GAGGA-JĀTAKA16. Sumber : Indonesia Tipitaka Center [15] “Gagga, hidup seratus tahun,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di arama yang didirikan oleh Raja Pasenadi di depan Jetavana, tentang suatu bersin. Dikatakan bahwasanya ketika Sang Guru duduk memberikan khotbah dengan empat kelompok orang di sekeliling-Nya, Beliau bersin. “Semoga panjang umur Bhante, Yang Terberkahi; […]
Baca selengkapnya...URAGA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Bersembunyi di dalam sebuah batu,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang sebuah pertengkaran antara prajurit. Dikatakan bahwasanya dua prajurit yang bertugas dalam naungan Raja Kosala, yang berkedudukan tinggi, dan orang-orang yang hebat di lapangan, segera setelah melihat satu sama lain, mereka akan saling mencaci-maki. […]
Baca selengkapnya...SŪKARA-JĀTAKA11. Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Anda berkaki empat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang thera yang sangat tua. Diceritakan bahwasanya pada suatu upacara malam, dan Sang Guru berkhotbah berdiri di tangga yang berhiasan permata di depan ruangan yang wangi (gandhakuṭi ). Setelah menyampaikan khotbah tentang Yang Sempurna […]
Baca selengkapnya...BUKU II – DUKANIPĀTA RĀJOVĀDA-JĀTAKA1 Sumber : Indonesia Tipitaka Center [1] “Yang kasar dengan kasar,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang bagaimana seorang raja dinasihati. Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Tesakuṇa-Jātaka2. Diceritakan bahwasanya pada suatu hari Raja Kosala telah menjatuhkan hukuman untuk sebuah kasus yang rumit menyangkut […]
Baca selengkapnya...SAÑJĪVA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Berteman dengan seorang penjahat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana mengenai Raja Ajātasattu yang patuh pada para guru palsu230. Karena percaya pada musuh yang dipenuhi oleh kebencian pada Sang Buddha, yakni Devadatta yang hina dan jahat, dan dalam kegilaannya, dalam harapannya memuja Devadatta, […]
Baca selengkapnya...EKAPAṆṆA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Jika racun tersembunyi,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di kūṭāgārasālā228, Mahāvana dekat Vesāli. Pada masa itu, Vesāli berada dalam keadaan yang sangat makmur. Sebuah dinding berlapis tiga mengelilingi kota tersebut, setiap dinding berjarak satu yojana dari dinding berikutnya, dan terdapat tiga buah gerbang dengan […]
Baca selengkapnya...
WU LIANG: Kaisar Biksu Pertama Tiongkok (Epochtimes*co*id) Kaisar Wu Liang (464-549 M), juga disebut Xiao Yan, lahir di Nanlanling Zhoudouli selama Dinasti Selatan (420-589). Xiao Yan memerintah selama 48 tahun dan meninggal pada usia 86. Dia termasuk salah satu kaisar yang hidup terpanjang dalam sejarah Tiongkok, kedua setelah Kaisar Dinasti Qing, Qianlong (1711-1799). Menurut Zizhi […]
Baca selengkapnya...PUPPHARATTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Saya tidak menanggapi rasa sakit ini,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai seorang bhikkhu yang menyesal. Saat ditanya oleh Sang Guru, ia mengakui tentang kelemahannya, menjelaskan bahwa ia merindukan istrinya di masa masih merupakan perumah tangga, “Karena, Bhante,” katanya, “ia begitu manis, […]
Baca selengkapnya...RĀDHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Berapa malam lagi yang?” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai godaan nafsu terhadap seorang bhikkhu oleh mantan istrinya dalam kehidupan berumah tangga. Kejadian dalam cerita pembuka akan diceritakan dalam Indriya-Jātaka225. Sang Guru berkata seperti ini pada bhikkhu tersebut, “Tidak mungkin untuk menjaga […]
Baca selengkapnya...NAṄGUṬṬHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Jātaveda yang keji,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai pertapaan salah dari para ājīvaka, atau petapa telanjang. Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun, di belakang Jetawana mereka selalu melatih pertapaan 223 yang salah. Sejumlah bhikkhu melihat mereka berjongkok pada tumit mereka […]
Baca selengkapnya...