Category Archives for "Pokok Dasar Agama Buddha"

1 Bab IX – Kamma (Perbuatan)

DHAMMA-SARI Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Cetakan Kesembilan, 1994 BAB IX K A M M A (Perbuatan) Kamma adalah kata bahasa Pali yang berarti “perbuatan” (Skt. Karma) yang dalam arti umum meliputi semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun buruk, lahir atau batin, dengan […]

Baca selengkapnya...

Bab VIII – Bhavana (Latihan dan Pengembangan Mental)

DHAMMA-SARI Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Cetakan Kesembilan, 1994 BAB VIII BHAVANA (LATIHAN DAN PENGEMBANGAN MENTAL) Sang Buddha bersabda. “O bhikkhu, terdapat dua macam penyakit. Apakah kedua macam penyakit itu? Penyakit badaniah (fisik) dan penyakit mental. Memang ada orang yang berbahagia dapat terbebas dari penyakit fisik […]

Baca selengkapnya...

Bab VII – Anatta (Doktrin Tanpa-Aku)

DHAMMA-SARI Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Cetakan Kesembilan, 1994 BAB VII ANATTA (DOKTRIN TANPA-AKU) Yang dianggap oleh umum sebagai Aku, Ego, Roh atau Atma ialah adanya satu inti-yang kekal, tetap dan absolut yang merupakan substansi yang tak berubah-ubah di belakang “dunia yang terlihat ini” yang senantiasa […]

Baca selengkapnya...

Bab VI – Kesunyataan Mulia Keempat : Magga

DHAMMA-SARI Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Cetakan Kesembilan, 1994 BAB VI KESUNYATAAN MULIA KEEMPAT M A G G A: JALAN YANG MENUJU KE TERHENTINYA DUKKHA Kesunyataan Mulia Keempat ialah Jalan yang menuju ke Terhentinya Dukkha (Dukkha nirodha gaminipatipada-Ariyasacca). Ia juga dikenal dengan nama “Jalan Tengah” (Majjhima-Patipada), […]

Baca selengkapnya...

Bab V – Kesunyataan Mulia Ketiga : Dukkha Nirodha

DHAMMA-SARI Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Cetakan Kesembilan, 1994 BAB V KESUNYATAAN MULIA KETIGA DUKKHA NIRODHA: TERHENTINYA DUKKHA Kesunyataan Mulia Ketiga membahas tentang pembebasan diri dari penderitaan, dari terus berlangsungnya dukkha. Oleh karena itu, ia dinamakan Kesunyataan Mulia Tentang Terhentinya Dukkha (Dukkha Nirodha Ariyasacca); yang berarti […]

Baca selengkapnya...

Bab IV – Kesunyataan Mulia Kedua : Dukkha Samudaya

DHAMMA-SARI Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Cetakan Kesembilan, 1994 BAB IV KESUNYATAAN MULIA KEDUA DUKKHA SAMUDAYA : SUMBER DUKKHA Kesunyataan Mulia Kedua membahas sumber atau permulaan dukkha (Dukkha samudaya ariyasacca). Definisi populer dan terkenal yang dapat dijumpai dalam teks-teks asli berbunyi sbb. : “Dukkha bersumber kepada […]

Baca selengkapnya...

Bab III – Kesunyataan Mulia Pertama : Dukkha

DHAMMA-SARI Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Cetakan Kesembilan, 1994 BAB III EMPAT KESUNYATAAN MULIA Kesunyataan Mulia Pertama: Dukkha Yang menjadi pokok ajaran Sang Buddha terletak pada Empat Kesunyataan Mulia ini yang Beliau babarkan dalam khotbah-Nya yang pertama kepada lima orang pertapa bekas teman seperjuangan-Nya di Isipatana […]

Baca selengkapnya...

Bab II – Pandangan Agama Buddha tentang Pikiran

DHAMMA-SARI Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Cetakan Kesembilan, 1994 BAB II PANDANGAN AGAMA BUDDHA TENTANG PIKIRAN Di antara pendiri-pendiri agama, Sang Buddha (kalau kita diperbolehkan untuk menamakan Beliau sebagai seorang pendiri agama dalam artian umum) adalah satu-satunya Guru Dunia yang tidak pernah menyatakan bahwa Beliau bukanlah […]

Baca selengkapnya...

Bab I – Sang Buddha

DHAMMA-SARI Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, Cetakan Kesembilan, 1994 BAB I SANG BUDDHA Sang Buddha, yang nama benarnya Siddhatta (Skt. Siddhartha) dan nama keluarganya Gotama (Skt. Gautama) bertempat tinggal di India Utara di Kapilavatthu pada abad keenam S.M. Ayahnya, Raja Suddhodana, adalah raja kerajaan wangsa Sakya […]

Baca selengkapnya...