Category Archives for "Tipitaka"

TITTIRA-JĀTAKA

No. 319. TITTIRA-JĀTAKA. Sumber : Indonesia Tipitaka Center   [64] “Hidup yang bahagia,”dan seterusnya. Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Badarikārāma dekat Kosambī(Kosambi), tentang RāhulaThera (Rahula Thera). Kisah pembukanya diceritakan secara lengkap dalam Tipallattha-Jātaka46. Dalam kisah ini, para bhikkhu di dalam balai kebenaran melantunkan pujian terhadap Yang Mulia Rahula, […]

Baca selengkapnya...

Susima Jataka

No. 411. SUSĪMA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center   “Sebelumnya rambut-rambut ini,”dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang pelepasan keduniawian. Para bhikkhu duduk di dalam balai kebenaran, sambil membicarakan tentang pelepasan keduniawian yang dilakukan oleh sang Buddha. Sang Guru yang mengetahui pokok pembicaraan mereka, berkata, “Para Bhikkhu, bukanlah hal yang […]

Baca selengkapnya...

Kapi Jataka

No. 404 KAPI-JĀTAKA190 Sumber : Indonesia Tipitaka Center   “Orang bijak tidak seharusnya tinggal,”dan seterusnya. Sang Guru menceritakan ini ketika berdiam di Jetavana, tentang Devadatta yang ditelan bumi. Mengetahui bahwa para bhikkhu sedang membicarakan ini di dalam balai kebenaran, Sang Guru berkata, “Devadatta bukan pertama kalinya dimusnahkan bersama dengan temannya, tetapi sebelumnya di kehidupan masa […]

Baca selengkapnya...

GIJJHA-JATAKA

No. 399 GIJJHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Bagaimana burung-burung tua itu,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menghidupi ibunya. Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung hering. Ketika dewasa, ia menempatkan orang tuanya yang sudah tua dan kabur pandangan matanya […]

Baca selengkapnya...

Kaka Jataka

No. 395. KĀKA-JĀTAKA169 Sumber : Indonesia Tipitaka Center   “Teman lama kami,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah. Cerita pembukanya sama dengan yang kisah sebelumnya di atas. Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung dara dan tinggal di sebuah sangkar […]

Baca selengkapnya...

Vattaka Jataka

No. 394 VAṬṬAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Minyak dan mentega,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan ini ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah. Mengetahui bahwa ia adalah seorang yang serakah, Sang Guru berkata kepadanya, “Ini bukanlah pertama kalinya Anda menjadi orang yang serakah, sebelumnya juga disebabkan oleh keserakahan, di Benares, Anda merasa […]

Baca selengkapnya...

Kapota Jataka

No.42. KAPOTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center   “Orang keras kepala,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang serakah. Keserakahannya akan berhubungan dengan Buku Kesembilan, dalam Kāka-Jātaka95. Pada kesempatan ini para bhikkhu menyampaikan kepada Sang Guru, dengan berkata,“Bhante, bhikkhu ini sangat serakah.” Sang Guru bertanya, “Benarkah […]

Baca selengkapnya...

PALASA-JATAKA

No. 370. PALĀSA-JĀTAKA. Sumber : Indonesia Tipitaka Center   “Angsa berkata kepada pohon plasa,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang kecaman terhadap nafsu (noda batin). Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Paññā-Jātaka. Dalam kisah ini Sang Guru berkata kepada mereka, “Para Bhikkhu, kotoran (batin) haruslah diwaspadai. Walaupun itu […]

Baca selengkapnya...

SILAVIMAMSA-JATAKA

No. 362. SĪLAVĪMAṀSA-JĀTAKA118. Sumber : Indonesia Tipitaka Center   “Moralitas dan pembelajaran,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang brahmana yang menguji kekuatan dari moralitas. Dikatakan, disebabkan oleh ketenarannya akan moralitas, raja menganugerahkan kehormatan istimewa kepadanya, di luar dari yang biasa diberikan kepada brahmana lainnya. Ia berpikir, “Apakah […]

Baca selengkapnya...

SYAIR-SYAIR PENDAMPING

SYAIR-SYAIR PENDAMPING Sumber : Indonesia Tipitaka Center   1(7). Setelah mengalami berbagai macam penderitaan dan berbagai macam kebahagiaan dalam berbagai kehidupan500, aku meraih Pencerahan Mandiri yang luhur. 2(8). Setelah memberikan dana-dana yang sepatutnya diberikan501, setelah memenuhi sila secara keseluruhan, setelah melakukan Kesempurnaan dalam pelepasan, aku mencapai Pencerahan Mandiri yang luhur. 3(9). Setelah menanyakan yang terpelajar502, setelah […]

Baca selengkapnya...
1 2 3 127