Dharma for All, All for Dharma

Dharma for All, All for Dharma

( di sadur dari YOGES )

Pada tanggal 12 Desember yang lalu, diadakan seminar Dharma for All, All for Dharma dengan pembicara Y.A Bhante Uttamo Mahathera, Y.A Bhikkhu Bhadra Phala (Suhu Xian Bing), dan Samanera Sakya Sugata (Neng Xiu). Seminar ini berlangsung sangat baik, semua peserta merasa sangat terhibur dengan pembabaran Dharma oleh ketiga pembicara.

Demikianlah beberapa point yang dapat saya bagi ke sahabat-sahabat YOGES, apabila ada penjelasan yang kurang mohon dimaklumi, sebaliknya apabila ada yang ingin menambahkan penjelasan yang kurang juga dapat mengirimkannya ke Facebook YOGES, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca. Semoga kita semua cepat tercerahkan, Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.

Beberapa catatan yang ingin saya bagikan kepada sahabat-sahabat YOGES sekalian telah saya rangkum dalam point-point dibawah ini (sejauh yang saya ingat dan saya catat :))

1. Agama adalah motivator, bukan provokator.

Agama yang menjadi provokator; pertanyaan mengenai agama adalah hal yang sangat sensitif dikalangan kita, ketika kita ditanya mengenai agama kita, efeknya lebih kurang seperti ketika kita ditanya: berapa gajimu? hehehe.. ilustrasi yang lucu, namun hal ini sangat mungkin terjadi. Ketika kita berbincang dengan seru dengan seseorang, apabila muncul pertanyaan: apa agamamu? jawaban orang itu bukan tidak mungkin akan membuat pembicaraan menjadi hambar, salah satu pembicara mungkin akan menarik diri, atau sebaliknya terlalu provokatif dalam memperkenalkan agamanya. Bhante Uttamo mengatakan, beliau tidak pernah menanyakan agama apa yang dianut seseorang ketika orang tersebut mengunjunginya. Selain itu, Bhante juga tidak pernah mempertanyakan dari aliran mana orang tersebut berasal. Bhante Uttamo berharap bahwa suatu hari umat Buddha dapat mengunjungi vihara mana saja yang mereka temui tanpa melihat dari aliran mana vihara itu, karena kita semua merupakan umat Buddha, hanya tradisinya sajalah yang berbeda.

2. Dharma identik dengan Agama Buddha. Ketika Agama Buddha musnah, apakah Dharma ikut musnah?

Dharma adalah hukum alam. Pengetahuan semesta yang ditemukan oleh Sang Buddha. Sang Buddha tidak menciptakan ajaran itu sendiri, melainkan menemukan ajaran dan membabarkannya kepada pada umatnya. Ketika Agama Buddha musnah (dilupakan), Dharma itu tetap ada di alam semesta. Dan kemudian Buddha Maitreya akan menemukan kembali Dharma itu dan membabarkannya kepada para umatnya.

3. Apabila Dharma itu universal, mengapa tidak semua orang dapat menerimanya?

Segala sesuatu dipilih berdasarkan kecocokan. Kita tidak dapat mengatakan sesuatu itu benar atau salah, karena tidak akan ada yang bisa mengetahuinya; yang ada hanyalah kecocokan. Sama halnya seperti di Indonesia, semua orang bisa makan nasi untuk hidup, akan tetapi tidak semua orang cocok makan nasi, di beberapa wilayah di Indonesia masyarakatnya ada yang makan sagu, ada yang makan ketela dsb, ini menunjukkan segala pilihan itu berdasarkan kecocokan belaka. ‘yang sama tidak perlu dibedakan, yang beda tidak perlu disamakan’ demikian kata Bhante Uttamo. Sama seperti pemilihan aliran Bhante dengan para Suhu. Kebetulah Bhante memilih aliran dari India yang dikenal dengan Theravada, dan Suhu serta samanera memilih tradisi dari Cina, yang dikenal dengan Mahayana. Semua ini hanya berdasarkan kecocokan, namun perbedaan inilah yang menjadikannya kaya. Kita tidak perlu membeda-bedakan bhante dan suhu hanya dari jubahnya, atau menyamakannya (Bhante memberi contoh dengan menyuruh Bhante memakai tasbih akan sangat lucu jadinya)

4. Mengenai konsep ketuhanan dalam Agama Buddha.

Mengenai ketuhanan, secara legal formal di Indonesia, kita sudah mengakui bahwa adanya ketuhanan dalam Agama Buddha. Ini terbukti dari sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Apabila tidak ada ketuhanan dalam Agama Buddha, maka Agama Buddha tidak mungkin diakui sebagai salah satu agama di Indonesia. Penjelasan mengenai ketuhanan dalam Agama Buddha adalah ‘pencapaian’ seseorang; dalam agama lain, sering dikatakan ketika seseorang meninggal ia akan berada di sisi Tuhan, dsb, Tuhan disini merupakan suatu pencapaian yang ingin dicapai seseorang diakhir hidupnya, bedanya dengan ajaran Buddha, pencapaian kepada Tuhan itu bisa dicapai ketika seseorang masih hidup, yaitu pencapaian Nibbana. Ketuhanan dalam Agama Buddha adalah Nibbana itu sendiri, pencapaian kesempurnaan, dimana tidak ada lagi kebencian, ketamakan, dan kebodohan batin; suatu kebebasan sempurna.

5. Bagaimana caranya menghadapi orang dengan diam, tapi tidak dicela?

Pada ceramah sebelumnya, dikatakan bahwa sebagai seorang Buddhis, kita harus menanggapi tiap masalah dengan bijaksana. Menenangkan diri, berpikir, baru kemudian bertindak. Sebagai akibatnya, tindakan yang kita lakukan adalah suatu tindakan yang bijaksana. Akan tetapi, hal ini mengundang pertanyaan seperti yang disebutkan diatas. Lalu Bhante menjawab, sebagai contoh, apabila kaki Bhante diinjak Suhu Xian Bing, maka ia akan menyingkirkan kakinya agar tidak diinjak lagi. Suatu kejadian buruk yang menimpa kita hendaknya menjadi suatu pelajaran. Apa yang sudah terjadi tidak dapat kita rubah lagi, tetapi apa yang belum terjadi, dapat kita kuasai. Kita dapat menentukan apa yang harus kita lakukan ketika kejadian tersebut terjadi lagi pada kita sehingga kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Seperti ilustrasi kaki Bhante yang diinjak diatas, alangkah bodohnya apabila hanya membiarkan kaki kita diinjak orang sampai biru tanpa berbuat apa-apa, yang dapat kita lakukan adalah memberitahu si penginjak, lalu menggeser kaki kita, apabila si penginjak terus mendekati kita, sebaiknya kita menjauh, dan seterusnya.

Lalu pertanyaan ini mendapat jawaban yang tidak kalah menarik dari Samanera Sakya Sugata. Ketika beliau belajar di Fo Guang Shan, beliau sempat berselisih dengan sahabatnya yang juga merupakan wakilnya di organisasi (saat itu beliau adalah ketua organisasi). Perselisihan itu membuat Samanera didiamkan oleh temannya, sampai akhirnya terjadi ‘diam-diaman’. Suatu hari Shifu (Guru) mereka menanyakan apakah ada masalah yang terjadi diantara mereka. Samanera menjelaskan keadaannya kepada Shifu. Lalu Shifu bertanya, “Apakah kalian tahu fungsi sepatu?” Samanera menjawab, “Untuk melindungi kaki kita”. Shifu melanjutkan, “untuk peran sepenting itu, apakah sepatu pernah mengeluh? Dan apakah kalian sadar bahwa sepatu yang berperan penting itu letaknya dibawah dan selalu kalian injak-injak? Coba lihat ke sepatu kalian, ada apa disana.” Ketika itu, setiap sepatu harus ditulis nama besar-besar, termasuk sepatu Samanera. Ketika Samanera melihat sepatunya, ada namanya besar-besar tertulis disana. Jadi secara tidak langsung, setiap hari mereka telah ‘menginjak’ diri mereka masing-masing. Itu merupakan salah satu latihan yang diterapkan di Fo Guang Shan, untuk melatih kerendahan hati, untuk menghindari kesombongan.

6. Mengenai Serigala Hitam dan Serigala Putih

Dalam diri kita terdapat Serigala Hitam dan Serigala Putih yang terus berkecamuk. Serigala Hitam merupakan perwakilan dari kebencian, ketamakan, kebodohan batin, sedangkan Serigala Putih adalan perwujudan dari pikiran dan perbuatan baik kita. Samanera Sakya Sugata mengajarkan kita bagaimana cara menaklukkan Serigala Hitam dalam diri kita, yaitu dengan tidak memberinya makan! Serigala Hitam mudah sekali untuk tumbuh besar akibat dari tumpukan pikiran dan perbuatan buruk kita selama banyak kehidupan, sehingga pada kehidupan ini, sangat sulit untuk mengendalikannya. Sebaliknya tidak mudah juga untuk mengembangkan Serigala Putih dalam diri kita karena ia terus dikalahkan oleh Serigala Hitam, misalnya ketika berpikir ingin ke Vihara, tiba-tiba muncul rasa malas sehingga akhirnya kita memutuskan untuk tidak ke Vihara. Saat ini Serigala Hitam telah menang, dan itu menambah makanan untuk Serigala Hitam agar makin gemuk dan besar. Samanera mengajarkan kita untuk terus mengembangkan perbuatan baik kita, perbanyak baca paritta, perbanyak pergi ke Vihara, perbanyak perbuatan baik, maka Serigala Putihpun akan tumbuh besar dan mampu mengalahkan Serigala Hitam. Lalu Bhante Uttamo juga mengajarkan agar kita selalu waspada, selalu memperhatikan segala bentuk perubahan pikiran kita, memperhatikan ketika Serigala Hitam mulai berulah, atau Serigala Putih yang mulai bertumbuh, pada akhirnya hendaknya kita tidak memihak pada Serigala manapun, karena Seriga-Serigala ini akan terus mengikuti kita, kita tidak akan dapat mematikan salah satunya, oleh karena itu kita harus mulai ‘menyadari’. Ketika muncul pikiran buruk, ‘sadarilah’ bahwa Serigala Hitam mulai beraksi, dan sebaliknya ketika timbul keinginan baik, ‘sadari’ juga bahwa Serigala Putih telah bangun. Dengan begitu kita akan menjalani hidup dengan lebih bijaksana.

Sumber :
Facebook : Bodhgiri Uttama Caritta (BUC)
Posting : 15 Desember 2009

Leave a Reply 0 comments