Jilid II – Kelompok Sepuluh

DHAMMA VIBHAGA
(PENGGOLONGAN DHAMMA)
JILID II

KELOMPOK SEPULUH

1. PANDANGAN-PANDANGAN EKSTRIM (ANTAGAHIKA DITTHI)

  1. Dunia adalah kekal.
  2. Dunia adalah tidak kekal.
  3. Dunia memiliki suatu akhir.
  4. Dunia tidak memiliki suatu akhir.
  5. Kehidupan dan badan jasmani adalah sama.
  6. Kehidupan dan badan jasmani adalah berbeda.
  7. Setelah kematian Sang Tathagata tetap ada (hidup).
  8. Setelah kematian Sang Tathagata tidak ada.
  9. Setelah kematian terdapat Sang Tathagata yang tetap ada dan terdapat juga yang tidak ada.
  10. Setelah kematian Sang Tathagata bukannya ada maupun tidak ada.

Ma. Ma. 13/143

KETERANGAN

Sepuluh pandangan ini juga disebut pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab (abyakatapañha) atas dasar bahwa mereka adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan dijawab oleh Sang Buddha karena mereka tidak akan berguna dipandang dari sudut tujuan terakhir Agama Buddha, yaitu akhir atau padamnya penderitaan.

Tetapi pertama-tama harus dicatat bahwa tidak seperti tiga pandangan ekstrim yang keliru dalam No. 14, Kelompok Empat, sepuluh di atas itu hanyalah penghalang-penghalang bagi pencapaian Nibbana, tetapi tidak selalu merupakan penghalang bagi pencapaian alam-alam luhur (surga). Ini berarti bahwa walaupun mereka mencegah seseorang yang terlibat dengan mereka untuk mencapai Penerangan Sempurna, akan tetapi mereka tidak selalu merintangi kelahirannya kembali di alam-alam dewa.

PENJELASAN TENTANG SEPULUH HAL DIATAS:

Sebab mula dari sepuluh Pandangan di atas dapat diteliti kembali pada diri seorang bhikkhu yang bernama Malunkyaputta, yang bertanya kepada Sang Buddha tentang kebenaran dari pandangan-pandangan ini dan berusaha untuk mengadakan suatu tawar-menawar dengan Beliau. Bahwa ia akan meninggalkan persaudaraan Sangha apabila Sang Buddha tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu kepadanya. Sebagai jawaban, Sang Buddha mengingatkan kembali bhikkhu itu bahwa Beliau tidak menjanjikan untuk menerangkan pertanyaan-pertanyaan itu kepadanya, dan itu adalah urusan bhikkhu itu sendiri apakah ia akan meninggalkan persaudaraan Sangha atau tidak. Dari hal ini, jelas bahwa Sang Buddha telah memberitahukan kepada para siswa lainnya bahwa pertanyaan-pertanyaan demikian adalah tidak berguna dari sudut pencapaian Penerangan Sempurna, walaupun arti dari pertanyaan-pertanyaan ini tidak diterangkan lebih lanjut. Karena itu, berikut ini adalah pandangan kami sendiri yang selanjutnya terserah kepada pendapat para sarjana.

‘Dunia’ dalam No. 1, 2, 3, dan 4 seharusnya menunjukkan makhluk-makhluk hidup (No. 26 Kelompok Tiga). Bahwa ‘Dunia adalah kekal’ seharusnya menunjukkan ajaran kekekalan yang berlaku pada saat itu, sedangkan pandangan yang berlawanan ‘Dunia adalah tidak kekal’ seharusnya menunjukkan pada ajaran tentang kemusnahan yang berlawanan (untuk dua pandangan ini lihat No. 4, Kelompok Dua).

Sebaliknya, ‘dunia memiliki suatu akhir’ dapat berarti keyakinan bahwa alam-alam dewa yang disebut Brahma adalah titik terakhir bagi mereka yang telah berbuat baik dalam dunia ini. Mereka dikaruniai dengan tubuh-tubuh astral yang permanen, tidak harus mengalami suatu perubahan lagi. Ini juga merupakan suatu keyakinan yang cukup kuat pada waktu itu.

Sebaliknya, ‘dunia tidak memiliki akhir’, dapat menunjukkan pada ajaran yang berlawanan, bahwa lingkaran kelahiran dan kematian makhluk hidup adalah tanpa akhir, tidak ada jalan untuk mengakhirinya.

Di dalam No. 5 dan 6, istilah ‘kehidupan’ diterjemahkan dari kata Jivam, yang mungkin juga jivo seperti telah diterangkan dalam doktrin tentang kekekalan (No.4, Kelompok Dua), yaitu nama lain untuk Atman atau Aku. Menurut ajaran Brahman, setelah kehancuran badan jasmani, jivo keluar dari tubuh dan mengambil tubuh lain sebagai perwujudan kelahiran barunya. Tetapi ada juga orang-orang yang berkeyakinan sebaliknya. Jadi keyakinan bahwa Jiwa adalah sama, nampaknya menggambarkan teori materialistik yang paling ekstrim pada waktu sekarang, karena ajaran itu beranggapan bahwa tidak ada sesuatu yang tertinggal setelah badan jasmani mati. No. 6 adalah lawan dari No. 5, karena beranggapan bahwa keduanya adalah tidak berhubungan atau dengan kata lain berbeda.

Dalam No. 7 sampai dengan No. 10, istilah Tathagata menimbulkan suatu pertanyaan yang membingungkan. Biasanya, kata ini dipergunakan untuk menunjukkan Sang Buddha. Kata ini dapat dipergunakan dalam jumlah plural, menyatakan para Buddha sebelumnya yang memberikan ajaran yang sama. Inilah arti mula-mula dari istilah itu, yang berarti: “Ia yang datang dan mengajarkan seperti itu (dalam cara yang sama seperti mereka yang telah datang sebelumnya)”. Di dalam, kitab-kitab sanskrit istilah ini dipergunakan dalam suatu pengertian yang lebih luas, karena dapat dipergunakan untuk mengartikan para nabi dari kaum Jainisme, meliputi juga seorang yang bernama Niganthanataputta, yang hidup pada jaman yang sama dengan Sang Buddha. Istilah itu kadang dipergunakan untuk menunjukkan pada para Raja atau para Pangeran, tetapi tidak pernah dipergunakan untuk menunjukkan pada orang-orang umum.

Dari sudut pandang ini dapat diperkirakan bahwa istilah Tathagata di sini seharusnya dipergunakan untuk mengartikan para guru agama atau para nabi dari semua keyakinan agama, yang dihormati sebagai makhluk agung dalam keyakinan mereka masing-masing. Pertanyaan-pertanyaan kemudian berkisar pada pencarian rasa ingin tahu tentang seorang guru agama, suatu keinginan untuk mengetahui apakah seorang makhluk agung demikian akan tetap hidup setelah kematiannya atau tidak. Atau seandainya ia tetap hidup, dalam cara apa? Perkiraan ini bahkan mempunyai kejadian yang menyokong seperti halnya seorang petapa yang bernama Subhadda, yang bertanya kepada Sang Buddha sebelum kematian-Nya mengenai keyakinan yang telah dianut sebelumnya.

Akan tetapi, komentar telah menjadikan persoalan itu menjadi lebih sukar karena istilah Tathagata diterangkan sebaliknya. Disana dikatakan bahwa istilah Tathagata dipergunakan untuk mengartikan makhluk-makhluk secara umum. Ini benar-benar membingungkan, karena sejauh itu tidak mempunyai alasan yang dapat memperkuatnya. Karenanya, terserah pada penyelidikan dan keputusan lebih jauh dari para sarjana.

2. SEPULUH RANGKAIAN PANDANGAN TERANG DARI SANG BUDDHA (DASABALAÑANA)

  1. Pandangan terang yang menentukan kemungkinan dan ketidakmungkinan (thanathanañana)
  2. Pandangan terang yang menentukan akibat-akibat kamma (vipakañana)
  3. Pandangan terang yang menentukan cara-cara praktek yang membawa pada bermacam-macam alam kehidupan (sabbatthagaminipatipadañana)
  4. Pandangan terang yang menentukan susunan unsur-unsur kehidupan (nanadhatuñana)
  5. Pandangan terang yang menentukan perbedaan kecenderungan-kecenderungan (nanadhimuttikañana)
  6. Pandangan terang yang menentukan tingkatan perkembangan dari kemampuan-kemampuan makhluk hidup (indriyaparopariyattiñana)
  7. Pandangan terang yang menentukan pencapaian jhana dan kemunduran karena kekotoran-kekotoran bathin (jhanasankilesadiñana)
  8. Pandangan terang yang menentukan kelahiran-kelahiran sebelumnya (pubbenivasanussati-ñana)
  9. Pandangan terang yang menentukan kelahiran dan kematian makhluk-makhluk karena perbedaan kamma mereka sendiri (cutupapata-ñana)
  10. Pandangan terang yang menghancurkan kekotoran-kekotoran bathin untuk seketika dan untuk selamanya (asavakkhaya-ñana)

Ma. Mu. 12/140

KETERANGAN

“Apapun yang lahir pasti akan mati” adalah suatu contoh dari kemungkinan: “Apapun yang lahir tidak akan mati” adalah suatu contoh dari ketidakmungkinan. “Jahat menghasilkan buah jahat dan baik menghasilkan buah baik” adalah contoh kemungkinan lainnya; sedangkan “jahat menghasilkan buah baik dan sebaliknya” adalah contoh dari ketidakmungkinan lainnya. Ini adalah contoh dari jangkauan Pandangan Terang yang menentukan kemungkinan-kemungkinan dan ketidakmungkinan-ketidakmungkinan.

Kedua, pandangan terang yang menentukan akibat-akibat kamma adalah berguna untuk membedakan mana akibat perbuatan baik dan mana akibat dari perbuatan buruk. Pandangan terang ini menghalangi kebingungan dan ketidaktahuan; yang menganggap akibat perbuatan baik sebagai perbuatan buruk dan sebagainya.

Ketiga, Pandangan Terang yang menentukan cara-cara praktek yang membawa pada alam kesengsaraan, alam kebahagiaan, dan selanjutnya pada akhir dari penderitaan.

Keempat, adalah Pandangan Terang yang menentukan faktor-faktor bagian atau susunan dari apa yang tergabung sebagai nama dan rupa atau kelompok-kelompok kehidupan, yaitu menguraikannya menjadi bermacam-macam faktor bagian yang lebih kecil yang berkumpul menjadi satu dan membentuk apa yang nampaknya menjadi suatu kesatuan yang utuh. Ini adalah Pandangan Terang yang menghancurkan anggapan-anggapan keliru atau jebakan-jebakan luar dalam sifat mereka yang sebenarnya dibelakang. Misalnya, nama dan rupa diuraikan menjadi bermacam-macam kelompok. Masing-masing kelompok dapat diuraikan lebih lanjut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut unsur-unsur, kemampuan-kemampuan, organ-organ indria, dan selanjutnya.

Kelima dan keenam berhubungan dekat sekali, yang pertama sebagai kemampuan untuk mengetahui kecenderungan dan watak yang baik dan buruk, dan yang kedua sebagai kemampuan untuk mengetahui kemampuan-kemampuan atau kekuatan dan kelemahan dari tiap-tiap individu.

Ketujuh menyatakan pengetahuan akan sebab-sebab perkembangan dan keruntuhan meditasi serta hal-hal lain yang berhubungan. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai yang kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh telah diterangkan dalam tiga rangkaian pengetahuan, No. 28, Kelompok Tiga.

3. KESEMPURNAAN-KESEMPURNAAN (PARAMI)

  1. Kemurahan hati (dana)
  2. Kemoralan (sila)
  3. Peninggalan kesenangan indria (nekkhama)
  4. Kebijaksanaan (pañña)
  5. Usaha atau semangat (viriya)
  6. Kesabaran (khanti)
  7. Kebenaran (sacca)
  8. Keputusan yang teguh (adhitthana)
  9. Cinta kasih (metta)
  10. Keseimbangan (upekkha)

Khu. Car. 33/596

KETERANGAN

Secara harfiah, istilah paramï dianggap berasal dari kata parami, berarti agung, menyatakan pada kesucian-kesucian atau praktek-praktek yang agung. Dikatakan bahwa para Buddha harus mengembangkan sifat-sifat agung ini sejak menjadi calon Buddha dalam kehidupan-kehidupan lampau yang jauh dan setelah mereka mencapai kesempurnaan akan sifat-sifat mulia ini. Banyak di antara kesempurnaan-kesempurnaan diatas tidak sukar untuk dimengerti. Karena itu, berikut ini hanya akan diterangkan beberapa di antara mereka.

Meninggalkan kesenangan-kesenangan indria (nekkhamma) sering diartikan menjadi seorang bhikkhu. Ini benar sejauh berkenaan dengan manifestasinya, tetapi juga harus diingat motif yang mendasarinya (peninggalan atau penghindaran atau menahan diri dari kesenangan indria). Jika tidak, perangkap-perangkap upacara dan jubah kadang-kadang dapat membawa seorang ke arah jalan yang sesat.

Kebenaran (no.7) berarti teguh pada pencarian kebenaran. Dalam cerita-cerita Jataka manifestasi-manifestasi dari sifat ini seringkali disebutkan dengan menyatakan hidup demi kebenaran. Seseorang harus tetap hidup untuk mengatasi rintangan-rintangan yang menghalangi
pencapaian tujuan terakhir.

TIGA TINGKATAN:

Sepuluh kesempurnaan ini telah digolongkan menjadi tiga kelompok atau tingkatan, menjadikan tiga puluh seluruhnya. Tiga kelompok itu secara bertingkat-tingkat disebut: kesempurnaan-kesempurnaan (parami), kesempurnaan-kesempurnaan dekat (upaparami) dan akhirnya kesempurnaan-kesempurnaan mutlak (paramatthaparami). Akan tetapi, ukuran bagi suatu tingkatan demikian adalah sukar dimengerti. Misalnya, dana, telah diterangkan demikian: memberikan uang atau materi-materi lain adalah kesempurnaan biasa; memberikan anggota badan adalah kesempurnaan dekat; dan memberikan kehidupan adalah kesempurnaan mutlak. Ini adalah satu cara menggolongkan. Kemoralan dapat juga digolongkan dengan standar ini. Jadi melaksanakan kemoralan yang memerlukan pengorbanan uang dan materi-materi lain dapat dianggap sebagai kesempurnaan biasa (permulaan); apabila itu memerlukan pengorbanan anggota badan, maka itu dapat disebut kesempurnaan pertengahan atau dekat; dan dengan mempertaruhkan kehidupan, maka itu adalah kesempurnaan mutlak.

Akan tetapi, bagaimana untuk membagi selanjutnya dengan ukuran ini? Benar, itu dapat dilakukan, tetapi jelas membingungkan. Menurut pendapat kami, kesempurnaan-kesempurnaan yang telah dipupuk oleh calon Buddha dalam masa-masa kehidupan yang jauh sekali ketika Beliau dilahirkan sebagai manusia dan sebagai binatang, seharusnya digolongkan sebagai kesempurnaan-kesempurnaan biasa; sedangkan kesempurnaan-kesempurnaan yang dipraktekkan dalam sepuluh kehidupan-kehidupan sebelum kehidupan-Nya yang terakhir, dimana sembilan dari sepuluh kesempatan itu Beliau lahir sebagai manusia (satu sebagai seekor ular naga yang penuh kekuatan), seharusnya digolongkan sebagai kesempurnaan dekat atau pertengahan; dan kesempurnaan yang diselesaikan dalam kehidupan-Nya sebagai Pangeran Siddhattha (sebelum pencapaian Penerangan Sempurna-Nya) dapat dianggap sebagai kesempurnaan mutlak.

CERITA-CERITA KEHIDUPAN SANG BUDDHA

Cara pembagian ini sedikit banyak sesuai dengan cara penyusunan kitab lama mengenai riwayat kehidupan Sang Buddha. Menurut pembagian itu, ada tiga kategori mengenai cerita-cerita kehidupan Sang Buddha yang telah dibagi menurut dasar waktu; cerita-cerita masa kehidupan yang jauh (dure), yang tidak begitu jauh (avidure) dan yang dekat (santike). Akan tetapi, masih terdapat suatu perbedaan mengenai jangka waktu yang dipergunakan untuk pembagian ini. Cerita-cerita dari saat ketika ia membuat keputusan untuk menjadi seorang Buddha pada masa kehidupan Buddha Dipankhara sampai pada kelahiran-Nya dalam alam Tusita setelah kelahiran-Nya sebagai Pangeran Vessantara adalah cerita-cerita masa kehidupan yang jauh; cerita kehidupan yang tidak begitu jauh dimulai dari kelahirannya kembali dari surga Tusita sampai pada pencapaian Penerangan Sempurna-Nya; dan cerita kehidupan yang dekat dimulai dari saat pencapaian Penerangan Sempurna-Nya sampai pada pencapaian Parinibbana-Nya (wafatnya).

Dikatakan juga bahwa kesempurnaan-kesempurnaan ini harus diselesaikan tidak hanya oleh Sang Buddha saja, tetapi juga oleh para siswa mulia. Akan tetapi, perbedaannya mungkin adalah waktu yang diperlukan oleh para siswa Mulia lebih pendek daripada waktu yang diperlukan oleh Sang Buddha, karena tidak seperti Sang Buddha, mereka tidak bermaksud untuk menjadi perintis atau pendiri.

Berikut ini akan diberikan manifestasi dari kesempurnaan-kesempurnaan Sang Buddha dalam kehidupan-Nya yang terakhir:

  • Pengabdian kehidupan-Nya demi umat manusia menunjukkan kesempurnaan kemurahan hati dan kasih sayang.
  • Pelepasan kehidupan keduniawian-Nya adalah kesucian peninggalan-Nya.
  • Melaksanakan kedisiplinan dari kehidupan seorang bhikkhu adalah kesempurnaan moralnya.
  • Usaha-Nya yang terus menerus dan kesabaran dalam menghadapi kesukaran-kesukaran kehidupan adalah kesempurnaan dari kesabaran dan usaha atau semangat.
  • Keteguhan hati terhadap tujuan dan kejujuran terhadap tujuan mula-mulanya menggambarkan keteguhan hati dan kebenaran.
  • Ketenangan atau keseimbangan bathin, tidak terseret oleh keinginan atau kebencian dalam menghadapi godaan-godaan dan bahaya-bahaya adalah kesempurnaan dari keseimbangan-Nya.
  • Kemampuan, pengetahuan Beliau mengenai apa yang benar dan apa yang salah, apa yang merintangi dan apa yang membawa pada Sang jalan, yang membawa pada pencapaian Penerangan Sempurna adalah Kesempurnaan dari kebijaksanaan-Nya.

4. KONDISI-KONDISI SALAH (MICCHATTA)

  1. Pandangan salah (miccha-ditthi)
  2. Pikiran salah (miccha-sankappa)
  3. Ucapan salah (miccha-vaca)
  4. Perbuatan salah (miccha-kammanta)
  5. Penghidupan salah (miccha-ajiva)
  6. Usaha salah (miccha-vayama)
  7. Kesadaran salah (miccha-sati)
  8. Meditasi salah (miccha-samadhi)
  9. Pengetahuan salah (miccha-ñana)
  10. Kebebasan salah (miccha-vimutti)

An. Da. 24/226

KETERANGAN

Secara harfiah, Pandangan salah dapat berarti semua pandangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemoralan, tetapi pada khususnya istilah itu seharusnya menunjukkan pada pandangan-pandangan keliru yang ekstrim seperti yang telah dibicarakan dalam Kelompok Tiga, No. 14.

Pikiran salah berarti pikiran-pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kesenangan indria dalam cara-cara yang salah, kebencian atau ingin melukai makhluk-makhluk lain.

Ucapan salah berarti berbohong, mengfitnah, mengucapkan kata-kata kasar dan membicarakan hal-hal yang tidak ada gunanya (omong kosong).

Perbuatan salah berarti membunuh dan melakukan perbuatan-perbuatan sex yang melanggar.

Penghidupan yang salah berarti cara-cara salah dalam memperoleh mata pencaharian.

Usaha salah berarti usaha-usaha yang mengakibatkan hilangnya kebaikan-kebaikan yang telah dimiliki, mencegah timbulnya kebaikan-kebaikan baru, dan yang berakibat dengan timbulnya kejahatan baru dan bertambahnya kejahatan-kejahatan yang telah ada.

Kesadaran adalah salah apabila itu membawa pada kelahiran dan bertambahnya kenafsuan, kebencian, dan ketidaktahuan.

Meditasi dapat dikatakan salah apabila meditasi itu cenderung pada pemupukan keuntungan-keuntungan, nama harum atau merugikan orang lain (seperti ilmu hitam) dan ketidaktahuan.

Arti yang dimaksudkan dengan dua yang terakhir adalah agak kabur. Yang kesembilan, secara harfiah dapat diterjemahkan dengan Pandangan Terang salah (Pengetahuan salah). Itu dapat dipergunakan untuk menyatakan pengetahuan atau pandangan terang yang dicapai dalam keyakinan lain sebagai hasil dari metode meditasi mereka. Atau itu dapat dipergunakan untuk menunjukkan sepuluh kekotoran-kekotoran pandangan terang yang telah diterangkan dalam tingkat kesucian yang kelima (lihat No. 4, Kelompok Tujuh). Yang kesepuluh, Kebebasan yang salah, adalah juga sukar untuk dimengerti, karena tingkat kebebasan apapun yang sejauh itu telah diterangkan tidaklah dapat disebut salah. Satu-satunya jalan untuk mengartikan hal ini adalah bahwa kebebasan salah dimaksudkan untuk menyatakan kebebasan yang dimenangkan melalui ajaran dari keyakinan lain, yang mana, misalnya, berdasarkan atas perasaan takut akan adanya kekuatan di luar, ataupun menganggap mereka sebagai Makhluk Pencipta.

CATATAN:

Mungkin arti-arti yang dimaksudkan oleh unsur-unsur salah ini adalah saling jalin-menjalin. Jadi apabila Pandangan salah, selanjutnya secara otomatis menjadi salah pula, membentuk suatu kesatuan yang teguh salah dalam semua hal.

5. KONDISI-KONDISI BENAR (SAMMATTA)

  1. Pandangan-pandangan benar (samma ditthi)
  2. Pikiran-pikiran benar (samma sankappa)
  3. Ucapan benar (samma vaca)
  4. Perbuatan-perbuatan benar (samma kammanta)
  5. Penghidupan benar (samma ajiva)
  6. Usaha-usaha benar (samma vayama)
  7. Kesadaran benar (samma sati)
  8. Meditasi benar (samma samadhi)
  9. Pandangan terang benar (samma ñana)
  10. Kebebasan benar (samma vimutti)

An. Da. 24/226

KETERANGAN

Delapan yang pertama telah dibicarakan dalam Kelompok Delapan, Jilid I. Yang kesembilan menyatakan pada pengetahuan atau pandangan terang yang dicapai dengan memasuki Sang Jalan (No. 22, Kelompok Empat)

Yang kesepuluh menyatakan kebebasan mutlak atau kebebasan yang merupakan hasil dari memasuki Sang Jalan (No. 23, Kelompok Empat).

6. RINTANGAN-RINTANGAN BATHIN (SANYOJANA)

  1. Pandangan keliru mengenai aku atau kepribadian (sakkayaditthi)
  2. Keragu-raguan (vicikiccha)
  3. Terikat pada upacara-upacara (sillabbataparamasa)
  4. Keinginan bernafsu (kamaraga)
  5. Mudah tersinggung (patigha)

Lima diatas adalah disebut rintangan-rintangan rendah (orambhagiya)

  1. Kegembiraan di dalam bentuk-bentuk (meditasi ‘bentuk’) (ruparaga)
  2. Kegembiraan di dalam meditasi tidak berbentuk (aruparaga)
  3. Kesombongan atau ego (mana)
  4. Pikiran-pikiran kacau (uddhacca)
  5. Ketidaktahuan (avijja)

Lima yang terakhir ini disebut rintangan-rintangan tinggi (uddhambhagiya)

An. Da. 24/18

KETERANGAN

Apapun juga yang mengikat makhluk hidup pada lingkaran kelahiran dan kematian seperti sebuah rantai mengikat kaki seekor kuda pada sebuah tiang, adalah disebut suatu rintangan bathin.

  1. Mengenai rintangan pertama, faham mengenai aku atau kepribadian adalah salah apabila itu berdasarkan pada ikatan terhadap lima kelompok kehidupan, nama dan rupa, sebagai aku atau pribadi yang nyata, kekal.
  2. Keragu-raguan muncul sebagai rintang bathin kedua apabila itu berarti kebingungan atau keragu-raguan di dalam keyakinan terhadap Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha.
  3. Yang ketiga adalah keyakinan di dalam pengaruh upacara-upacara dan sembahyangan yang dapat mengatasi akibat-akibat kamma. Ini juga merupakan suatu sebab bagi ketahayulan, ilmu hitam, dan ritualisme.

CATATAN

  1. Ketiga rintangan ini akan ditinggalkan seluruhnya dan untuk selamanya dengan memasuki Jalan pemasuk-arus, yang dengan demikian telah dikaruniai dengan pandangan benar mengenai nama dan rupa, memiliki suatu keyakinan yang tidak tergoyahkan dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha dan memiliki pengertian benar mengenai inti sari ajaran Sang Buddha. Ini akan memberikan akibat-akibat yang merupakan ciri dari pemasuk-arus, yaitu tidak akan mengalami kemunduran di dalam kemajuan (niyato), tidak lagi menderita kejatuhan (avinipatadhammo) dan pasti akan mencapai Penerangan Sempurna (sambodhiparayano)
  2. Yang keempat dan yang kelima secara kolektif disebut keinginan dan kebencian. Mereka adalah seperti dua kuntum bunga yang tumbuh dari cabang yang sama karena mereka tumbuh bersama-sama dan mati bersama-sama. Ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa keduanya adalah rintangan tambahan yang harus ditinggalkan secara serentak oleh seorang anagami. Yang dimaksud dengan keinginan bernafsu adalah bentuk keinginan yang paling kecil sekalipun akan kesenangan indria, dan yang dimaksudkan dengan mudah tersinggung adalah kemungkinan yang paling kecil sekalipun bagi seseorang untuk menjadi marah. Jadi apabila seseorang masih mempunyai kemampuan untuk timbul nafsu keinginan dan menjadi marah, ia belum mencapai Jalan dari seorang yang tidak kembali lagi (mengambil kelahiran lagi di dalam dunia ini). Sekali bunga kembar itu telah ditinggalkan seseorang tidak harus kembali lagi, dan dengan demikian ia telah mencapai tingkat anagami.
  3. Yang keenam, kegembiraan di dalam meditasi ‘bentuk’, adalah kondisi untuk menjadi terserap dalam kegiuran dan kebahagiaan yang timbul dari meditasi di dalam tingkat Jhana, (lihat No. 13, Kelompok Empat).
  4. Yang ketujuh menyatakan suatu pencerapan yang agak serupa, tetapi dalam tingkat jhana yang lebih tinggi, seperti yang telah diterangkan dalam No, 7, Kelompok Empat.
  5. Yang kedelapan adalah kesombongan atau ego, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, seperti telah diterangkan dalam No. 3, Kelompok Sembilan.
  6. Yang kesembilan adalah pikiran-pikiran kacau karena suatu pengontrolan pikiran yang masih belum sempurna. Tetapi ini janganlah disamakan dengan salah satu dari lima rintangan (nivarana), karena seorang anagami dikatakan telah sempurna di dalam meditasi-nya.
    Perbedaannya mungkin: tidak seperti di dalam rintangan bathin (nivarana), disini tidak diikuti dengan kekhawatiran.
    Catatan :
    Tetapi ini janganlah, disamakan dengan salah satu dari lima rintangan-rintangan (nivarana), karena seseorang anagami dikatakan telah sempurna dalam meditasinya. Perbedaannya mungkin : tidak seperti didalam rintangan batin (nivarana), disini tidak diikuti dengan kekhawatiran.
  7. Yang kesepuluh adalah akar-sebab dari kesemuanya, asal mula sekali dan merupakan dasar, kekuatannya merupakan sesuatu yang mencakup semuanya.

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

Akan tetapi, dalam Pali canon, yang keempat dan yang kelima disebut dengan nama yang sama seperti di dalam rintangan-rintangan bathin ini kamacchanda dan byapada, memiliki arti kenafsuan dan keinginan untuk membalas dendam. Mereka jelas terlalu keras bagi ‘pemasuk-arus’ (karena ia masih belum dapat meninggalkan mereka) dan itu dapat menyatakan bahwa seorang pamasuk arus masih belum dapat mengatasi kemampuannya untuk mengalami kemerosotan atau memasuki alam-alam sengsara. Mungkin penyusun-penyusun belakangan telah mengerti akan hal ini, sehingga mereka memutuskan untuk meletakkan kamacchanda dan byapada ini dalam istilah-istilah yang lebih ringan, menamakan mereka dengan kamaraga dan patigha (yang telah diterjemahkan dengan keinginan bernafsu dan mudah tersinggung, atau secara lebih singkat ‘keinginan dan ketidaksenangan’).

7. KELOMPOK RINTANGAN BATHIN LAINNYA (SANYOJANA)

  1. Keinginan bernafsu (kamaraga)
  2. Mudah tersinggung (patigha)
  3. Kesombongan atau ego (mana)
  4. Pandangan-pandangan salah (ditthi)
  5. Keragu-raguan (vicikiccha)
  6. Terikat pada upacara-upacara (silabbataparamasa)
  7. Kegembiraan di dalam kehidupan (bhavaraga)
  8. Iri hati (issa)
  9. Kekikiran (macchariya)
  10. Ketidaktahuan (avijja)

Vibh. Da. 35/528

KETERANGAN

Sesungguhnya, sepuluh rintangan diatas ini adalah tujuh nafsu yang laten (Anussaya; No. 1, Kelompok Tujuh) ditambah ikatan pada upacara-upacara, iri hati dan kekikiran, tetapi urutan dari tujuh nafsu-nafsu yang laten itu disusun kembali Sepuluh rintangan-rintangan (No. 6) adalah disusun menurut Empat Sang Jalan (No. 22, Kelompok Empat) yang akan menghancurkan mereka secara berturut-turut. Tetapi alasan untuk penyusunan kelompok ini masih tidak diketahui.

8. POKOK-POKOK PENCERAPAN ATAU PERENUNGAN (SAÑÑA)

  1. Perenungan terhadap ketidakkekalan (aniccasañña)
  2. Perenungan terhadap tanpa-kepribadian (anattasañña)
  3. Perenungan terhadap hal-hal yang menjijikkan (asubhasañña)
  4. Perenungan terhadap kejahatan-kejahatan (dari badan jasmani) (adinavasañña)
  5. Perenungan terhadap peninggalan (pahanasañña)
  6. Perenungan terhadap kebebasan dari nafsu (viragasañña)
  7. Perenungan terhadap penghentian (nirodhasañña)
  8. Perenungan terhadap hal-hal yang tidak menggembirakan dari dunia (sabbaloke anabhiratasañña)
  9. Perenungan terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan dari ciptaan-ciptaan (sabbasankharesu anitthasañña)
  10. Perenungan terhadap pernafasan (Anapanassati)

An. Da. 24/112

KETERANGAN

Metode di atas hanya salah satu diantara banyak metode dengan mana sepuluh macam pencerapan itu telah disusun. Dalam khotbah yang disebut Dasuttara dan beberapa khotbah lainnya terdapat suatu perbedaan dengan apa yang telah disusun di sini. Di dalam khotbah Dasuttara perenungan terhadap kematian, terhadap hal-hal menjijikkan dari makanan dan terhadap kondisi penderitaan dalam segala apapun yang tidak kekal (maranasañña, aharepatikkulasañña, dan aniccedukkhasañña) adalah menggantikan bagian-bagian No. 5, 9, dan 10. Juga urutan penyusunan berbeda.

Sepuluh perenungan diatas diberikan dalam suatu khotbah yang disebut Girimananda, dimana seorang bhikkhu sakit yang harus berbaring di tempat tidur, bernama Girimananda, telah mendengarkan sepuluh hal di atas dari Bhikkhu Ananda, yang telah mendengarkan mereka dari Sang Buddha pada mulanya, dan setelah itu diperintahkan untuk membacakannya di depan bhikkhu yang sakit itu. Menurut khotbah itu, Yang Mulia Girimananda setelah memusatkan perhatiannya pada pembacaan dari Yang Mulia Ananda tentang pokok-pokok pencerapan ini, sehingga menjadi sembuh dari sakitnya.

Di dalam Pali canon, bagian yang kesembilan adalah ‘pencerapan terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan dari ciptaan-ciptaan’. Ini diterjemahkan dari keterangannya, dan bukan kata pokoknya, yaitu Sabbasankharesu aniccasañña, berarti “pencerapan ketidakkekalan dari ciptaan-ciptaan”. Ini akan sama dengan bagian No. 1.

Keterangan tentang beberapa bagian diatas:

  1. Pencerapan terhadap ketidakkekalan dari ciptaan-ciptaan dapat dikembangkan dalam cara-cara berikut:
    1. Menentukan munculnya dalam perwujudan kemudian lenyap kembali. Ini telah ditunjukkan oleh suatu syair di dalam Mahavaravagga dari Digha Nikaya sebagai berikut:
      “Segala sesuatu yang terciptakan adalah tidak kekal. Sifat mereka ada timbul dan kemudian lenyap lagi. Semua bentuk ciptaan-ciptaan, kasar dan halus, setelah mereka timbul, pasti akan lenyap kembali.
    2. Suatu manifestasi dari ketidakkekalan yang lebih halus dapat ditentukan melalui pengawasan terhadap seluruh masa kehidupan dan menentukan perubahan yang terjadi pada saat itu. Seperti telah dikatakan di dalam Sagathavagga dari Samyutta Nikaya:
      “Waktu berjalan terus….. siang demi siang dan malam demi malam, dengan kemerosotan umur tua di dalam kebangkitannya”.
    3. Manifestasi yang paling halus dari perubahan menunjukkan pada perubahan yang terjadi dari saat demi saat. Di dalam Visuddhimagga telah dikatakan:
      “(Kemampuan) kehidupan, bersama-sama dengan badan jasmani serta perasaan-perasaan (yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan) berakhir hanya dalam satu saat pikiran saja. Demikian cepat perubahan itu”.
  2. Pencerapan terhadap kekosongan dari aku atau tanpa kepribadian dari segala sesuatu yang ditentukan melalui perenungan pada kenyataan-kenyataan berikut:
    1. Keadaan tidak dapat dikontrol atau menentang kemauan.
    2. Berlawanan dengan arti atta.
    3. Tidak dimiliki oleh siapapun juga.
    4. Bersifat kosong dan nol.
    5. Keadaan yang tergantung pada sebab-sebab.

    (Untuk keterangan lebih lanjut mengenai ini dapat dilihat di dalam Buku Dhammavicana oleh pengarang yang sama). Harus dicatat bahwa corak anatta (kosong dari aku atau pribadi) ini mencakup segala sesuatu yang berkondisi juga yang tidak terkondisi, karena itu, mencakup pula akhir penderitaan atau Nibbana.

  3. Pencerapan terhadap hal-hal yang menjijikan dari badan jasmani menunjukkan pada perenungan terhadap bermacam-macam bagian badan jasmani, menguaraikannya menjadi 32 bagian atau menjadi empat unsur, yang masing-masing dan semuanya harus dilihat sebagai kotor dan menjijikan dalam bermacam-macam cara. (Lihat No. 14, Kelompok Empat, Jilid I).
  4. Pencerapan terhadap kejahatan dari badan jasmani sebagaimana keadaannya sebagai kedudukan dari segala macam penyakit. Seluruh bagian dan organ-organ badan jasmani mudah terserang oleh bermacam-macam penyakit yang tak terhitung banyaknya. Sekalipun dalam keadaan yang dianggap sehat, tubuh ini memerlukan perawatan yang tak ada hentinya, memberi makan, istirahat yang cukup, membersihkannya dan lain-lain. Dalam Salayatanavagga dari Samyutta Nikaya, empat unsur yang membentuk badan jasmani telah dibandingkan dengan empat ekor ular berbisa yang siap untuk menggigit pemiliknya sendiri atas gangguan paling kecil sekalipun. Karena itu, para siswa Sang Buddha telah dianjurkan agar tidak melekat kepada badan jasmani dan untuk tidak menganggap badan jasmani sebagai miliknya atau sebagai dirinya.
  5. Perenungan terhadap peninggalan pikiran-pikiran yang tidak baik, merenungkan kerugian-kerugiannya pada diri sendiri dan bagi orang lain.
  6. Pencerapan terhadap kebebasan dari nafsu, Sang Jalan (No. 22, Kelompok Empat).
  7. Pencerapan terhadap Sang Hasil (No. 23, Kelompok Empat).

9. AJARAN (SADDHAMMA)

Sembilan ajaran diatas keduniawian, dan segi belajar.

Abhi. Vi. 65.

CATATAN:

Untuk sembilan yang pertama, lihat No. 4, Kelompok Sembilan. Sedangkan yang terakhir adalah membuktikan sendiri, berarti perbuatan-perbuatan mempelajari.