BAB SEMBILAN 11. Peraturan yang Minor dan Tidak Begitu Penting “Telah dikatakan oleh Sang Buddha, ‘O bhikkhu, dari pengetahuan yang lebih tinggilah aku mengajarkan Dhamma.’1 Tetapi Beliau juga berkata: ‘Setelah aku tidak ada lagi, Ananda, bila diinginkan oleh Sangha, biarlah Sangha menghapus peraturan yang minor dan tidak begitu penting.’2 Apakah itu berarti bahwa peraturan-peraturan itu […]
Baca selengkapnya...BAB DELAPAN PEMECAHAN DILEMA Setelah merenungkan semalaman mengenai diskusinya dengan Nagasena, sang raja membuat delapan sumpah untuk dirinya sendiri: “Selama tujuh hari mendatang ini aku tidak akan memutuskan masalah hukum apa pun juga, aku tidak akan memelihara pikiran yang berisi nafsu keinginan, pikiran yang berisi kebencian atau pikiran yang berisi pandangan keliru. […]
Baca selengkapnya...BAB TUJUH INGATAN 1. “Dalam berapa cara, Nagasena, ingatan muncul?” “Tujuh belas cara,1 O baginda, yaitu: Karena pengalaman pribadi, seperti misalnya ketika Yang Ariya Ananda dapat mengingat kembali kehidupan-kehidupan beliau yang lampau (tanpa perkembangan khusus); Karena bantuan dari luar, seperti misalnya ketika seseorang mengingatkan temannya yang pelupa; Karena keagungan suatu peristiwa, seperti […]
Baca selengkapnya...BAB ENAM KEMELEKATAN 1. “Apakah tubuh jasmani ini, Nagasena, berharga bagi para petapa?” “Tidak, baginda.” “Kalau begitu, mengapa para petapa merawat dan memberikan perhatian pada tubuh jasmani?” “Kami merawat dan menjaga tubuh jasmani ini sama seperti kita merawat luka. Bukan karena luka itu berharga bagi kita, melainkan hanya supaya daging baru dapat […]
Baca selengkapnya...BAB LIMA SANG BUDDHA 1, Pernahkan Anda atau guru-guru Anda melihat Sang Buddha?” “Belum, baginda.” “Kalau begitu, Nagasena, tidak ada Buddha!” “Tetapi apakah baginda dan ayah baginda sudah pernah melihat sungai Uha1 di Himalaya?” “Belum, Yang Mulia.” “Kalau begitu, tepatkah kalau dikatakan bahwa sungai Uha itu tidak ada?” “Nagasena, Anda sangat cerdik […]
Baca selengkapnya...BAB EMPAT LANDASAN INDERA 1. “Apakah lima landasan indera dihasilkan dari berbagai karma, atau semuanya berasal hanya dari satu karma?” “Dari berbagai karma, O baginda.” “Berilah ilustrasi.” “Jika kita menanam lima jenis biji-bijian di ladang, maka hasilnya juga akan lima macam.”
Baca selengkapnya...BAB TIGA PERMULAAN WAKTU 1. “Nagasena, apakah akar dari masa lalu, masa kini, dan masa mendatang itu?” “Kebodohan batin. Kebodohan batin mengkondisikan bentuk-bentuk pikiran; bentuk-bentuk pikiran mengkondisikan kesadaran yang menghubungkan kembali; kesadaran mengkondisikan batin dan jasmani; batin dan jasmani mengkondisikan enam landasan indera; enam landasan indera mengkondisikan kontak; kontak mengkondisikan perasaan; perasaan […]
Baca selengkapnya...BAB DUA KELAHIRAN KEMBALI 1. “Orang yang terlahir kembali, Nagasena, apakah dia orang yang sama atau berbeda?” “Bukan sama namun juga bukan berbeda.” “Berikanlah ilustrasi.” “Sama halnya seperti susu yang pertama-tama berubah menjadi dadih lalu menjadi mentega dan kemudian menjadi ghee. Tidak benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega, dan dadih tersebut sama […]
Baca selengkapnya...BAB SATU JIWA Raja Milinda pergi menemui Bhikkhu Nagasena. Setelah saling mengucapkan salam persahabatan secara sopan, raja duduk dengan hormat di satu sisi. Milinda mulai bertanya: 1. “Apa sebutan Yang Mulia dan siapakah nama Anda?” “Baginda, saya disebut Nagasena. Namun itu hanyalah rujukan dalam penggunaan umum, karena sebenarnya tidak ada individu permanen […]
Baca selengkapnya...PENDAHULUAN Milinda Pañha merupakan buku Buddhis kuno yang diagungkan serta dianggap bernilai tinggi sehingga oleh orang-orang Burma dimasukkan ke dalam Kitab Suci Pali. Di dalam Kitab Pali dikatakan bahwa percakapan antara Raja Milinda dengan Nagasena terjadi 500 tahun setelah Sang Buddha parinibbana. T.W. Rhys David, penerjemah yang terkemuka untuk kitab-kitab Pali, menganggap […]
Baca selengkapnya...