MEDITASI BUDDHIS
JALAN MENUJU KETENANGAN
DAN KEBERSIHAN BATIN
Judul Asli : Buddhis Meditation
Oleh Piyadassi Thera
Bersabdalah Sang Buddha Gotama
“Kini saya katakan, Nigrodha, tidak mengharapkan untuk memperoleh murid, tidak mengharapkan kamu untuk gagal dalam mempelajari pengetahuan agama, tidak mengharapkan kamu untuk menghentikan cara dan laku hidupmu yang telah biasa kamu lakukan, tidak memaksakan padamu untuk menerima sesuatu sebagai tidak baik dan tidak sempurna sebagai kamu atau gurumu memandangnya, atau menganjurkan padamu untuk meninggalkan sesuatu yang engkau anggap baik dan juga dianggap baik oleh gurumu. TIDAK DEMIKIAN.
“Namun, Nigrodha, ada beberapa hal yang tidak baik, jahat, yang tidak disingkirkan (dilenyapkan), segala sesuatu yang bersangkutan dengan kekotoran batin. Untuk melenyapkan ini semua, maka aku mengajarkan Dhamma; berlakulah hidup sesuai dengan Dhamma, maka segala sesuatu yang bersangkut paut dengan kekotoran (batin) akan dapat dilenyapkan, dan sesuatu yang baik dapat dikembangkan, dan siapapun, baik kini maupun kelak, mampu mencapai dan menghayati dengan penuh kebijaksanaan.”
(Udumbarika-sihanada Sutta, D.N., 25)
MEDITASI BUDDHIS
Jalan Menuju Ketenangan dan Kebersihan Batin.
Dua ribu lima ratus tahun yang lampau, seorang putra mahkota pada usia dua puluh sembilan tahun, saat seseorang berada di puncak kegemilangan hidup, telah meninggalkan tahta yang penuh dengan kemegahan dan kekuasaan dan pergi menyendiri ke hutan menjauhi keduniawian mencari obat untuk mengatasi penyakit kehidupan, mencari jalan keluar dari belenggu ketidakpastian untuk mencapai Nibbana.
Di bawah bimbingan para ahli meditasi pada zaman itu, beliau mencari dengan harapan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan ke arah pembebasan dan kebijaksanaan; beliau melatih konsentrasi, pemusatan perhatian (samatha atau samadhi) dan telah mencapai tingkat-tingkat tertinggi dari latihan-latihan tersebut. Namun beliau merasa tak puas dengan semua itu karena tidak menghasilkan Penerangan Agung. Pengetahuan dan kemampuan guru beliau cenderung pada mistik dan karenanya tidak memuaskannya untuk mencari apa yang masih belum diketahuinya.
Menjadi kepercayaan di India pada zaman itu, terutama di kalangan para ahli kebatinan (ascetic), bahwa penyucian batin dan kebebasan akhir batin dapat diperoleh dengan melatih diri secara keras, kalau perlu dengan menyiksa diri. Beliau memutuskan untuk membuktikan kebenarannya. Beliau mulai berjuang untuk melatih jasmaninya dengan harapan, agar batinnya dapat mengatasi jasmaninya dan mampu membebaskan dirinya. Dengan amat tekun dan rajin beliau berlatih. Beliau hanya hidup dengan makan dedaunan, akar-akar pohon kemudian mengurangi jumlah makanan sehingga amat minim, pakaiannya sangat bersahaja yang dihimpunnya dari sampah buangan dan tidur di antara bangkai atau di atas duri. Kekurangan makan dan minuman membuat jasmani beliau sangat lemah.
Selama enam tahun lamanya beliau berjuang sedemikian kerasnya hingga hampir mendekati pintu ajal, namun tujuan tetap tak tercapai. Cara menyiksa diri jelas baginya tidak berarti melalui pengalamannya sendiri. Percobaan dengan cara seperti itu ternyata gagal. Namun beliau tidak putus asa. Dengan pikiran yang kuat dan kemauan yang membara, beliau mencari jalan lain untuk mencapai tujuan. Beliau berhenti menyiksa diri dan berpuasa yang ekstrim itu dan kembali makan minum seperti biasa. Jasmani beliau yang telah lemah dan kurus itu kembali pada keadaan sehat seperti dulu. Beliau kini menyadari bahwa Jalan ke arah keberhasilan yang diidamkannya terletak pada penyelidikan ke dalam yaitu akan kemurnian batin sendiri, tanpa bantuan guru, beliau memutuskan untuk bertapa menyendiri untuk mencapai tujuan akhir.
Dengan bersila di bawah pohon yang kemudian terkenal sebagai pohon Bodhi atau pohon Penerangan Sempurna, di tepi sungai Neranjara, di Gaya (kini dikenal dengan sebutan Buddhagaya) suatu tempat yang sejuk dan mendorong kemantapan batin dan dengan tekad yang membaja : ‘Sekalipun badanku tinggal kulit dan tulang serta darahku mengering, aku takkan meninggalkan tempat ini sebelum mencapai Penerangan Sempurna’. Begitu mantap usahanya, begitu kuat pengabdiannya, begitu keras tekadnya dalam mencapai kebenaran dan memperoleh Kebijaksanaan Tertinggi.
Dengan akhir pandangan seperti itu, beliau menyelusuri kedalaman batinnya untuk mencari cara meditasi yang dapat memberi ketenangan mutlak, penerangan dan kebebasan. Dengan cara Ana-apana-sati, beliau mencapai dan memasuki Jhana pertama (hasil kedalaman meditasi yang disebut juga Dhyana – Sankrt, suatu istilah yang sulit diterjemahkan). Secara bertahap beliau mencapai dan memasuki Jhana kedua, ketiga dan keempat. Dengan demikian beliau mempersiapkan diri membersihkan kekotoran batin yang masih melekat dan mampu mengembangkan Pandangan Terang (Vipassana bhavana), Pandangan Benar dan Kebijaksanaan Mutlak, yang membuat orang mampu memandang sesuatu sebagaimana adanya dengan mengetahui ketiga corak umum (Tilakkhana) atau tiga sifat dari apa saja yang saling terkait yaitu anicca, dukkha dan anatta. Dengan Pandangan Terang ini, dengan penembusan yang bijaksana beliau mampu memahami dan mengetahui semua kesempurnaannya, yaitu yang disebut sebagai Empat Kesunyataan Mulia tentang penderitaan, sebab musababnya, lenyapnya dan cara mengakhiri.
Dengan mengetahui kesunyataan tersebut maka batinNya terbebas dari segala akar atau ikatan kenikmatan indriya (kama-asava), kotoran batin kehidupan (bhava–asava), kegelapan batin (avijja–asava). Sewaktu batin terbebas dari mereka, segeralah tumbuh pengetahuan dan pengertian : ‘Pandangan Benar timbul padaku, tak tergoyahkan kebebasan batinku. Inilah kelahiranku yang terakhir, tiada kelahiran lagi untuk selanjutnya bagiku, tak ada hasrat untuk menjadi’.
Pangeran India ini dengan pribadi dinamis, tidak lain adalah Sakyamuni Siddharta Gautama (Siddhattha Gotama), Sang Buddha.
Waktu telah berlalu dan Sang Buddha tampaknya tidak pergi jauh dari kita. Sabda Sang Buddha masih berkumandang di telinga kita dan mengatakan, agar kita jangan lari dari perjuangan namun harus tenang menghadapinya, dengan memandang bahwa justru kehidupan ini memberi kesempatan bagi kita untuk berkembang dan maju. Kepribadian masih berarti sejak dulu hingga kini, dan seseorang yang memikirkan kemanusiaan seperti Sang Buddha yang bahkan hingga saat ini masih terasa hidup dan membangkitkan semangat, pastilah orang yang menakjubkan.
‘Pesan Sang Buddha diucapkan beribu-ribu tahun yang lalu namun selalu baru dan asli bagi mereka yang melatih diri dalam kerohanian, menyentuh pandangan kaum intelek dan meresap ke lubuk hati masyarakat’.
DUNIA YANG SEDANG BERUBAH
Meditasi Buddhis merupakan inti dari Ajaran Sang Buddha. Karena subjek ini amat padat, saya mengusulkan untuk membicarakan beberapa segi saja, khususnya yang bertalian dengan Satipatthana, yaitu cara pengembangan perhatian terpusat atau terarah.
Di zaman sekarang, bukan zaman setengah abad yang silam, pendapat tentang kebaikan dan kejahatan berubah-ubah dengan cepat, usaha kearah perkembangan akhlak dan yang tidak baik berbeda-beda; begitu juga cara pendekatan dan pandangan umum tentang manusia serta benda juga amat berbeda-beda.
Kita hidup di zaman serba tergesa-gesa dan menuntut kecepatan. Dimana-mana ada ketegangan. Jika anda berdiri di ujung jalan dan memandang pada muka mereka yang sedang lewat maka terlihat bahwa mereka semua dihinggapi demam ketergesaan. Sebagian besar mereka sedang gelisah. Mereka mengantungi ketegangan. Hampir semuanya menggambarkan ketergesaan di wajah mereka. Seperti itulah kehidupan dunia modern.
Dunia sekarang ditandai dengan kesibukan dan ketergesaan yang menghasilkan keputusan cepat dan kelakuan yang tak bijak. Mereka berteriak di saat mereka dapat bicara secara biasa dan yang lain bicara disertai ketegangan dan tekanan yang berlebihan untuk waktu yang lama dan mengakhiri segala ucapannya dengan kelelahan yang menghabiskan tenaga. Semua ketegangan merupakan tekanan dalam pandangan kejiwaan, dan ketegangan mempercepat ausnya proses jasmani. Tak jarang tampak seorang pengendara sepeda dengan cepat melarikan sepedanya begitu melihat lampu persimpangan berwarna hijau. Orang yang gelisah memandang suatu persoalan bahkan yang kecil seperti suatu krisis sebagai suatu ancaman. Sebagai akibatnya ia tidak bahagia dan tidak tenang.
Segi lain dari kehidupan modern ini adalah terlalu bising. “Musik mengandung kelembutan”, kata mereka, namun dewasa ini bahkan musik yang lembut tak lagi disenangi karena kurang bising; bertambah bising dan nyaring musiknya maka bertambah disukai. Bagi orang yang hidup di kota besar takkan punya waktu untuk menilai kebisingan karena sudah terbiasa. Suara, tekanan yang ditimbulkan, banyak membuat kerugian berupa penyakit jantung, kanker, bisul, gangguan syaraf, dan sulit tidur. Sebagian besar penyakit kita disebabkan oleh keadaan batin, ketegangan yang dibawa serta kehidupan modern, kegelisahan ekonomi dan ketidaktenangan batin.
Kelesuan syaraf pada manusia semakin meningkat dengan cara hidup yang selalu tegang. Acapkali orang pulang dari pekerjaan dengan menunjukkan tanda kehabisan tenaga karena gelisah. Konsekuensinya adalah daya konsentrasi semakin menurun dan efektivitas kerja jasmaniah dan batin merosot. Orang cepat marah dan suka mencari kesalahan orang lain. Ia menjadi pemurung dan egois serta menderita tekanan darah tinggi dan susah tidur. Gejala kelesuan menunjukkan bahwa orang modern memerlukan istirahat yang cukup secara batin maupun jasmani.
Perlu diperhatikan bahwa menjauhkan diri secara tertentu, yakni penarikan batin dan pikiran dari keruwetan hidup amat perlu bagi kesehatan batin. Di manapun dan kapanpun ada kesempatan, pergilah keluar kota dan libatkan dirimu untuk menyendiri dan merenung, katakanlah sebagai yoga yaitu konsentrasi atau meditasi. Belajarlah merasakan keheningan yang amat berguna dan membawa kebaikan bagi kita. Salah sama sekali untuk berpendapat bahwa hanya yang suka keributan dan kesibukan yang mempunyai kemampuan. Diam itu emas, dan kita baru berbicara jika mampu meningkatkan keadaan diam. Memperhatikan keheningan amatlah penting. Daya kreatif dan agung bekerja dalam hening. Dan kita lakukan keheningan ini dalam latihan meditasi kita. Sang Buddha bersabda :
“Oh para bhikkhu, jika kalian sedang berkumpul, ada dua hal yang harus dilakukan, berbincang-bincang tentang Dhamma atau mengamati keheningan nan agung”.
NILAI DARI MENYENDIRI
Manusia terbiasa dengan keributan dan berbicara dan mereka merasa kesepian jika tidak berbicara dan dikucilkan. Namun jika kita melatih diri dalam seni berdiam diri, maka pasti kita akan menyenanginya. Pisahkanlah dan jauhkanlah dirimu dari kebisingan dan ketergesaan dan ingatlah bahwa ada kedamaian dalam kesunyian. Sekali waktu kita harus menjauhi kesibukan agar mendapatkan keheningan. Ini merupakan suatu keadaan damai dan tenang di saat menyendiri, kita akan mengalami hakekat yang berguna dari ‘mengheningkan cipta’. Kita melakukan perjalanan ke dalam diri kita. Jika kita memasuki keadaan diam maka kita samasekali sendirian untuk mampu memeriksa diri kita sendiri dan mampu melihat diri sendiri sebagaimana adanya, kemudian kita mampu mengatasi kelemahan diri dan keterbatasan kemampuan diri dalam pengalaman yang sederhana.
Waktu yang dipakai untuk menyendiri sesungguhnya bukan suatu pemborosan, malahan membentuk pribadi kuat. Yang ini merupakan suatu simpanan yang berharga kelak bagi pekerjaan kita sehari-hari dan kemajuannya, jika kita setiap hari mampu menyediakan waktu untuk menyendiri dan melakukan perenungan di keheningan. Sesungguhnya hal ini sama sekali bukan pelarian atau hidup berkhayal, namun cara terbaik untuk menguatkan pikiran dan menumbuhkan sifat-sifat baik pada pikiran/batin. Dengan menyelami pikiran sendiri serta perasaan yang timbul maka orang dapat mengetahui arti dan guna sesuatu dengan sebenarnya dan menemukan kekuatan yang terletak dalam diri.
Manusia modern mencari kebahagiaan di luar dirinya yang seharusnya dicari di dalam dirinya sendiri. Ia menjadi Ekstrovert. Kebahagiaan tidak terletak di luar dirinya. Peradaban modern bukan merupakan suatu berkah yang tidak campur aduk. Nampaknya manusia membawa dunia luar ke dalam kekuasaannya. Ilmu pengetahuan dan teknologi seakan menjanjikan kesanggupannya membuat dunia menjadi suatu surga. Kini di mana-mana orang sibuk tanpa henti berusaha di dalam memperbaiki dunia. Para ahli mengejar metode dan hasil percobaannya tanpa rasa jemu dan penuh keyakinan. Usaha dan perjuangan manusia untuk dapat mengungkap rahasia alam berlangsung terus. Penemuan baru dan metode komunikasi serta hubungan memberikan hasil yang mempesona. Semua perbaikan ini walaupun bermanfaat dan bersifat khusus di bidang materi dan untuk luar batin manusia. Sekalipun begitu, manusia tidak mampu mengendalikan pikirannya sendiri, ia tidak menjadi lebih baik dari ilmunya. Bagaimanapun di dalam gerak batin dan jasmani manusia nyatanya terdapat keanehan yang tidak mampu diungkapkan sekalipun para ahli ilmu pengetahuan telah menyibukkan dirinya selama bertahun-tahun.
Orang selalu mencari jalan keluar bagi berbagai persoalannya, namun selalu gagal, sebab metode dan pendekatannya keliru. Mereka mengira bahwa seluruh persoalan bisa diatasi dari segi luar. Sebagian besar problema sebenarnya berada di dalam. Ia timbul dari dunia di dalam, oleh sebab itu pemecahannya harus dicari ke dalam juga.
Kita dengar bahwa orang yang memperhatikan pencemaran lingkungan telah memperdengarkan keberatannya terhadap pencemaran udara, laut dan darat. Namun bagaimana dengan pencemaran batin kita? Sebagaimana Sang Buddha menunjukkan: ‘Sejak lama batin manusia dikotori oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin. Kekotoran batin membuat manusia tidak suci, pembersihan batin membuat mereka suci’. Hidup secara Buddhis merupakan proses yang terus menerus dari pembersihan atas perbuatan, perkataan dan pikiran. Ini berupa usaha mengembangkan pemurnian diri sendiri di dalam menyucikan penyadaran diri. Penekanan ada pada hasil-hasil praktis dan bukan pada spekulasi kejiwaan atau analisa logika yang tidak nyata, oleh karena itulah menjadi kebutuhan sehari-hari untuk berlatih meditasi sebentar yang bagaikan seekor induk ayam yang sedang mengerami telornya, sebab hampir seluruh waktu kita hanya dihabiskan bagai seekor tupai dalam kandang yang berputar terus.
Meditasi bukan merupakan pelaksanaan kemarin atau kini. Sejak dahulu kala orang telah melakukannya dengan berbagai cara; para yogi, orang suci dan pencari Penerangan Sempurna dari tiap zaman telah melakukannya dan telah memperoleh hasilnya dan mencapainya melalui meditasi. Tak pernah ada dan tak mungkin ada suatu pembentukan akhlak atau pembersihan batin tanpa melalui meditasi adalah jalan yang dipergunakan oleh Sang Buddha Sidharta Gotama untuk mencapai tingkat tertinggi dari Kebijaksanaan Mutlak.
Meditasi bukan hanya bagi India atau hanya untuk zaman Sang Buddha, namun untuk semua manusia pada situasi dan kondisi yang bagaimanapun. Batas kesukuan, agama, batas waktu ataupun ruang tidaklah menjadi halangan untuk melakukan meditasi.
Semua agama mengajarkan semacam meditasi untuk mengembangkan batin manusia yang bisa berupa berdoa diam atau membaca sendirian atau bersama-sama Paritta atau doa tertentu atau berkonsentrasi pada suatu objek yang suci, baik objek orang ataupun ide. Dan diyakini bahwa latihan batin seperti itu kadangkala membuat orang mampu melihat bayangan orang suci atau sedang terlibat berbicara dengan mereka atau mendengar suara atau penampilan yang gaib. Apakah semua itu khayal, ilusi, halusinasi belaka atau sekedar proyeksi bawah sadar atau gejala yang sungguh tak dapat dikatakan dengan pasti. Batin merupakan kekuatan tersembunyi yang mampu menghasilkan gejala demikian.
Keadaan tak sadarkan diri sejauh ini dikembangkan oleh para yogi dan ahli mistik tertentu hingga menjadi sesuatu yang tidak baik dipandang. Namun mereka sendiri tidak merasakan apa-apa sama sekali. Kita telah menyaksikan orang dalam sikap meditasi yang terjatuh ke dalam keadaan koma dan tampaknya kehilangan daya pikir. Yang menyaksikan menjadi salah terka, jika berpendapat bahwa itu adalah suatu jenis meditasi (bhavana).
Kitab suci Buddhis memberi tahu bahwa dengan melalui kedalaman meditasi (Jhana atau dhyana), dengan mengembangkan kemampuan batin maka orang akan mampu memperkembangkan kekuatan batin. Namun amat penting untuk diingat, bahwa Jhana Buddhis sama sekali bukan suatu keadaan menghipnotis keadaan diri sendiri atau suatu keadaan penciptaan dengan koma (lupa diri). Jhana Buddhis merupakan keadaan batin yang bersih; gangguan berupa keinginan dan dorongan hati telah mereda hingga batin menyatu untuk selanjutnya memberi keadaan kesadaran dan perhatian yang sempurna.
Amat menarik untuk mengamati gejala demikian, para ahli penyelidik dan ahli jiwa dapat menerima dan membenarkannya. Perhatian terhadap pandangan bawah sadar (kemampuan atau daya serap indra keenam), pada terapan ilmu jiwa secara perlahan memperoleh dukungan dan hasil yang diperoleh di luar dari dugaan semula. Semuanya ini sebenarnya hanya berupa hasil sampingan yang tidak begitu berarti jika dibandingkan dengan kebebasan akhir seseorang yang terbebas dari segala nafsu dan ikatan duniawi dan akhirnya berhasil mencapai kebebasan mutlak.
Meditasi yang diajarkan di dalam Agama Buddha tidak bertujuan untuk menyatukan diri dengan mahluk super ataupun untuk memperoleh pengalaman mistik ataupun untuk menghipnotis diri sendiri. Tujuan meditasi adalah untuk mencapai ketenangan batin (samatha) dan Pandangan Terang (vipassana), dengan tujuan akhir satu-satunya untuk memperoleh keadaan batin yang tidak tergoyahkan (akuppa ceto vimutti), jaminan tertinggi untuk terbebas dari semua belenggu batin dengan mengikis habis semua kekotoran batin. Tidak semua orang mampu mencapai tingkatan yang tertinggi ini yang merupakan kebebasan total dari batin, namun segala kegagalan tidak berarti, asal kita tetap tekun dan bersungguh-sungguh serta bertekad baik. Mari kita usahakan dan jangan ragu-ragu. Cukup berharga untuk terus diusahakan. Pada suatu saat, walau tidak dalam kehidupan yang sekarang, jika tetap tekun maka akan mencapai tingkat yang tertinggi.
Sekalipun kita gagal mencapai tingkat kebijaksanaan yang tertinggi, kita akan tetap mendapatkan pahala dari usaha kita. Masyarakat yang bergerak cepat memerlukan meditasi walaupun sedikit untuk melenyapkan ketegangan dan tekanan serta untuk bertahan terhadap perubahan yang dibawa kehidupan. Dengan meditasi kita dapat mengatasi persoalan kita yang bersifat kejiwaan ataupun problema yang berkenaan dengan kejiwaan seperti kegelisahan, emosi dan dorongan hati; meditasi akan meningkatkan kedamaian dan ketenangan yang kita dambakan.
PENAKLUKAN DIRI DAN NARKOTIK
Sang Buddha bersabda: ‘Sekalipun seseorang menaklukan seribu lawan, namun bila ia mampu menundukan dirinya sendiri ia adalah orang besar’. Ini tidak lain adalah penaklukan diri sendiri. Ini berarti menguasai isi batin dan emosi yang kita sukai atau yang tidak kita sukai. Milton, seorang penyair, mengumandangkan kata-kata Sang Buddha sebagai berikut: ‘Penaklukan diri sendiri merupakan kerajaan terbesar yang dapat diperoleh seseorang dan sebaliknya, bila kita memperturutkan keinginan akan menjadi budak yang menyedihkan’.
Pengendalian batin sendiri adalah kunci kebahagiaan. Ini merupakan kekuatan di balik semua pencapaian. Setiap perbuatan yang tidak terkendali adalah sia-sia. Bila kita tidak mampu menguasai diri, maka berbagai konflik akan timbul di dalam batin. Jika semua konflik harus dikendalikan, jika tidak dihilangkan maka seseorang harus mengekang keinginan, kecenderungan dan usahanya untuk hidup terkendali dan murni. Tiap orang menyadari manfaat latihan jasmaniah. Walaupun demikian kita tidak hanya sekedar jasmani belaka, kita juga punya pikiran yang memerlukan latihan. Kebahagiaan tergantung padanya.
Dari segala kekuatan maka kekuatan pikiranlah yang paling hebat. Ia merupakan kekuatan sendiri. Untuk dapat mengerti sifat kehidupan sebenarnya, seseorang harus menyelidiki semua gerak batin yang terdalam, yang hanya dapat diselami dengan instropeksi mendalam berdasarkan kemurnian kelakuan dan meditasi.
Menyadari kenyataan ini, bertambah banyak orang dari dunia Barat yang mempelajari Dhamma, Ajaran Sang Buddha. Telah dicapai suatu kesepakatan di antara kaum terpelajar Barat bahwa Agama Buddha merupakan agama ilmu jiwa tertinggi, dan bahwa Agama Buddha paling mampu menyoroti dan menangani gerak yang rumit dari batin manusia dibanding dengan sistem pendekatan dan pandangan yang lain.
Pandangan Agama Buddha adalah batin atau keadaan kita itu merupakan pokok keberadaan kita. Semua pengalaman kejiwaan, seperti sedih dan senang, susah dan bahagia, baik dan buruk, hidup dan mati…… tidak disebabkan oleh sesuatu di luar diri. Semua ini merupakan hasil batin dan pikiran serta perbuatan kita sendiri. Akhir-akhir ini seseorang telah menyelidiki gejala-gejala yang bersifat kejiwaan, suatu penyelidikan yang nampaknya mengungkapkan kekuatan tersembunyi batin manusia. Dorongan dalam diri untuk mencari bimbingan batin, sedang meningkat. Ini merupakan pertanda yang baik.
Perhatian orang Barat terhadap cara berfikir ahli yoga dan pemeditasi India telah meningkat secara mengagetkan. Alasannya tidak perlu jauh untuk dicari. Nampaknya ada perasaan gelisah yang menumpuk pada manusia dimana-mana. Perasaan itu lebih tampak pada remaja. Mereka menghendaki jalan pintas yang cepat untuk mengatasi kekeruhan dalam dunia yang bersifat materi ini. Mereka mendambakan kedamaian dan ketenangan.
Problema remaja tidak dapat dipecahkan dengan cara dogmatis dari pelajaran agama bertahun-tahun. Pernyataan-pernyataan yang menyangkut batin (ke dalam diri) tetap tidak terjawab. Nilai yang dilekatkan pada aspek materi kehidupan amat dihargai oleh manusia modern tampaknya tidak mampu dan tidak berguna untuk menyelidiki batin. Problema kehidupan dunia Barat pada dasarnya bersifat kejiwaan. Nyatanya pengetahuan, ilmu dan kemampuan teknologi di bidang materi tidak mampu memberi jawaban bagi problema dunia dan manusia. Jenis pengetahuan begitu hanyalah melipatgandakan problema yang ada.
Remaja yang menjadi pecandu obat bius merasa yakin untuk menemukan jawaban atas frustrasi batin mereka, kini mengarahkan diri mereka pada latihan yoga dan meditasi. Jelaslah obat bius tidak mampu berbuat apapun dibanding dengan hasil meditasi yang dapat kita capai. Obat bius bukan merupakan pengganti meditasi yang benar di dalam mencari ketenangan batin dibanding menguatkannya.
Dunia telah dicengkram oleh gangguan baru berupa penyakit yang tidak tersembuhkan bagi mereka yang disentuhnya, bahkan mencelakakan mereka, serta keterjangkitan yang menjanjikan mimpi ke alam yang indah, menuju suatu kehidupan yang tanpa arti dan tujuan, suatu penyakit yang mengancam anak-anak kita atau dunia teknologi atau abad modern: obat bius. Berjuta-juta remaja telah dihinggapinya, beribu-ribu dari mereka tidak dapat diselamatkan dari kematian, ratusan ribu telah kecanduan dan hanya tergantung serta terperangkap pada obat-obatan seperti ‘hasis’ yang menyebabkan kerusakan otak dan berlanjut pada keruntuhan akhlak.
Terdapat bukti yang tidak dapat dibantah bahwa meditasi mampu merubah batin yang secara kejiwaan, pada gilirannya mempunyai efek sampingan yang berguna sekali. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menilai efek-efek ini.
Dr. Herbert Benson yang melakukan penyelidikan terhadap meditasi selama satu dasawarsa terutama sangat tertarik saat mengetahui bahwa faktor–faktor kejiwaan alamiah mampu mempengaruhi jantung, tekanan darah dan segi yang lain dari peredaran darah dan fungsinya. Pendapat dan penyelidikannya dibukukan dengan judul: ‘The Relaxation Response’.
Penyelidikan yang dilakukan dalam Universitas Havard, Cambridge, Amerika Serikat mengungkapkan bahwa ratusan remaja yang menelan L.S.D. dan mengisap ganja telah menghentikan semua itu setelah melakukan meditasi beberapa bulan.
MEDITASI DAN MISTIK
Meditasi pasti bukan pengasingan sukarela dari kehidupan, atau suatu usaha untuk hari depan (setelah mati). Meditasi harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan hasilnya didapatkan saat ini dan di sini juga. Ia tidak terpisah dari apa yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, ia merupakan bagian dari kehidupan kita. Kenyataan ini menjadi jelas jika kita mempelajari empat objek meditasi, atau penerapan dari Perhatian Benar (Satipatthana). Jika kita terbebas dari keributan kehidupan kota, bebas dari cengkraman kesibukan duniawi maka kita tak begitu kehilangan kontrol diri. Dan ini hanya mungkin bagi masyarakat yang berusaha untuk memeriksa kekeliruan seperti itu. Meditasi yang kita lakukan merupakan bantuan yang berarti agar kita mampu menghadapi semua ini dengan tabah. Dan jika kita mengabaikan meditasi maka hidup kehilangan arti, tujuan dan ilhamnya.
Ada suatu waktu di mana banyak orang berpendapat bahwa meditasi hanya bagi pertapa, para yogi dan penghuni hutan. Kini pendapat itu berubah. Dewasa ini tampak meningkat minat atas meditasi. Jika meditasi ini diartikan sebagai disiplin dan pembudayaan batin maka tak usah dikatakan lagi bahwa semua orang harus melaksanakannya, tanpa memandang jenis kelamin, bangsa, keturunan atau perbedaan yang lain.
Masyarakat modern dalam bahaya dilanda pesona dan godaan yang hanya mampu diatasi dengan usaha yang berat dan mantap dalam melatih batin kita.
Memang diakui amat sulit untuk meninggalkan kebiasaan berpikir dan berkelakuan, namun meditasi mampu membantu kita untuk mengatasi beban dari segala kesulitan hidup ini. Tujuan akhir dari meditasi Buddhis adalah untuk mencapai Kebijaksanaan Mutlak, Penguasaan diri sendiri dan Nibbana melalui penguasaan atas semua kotoran batin.
Namun terlepas dari tujuan utama tadi, ada keuntungan dan manfaat lain yang mampu diraih dengan meditasi. Ia mengilhami kita untuk menemukan kecerdasan, keluhuran alamiah kita dan bahwa kita berharga. Meditasi mampu meredakan syaraf, mengendalikan atau menurunkan tekanan darah, membuat kita santai dengan mengendorkan pemborosan tenaga akibat ketegangan syaraf, memperbaiki kesehatan dan menyegarkan badan.
Ia juga dapat merangsang kekuatan yang tersembunyi dari batin, membantu berpikir jernih, berpengertian mendalam, mempunyai batin yang seimbang dan tenang. Bahkan beberapa penyakit syaraf pun dapat disembuhkan. Kita dapat mempergunakan meditasi untuk mengatasi keadaan dalam emosi. Tekanan batin kebal akan efek sampingan dari obat-obatan. Meditasi menenangkan diri dan beberapa pengobatan yang lain dapat dipergunakan dengan berhasil terhadap beberapa penyakit kronis. Meditasi merupakan suatu proses kreatif yang bertujuan merubah perasaan yang kalut dan pikiran yang tidak baik menjadi harmonis dan murni. Ia merupakan cara pengobatan yang sangat berguna bagi problema dunia modern. Jika batin terlatih dengan meditasi maka ia akan mampu menangkap sesuatu yang berada di luar jangkauan pencerapan biasa. Semua manfaat ini dapat diperoleh dengan meditasi, tentu saja tidak langsung, namun bertahap melalui sistem yang sistematis.
Meditasi adalah cara hidup. Ia merupakan cara hidup yang menyeluruh, bukan hanya sebagian. Tujuannya adalah mengembangkan manusia seutuhnya. Marilah kita berusaha keras untuk menjadi sempurna dan tak usah menunggu zaman emas yang akan datang. Bukan tidak mungkin bagi kita untuk memperoleh apa yang benar-benar kita kehendaki dengan kemampuan batin yang ada pada diri kita yakni kekuatan yang luar biasa dari batin kita.
Meditasi adalah gejala istimewa kehidupan manusia dan oleh sebab itu, harus didekati dari sudut pandang manusiawi dengan perasaan manusiawi dan pengertian manusiawi. Problema kehidupan dan jalan keluarnya pada dasarnya bersifat kejiwaan. Meditasi yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali dengan mistik. Mereka sangat berbeda. Sementara mistik membawa kita pergi dari kenyataan kama, meditasi mendekatkan kita pada kenyataan; sebab dengan meditasi kita akan mampu melihat khayalan dan halusinasi kita secara langsung. Ini membawa perubahan yang menyeluruh pada watak kita. Ini lebih merupakan suatu yang tidak dipelajari. Kita harus meninggalkan banyak hal yang telah kita pelajari dan anut dengan menyadari bahwa mereka hanya merupakan penghalang yang menggoda kita.
Semua problema kejiwaan berakar dari kebodohan dan pandangan salah. Ketidaktahuan adalah mahkota kemalangan (avijja paramam malam). Irihati, kebencian, kepongahan dan setumpuk kotoran batin yang lain berjalan bersamaan dengan kebodohan batin. Pemecahannya harus ditemukan di dalam problema itu sendiri dan seharusnya kita tidak lari darinya. Coba periksa dan selidiki dan anda akan menemukan bahwa semuanya itu adalah problema kehidupan. Oleh karena itu janganlah menyalahkan semua ini disebabkan oleh mahluk lain. Persoalan kita yang sebenarnya hanya bisa dipecahkan dengan meninggalkan semua konsep palsu dan bayangan khayal dan membawa hidup kita ke dalam keserasian dengan kenyataan dan ini hanya dapat diperoleh dengan melalui bermeditasi.
JALAN MULIA BERUNSUR DELAPAN
Dengan menjauhi apa yang membuat mabuk serta meningkatkan kewaspadaan, memantapkan kesabaran dan menjaga kebersihan batin, para bijak melatih dirinya. Tidak seberapa sulit bagi yang menginginkan ketenangan jika lingkungannya menunjang, namun jika berada di lingkungan yang tidak sesuai amatlah sulitnya. Justru kesulitan seperti itu yang harus diatasi, sebab dengan demikian kita membangun karakter yang kuat.
Dengan melatih pemusatan pikiran maka batin akan menjadi tenang. Dapatkah kita mencapinya? Jawabannya adalah : ‘Pasti’ – namun bagaimana caranya? Bukan dengan melakukan ‘sesuatu yang hebat’. Mengapa orang suci itu hebat? Jawabannya adalah : mereka tetap bergembira pada saat yang sulit untuk bergembira, dan tetap bersabar pada saat sulit untuk bersabar. Mereka tetap bersemangat disaat mereka harus berusaha untuk berdiam diri dan justru berdiam diri pada saat ingin berbicara. Itulah semua. Amat sederhana tetapi maha sulit untuk dikerjakan. Suatu persoalan pembersihan batin…..!
Berusahalah terus dengan tanpa berhenti. Tiada seseorang dapat mencapai puncak gunung dengan seketika. Bagaikan seorang pandai besi yang trampil mengeluarkan kotoran dari perak satu per satu, demikianlah kita berusaha demi keberhasilan batin kita sendiri.
Jalan yang ditunjukan para Buddha dan yang berhasil dari segala jaman untuk menumbuhkan dan mengembangkan batin adalah meditasi dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan mulia ini terbagi atas tiga bagian: Sila (kemoralan), Samadhi dan Pañña (kebijaksanaan) yang merupakan satu-satunya cara. Tidak ada jalan pintas lain untuk menuju Penerangan Sempurna. Jalan ini sangat khas Buddhis. Tidak ada satupun Ajaran Agama atau filsafat lain yang mampu dipertandingkan dengannya.
Semua bimbingan yang bersifat praktis yang ditunjukkan oleh Sang Buddha untuk melenyapkan konflik batin yang disebabkan oleh ketidakpuasan hidup, dapat ditemukan di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan ini.
‘Saya telah menyelidiki setiap cara dari semua agama yang dikenal di dunia ini, namun tidak saya temukan yang mampu menyamai baik dari segi keindahan maupun luasnya seperti Jalan Mulia ini. Oleh sebab itu Saya bertekad untuk mengabdikan dan merubah diri Saya sesuai dengannya’ (T.W. Rhys Davids, Presiden dari Pali Text Society, London).
Jalan Mulia Berunsur Delapan (Jalan Tengah) tersebut adalah :
- Pandangan Benar (sammaditthi) —– Pañña (kebijaksanaan)
- Pikiran Benar (sammasankappa)
- Ucapan Benar (sammavaca)
- Perbuatan Benar (samma Kamanta) —– Sila (kemoralan)
- Daya Upaya Benar (samma ajiva)
- Usaha Benar (sammavayama)
- Perhatian Benar (sammasati) —– Samadhi (Konsentrasi)
- Konsentrasi Benar (sammasamadhi)
DUA TINGKATAN DALAM MEDITASI
Penjelasan meditasi seperti apa adanya melalui kitab suci Buddhis awal sedikit banyak berdasar atas metode yang digunakan Sang Buddha untuk mencapai Penerangan Sempurna dan Nibbana, dan dalam pengalaman Beliau sendiri disaat mengembangkan batinNya.
Istilah meditasi sebenarnya dapat disamakan dengan istilah ‘bhavana’ yang arti harafiahnya ‘pengembangan batin’ yakni usaha untuk menumbuhkan batin terpusat, tenang, mampu dengan jelas melihat sifat batin sesungguhnya gejala apapun yang dapat merealisir Nibbana, suatu keadaan batin ideal dari batin yang sehat.
Meditasi yang dilakukan oleh Sang Buddha ada dua macam : Pemusatan Batin (samatha atau samadhi) yaitu penyatuan pemusatan batin (cittekaggata Skrt. cittaikagrata), dan Pandangan Terang (Vipassana Skrt. Vipasyana atau Vidarsana). Dari kedua istilah ini samatha atau konsentrasi, untuk alasan ini kata samatha atau samadhi, pada konteks tertentu dimaksudkan sebagai ketenangan atau keheningan. Menenangkan pikiran berarti menunggalkan pikiran yang diperoleh dengan menunjukan batin pada suatu objek pilihan dengan meninggalkan yang lain.
Meditasi (bhavana) dimulai dengan pemusatan pikiran/konsentrasi (samatha) adalah suatu keadaan yang bebas dari kekalutan. Apa pemusatan itu? Apa ciri-cirinya? Dan bagaimana mengembangkannya?
‘Apapun cara penyatuan pikiran, inilah pemusatan (konsentrasi); empat usaha terhadap perhatian benar adalah ciri-ciri pemusatan, merupakan syarat-syarat yang diperlukan dalam pemusatan; bagaimanapun cara melatihnya, mengembangkannya, akan meningkatkan kemampuan konsentrasi. Inilah yang membangun konsentrasi. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa ketiga faktor kelompok samadhi yakni: Usaha Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar bekerja sama dan saling menunjang. Ketiganya meliputi konsentrasi yang sesungguhnya.
Perlu ditunjukkan bahwa mengembangkan pemusatan pikiran (samatha bhavana) seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha bukan semata-mata Agama Buddha. Para Yogi sebelum Sang Buddha telah melakukan berbagai cara meditasi yang berlainan yang sampai kini masih dilakukan. India sejak dahulu sudah merupakan negara mistik, tetapi yoga yang amat terkenal di India tidak mampu melampaui sampai titik batas.
Samatha seperti yang diajarkan di dalam Agama Buddha hanya berakhir pada pencapaian Jhana dan Vipassana mengarah kepada empat tingkat pencapaian kesucian batin atau emansipasi. Siswa meditasi yang melanjutkan usahanya dengan tekun dan terus-menerus dengan Vipassana melenyapkan tahap demi tahap, kotoran batin yang membelenggu dirinya dalam putaran penderitaan (Samsara, juga disebut roda kehidupan dan kematian) dan mencapai tingkat keempat dari kesucian batin Arahat. Pengertian yang detail tentang Empat kesucian ini dapat dibaca dalam buku ‘The Buddha’s Ancient Path, karangan Piyadasi Thera, B.P.S. hlm 210’.
Sang Buddha tidak puas dengan pencapaian Jhana dan pengalaman mistik; satu-satunya tujuan Beliau adalah pencapaian Kebijaksanaan Mutlak dan Nibbana. Setelah mencapai ketenangan yang mantap dan konsentrasi yang tidak tergoyahkan dengan Samatha bhavana, Beliau mampu mengembangkan Vipassana yang membuat orang mampu memandang apapun dalam keadaan sebagaimana adanya, dan tidak sebagaimana penampilannya. Dengan kata lain untuk mengerti bagaimana sesungguhnya diri kita ini.
Istilah Vipassana (vi + passana) berasal dari asal katanya, ‘dilihat dengan cara istimewa’ dan kata ‘passati’ melihat dan tambahan ‘vi’ artinya : ‘khusus’. Maka Vipassana berarti melihat dari segi yang lebih jauh, bukan melihat kepermukaan ataupun bersifat sepintas lalu melainkan melihatnya dalam perspektif yang sebenarnya, yang dalam istilah dari ketiga sifat khas dari semua gejala kehidupan yaitu anicca, dukkha dan anatta. Meditasi Pandangan Terang ini mempunyai landasan ketenangan batin hasil Samatha Bhavana yang meningkatkan kemampuan meditasi seorang siswa untuk membersihkan batinnya dari segala kotoran, melenyapkan khayalan keakuan dan mampu melihat kasunyataan dan merealisir Nibbana.
Vipassana merupakan ajaran khas Sang Buddha sendiri yang sebelumnya tidak pernah Beliau dengar, suatu pengalaman langsung yang luar biasa dan khas dari Beliau sendiri, yang tidak akan ada seandainya tidak ada Pangeran Siddharta.
BEBERAPA JENIS WATAK
Batin manusia amat dipengaruhi jasmaninya. Jika dibiarkan berperan semaunya dan melakukan pikiran yang tidak baik, maka akan mampu menciptakan kehancuran dan bahkan menyebabkan pembunuhan. Sebaliknya jika batin diliputi oleh pikiran yang baik dapat menyembuhkan jasmani yang sedang sakit. Jika batin dipusatkan pada pikiran yang baik dengan mengembangkan usaha benar dan pengertian yang benar, maka hasilnya tidak terbatas. Jadi batin yang bersih dan pikiran yang baik membuat hidup menjadi sehat dan santai.
Dr. Bernard Grad dari Mcgill University di Montreal melakukan suatu percobaan dengan susah payah yaitu jika seseorang penyembuh jasmani memegang sebotol air yang tertutup rapat dan air ini disiramkan ke bibit jelai maka akan tampak menyolok bahwa bibit-bibit tersebut tumbuh melebihi yang lain. Ini merupakan fakta yang mengejutkan karena jika pasien penyakit jiwa atau syaraf memegang sebotol air lalu menyiramkan ke bibit maka pertumbuhannya menjadi terganggu.
Kesimpulan Dr. Grad adalah ada suatu faktor X atau energi yang mengalir dari badan manusia yang mampu mempengaruhi pertumbuhan tanaman atau binatang. Keadaan batin manusia mempengaruhi dirinya. ‘Energi’ yang belum diakui tersebut mempunyai dampak luas bagi Ilmu Pengobatan, dari sifat-sifat penyembuhan sampai pada percobaan laboratorium, kata Dr. Grad.
Sebagaimana ditemukan olehnya bahwa batin mampu mempengaruhi benda, maka tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa batinpun mampu mempengaruhi batin.
Jasmani kita bisa berada dalam kesehatan yang amat baik, namun batin sakit, digerogoti oleh penyakit yang berupa lobha, dosa dan moha serta berbagai pesona yang menyesatkan. Sebagian besar penyakit manusia berasal dari batinnya. Batin tidak saja menjadi penyebab penyakit melainkan juga menyembuhkannya. Pasien yang optimis lebih banyak mempunyai harapan sembuh daripada pasien yang pesimis. Catatan keyakinan pada penyembuhan menunjukan bahwa cara inilah yang menyembuhkan penyakit organis secara mendadak.
Batin amat peka dan merupakan gejala yang ruwet sehingga tidaklah mungkin kita temukan dua orang yang sama batinnya. Pikiran manusia diterjemahkan melalui kata dan perbuatan. Pengulangan kata-kata dan perbuatan menumbuhkan kebiasaan dan akhirnya membentuk watak. Watak adalah hasil dari kegiatan yang dijuruskan oleh pikiran, oleh sebab itu watak manusia berbeda-beda. Ahli Ilmu Jiwa seperti Carl G. Yung mengatakan ada dua tipe, introvert dan exstravert, yaitu orang yang lebih suka memperhatikan diri sendiri daripada orang lain serta orang yang lebih suka memperhatikan hal-hal yang ada di luar dirinya.
Jalan ke arah pembersihan batin (Visudhi Magga) menunjukan enam tipe watak (carita) yang meliputi banyak hal yang tidak berarti. Ada beberapa yang condong ke-nafsu keinginan, kebencian, kebodohan batin, keyakinan, kecerdasan dan keraguan. Karena adanya watak yang berbeda-beda maka subyek meditasinya pun disesuaikan (kammatthana). Orang menjumpai kammatthana ini disebutkan satu demi satu pada Kitab Suci Pali, khususnya mengenai kotbah Sang Buddha. Petunjuk tentang Jalan menuju Pembersihan Batin, (Visuddhi Magga) ada empat puluh macam. Mereka benar-benar merupakan resep obat bagi berbagai kekacauan batin manusia.
Di dalam kitab Majjhima Nikaya, salah satu dari lima Kitab Tipitaka asli yang berisikan petunjuk-petunjuk Sang Buddha, ada dua di antaranya (no 61 dan 62) berisikan nasehatNya kepada Rahula sewaktu mengajarkan Dhamma. Semuanya berisikan tentang meditasi. Pada wejangan yang ke 62 kepada Rahula, yang saat itu baru berusia delapan belas tahun, menarik sekali untuk diperhatikan bahwa Sang Buddha memberikan tujuh macam meditasi, yang intinya sebagai berikut :
‘Kembangkanlah meditasi cinta kasih (metta), maka itikad jahat akan lenyap.
Kembangkanlah meditasi belas kasihan (karuna), maka kekejaman akan lenyap.
Kembangkanlah meditasi simpati (mudita), maka antipati (ketidak senangan terhadap keberhasilan orang lain) akan lenyap.
Kembangkanlah meditasi keseimbangan batin (upekkha), maka kebencian akan lenyap.
Kembangkanlah meditasi dengan objek yang menjijikan (asubha), maka nafsu keinginan akan lenyap.
Kembangkanlah meditasi pada objek ketidakkekalan (anicca sañña), Rahula; dengan demikian maka kesombongan diri atau ke-Akuan (asmi – mana) akan lenyap.
Kembangkanlah meditasi pada objek yang keluar masuknya nafas (anapana sati), Rahula, perhatian pada keluar masuknya nafas ini bila dilatih dengan sungguh-sungguh dan teratur banyak memberi manfaat.
Sang Buddha tidak hanya menganjurkan kepada orang lain untuk melatih meditasi, akan tetapi Beliau sendiri telah terbiasa melakukannya untuk menciptakan suasana damai, tentram (ditthadhamma sukha vihari). Pada suatu waktu Sang Buddha bersabda : ‘Wahai para Bhikkhu, Aku akan menyendiri selama tiga bulan. Yang menemuiKu hanyalah yang mengantarkan makanan dan minumKu’. ‘Baik Yang Mulia’, jawab para Bhikkhu. Setelah tiga bulan Sang Buddha bersabda sebagai berikut :
‘Wahai para Bhikkhu, jika ada seseorang dari ajaran lain bertanya kepadamu Meditasi apa yang sering dilakukan oleh Samana Gotama selama musim hujan, maka jawablah dengan mengatakan ‘Sang Buddha sering menghabiskan waktu selama musim hujan dengan meditasi keluar dan masuknya napas’. ‘Dengan meditasi ini Aku mengeluarkan dan menarik napas dengan penuh perhatian. Orang yang berkata benar harus mengatakan; perhatian benar terhadap keluar dan masuknya napas merupakan cara hidup Sang Tathagata’.
Kita tidak perlu dan tidak mungkin menguasai empat puluh subjek meditasi. Yang penting adalah memilih salah satu di antaranya yang sesuai dengan dirinya. Akan sangat membantu jika mendapat bimbingan dari orang yang sudah terlatih dalam meditasi, buku-buku tentang meditasi juga akan dapat membantu. Sesungguhnya dalam hal ini kita harus dengan jujur mengenali watak sendiri, sebab bila tidak, kita tidak akan mampu memilih subjek meditasi yang tepat. Begitu pilihan telah diambil, kita harus tekun melatih diri dengannya. Meditasi adalah suatu ‘usaha yang dilakukan diri sendiri’.
Jika sibuk dengan urusan duniawi, kita tidak akan mudah memisahkan diri dan menyendiri di tempat yang sepi untuk waktu tertentu melakukan meditasi dengan serius setiap hari. Namun jika ada kemauan maka akan terdapat jalan. Pada waktu pagi hari atau sesaat menjelang tidur atau kapan saja jika batin telah siap, walaupun sebentar, kita menyatukan pikiran dan meningkatkan konsentrasi.
Jika kita mengembangkan perenungan yang tenang setiap hari maka kita akan mampu mengerjakan tugas kita dengan baik, dan lebih efisien. Kita mempunyai keberanian untuk menghadapi kesulitan, mudah puas dan lebih mudah berhasil. Cukup berharga untuk dicoba, namun kita harus cukup sabar, percaya diri dan mantap. Jika memungkinkan, meditasi harus dilakukan dengan teratur dan cukup, dan hendaknya jangan mengharapkan hasilnya dengan cepat. Perubahan kejiwaan tibanya perlahan-lahan.
LATIHAN TIGA UNSUR
Diperlukan disiplin bagi kita di dalam berkata dan berbuat sebelum melatih batin dengan meditasi yang bertujuan menumbuhkan dan memperbaiki moral. Ini disebut latihan kebajikan (sila sikha). Tiga faktor Jalan Mulia Berunsur Delapan merupakan kode hidup (sila) Agama Buddha, yaitu Ucapan Benar, Perbuatan Benar dan Daya Upaya Benar. Siswa meditasi yang berusaha dengan tekun mentaati sedikitnya Lima Pantangan (Pancasila) yang terdiri dari tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berbohong dan tidak makanan dan minuman yang memabukkan. Pada latihan meditasi siswa diharapkan tidak melibatkan diri pada hubungan seks dan memelihara kemurnian diri.
Moralitas (sila) ini merupakan batu loncatan pertama, pangkal berpijak umat Buddha, merupakan fondasi untuk mengembangkan batin. Orang yang ingin menekuni meditasi harus mengembangkan cinta kasih dan kebersihan batin yang mempengaruhi kehidupan batin dan membuatnya tenang. Pencari ketenangan batin selalu berusaha menjauhkan diri dari keterlibatan nafsu atau melenyapkannya. Inilah sikap pertapa yang benar. Ia berpikir : ‘Biarlah orang berbuat jahat, saya tidak akan terpengaruh, saya tidak akan mencelakakan orang lain, biarpun orang lain berbuat sebaliknya. Biarlah orang lain mencuri tetapi saya tidak; biarlah orang lain berkehidupan tidak suci, namun saya harus hidup suci, biarlah orang lain terlibat kata-kata yang kasar, memfitnah dan membuat gosip, namun saya hanya akan berbicara yang membawa kebaikan, dapat diterima oleh telinga, penuh kasih, menyenangkan untuk didengar, tidak ada kesalahan, berharga untuk diingat, tepat pada waktunya, tepat mengenai persoalannya, saya tidak mau berkeinginan, biarlah orang lain bergairah pada sesuatu yang tidak berharga/pantas, namun saya akan mendambakan secara batin apa yang baik. Penuh semangat, rendah hati, tidak ragu terhadap apa yang benar, jujur, damai, berguna, pemurah, selalu benar dan adil dalam berhubungan dengan apapun juga. Saya akan selalu sadar dan bijak terhadap semua kenyataan sepanjang masa, dan tidak akan goyah terhadap sesuatu yang mudah lenyap dan tidak akan melekat padanya. Orang seperti itu tidak akan pernah berlaku sebagai budak atau seekor domba yang tidak mempunyai pikiran.
Sila, kode moral yang dikemukan oleh Sang Buddha bukan suatu urutan lapangan yang bersifat kaku tetapi lebih tepat merupakan suatu anjuran untuk berlaku baik – suatu sikap hidup penuh tekat baik demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Prinsip moral ini mengarah kepada suatu sikap masyarakat yang aman dengan menganjurkan persatuan, keharmonisan dan saling pengertian antar manusia.
Kelakuan yang baik akan membantu membentuk konsentrasi. Tiga faktor terakhir dari Jalan Mulia yakni Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar merupakan bagian dari Samadhi. Ini disebut latihan berkonsentrasi (samadhi sikha).
Dengan selalu meningkatkan kebajikan, ia melatih mengembangkan batin. Dengan duduk dalam ruangan tertutup, di bawah pohon, di alam terbuka, atau di manapun, siswa meditasi memantapkan perhatiannya kepada suatu objek meditasi dan dengan usaha yang tiada hentinya membersihkan diri dari segala kekotoran batin sehingga dengan bertahap akan memperoleh kedalaman konsentrasinya.
Konsentrasi yang tinggi dan dalam merupakan alat untuk mendapatkan kebijaksanaan dan Pandangan Terang. Kebijaksanaan terdiri dari Pandangan Benar dan Pikiran Benar, kedua faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ini disebut latihan kebijaksanaan (pañña sikkha). Jalan Tengah yang terdiri dari Sila, Samadhi dan Panna di dalam kitab Ajaran Sang Buddha disebut ‘Latihan Tiga Unsur’ (Tividha-sikkha). Tidak satupun dari mereka merupakan akhir dari diri sendiri, setiap bagian merupakan satu tujuan pencapaian. Tidak satupun dapat berfungsi tanpa tergantung pada faktor lain. Bagaikan sebuah pot yang berkaki tiga yang langsung terbalik jika salah satu kakinya putus, maka demikianlah hubungan dari ketiga unsur di atas. Mereka selalu bekerja sama dan saling menunjang. Kelakuan baik akan menguatkan konsentrasi yang akan membawa banyak manfaat. Konsentrasi pada gilirannya pada kebijaksanaan yang akan membantu kita melenyapkan pandangan salah dan dapat memandang kehidupan sebagaimana adanya, artinya dapat melihat kehidupan dan segala yang ada bergerak timbul dan lenyap (udaya-vaya). Dengan proses bertahap melalui pengalaman dan latihan dan pengalaman yang bertahap, ia membuang semua kotoran yang ada di dalam dirinya, mencabut seluruh akarnya dan memperoleh kebebasan yang baginya berarti pengalaman yang hidup dengan berakhirnya tiga akar kejahatan : lobha, dosa dan moha yang mengotori batin manusia. Ketiga akar ini harus dilenyapkan dengan melatih diri dengan menjalankan Sila, Samadhi dan Pañña.
Pada akhir pembersihan diri ia mencapai di mana cahaya Nibbana mulai terserap, keadaan hening di luar kata-kata, di luar perbuatan, namun damai mutlak, tidak akan goyah oleh pikiran yang dikotori oleh nafsu, sesuatu yang pasti dan mantap, gemilang luar biasa, kebahagiaan dari keheningan yang mendalam, suatu kepuasan terlepas dari beban, kelegaan, kebahagiaan yang amat dan bersih yang tiada persamaannya, yaitu Kebenaran Mutlak. Itulah mahkota dari kehidupan meditasi, hasilnya sangat besar. Dengan hasil ini maka semua kelahiran, kelapukan dan kematian dihentikan dengan total, kehidupan suci telah dicapai dan telah selesai apa yang harus dikerjakan, dan kata-kata tiada lagi punya arti.
Tampaklah di sini bahwa Sila, Samadhi dan Pañña bukan merupakan sifat yang terpisah, namun justru merupakan bagian dari Jalan Mulia Berunsur Delapan yang merupakan Jalan Meditasi seperti terurai di atas.
PELAKSANAAN PERHATIAN BENAR.
Apakah meditasi itu? Untuk apa orang bermeditasi dan apa manfaatnya? Pertanyaan ini telah dijawab. Mari kita dekati prosedur khusus pelaksanaan meditasi.
Saya anjurkan untuk membicarakan satu segi yang penting dari meditasi Buddhis, yaitu Pelaksanaan Perhatian Benar atau Satipatthana. Kata patthana adalah singkatan dari upatthana yang arti harfiahnya ‘mendekatkan pada batin’, yaitu tetap sadar, tetap teguh, melaksanakan atau menumbuhkan. Untuk menumbuhkan daya kesadaran terhadap objek tertentu dan menghidupkan peranan dan mengarahkan kemampuan mengawasi, kemampuan kekuatan, faktor penerangan dan cara berkesadaran, semua ini merupakan pembentukan perhatian benar.
Petunjuk mengenai pembentukan Perhatian Benar (Satipatthana Sutta) yang dapat dikatakan sebagai Ajaran paling penting yang pernah diberikan sekitar 2500 tahun yang lalu oleh Sang Buddha Gotama untuk melatih, menetapkan, memurnikan, dan menyeimbangkan batin, tampil sebanyak dua kali di Kitab Suci Buddhis. Sebagai pembukaan yang terdapat di buku tersebut tentang latihan ini, jelas sekali disebutkan bahwa Satipatthana merupakan satu-satunya cara/jalan (ekayano maggo) untuk membersihkan batin, melenyapkan penderitaan, untuk mencapai Jalan yang benar serta Nibbana, itulah Satipatthana, pelaksanaan Perhatian Benar’.
Empat Pelaksanaan Perhatian Benar.
- Jasmani (Kayanupassana).
- Perasaan (Vedananupasana).
- Gerak pikiran (Cittanupassana).
- Objek-objek batin (Dhammanupassana).
Yang paling pokok di sini adalah Perhatian dan pengamatan (anupassana).
Sebagaimana telah disebutkan keadaan perhatian yang tenang dilakukan bersama ketiga faktor terakhir dari Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu Usaha Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar. Ini merupakan Tiga Jalur dari kekuatan tali yang saling menjalin dan menunjang. Perhatian Benar adalah terkuat sebab memegang peran utama dalam usaha mencapai ketenangan maupun ketajaman pandangan. Perhatian Benar merupakan suatu kerja tertentu dari batin karena merupakan faktor batin. Tanpa ada faktor dari perhatian yang bernilai tinggi maka orang tidak dapat membedakan objek hasil pencerapan, tidak dapat melihat dan menyadari dengan jelas tingkah lakunya sendiri. Disebut Perhatian Benar karena mampu menghindarkan kesalahan arah perhatian dan menghindarkan batin dari perhatian terhadap sesuatu yang tidak baik serta menjaga agar siswa selalu berada pada jalan benar ke arah pembebasan, kedamaian dan kebersihan batin.
Perhatian Benar mempertajam kemampuan mengamati dan mendukung cara berpikir dan berpengertian benar. Cara berpikir dan mempertimbangkan yang teratur oleh Perhatian Benar. Petunjuk-petunjuk latihan memperlihatkan bahwa siswa meditasi menjadi sadar akan gerak pikirannya, siaga mengawasi dan menangkap setiap gerak pikiran, tidak perduli yang bersifat baik ataupun buruk, terpuji atau tidak. Semua petunjuk mengingatkan kita kepada ketidakacuhan dan lamunan serta selalu mendorong agar batin kita tetap siap. Sebenarnya siswa yang rajin akan melihat dan menyadari bahwa sekedar membaca dan menyadari kembali segala petunjuk terkadang membuatnya sadar dan waspada, rajin dan serius. Tidak perlu dikatakan bahwa Perhatian Benar selalu diusahakan oleh orang yang berminat. Kesungguhan adalah amatlah penting untuk mengembangkan Perhatian Benar ini justru pada zaman yang membingungkan ini banyak orang menjadi korban dari ketidak-seimbangan batin.
Perhatian Benar merupakan alat yang tidak saja membuat konsentrasi menjadi tenang tetapi juga meningkatkan Pengertian Benar dan Daya Upaya Benar. Ia merupakan faktor yang amat penting di dalam kegiatan duniawi maupun spiritual. Kini kita telah melihat bahwa meditasi bukan suatu pelarian, dari kehidupan masyarakat, melainkan merupakan suatu bentuk batin yang diidam-idamkan.