Category Archives for "Sutta Pitaka"

Pakinnaka Vagga

XXI. BUNGA RAMPAI 1. (290) Apabila dengan melepaskan kebahagiaan yang lebih kecil orang dapat memperoleh kebahagiaan yang lebih besar, maka hendaknya orang bijaksana melepaskan kebahagiaan yang kecil itu, guna memperoleh kebahagiaan yang lebih besar. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (291) Barangsiapa menginginkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri dengan menimbulkan penderitaan orang lain, maka ia tidak akan […]

Baca selengkapnya...

Magga Vagga

XX. JALAN 1. (273) Di antara semua jalan, maka “Jalan Mulia Berfaktor Delapan’ adalah yang terbaik; di antara semua kebenaran, maka ‘Empat Kebenaran Mulia’ adalah yang terbaik. Di antara semua keadaan, maka keadaan tanpa nafsu adalah yang terbaik; dan di antara semua makhluk hidup, maka orang yang ‘melihat’ adalah yang terbaik. Cerita terjadinya syair ini:… […]

Baca selengkapnya...

Dhammattha Vagga

XIX. ORANG ADIL 1. (256) Orang yang memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa tidak dapat dikatakan sebagai orang adil Orang bijaksana hendaknya memeriksa dengan teliti mana yang benar dan mana yang salah. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (257) Orang yang mengadili orang lain dengan tidak tergesa-gesa, bersikap adil dan tidak berat sebelah, yang senantiasa menjaga kebenaran, […]

Baca selengkapnya...

Mala Vagga

XVIII. NODA – NODA 1. (235) Sekarang ini engkau bagaikan daun mengering layu. Para utusan raja kematian (Yama) telah menantimu. Engkau telah berdiri di ambang pintu keberangkatan, namun tidak kaumiliki bekal untuk perjalanan nanti. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (236) Buatlah pulau bagi dirimu sendiri Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana. Setelah membersihkan noda-noda […]

Baca selengkapnya...

Kodha Vagga

XVII. KEMARAHAN 1. (221) Hendaklah orang menghentikan kemarahan dan kesombongan, hendaklah ia mengatasi semua belenggu. Orang yang tidak lagi terikat pada batin dan jasmani, yang telah bebas dari nafsu-nafsu, tak akan menderita lagi. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (222) Barangsiapa yang dapat menahan kemarahannya yang telah memuncak seperti menahan kereta yang sedang melaju, ia patut […]

Baca selengkapnya...

Piya Vagga

XVI. KECINTAAN 1. (209) Orang yang memperjuangkan apa yang seharusnya dihindari, dan tidak memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan; melepaskan apa yang baik dan melekat pada apa yang tidak menyenangkan, akan merasa iri terhadap mereka yang tekun dalam latihan. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (210) Janganlah melekat pada apa yang dicintai atau yang tidak dicintai. Tidak […]

Baca selengkapnya...

Sukha Vagga

XV. KEBAHAGIAAN 1. (197) Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa benci. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (198) Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang yang berpenyakit; di antara orang-orang yang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit. Cerita terjadinya syair […]

Baca selengkapnya...

Buddha Vagga

XIV. BUDDHA 1. (179) Beliau yang kemenangannya tak dapat dikalahkan lagi, yang nafsunya telah diatasi dan tidak mengikutinya lagi, Sang Buddha yang tiada bandingnya, yang tanpa jejak nafsu, dengan cara apa akan kaugoda Beliau? Cerita terjadinya syair ini:… 2. (180) Beliau yang tak terjerat dan terlibat nafsu keinginan yang menyebabkan kelahiran, Sang Buddha yang tiada […]

Baca selengkapnya...

Loka Vagga

XIII. DUNIA 1. (167) Janganlah mengejar sesuatu yang rendah, janganlah hidup dalam kelengahan. Janganlah menganut pandangan-pandangan salah, dan janganlah menjadi pendukung keduniawian. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (168) Bangun! Jangan lengah! Tempuhlah kehidupan benar. Barang siapa menempuh kehidupan benar, maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya. Cerita terjadinya syair ini:… […]

Baca selengkapnya...

Atta Vagga

XII. DIRI SENDIRI 1. (157) Bila orang mencintai dirinya sendiri, maka ia harus menjaga dirinya dengan baik. Orang bijaksana selalu waspada selama tiga masa dalam kehidupannya. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (158) Hendaknya orang terlebih dahulu mengembangkan diri sendiri dalam hal-hal yang patut, dan selanjutnya melatih orang lain. Orang bijaksana yang berbuat demikian tak akan […]

Baca selengkapnya...