Category Archives for "Sutta Pitaka"

Kisah Mahakassapa Thera

Kisah Mahakassapa Thera Suatu waktu ketika Mahakassapa Thera tinggal di gua Pipphali, beliau menghabiskan waktunya untuk mengembangkan kesadaran batin aloka kasina, dan mencoba untuk memperoleh kemampuan batin mata dewa, mengetahui siapa yang waspada, dan siapa yang lengah, juga siapa yang mati dan akan dilahirkan. Sang Buddha, dari vihara, mengetahui melalui kemampuan batin mata dewa beliau, […]

Baca selengkapnya...

Kisah Perayaan Balanakkhatta

Kisah Perayaan Balanakkhatta Suatu waktu perayaan Balanakkhatta dirayakan di Savatthi. Selama perayaan ini, beberapa pemuda melumuri tubuhnya dengan debu dan kotoran sapi, berkeliling kota sambil berteriak-teriak. Perbuatan mereka menyusahkan masyarakat. Mereka juga berhenti di setiap pintu dan tidak akan pergi sebelum diberi uang. Waktu itu, beberapa murid Sang Buddha yang hidup berumah tangga berdiam di […]

Baca selengkapnya...

Kisah Culapanthaka

Kisah Culapanthaka Bendahara Kerajaan di Rajagaha, mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang tertua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung menjadi murid Sang Buddha. Culapanthaka mengikuti jejak kakaknya menjadi bhikkhu pula. Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau, pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka telah menggoda seorang bhikkhu yang […]

Baca selengkapnya...

Kisah Kumbhaghosaka

Kisah Kumbhaghosaka, Seorang Bankir Suatu ketika, ada suatu wabah penyakit menular menyerang kota Rajagaha. Di rumah bendahara kerajaan, para pelayan banyak yang meninggal akibat wabah tersebut. Bendahara dan istrinya juga terkena wabah tersebut. Ketika mereka berdua merasa akan mendekati ajal, mereka memerintahkan anaknya Kumbhaghosaka untuk pergi meninggalkan mereka, pergi dari rumah, dan kembali lagi pada […]

Baca selengkapnya...

Kisah Samavati

Kisah Samavati Kerajaan Kosambi waktu itu diperintah oleh Raja Udena dengan permaisurinya Ratu Samavati. Ratu Samavati mempunyai 500 orang pengiring yang tinggal bersamanya di istana. Ia juga mempunyai pelayan kepercayaan, Khujjuttara, yang setiap harinya bertugas untuk membeli bunga. Suatu hari terlihat Khujjuttara sedang menanti tukang bunga langganannya, Sumana. Tetapi yang dinantinya tak kunjung datang, sedang […]

Baca selengkapnya...

Brahmana Vagga

XXVI. BRAHMANA 1. (383) O, brahmana, berusahalah dengan tekun memotong arus keinginan dan singkirkanlah nafsu-nafsu indria. Setelah mengetahui penghancuran segala sesuatu yang berkondisi, O, brahmana, engkau akan merealisasi nibbana, ‘Yang Tak Terciptakan’. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (384) Bila seseorang brahmana telah mencapai akhir daripada dua jalan semadi (pelaksanaan Meditasi Ketenangan dan Pandangan Terang), maka […]

Baca selengkapnya...

Bhikkhu Vagga

XXV. BHIKKHU 1. (360) Sungguh baik mengendalikan mata; sungguh baik mengendalikan telinga; sungguh baik mengendalikan hidung; sungguh baik mengendalikan lidah. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (361) Sungguh baik mengendalikan perbuatan; sungguh baik mengendalikan ucapan; sungguh baik mengendalikan pikiran; Seorang bhikkhu yang dapat mengendalikan semuanya akan terbebas dari semua penderitaan. Cerita terjadinya syair ini:… 3. (362) […]

Baca selengkapnya...

Tanha Vagga

XXIV. NAFSU KEINGINAN 1. (334) Bila seseorang hidup lengah, maka nafsu keinginan tumbuh, seperti tanaman Maluwa yang menjalar. Ia melompat dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, bagaikan kera yang senang mencari buah-buahan di dalam hutan. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (335) Dalam dunia ini, siapapun yang dikuasai oleh nafsu keinginan rendah dan beracun, penderitaannya […]

Baca selengkapnya...

Naga Vagga

XXIII. GAJAH 1. (320) Seperti seekor gajah di medan perang dapat menahan serangan panah yang dilepaskan dari busur, begitu pula Aku (Tathagata) tetap bersabar terhadap cacian; sesungguhnya, sebagian besar orang mempunyai kelakuan rendah. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (321) Mereka menuntun gajah yang telah terlatih ke hadapan orang banyak. Raja mengendarai gajah yang terlatih ke […]

Baca selengkapnya...

Niraya Vagga

XXII. NERAKA 1. (306) Orang yang selalu berbicara tidak benar dan juga orang yang setelah berbuat kemudian berkata, “Aku tidak melakukannya” akan masuk ke neraka. Dua macam orang yang mempunyai kelakuan rendah ini, mempunyai nasib yang sama dalam dunia selanjutnya. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (307) Bila seseorang menjadi bhikkhu dengan mengenakan jubah kuning tetapi […]

Baca selengkapnya...