
Sebuah Catatan Kecil dari
“Dhamma for All & All for Dhamma”
( di sadur dari Catatan Wedyanto Hanggoro )
Sabtu 12 Desember lalu, sekitar jam 16.00 WIB, di ruang Convention Center, CBD Setos, Serpong Tangerang, diadakan perhelatan yang cukup istimewa dan mungkin baru pertama kalinya terjadi di Tangerang, yaitu seminar yang menggabungkan dua tradisi besar dalam Buddhisme, Theravada & Mahayana (mohon koreksinya bila catatan saya salah).
Secara kultural, Tangerang boleh dianggap cukup kuat dalam menjalankan tradisi Theravada. Namun hari itu, merupakan bukti ketulusan hati umat Tangerang dalam membuka diri terhadap tradisi yang kebetulan berbeda dengan tradisi dominan yang mereka jalani selama ini.
Aspek positif lainnya adalah bergabungnya semua generasi muda Buddhis se-Tangerang, dengan menanggalkan semua bendera organisasi mereka, kultur tradisi mereka dan yang paling penting adalah ego mereka, untuk melaksanakan hajat besar yang begitu indah ini.
Adapun esensi sejati dari tema yang disepakati panitia adalah bahwa Dharma itu sesungguhnya ada di setiap “jalan” (dan bukanlah monopoli agama tertentu), sehingga keindahannya sungguh sangat tergantung kepada praktek nyata dari para individu/umatnya. Dharma itu sendiri itu bukan ciptaan para Manusia Agung yang menjalani hidup kesucian, tapi kebenaran abadi yang tidak akan musnah, meski ajaran-ajaran mereka suatu saat akan punah. Para Manusia Agung itu hanya telah mampu melihat Dharma secara sempurna dan apa adanya serta membagikannya kepada kita semua, agar kita juga mampu mencapai kebahagiaan sejati sama seperti mereka. Dan kebenaran itulah yang kemudian dibagikan kepada seluruh peserta yang hadir.
Malam itu, seminar menghadirkan tiga orang pembicara yaitu YM. Bhante Uttamo Mahathera yang mewakili tradisi Theravada, YM. Bhiksu Bhadra Pala (Suhu Xian Bing) dan muridnya, Sramanera Sakya Sugata (Sami Neng Xiu) yang mewakili tradisi Mahayana.
Mulai dari sedikit nukilan singkat latar belakang beliau yang kebetulan besar dari keluarga dan lingkungan dengan tradisi non-Buddhis (beliau baru mengenal Buddhisme saat usia 20 tahun), hingga pemaparan beliau tentang keindahan tradisi-tradisi yang ada di dalam Buddhisme dan menemukan Buddha di dalam diri kita masing-masing. Begitu banyak kutipan-kutipan indah yang hadir dari presentasi Bhante Uttamo malam itu, yang semuanya mungkin takkan mampu dituangkan sepenuhnya dalam bentuk tulisan ini, karena masing-masing memiliki latar belakangnya sendiri-sendiri hingga pesan-pesan indah tersebut akhirnya mengalir dengan mempesona pada malam itu. Mungkin beberapa diantaranya yang masih bisa dihadirkan tanpa mengurangi makna yang sebenarnya seperti, “Adalah lebih baik bagi mereka yang mungkin tidak mengenal sebuah jalan, tapi mampu melepaskan diri dari segala kekotoran batin dan mencapai nibbana, daripada mereka yang sudah memiliki jalan, tapi mencapai surga saja tidak mampu”.
Bhante juga menguraikan tentang mereka yang masih merendahkan keyakinan lain, sesungguhnya mereka masih belum mampu memahami esensi sejati dari keyakinan yang mereka pilih/jalani itu. Bagi mereka yang masih suka merendahkan keyakinan selain dirinya, harus mulai menyadari bahwa sesungguhnya esensi Dharma yang sejati itu semuanya berawal dari, “Jangan berbuat kejahatan; Perbanyak kebajikan; Sucikan hati dan pikiran; Itulah ajaran para Buddha” dan ini akan selalu ada pada setiap “jalan” yang ada di dunia ini, sedangkan yang membedakan mungkin hanyalah ritual/tradisinya.
Adapun tentang bagaimana kita bersikap saat ada yang merendahkan diri kita (atau bahkan berbuat jahat pada kita), maka menurut Bhante, sikap marah adalah bukan sikap yang tepat (senar ditarik terlalu kencang) karena bukannya menyelesaikan masalah akan tetapi malah menimbulkan masalah baru. Namun sikap diam juga bukanlah pilihan yang bijaksana (senar yang ditarik terlalu kendur), karena mereka yang merendahkan akan tetap dalam pandangan (dan perbuatan) mereka yang salah. Jalan tengah yang terbaik adalah berusaha menjelaskan dengan penuh kesabaran, tentang kebenaran yang seharusnya secara apa adanya, namun apabila pihak yang merendahkan tetap belum mampu menerima penjelasan kita, maka semoga cerminan sikap/perbuatan nyata kita sehari-hari yang kelak akan “menjelaskan” kepada mereka.
Menjelaskan dengan penuh kebaikan dan juga kesabaran adalah hal bijaksana yang paling tepat dilakukan, ketimbang marah atau bahkan diam. Karena pada akhirnya, sesuai dengan pesan Sang Buddha, “Kebencian tidak pernah akan berakhir apabila dibalas dengan kebencian, hanya dengan cinta kasih dan kebijaksanaanlah maka kebencian itu baru akan berakhir.” Dan sebagai kunci utama dari Bhante malam itu (dalam menyikapi keberagaman tradisi yang terdapat dalam Buddhisme) adalah, ”Yang sudah sama tidak perlu untuk dibeda-bedakan lagi, dan yang sudah berbeda jangan pernah dicoba lagi untuk disama-samakan…”
Rasanya saya tidak perlu memberikan komen apapun lagi kepada pembicara sekelas Bhante Uttamo, karena pencerahan-pencerahan kecil yang mengalir dan meletup-letup dengan dahsyatnya sekaligus indah dan juga sangat mempesona, telah mampu mengoyak-ngoyak isi perut para hadirin sekaligus menjernihkan batin, hati dan pikiran mereka. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga, karena malam itu saya bisa banyak belajar tentang Dharma dan sekaligus belajar bagaimana menyampaikan keindahan pesan-pesan Dharma Sang Buddha dengan cara yang indah, elegan sekaligus mempesona (anjali saya dengan penuh rasa hormat dan juga penuh mudita kepada beliau bertiga).
Sesungguhnya masih begitu banyak keindahan-keindahan lain yang hadir pada malam itu dari pembicara-pembicara yang sangat luar biasa seperti beliau bertiga, namun artikel ini tak akan mampu menjadi wadah yang maksimal untuk menampung pesona mereka yang menggetarkan hati kita semua yang hadir malam itu. Meski begitu, saya tetap berharap, semoga tulisan sederhana ini masih dapat memberikan manfaat & kebahagiaan bagi anda semua.
Terima kasih saya sampaikan atas kerja keras serta kepercayaan rekan-rekan Panitia yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melayani beliau bertiga selaku moderator acara. Pada kesempatan ini, saya juga mohon maaf apabila ada kekurangan dalam pelayanan saya pada malam itu, baik kepada ketiga pembicara juga kepada rekan-rekan panitia. Terima kasih dan rasa maaf juga saya sampaikan kepada 1.000 (seribu) peserta yang tetap setia mengikuti acara berdurasi sekitar hampir 5 (lima) jam itu, hingga usainya acara secara keseluruhan (terimalah rasa salut dan hormat saya untuk mereka). Terima kasih tulus juga disampaikan kepada para sponsor/donatur, karena acara ini dapat terwujud dengan baik dan lancar, salah satunya adalah berkat support/kontribusi langsung dari mereka. Terima kasih juga buat Ita (selaku MC acara) dan Hendri (yang telah menciptakan sebuah lagu khusus untuk acara seminar itu, tiga jam sebelum acara dimulai, proficiat bro…). Sukses dan bahagia selalu untuk kita semua di dalam Dharma. Semoga kebersamaan ini akan selalu berlanjut di waktu-waktu yang akan datang dan juga untuk selamanya. Selamat berbuat kebajikan dan semoga semua makhluk selalu hidup berbahagia, Svaha. Satu dalam keberagaman, Dhamma for All & All for Dhamma, jia you
Dipersembahkan dengan penuh mudita
Untuk pribadi-pribadi yang penuh cinta
Wedy
(Moderator Seminar “Dhamma for All & All for Dhamma”)
Seminar Dhamma for All & All for Dhamma (Bhante Uttamo, Suhu Xian Bing & Sami Neng Xiu), 12 Desember 2009.
Sumber :
Facebook : Bodhgiri Uttama Caritta (BUC)
Posting : 15 Desember 2009
