pasti akan segera langsing. 🙂

Maka katakan sesering mungkin pada diri Anda bahwa Anda sudah CUKUP.
[CUKUP dalam hal-hal positive bukan dalam hal negative]

2. Kita boleh mempunyai kedudukan / posisi yang tinggi.
Sebagai umat Buddha boleh saja mencari posisi atau kedudukan di masyarakat. Dalam hal ini bukan hanya kedudukan di bidang politik saja melainkan juga dalam pekerjaan maupun karir di suatu perusahaan. Tetapi semua kedudukan dan posisi itu haruslah diperoleh dengan cara yang benar. Bukan dengan melakukan kecurangan yang merugikan fihak lain. Jika kita telah mempunyai kedudukan tertentu, maka posisi itu menjadi salah satu faktor kebahagiaan untuk diri kita juga.

Pada saat menjabat atau menduduki suatu posisi tertentu di masyarakat, seorang umat Buddha hendaknya menghindari praktek kata MUMPUNG. Umat Buddha haruslah sering mempraktekkan kata JUSTRU.
Jadikan kata JUSTRU sebagai ‘mantra’ dalam kehidupan sehari-hari.
“Justru….Justru..…Justru….Justru…..Justru……!!” kata Bhante.
“Tapi tentu saja kita harus berhati-hati dalam mengucapkan kata ini, karena bisa saja air ludah kita memercik keluar”, canda Bhante sambil mengelap mikrophonnya.

Lalu apa perbedaan kedua kata ini?
MUMPUNG, berarti kita memanfaatkan sesuatu untuk berbuat yang tidak baik, dan bisa saja merugikan orang lain.
JUSTRU, berarti kita memanfaatkan sesuatu untuk berbuat yang baik dengan benar sehingga dapat membuat diri kita merasa bahagia dan orang lain juga berbahagia. Kata JUSTRU juga dapat bermakna sebagai kesediaan berkorban untuk kebahagiaan fihak lain.

3. Kita boleh berusaha untuk mempunyai umur yang panjang.
Umat Buddha boleh saja berusaha untuk mencapai usia panjang. Karena dengan usia panjang, umat Buddha diharapkan mampu memanfaatkannya untuk kebahagiaan diri sendiri maupun semua mahluk yang berhubungan dengannya.

Ada banyak cara untuk mencapai usia panjang dan sehat jasmani.
Sebagian cara mengupayakan usia panjang tersebut adalah dengan :
– Mampu mengatakan CUKUP terhadap makanan agar tidak berlebihan masuk ke dalam tubuh kita.
– Walaupun seringkali usia panjang juga merupakan faktor keturunan, tidak ada salahnya umat Buddha untuk menambah kebajikan dengan badan, ucapan serta pikiran agar kebahagiaan berbuah dalam bentuk usia panjang.
– Janganlah memperpendek umur makhluk lain, seperti nyamuk, semut, dll. Jangan asal nampak nyamuk maupun mahluk lemah lainnya, langsung membunuhnya dengan PLOK!!.
– Seringlah berolahraga,
– Istirahat dengan cukup,
– Buatlah banyak kebajikan pada setiap kesempatan, karena perilaku kita sangat mempengaruhi panjang atapun pendeknya umur kita.

Telah diketahui bersama bahwa kematian itu mudah dan pasti, tapi untuk lahir menjadi manusia sangatlah sulit sekali.
Karena itu, justru ketika terlahir sebagai manusia inilah, justru setelah mengenal Ajaran Sang Buddha, gunakanlah kesempatan hidup ini untuk terus dan terus mengembangkan kebajikan melalui badan, ucapan serta pikiran di setiap saat kehidupan ini.

4. Jika kita sudah mempraktekkan point 1 sampai 3, ( CUKUP, JUSTRU, untuk waktu yang lama / seumur hidup) maka kita dapat berharap untuk terlahir di alam bahagia atau surga.

Kesimpulan dari jawaban pertanyaan yang diajukan oleh hadirin

Suatu kesuksesan dimungkinkan karena adanya 2 hal yaitu :
a. Manajemen yang baik.
Dengan manajemen diri dan waktu yang baik, kita dapat meraih hidup sukses.
b. Kebajikan yang dilakukan dengan badan, ucapan dan pikiran.
Kebajikan yang dilakukan dapat membantu kita mendapatkan peluang untuk mencapai kesuksesan yang sesuai dengan kamma yang mendukungnya.

Hari baik adalah hari saat kita berbuat baik.
Jam baik adalah jam saat kita berbuat baik.
Jadi ketika kita mau melakukan sesuatu (contohnya : pernikahan, masuk kamar pengantin, pindah rumah, dll) itu semua tidak harus tergantung pada waktu yang dianggap baik secara tradisi melainkan hendaknya tergantung atas kebajikan apa yang kita lakukan pada saat itu.

Bagaimana cara membina hubungan yang baik?
– Dengan komunikasi yang baik.
Salah satu cara berkomunikasi dengan baik adalah mampu menggunakan secara tepat waktu kata-kata yang baik / pujian / rayuan kepada pasangan hidup, anak, karyawan maupun siapa saja yang berkomunikasi dengan kita. Kata-kata baik tersebut murah dan free of charge lagi.
Jadi, kita kan ga rugi kalo bagikan kata-kata tersebut. Kita malah untung lagi..
– Kita harus mampu membedakan adanya masalah pasangan hidup dengan masalah di luar pasangan hidup.
Disebut ‘masalah pasangan hidup’ adalah masalah yang harus dihadapi oleh suami istri, misalnya tentang pendidikan anak, kemajuan karir dsb.
Sedangkan ‘masalah di luar pasangan hidup’ adalah masalah yang berhubungan dengan mertua, ipar, dsb.
Jangan sampai masalah di luar pasangan hidup mempengaruhi kebahagiaan dalam rumah tangga. Justru untuk menghadapi masalah di luar pasangan hidup, dibutuhkan kerjasama dan persatuan pasangan hidup agar dapat menyelesaikannya secara damai dan bersama-sama.
– Selain mampu berkomunisi dengan baik dan membedakan permasalahan dalam keluarga, untuk membina rumah tangga bahagia dibutuhkan kemauan melakukan tindakan yang bermanfaat dan membahagiakan pasangan hidup. Dengan selalu melakukan tindakan yang bermanfaat, maka kebahagiaan dalam rumah tangga, keharmonisan antar pasangan hidup dapat diwujudkan.

Dan dalam menjawab pertanyaan mengenai hubungan antar pasangan hidup tersebut, Bhante mengatakan “Itu adalah hasil pengamatan saya. Saya cuma seorang PENGAMAT, bukan seorang PRAKTISI “, demikian canda Bhante.

Berbicara tentang kebajikan, sebaiknya jangan menunda kebajikan yang hendak dilakukan. Karena, kalau kebajikan ditunda pelaksanaannya, biasanya kualitas kebajikan menjadi menurun atau malah tidak dilakukan sama sekali. Oleh karena itu, apabila kebajikan itu mampu dilakukan saat ini, kenapa harus ditunda lagi?

Menyikapi saran orang untuk tidak melakukan kebajikan pada fihak tertentu, misalnya pengemis, maka tindakan mencegah melakukan kebajikan ini dalam Dhamma dikatakan telah melakukan sekaligus tiga kamma buruk yaitu :
1. Menghalangi orang yang berniat baik untuk memupuk kamma baik.
2. Menghalangi si penerima mendapatkan buah kamma baik berupa bantuan.
3. Mencegah seseorang berbuat baik adalah termasuk kamma buruk juga

Sebagai pemberi dana, kita hendaknya jangan hanya mengikuti kata-kata teman atau orang lain yang belum tentu kebenaranya. Janganlah seperti robot yang hanya bergerak karena telah diprogram. Jika disuruh berdana, baru berdana; jika dilarang, maka tidak jadi berdana.
Jika ingin berdana ya langsung berdana aja, gak usah survey segala dan memikirkan yang tidak-tidak. Demikian juga kalau kita mau berbuat kebajikan, gak usah segan-segan lagi. Langsung aja. Karena kalau ditunda-tunda kadang kita lupa ataupun kesempatan berbuat baik itu sudah hilang.

Melakukan kebajikan justru mungkin saja menambah keberuntungan hidup. Karena keberuntungan itu layaknya seperti air dalam sumur. Ditimba terus menerus pun airnya akan tetap sama seperti awalnya. Dan jika tidak ditimba pun, airnya akan tetap sama. Tidak berlebihan.
Dengan banyak berbuat baik, keberuntungan mungkin saja selalu datang pada diri kita. Sebaliknya, dengan tidak berbuat baik, kita pun tidak bertambah keberuntungannya.
Dengan demikian, gunakanlah seluruh waktu kehidupan ini untuk terus dan terus berbuat baik semaksimal mungkin karena perbuatan baik akan menjadi sumber kebahagiaan.

Demikianlah ringkasan ceramah ini saya buat. Jika ada kata-kata yang salah atau kurang tepat, mohon dimaklumin ya.
Jika ada yg kurang silakan bantu untuk ditambahin.
Soalnya ini ringkasan yang pertama dari saya.
( Willian Koko )

Anumodhana bagi rekan-rekan yang sudah membantu saya mengingat kembali yang terlupa.
Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuannya yang sungguh berharga tersebut.

Semoga ringkasan ini dapat bermanfaat bagi anda smuanya..
Sadhu..sadhu..sadhu..

Ditulis oleh William Koko dan Riky Liau, Photo oleh Abok Kosim

Sumber :
Facebook Bodhigiri Uttama Caritta (BUC)

http://www.facebook.com/note.php?note_id=376438039826

Editor :

Samaggi Phala

Leave a Reply 0 comments