Jalan Menuju Keharmonisan dan Keutuhan

Jalan Menuju Keharmonisan dan Keutuhan

Thema Waisak Sangha Theravada Indonesia di tahun 2009 atau tahun Buddhis 2553 adalah Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa. Isi dan makna keseluruhan thema tersebut sangat sesuai dengan kondisi terkini masyarakat Indonesia yang baru saja menyelesaikan pemilihan umum untuk memilih calon legislatif pada tanggal 9 April yang lalu. Kini, bangsa Indonesia mulai mempersiapkan diri mengikuti pemilihan umum untuk memilih calon presiden dan wakil presiden Indonesia. Dalam situasi yang banyak menampilkan perbedaan inilah pelaksanaan secara nyata thema tersebut di masyarakat sangat diperlukan agar setiap warga negara yang mungkin saja mempunyai perbedaan pemikiran, golongan, partai, calon presiden dsb. tetap mampu menjaga keharmonisan serta keutuhan bangsa dan negara Indonesia.
Keharmonisan dan keutuhan bangsa dapat terwujud apabila didukung dan dilaksanakan oleh kelompok-kelompok masyarakat pembentuk suatu bangsa. Dan, seperti telah diketahui bersama, pembentukan masyarakat dimulai dari keluarga. Sedangkan, setiap keluarga terdiri dari beberapa pribadi yang menjadi anggota keluarga tersebut. Dengan demikian, upaya mewujudkan keharmonisan serta keutuhan bangsa haruslah dimulai dengan membangun mental spiritual setiap pribadi yang juga menjadi anggota rumah tangga. Pribadi yang dimaksud adalah setiap insan warga negara Indonesia, termasuk umat Buddha.
Dalam kehidupan, perbedaan adalah hal yang sangat wajar. Mulai dari perbedaan daun pada setiap jenis pohon hingga perbedaan yang ada pada diri setiap orang. Setiap orang mempunyai perbedaan pada bentuk tangan kanan dan tangan kiri, kaki kanan dan kaki kiri, mata kanan dan mata kiri, serta berbagai bentuk perbedaan fisik lainnya. Ketika seseorang telah mampu menerima perbedaan yang ada pada dirinya, seharusnya ia juga mampu memperluas pengertian keberadaan perbedaan tersebut. Bahwa sesungguhnya terdapat pula perbedaan dalam pola pikir diri sendiri. Ada nilai-nilai yang sering berubah sejalan dengan bertambahnya waktu dan perkembangan kebijaksanaan. Jika dahulu suatu perbuatan dikatakan baik, dengan berlalunya waktu, kadang perbuatan yang sama bisa juga dikatakan tidak baik. Demikian pula, bila suatu makanan pernah dikatakan lezat, mungkin di waktu yang lain makanan yang sama tersebut dikatakan kurang sedap, demikian seterusnya.  Ada banyak contoh serupa yang mungkin dialami oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.
Menghadapi perbedaan yang terdapat pada pola pikir, bentuk tubuh dsb seperti yang telah dijelaskan di atas, seseorang hanya bisa berusaha menerima perbedaan itu sebagaimana adanya. Apabila ia telah mampu menerima perbedaan tersebut, barulah ia bisa memanfaatkan perbedaan itu untuk mendapatkan kemajuan. Ketika ia mampu menerima perbedaan kaki kanan dan kiri, maka ia bisa menggunakan kedua kaki yang berbeda tersebut untuk berjalan dan bahkan berlari. Ketika ia mampu menerima perbedaan rasa makanan yang semula dikatakan lezat kemudian menjadi tidak sedap, maka ia mungkin akan berusaha mengembangkan resep baru untuk mendapatkan citarasa yang berbeda, demikian seterusnya.
Sama halnya dengan adanya perbedaan pola pikir dan sikap hidup seseorang terhadap orang-orang di sekitarnya. Adanya berbagai perbedaan bukanlah untuk dijadikan sumber permusuhan. Perbedaan haruslah dihargai dan diterima sebagaimana adanya. Seseorang hendaknya memiliki pengertian bahwa tidak semua orang mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya tentang satu atau lain hal. Setiap orang mempunyai hak untuk menyatakan sikap yang berbeda. Ketika seseorang mampu menerima adanya perbedaan dalam pola pikir maupun sikap hidup orang lain,  ia justru akan mampu menjadikan perbedaan itu sebagai pelajaran. Ia dapat menambah wawasannya dengan belajar kepada mereka. Mempelajari hal yang berbeda dari orang lain bukan selalu berarti mengikuti orang tersebut. Mempelajari hal yang baru dan berbeda adalah kesempatan untuk membuka kemungkinan mengubah atau memperbaiki pola pikir maupun sikap hidup yang telah dimiliki selama ini. Dengan semakin banyaknya warga negara yang memiliki kemampuan menerima perbedaan di masyarakat dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk meningkatkan kualitas diri, maka salah satu syarat keharmonisan dan keutuhan dalam berbangsa dan bernegara dapat terpenuhi.
Kemampuan menerima dan mempergunakan perbedaan yang ada untuk meningkatkan kualitas diri telah banyak dicontohkan oleh Sang Guru Agung, Buddha Gotama. Salah satu contoh yang berhubungan dengan peringatan Waisak adalah ketika Beliau pernah belajar bermeditasi dari para guru spiritual. Beliau dengan tekun belajar serta melaksanakan segala petunjuk dan tuntunan guru spiritual tersebut. Namun, pada akhirnya Beliau merasa segala tuntunan spiritual yang diterima selama ini tidaklah terlalu memuaskan. Beliau kemudian bertekad bertapa di hutan secara lebih tekun untuk mengembangkan kemampuan batin Beliau sendiri. Enam tahun kemudian, Beliau berhasil merumuskan sendiri sistem pengamatan kesadaran secara maksimal. Kesadaran setiap saat. Beliau mencapai Kesucian. Beliau mencapai Kebuddhaan di saat purnama di bulan Waisak. Inilah salah satu contoh nyata kemampuan menerima dan memanfaatkan perbedaan seperti yang telah diajarkan oleh Sang Guru Agung.
Seorang umat Buddha haruslah selalu menganggap Sang Buddha sebagai Guru Agung. Karena itu, sudah seharusnya pula sebagai murid mengikuti jejak dan perilaku Sang Guru. Umat Buddha yang saat ini hidup dalam masyarakat luas, di tengah berbagai perbedaan pola pikir, budaya, agama, tingkat sosial maupun sikap hidup hendaknya mampu menerima segala perbedaan tersebut sebagaimana adanya. Bahwa segala bentuk perbedaan adalah alamiah. Kemampuan menerima perbedaan sebagaimana adanya adalah tanda kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang. Kemampuan tersebut menjadi salah satu sarana mewujudkan kehidupan harmonis dalam masyarakat. Kemampuan ini timbul dari perenungan bahwa segala yang ada dalam diri sendiri pun selalu berbeda dari waktu ke waktu, apalagi dengan orang lain. Ketika umat Buddha telah mampu menerima dan memanfaatkan perbedaan yang ada untuk meningkatkan kualitas diri, maka timbullah kebijaksanaan dalam dirinya. Ia tidak lagi berusaha menyamakan hal yang sudah jelas berbeda. Ia juga tidak  ingin membedakan hal yang memang sudah sama. Ia telah menerima segala persamaan dan perbedaan sebagaimana adanya. Ia mampu bergaul dan bersahabat dengan mereka yang sama pola pikirnya maupun yang berbeda pandangan hidup dengannya. Ia menjadi warga negara yang berperan aktif sebagai perekat keharmonisan dan keutuhan bangsa.
Hal lain yang mempermudah umat Buddha memiliki pandangan netral terhadap perbedaan dalam masyarakat adalah dengan melatih dan mengembangkan sifat kerelaan. Kerelaan adalah dasar Ajaran Sang Buddha. Pada mulanya, seseorang dilatih untuk merelakan hal-hal yang bersifat materi. Ia rela mengorbankan sebagian hartanya untuk kebahagiaan fihak lain. Ketika umat Buddha berbagi materi, ia hendaknya mengembangkan pola pikir, ‘semoga kerelaan ini membuahkan kebahagiaan untuk si penerima’. Misalnya saja, dalam rangka Waisak 2553/2009 Sangha Theravada Indonesia pada tanggal 26 April telah sukses melaksanakan kegiatan pindapatta di Jakarta. Pindapatta yang sebenarnya bermakna berdana makanan untuk para bhikkhu telah dikembangkan menjadi kerelaan untuk membantu memberikan kebahagiaan kepada saudara-saudara yang terkena musibah banjir akibat jebolnya Situ Gintung. Dana makan basah maupun kering yang diterima oleh sekitar 30 orang bhikkhu kemudian segera dikirim untuk menolong para korban bencana yang telah kehilangan anggota keluarga maupun tempat tinggalnya. Semoga dana yang diberikan tersebut dapat bermanfaat dan memberikan kebahagiaan untuk mereka semua.
Jika kerelaan bersifat materi telah biasa dilatih, maka umat Buddha dapat meningkatkan diri dengan melatih kerelaan pada hal-hal yang bersifat bukan materi. Kerelaan bukan materi tentu lebih sulit. Namun, dasar kerelaan ini tetap sama yaitu mengharapkan fihak lain berbahagia atas kerelaan yang telah diberikan. Dengan demikian, ketika seorang umat Buddha bertemu dengan orang yang memiliki perbedaan pandangan maupun pengertian, ia seharusnya segera berpikir, ‘semoga orang itu berbahagia dengan pandangan dan pengertiannya’. Bila kenyataannya pandangan dan pengertian orang itu tidak sesuai dengan pendapat umum, maka setelah mampu menerima perbedaan itu dengan netral, secara bertahap kepada orang tersebut dikenalkan pola pikir yang biasa dipergunakan dalam masyarakat. Dengan memiliki kerelaan secara bukan materi, maka timbullah kesabaran, pengertian dan kebijaksanaan untuk membantu orang itu berpikir lebih jauh. Bantuan dan kesempatan yang diberikan memungkinkan terjadinya perubahan pandangan yang telah ia miliki selama ini. Jadi, proses perubahan atas perbedaan pandangan bukan dilakukan dengan paksaan melainkan didasari kerelaan yang menghasilkan kesabaran, pengertian serta kebijaksanaan. Kiranya sudah jelas sekarang bahwa kerelaan bukan materi mampu menumbuhkan kesabaran dan pengertian dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Kesabaran menghadapi perbedaan inilah yang menjadi jalan untuk mewujudkan keharmonisan dan keutuhan bangsa.
Inilah salah satu peran aktif umat Buddha dalam membangun, mewujudkan serta menjadi perekat keharmonisan dan keutuhan bangsa Indonesia.
Semoga dengan semangat Waisak 2553/2009 umat Buddha mampu selalu menjadi warganegara yang baik. Warga negara yang selalu menjaga dan meningkatkan keharmonisan keutuhan, serta kedamaian hidup di tengah adanya berbagai perbedaan di masyarakat. Semoga demikianlah yang terjadi.

Selamat Waisak 2553/2009.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.

Vihara Bodhigiri, Mei 2009

Leave a Comment: