SIGĀLA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Serigala mabuk itu,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta. Para bhikkhu berkumpul [425] di Balai Kebenaran dan bercerita tentang bagaimana Devadatta telah pergi ke Gayāsīsa bersama lima ratus orang pengikut, yang dituntunnya kepada ajaran yang salah dengan mengatakan bahwa Dhamma sebenarnya […]
Baca selengkapnya...AMARĀDEVĪ-PAÑHA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Nasi barli dan bubur masam,” dan seterusnya. Kisah Amarādevī-Pañha (Pertanyaan Amarādevī) ini akan diceritakan di dalam Jātaka yang sama (di atas). Ini adalah akhir dari Amarādevī-Pañha195. Catatan kaki : 195 Amarā adalah istri Raja Mahosadha; bandingkan Milindapañha. Bodhisatta adalah Mahosadha, bandingkan Jātaka (Pali) I, hal.53.
Baca selengkapnya...GADRABHA-PAÑHA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Engkau pikir dirimu adalah seekor angsa,” dan seterusnya. Kisah mengenai Gadrabha-Pañha (Pertanyaan Keledai) ini akan diceritakan secara lengkap di dalam Ummagga-Jātaka. Ini adalah akhir dari Gadrabha-Pañha.
Baca selengkapnya...SABBASAṀHĀRAKA-PAÑHA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Tidak ada yang mencakup semua,” dan seterusnya. Sabbasaṁhāraka-Pañha ini dikemukakan secara lengkap dalam Ummagga-Jātaka 194. Ini adalah akhir dari Sabbasaṁhāraka-Pañha. Catatan kaki : 194 Muncul di bagian akhir kumpulan Jātaka.
Baca selengkapnya...KUṆḌAKAPŪVA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Sebagai imbalan bagi pemujanya,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Sawatthi, mengenai seorang lelaki yang sangat miskin. Di Sawatthi, Sanggha dengan Buddha sebagai guru mereka selalu dijamu, kadang-kadang oleh satu keluarga tunggal, kadang-kadang oleh tiga atau empat keluarga sekaligus, atau oleh seseorang secara pribadi […]
Baca selengkapnya...BĀHIYA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Belajarlah engkau dengan tepat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika Beliau menetap di Kūṭāgārasālā 192 di Weluwana (Veḷuvana) dekat Vesāli, mengenai seorang Licchavi, seorang pangeran alim yang memeluk keyakinan ini. Ia mengundang Sanggha dengan Sang Buddha sebagai guru mereka ke rumahnya, dan di sana ia memberikan […]
Baca selengkapnya...SĀLITTAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [418] “Hadiah dari keahlian,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang melempar batu dan menjatuhkan seekor angsa. Diceritakan bahwa bhikkhu ini, yang berasal dari sebuah keluarga terpandang di Sawatthi, mempunyai keahlian memukul benda dengan batu; suatu hari, setelah mendengarkan pembabaran […]
Baca selengkapnya...UDAÑCANI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Hidup bahagia tadinya adalah milikku,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai godaan dari seorang gadis yang gemuk (atau kasar). Kejadian ini akan diceritakan dalam Culla-Nārada-Kassapa-Jātaka189 di Buku Ketiga Belas. Saat menanyai bhikkhu tersebut, Sang Buddha mendapat pengakuan darinya bahwa benar ia sedang […]
Baca selengkapnya...DUBBALAKAṬṬHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Takutkah engkau pada angin,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang tinggal dalam keadaan gelisah secara terus menerus. Dikatakan bahwa ia berasal dari keluarga terpandang di Sawatthi, dan ia meninggalkan keduniawian setelah mendengarkan pembabaran Dhamma, ia selalu merasa gelisah akan […]
Baca selengkapnya...VERI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Jika bijaksana, engkau tidak akan berkeliaran,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetawana, mengenai Anāthapiṇḍika. Dari apa yang terdengar, Anāthapiṇḍika sedang dalam perjalanan kembali dari desa tempat ia menjadi kepala desa, ketika ia melihat para perampok di jalan. “Tidak baik untuk berkeliaran di jalan,” pikirnya, “saya […]
Baca selengkapnya...