No. 317 MATARODANA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Merataplah bagi mereka yang hidup,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang tuan tanah yang tinggal di Savatthi. Dikatakan bahwa ketika saudaranya meninggal dunia, tuan tanah ini dilanda duka yang begitu mendalam sehingga ia tidak (mau) makan ataupun membersihkan dirinya, ia […]
Baca selengkapnya...No. 316 SASA-JĀTAKA42 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Tujuh ekor ikan merah,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang pemberian derma yang mencakup semua. Dikatakan, seorang tuan tanah di Savatthi, menyediakan semua keperluan bagi para Saṅgha (Sangha) yang dipimpin oleh Sang Buddha. Ia membangun sebuah paviliun di depan rumahnya […]
Baca selengkapnya...No. 315 MAṀSA-JĀTAKA41 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Bagi seseorang yang meminta,” dan seterusnya. Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang bagaimana Yang Mulia Sāriputta (Sariputta) memperoleh makanan enak bagi beberapa bhikkhu yang sedang menjalani perawatan. Kisahnya dimulai dari beberapa bhikkhu yang menginginkan makanan enak setelah mengkonsumsi cairan […]
Baca selengkapnya...No. 314 LOHAKUMBHĪ-JĀTAKA37 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Dikarenakan kami tidak berbagi kekayaan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru sewaktu berdiam di Jetavana, tentang seorang Raja Kosala. Kala itu, Raja Kosala, dikatakan pada suatu malam mendengar suara jeritan yang dikeluarkan oleh empat penghuni alam neraka—yaitu du, sa, na, so, masing-masing mengeluarkan satu suku […]
Baca selengkapnya...No. 313 KHANTIVĀDĪ-JĀTAKA35 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Ia yang memotong,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang pemarah. Kejadian yang menimbulkan kisah ini telah diuraikan sebelumnya. Sang Guru bertanya kepada bhikkhu itu, “Mengapa setelah bertahbis menjadi siswa dari Sang Buddha yang ajarannya tidak mengenal apa […]
Baca selengkapnya...NO. 312 KASSAPAMANDIYA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [36] “Jika anak muda berbuat ceroboh,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu tua. Dikatakan bahwa setelah mengetahui keburukan dari kesenangan indiriawi, seorang bangsawan muda di Sāvatthi (Savatthi), menerima penahbisan dari Sang Guru, dan dengan selalu mempraktikkan meditasi yang […]
Baca selengkapnya...Arti Persaudaraaan Cerita yang sangat menyentuh, semoga menjadi inspirasi kita semua. Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis […]
Baca selengkapnya...No. 311 PUCIMANDA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Bangunlah, Perampok!” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Veḷuvana (Veluvana), tentang Yang Mulia Mahāmoggallāna (Mahamoggallana). Ketika bhikkhu senior tersebut bertempat tinggal di gubuk di dalam hutan dekat Rājagaha (Rajagaha), seorang perampok, sehabis merampok sebuah rumah di desa pinggiran, melarikan diri dengan membawa barang […]
Baca selengkapnya...No. 310 SAYHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Tidak ada takhta di dunia ini,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal, yang ketika sedang berpindapata di kota Sāvatthi (Savatthi) melihat seorang wanita cantik, dan sejak saat itu menjadi merasa menyesal dan kehilangan segala kebahagiaan dalam Dhamma. […]
Baca selengkapnya...No.309 CHAVAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Guru yang suci,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang persaudaraan enam bhikkhu. Kisah ini diceritakan secara terperinci di dalam Vinaya28. Berikut ini adalah ringkasan kisahnya. Sang Guru memanggil keenam bhikkhu tersebut menanyakan apakah benar bahwa mereka mengajarkan Dhamma di tempat duduk yang […]
Baca selengkapnya...