Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan

AGAMA BUDDHA DAN ILMU PENGETAHUAN

Oleh :
GERALD DU PRE

Banyak umat Buddha yang percaya bahwa Agama Buddha itu didalam membicarakan tata kasunyataan, membahasnya secara tertentu, sedang ilmu pengetahuan (= science) itu didalam membicarakan tata kasunyataan, membahasnya secara tertentu, lainnya lagi. Beberapa orang didalam membicarakan keduanya menyimpulkan lebih lanjut, dengan mengatakan bahwa Agama Buddha dan ilmu pengetahuan itu bertentangan, satu terhadap yang lainnya. Untuk sebagian dari mereka, para sarjana, apabila diminta memikirkan semua aspek dari Agama Buddha, mengatakan bahwa memikirkan hal yang demikian itu, merupakan hal yang nonsense.

Saya fikir, keduanya, baik umat Buddha, maupun para sarjana, mengalami salah pengertian, mengenai pandangannya, yang satu terhadap yang lainnya. Jika saya diminta untuk mendefinisikan keduanya, yaitu ilmu pengetahuan dan Agama Buddha, maka pertama-tama, saya akan menunjukkan terlebih dahulu bahwa Agama Buddha itu juga adalah suatu ilmu pengetahuan. Saya percaya bahwa apabila hal ini diketahui, Agama Buddha akan memperoleh kedudukan yang sangat penting, dan mempunyai pengaruh yang besar di Dunia Barat, karena memang Agama Buddha memiliki persyaratan untuk layak menerima kedudukan yang demikian.

Kita semua ini, umat Buddha dan para sarjana, di Dunia Timur dan di Dunia Barat, adalah sama-sama manusia biasa, memiliki indria penerima yang sama, mempunyai anggota-anggota tubuh yang sama, dan memiliki system syaraf sentral yang sama, dan dahulu juga pernah sama-sama menjadi anak. Selagi masih kanak-kanak, kita telah belajar dengan semua peralatan yang dapat kita peroleh. Kita telah mempergunakan indria-indria penerima kita, untuk memperoleh informasi-informasi dari dunia, termasuk juga mengenai tubuh-tubuh kita sendiri. Kita melihat dan mendengar, merasakan, mencecap, dan mencium sesuatu. Kita telah melakukan aksi-aksi didalam dunia kita, untuk mengadakan eksplorasi, mengadakan eksperimen-eksperimen dan menemukan sesuatu, serta telah mengadakan observasi terhadap hasil-hasil aksi-aksi kita itu. Akhirnya, kita telah belajar berbicara dan berhitung. Kita telah belajar memberi deskripsi atas yang kita persepsi didalam symbol-symbol, – yang menyangkut dunia-dunia, angka-angka, dan diagram-diagram-, serta kita telah menggaplikasikannya didalam landasan logika terhadap symbol-symbol tersebut dan mengkonstruksikannya didalam kepala kita sebagai suatu model symbolis dari alam semesta, termasuk diri kita sendiri.

Ilmu pengetahuan (= science) itu secara aksaranya, berarti pengetahuan (= knowledge). Secara sederhana, ilmu pengetahuan itu dapat kita terangkan sebagai pengetahuan tentang kasunyataan (= truth) yang berisi pemahaman terhadap alam semesta, yang haruslah dapat kita definisikan seteliti dan sepenuh mungkin, serta yang kita capai pemahamannya itu melalui penggunaan indria-indria penerima kita, anggota-anggota tubuh kita, serta otak kita, secara serempak. Itu adalah pengenalan atau pemahaman kita yang menyangkut penggunaan semua kemampuan manusia, dan usaha-usaha sebijaksana dan seteliti mungkin, yang telah kita fikirkan semendalam-mendalamnya terhadap semua bukti-bukti yang dapat kita kumpulkan, mengenai alam semesta dan isinya, termasuk diri kita.

Didalam prakteknya, itu menyangkut sejumlah besar hasil observasi banyak orang, yang dilakukan secara teliti, setapak demi setapak, mengenai keseluruhan alam semesta, dengan eksperimen-eksperimen dan dengan mengobservasi hasil-hasilnya, disertai kegiatan mendeskripsi apa yang telah diobservasi, yang dilakukan secara hati-hati, dengan penggunaan methode terpilih, dengan menggunakan symbol-symbol yang telah distandardisasi, yang disusun dan diatur dengan logika yang sangat ketat. Para sarjana itu merupakan putera-putera masa yang akan datang.

Beberapa orang pada semua periode sejarah telah melakukan observasi-observasi yang sangat teliti, telah menemukan penemuan-penemuan, sebagai hasil dari penggunaan akal secara brilian. Ilmu pengetahuan adalah penggabungan bersama-sama atas semua observasi-observasi, penemuan-penemuan, deskripsi-deskripsi, dan analisa-analisa, yang demikian itu, dan senantiasa secara terus menerus mengumpulkan hasil-hasil penyelidikannya, menjadi makin banyak lagi, serta mengaturnya untuk saling berhubungan yang satu dengan yang lainnya, untuk dapat mencipta pemahaman yang paling baik atas alam semesta, yang dapat dicapai oleh manusia.

Oleh karena itu, prasangka yang buruk terhadap ilmu pengetahuan kita merupakan sikap yang tak memiliki dasar yang kuat, karena berarti berprasangka buruk terhadap semua isi pengertian-pengertian manusia. Ilmu pengetahuan, itu menurut definisinya, tidak dapat memisahkan, atau melalaikan, sesuatu bukti, dan tidak dapat melalaikan penggunaan methode-methode yang telah dimiliki oleh manusia. Itu tidak merupakan pandangan yang sempit terhadap alam semesta, serta juga tidak menggunakan methode yang sempit. Apabila kita dapat merasa gembira dan merasa sangat tenteram, dengan memiliki ilmu pengetahuan itu, maka itu berarti ilmu pengetahuan telah dapat memberikan sumbangannya, seperti yang diharapkan oleh para sarjana; dan ini menjadi tantangan bagi para sarjana untuk memberikan bukti-buktinya.

Pada umumnya, Religi-Religi, atau Agama-Agama, itu berkeadaan berbeda dari ilmu pengetahuan, didalam hal bahwa Agama itu mempercayai terdapatnya sesuatu, sejenis pengetahuan, yang diluar kemampuan manusia untuk mengalaminya. Philosophi, atau ilmu filsafat, itu umumnya, hanya mempergunakan beberapa bukti, – yaitu yang dapat dicapai melalui intellect -, dan tidak memperhatikan penggunaan observasi-observasi dan eksperimen-eksperimen. Para penganut Religi-Religi dan philosophi-philosophi yang demikian itu, kalau berbicara atau mencari berbagai jenis dan tingkatan kasunyataan (= truth), sikapnya menentang kasunyataan yang didapat oleh para sarjana.

Kita ketahui, dan yang barangkali para sarjana tidak mengetahuinya, bahwa Agama Buddha itu bukan merupakan Religi atau philosophi, yang sifatnya seperti Religi atau philosophi yang lain-lainnya. Agama Buddha itu tidak seperti disiplin akademis, yang hanya menggunakan kata-kata dan lambang-lambang, yang dicantumkan pada lembaran kertas kerjanya saja. Dan didalam Buddhisme, Sang Buddha itu tidak didewa-dewakan oleh para penganutnya. Ajaran Sang Buddha bukan berasal dari sumber yang sifatnya ekstrasensoris. Walaupun sangat luar biasa kehebatannya, Sang Buddha adalah tetap manusia biasa, dan kemampuannya juga adalah merupakan hasil belajarnya, yang dengan mempergunakan semua yang didapat beliau gunakan : indria-indria reseptornya, anggota-anggota tubuhnya, dan otaknya.

Selanjutnya, kami dapat mengatakan dengan sejelas-jelasnya, bahwa Buddhisme itu membicarakan pengetahuan yang sama, seperti yang dibicarakan oleh ilmu pengetahuan, – ialah pengetahuan yang dapat didekati oleh manusia.

Pangeran Siddhartha, yang kemudian mencapai tingkat Buddha itu, dibesarkan didalam tradisi Hindu, yang banyak membicarakan tentang pengalaman manusia, – yaitu kehidupan didalam mana manusia mengalami segala sesuatu : sensasi-sensasi, persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, emosi-emosi dan lambang-lambang. Orang Hindu itu telah mengadakan observasi bahwa pengalaman manusia itu, secara normal, berada didalam keadaan disorganisasi, mengalami kekacauan jiwa, yang tak henti-hentinya, dari keragu-raguan, ketakutan-ketakutan, was-was, menyesal, teror-teror, dan keinginan-keinginan yang menyala-nyala, yang diluar pengontrolan diri. Walaupun hal-hal yang demikian itu, semuanya dialami secara umum oleh semua manusia, didalam tingkatan, yang sukar ditentukan rendah-tingginya, orang Hindu melihatnya sebagai suatu keadaan semacam sakit, dan lalu mereka memperkembangkan tehnik-tehnik penenangan, yang mirip-mirip dengan yang akhir-akhir ini oleh Dunia Barat mencarinya dalam penggunaan obat-obat penenang.

Walaupun Pangeran Siddhartha, yang hidup didalam kemewahan, dilindungi keamanannya secara ketat, dan dalam keadaan serba kecukupan segala-galanya, namun beliau dapat menyadari sepenuhnya akan pengalaman tentang disorganisasi kepribadian, atau sakitnya jiwa, pada diri kebanyakan orang, yaitu dengan adanya perasaan-perasaan ketidak-puasan dan ketidak-tenangan. Kemudian beliau memutuskan untuk memberikan kesembuhannya secara tuntas.

Pokok pembicaraannya, oleh karena itu, adalah pengalaman, dan tujuannya adalah, dua hal, yaitu memahaminya, serta menyembuhkan penyakit-penyakit yang secara umum diderita semua manusia, yang diistilahkan dengan istilah dukkha.

Kita memiliki sejumlah besar ingatan-ingatan tentang perjuangannya, untuk memahami dan untuk mengubah pengalaman-pengalamannya. Beliau tidak melalaikan informasi-informasi yang ada, tetapi mengumpulkan semua informasi itu untuk beliau cari keterangannya, dengan jalan mengadakan analisa yang logis. Pangeran Siddhartha juga tidak menolak methode-methode yang ada, dan mencoba methode-methode itu, hingga terbukti bahwa methode-methode itu tidak benar, atau tidak baik. Beliau selalu mengobservasi pengalaman beliau sendiri, dengan keadaan tidak terikat dan dengan kejujuran yang ketat, tidak memanjakan diri. Akhirnya, setelah mencoba-coba segala sesuatu, beliau menemukan jalan, yang tepat, dan dapat menyembuhkan pengalamannya, yang dinamai dukkha itu.

Beliau lalu mendirikan diatas semua yang dihadapi dengan ditemukannya itu, suatu theori yang logis, dan yang diutarakan secara teliti. Sang Buddha telah mewariskan semua theori dan methode-methodenya kepada para pengikut beliau, didalam bahasa yang mudah dimengerti, tanpa ada sesuatu yang tidak diberikan, atau disembunyi-sembunyikannya.

Sudah selama dua setengah ribu tahun, karya Sang Buddha telah ditest dan diperkembangkan oleh banyak manusia-manusia yang brillian, dan didalam waktu tersebut, sudah ribuan orang yang berhasil didalam mengubah pengalaman-pengalaman mereka, sesuai dengan yang dikatakan oleh Sang Buddha.

Karena methode ini, karena sikap mentalnya yang berpijak dibumi yang nyata, karena jiwa yang bebas menanyakan segala sesuatu, yang digabungkannya dengan theorinya yang logis, dengan observasinya yang tajam dan teliti, serta dengan applikasinya yang praktis, yang menyebabkan Buddhisme di masa-masa yang lampau, begitu sukar untuk diklassifikasi. Atas dasar keterangan yang jelas mengenai definisinya yang demikian itu, maka dapatlah kita lihat dan fahami bahwa Buddhisme itu memiliki ciri-ciri yang sama seperti ciri yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan. Saya tidak melihat alasan-alasan, dan saya heran, mengapa Buddhisme itu tidak diistilahkan sebagai ilmu pengetahuan. Buddhaisme itu, bagi saya, merupakan Agama yang sifatnya tidak seperti Agama-Agama lainnya, pun juga merupakan suatu philosophi, yang memiliki sifat-sifat tersendiri; bagi saya, Buddhisme itu seakan-akan merupakan suatu ilmu pengetahuan.

Karena materi kasarnya bagi studi dan therapy-nya adalah pengalaman, Buddhisme itu dapat diistilahkan sebagai ilmu pengetahuan tentang pengalaman.

Yunani Kuno, lama setelah munculnya Hinduisme, mulai tertarik perhatiannya kepada psyche, yang mereka lihat sebagai suatu essensi, roh (= soul) atau semangat (= spirit), yang membuat benda-benda itu hidup. Pada abad ketujuh belas Masehi, di Inggris, istilah psyche memperoleh tambahan arti, yaitu sebagai jiwa (= mind). Kemudian, didalam abad yang sama, muncul untuk pertama kalinya, istilah psychology, suatu gabungan perkataan psycho-dan-logy, yang berarti studi tentang roh atau jiwa manusia (the study of the human soul or mind).

Psychology ini tetap merupakan gabungan antara religi dan philosophy, sampai abad ke-sembilan belas. Lalu itu mulai menjadi ilmu pengetahuan, dengan meninggalkan konsep roh (= soul), dan bahkan lalu juga meninggalkan konsep jiwa (= mind), untuk akhirnya mengkonsentrasikan perhatiannya pada studi tentang pengalaman. Orang-orang seperti Wundt, dan kemudian Freud dan para penganutnya, mengambil pengalaman sebagai subject penyelidikannya, dan mempelajarinya dengan methode introspeksi.

Oleh karena itu, ilmu pengetahuan tentang pengalaman, lalu tersusun kembali secara keseluruhan. Adalah menarik untuk diketahui bahwa saat itu lalu mungkin merupakan sejarah barunya dari psychology, yaitu karena kena pengaruh dari Dunia Timur, atau barangkali karena kena pengaruh filsafat pada ketika itu, psychology sebagian mengalami perubahan dari studi terhadap roh, menjadi ilmu pengetahuan instrospective tentang pengalaman.

Selama masa abad sekarang ini, psychology telah meluas dan mencakup juga studi tentang tingkah-laku, sehingga sekarang ini telah diterima secara umum bahwa psychology telah menjadi ilmu pengetahuan tentang pengalaman dan tingkah-laku (the science of experience and behaviour). Namun psychology masih terlekati oleh nama yang kurang baik, yaitu faktanya, berdasarkan arti aksaranya, psychology itu berarti suatu studi tentang roh atau jiwa (study of soul or spirit).

Psychology itu tidak hanya studi tentang pengalaman dan tingkah-laku saja, tetapi, seperti Buddhisme, juga berusaha untuk mengubah pengalaman dan tingkah-laku. Ahli ilmu jiwa, sangat menyadari bahwa ilmu pengetahuan psychology itu, lebih dari pada hanya merupakan ilmu pengetahuan yang biasa, seperti Buddhisme, haruslah dapat memunculkan suatu cara kehidupan yang baru, suatu filsafat kehidupan yang baru, nilai-nilai yang baru, dan kode tingkah-laku, yang baru.

Buddhisme dan psychology yang introspective, itu lalu, meliputi tepat sama dalam satu landasan, dan secara sama dan tepat, juga memiliki aktualitas atau scope yang potensial, yang sama. Kiranya orang tidak perlu khawatir, bahwa Buddhisme itu akan dijadikan bagian dari psychology, atau diterangkan berdasarkan theori-theori psychologis.

Diterimanya Buddhisme sebagai ilmu pengetahuan tentang pengalaman, itu menyebabkan diperlukannya penulisan kembali dan pemikiran ulang keseluruhan sejarah dan garis arah perkembangan psychology. Nama psychology pun, terasa kuno, dan perlu diganti, tanpa akan banyak yang menentangnya.

Perlulah untuk diketahui bahwa orang-orang Hindu-lah, bukan orang-orang Yunani, yang telah meletakkan dasar untuk studi tentang pengalaman. Pula, perlu untuk diketahui bahwa Buddhisme-lah, bukan psychology, yang merupakan ilmu pengetahuan tentang pengalaman, dan Pangeran Siddhartha-lah, yang menjadi pendiri dan Bapak dari ilmu pengetahuan tersebut, bukan Wundt atau Freud. Penemuan Pangeran Siddhartha tentang cara penyembuhan yang radikal, untuk menyembuhkan disorganisasi mental, atau penyakit-penyakit jiwa, adalah cukup sempurna dan lengkap, bahkan tanpa ditambah dengan sumbangan cara-cara penyembuhan yang lainnya pun, mampu menyembuhkan kepribadian yang mengalami disorganisasi, sehingga beliau benar-benar merupakan tokoh paling besar di bidang ilmu pengetahuan, dan tampaknya merupakan tokoh paling besar yang belum ada tandingannya. Apakah Buddhisme itu secara historis, bertanggung-jawab atas munculnya psychology yang ilmiah, atau tidak, itu tidak mengubah fakta, bahwa psychology hanya merupakan perluasan masa belakangan, dari Buddhisme.

Apabila hal-hal tersebut diatas, telah diketahui, Buddhisme tentu memperoleh kedudukan yang sangat penting di Dunia Barat, dan ilmu pengetahuan Dunia Barat tentu akan memperoleh theori dan therapy tentang pengalaman, yang jelas, pada suatu waktu, tampak masih sedikit yang dimilikinya itu.

Leave a Reply 0 comments