[381] MAHĀSĀRA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Untuk perang manusia membutuhkan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai Yang Mulia Ānanda. Sekali waktu, para istri Raja Kosala bepikir seperti ini, “Kemunculan seorang Buddha sangat langka; dan jarang juga kesempatan untuk terlahir sebagai manusia, dengan semua kemampuan dalam satu kesatuan […]
Baca selengkapnya...LITTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Ia menelan dadu,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai penggunaan barang secara tidak bijaksana. Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, kebanyakan para bhikkhu di masa itu mempunyai kebiasaan memakai jubah dan sejenisnya, yang diberikan kepada mereka, dengan cara yang tidak bijaksana. […]
Baca selengkapnya...AKATAÑÑU-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Orang yang tidak tahu berterima kasih,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai Anāthapiṇḍika. Di daerah perbatasan, begitulah kisah ini bermula, tinggallah seorang saudagar, yang merupakan sahabat pena dari Anāthapiṇḍika, namun mereka belum pernah bertemu. Pada suatu waktu, saudagar tersebut memuat lima ratus […]
Baca selengkapnya...KUHAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Betapa masuk akalnya,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai seorang penipu. Penjelasan mengenai tipu muslihatnya akan diceritakan dalam Uddāla-Jātaka171. ___________________ Suatu ketika pada saat Brahmadatta memerintah di Benares, di dekat sebuah desa kecil, tinggallah seorang petapa jahat yang licik, petapa ini berambut […]
Baca selengkapnya...SĀRAMBHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Berbicaralah dengan ramah,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Sawatthi, mengenai aturan yang berkenaan dengan kata-kata yang kasar. Cerita pembuka dan kisah kelahiran lampaunya sama dengan Nandivisāla-Jātaka pada bab sebelumnya170. Namun dalam kasus ini [375] terdapat perbedaan dimana Bodhisatta adalah seekor sapi jantan yang […]
Baca selengkapnya...MAṀGALA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Siapapun yang meninggalkan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai seorang brahmana yang ahli melihat ramalan [372] yang terlukis pada potongan kain 167 . Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, di Rajagaha tinggallah seorang brahmana yang sangat percaya pada takhayul dan berpegang […]
Baca selengkapnya...SĪLAVĪMAṀSANA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Tiada apapun yang bisa dibandingkan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang brahmana yang menguji reputasinya sendiri dalam hal kebaikan. Brahmana yang disokong oleh Raja Kosala ini, berpegang pada Tiga Perlindungan; ia menjalankan lima latihan moralitas dan sangat menguasai Tiga Weda. “Ia […]
Baca selengkapnya...KIMPAKKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Seperti mereka yang meninggal,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang penuh nafsu. Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, terdapat seorang dari keturunan keluarga baik-baik yang mencurahkan hidupnya pada ajaran Buddha dan bergabung dalam Sanggha. Namun suatu hari, saat […]
Baca selengkapnya...ATTHASSADVĀRA-JĀTAKA [366] Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Jagalah kesehatan (diri),” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang anak laki-laki yang bijaksana dalam hal kesucian batin. Ketika masih berusia tujuh tahun, anak tersebut, yang merupakan putra dari seorang bendaharawan yang sangat kaya, memperlihatkan kecerdasan yang tinggi dan keinginan yang […]
Baca selengkapnya...KĀLAKAṆṆI-JĀTAKA [364] Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Ia adalah seorang sahabat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang sahabat dari Anāthapiṇḍika. Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, mereka berdua merupakan teman sepermainan, dan pergi ke sekolah yang sama. Namun, seiring berjalannya waktu, sahabatnya yang bernama Kutukan (kālakaṇṇi) […]
Baca selengkapnya...