Category Archives for Tipitaka

Kundakapuva Jataka

KUṆḌAKAPŪVA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Sebagai imbalan bagi pemujanya,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Sawatthi, mengenai seorang lelaki yang sangat miskin. Di Sawatthi, Sanggha dengan Buddha sebagai guru mereka selalu dijamu, kadang-kadang oleh satu keluarga tunggal, kadang-kadang oleh tiga atau empat keluarga sekaligus, atau oleh seseorang secara pribadi […]

Baca selengkapnya...

Bahiya Jataka

BĀHIYA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Belajarlah engkau dengan tepat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika Beliau menetap di Kūṭāgārasālā 192 di Weluwana (Veḷuvana) dekat Vesāli, mengenai seorang Licchavi, seorang pangeran alim yang memeluk keyakinan ini. Ia mengundang Sanggha dengan Sang Buddha sebagai guru mereka ke rumahnya, dan di sana ia memberikan […]

Baca selengkapnya...

Salittaka Jataka

SĀLITTAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [418] “Hadiah dari keahlian,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang melempar batu dan menjatuhkan seekor angsa. Diceritakan bahwa bhikkhu ini, yang berasal dari sebuah keluarga terpandang di Sawatthi, mempunyai keahlian memukul benda dengan batu; suatu hari, setelah mendengarkan pembabaran […]

Baca selengkapnya...

Udancani Jataka

UDAÑCANI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Hidup bahagia tadinya adalah milikku,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai godaan dari seorang gadis yang gemuk (atau kasar). Kejadian ini akan diceritakan dalam Culla-Nārada-Kassapa-Jātaka189 di Buku Ketiga Belas. Saat menanyai bhikkhu tersebut, Sang Buddha mendapat pengakuan darinya bahwa benar ia sedang […]

Baca selengkapnya...

Dubbalakattha Jataka

DUBBALAKAṬṬHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Takutkah engkau pada angin,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang tinggal dalam keadaan gelisah secara terus menerus. Dikatakan bahwa ia berasal dari keluarga terpandang di Sawatthi, dan ia meninggalkan keduniawian setelah mendengarkan pembabaran Dhamma, ia selalu merasa gelisah akan […]

Baca selengkapnya...

Veri Jataka

VERI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Jika bijaksana, engkau tidak akan berkeliaran,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetawana, mengenai Anāthapiṇḍika. Dari apa yang terdengar, Anāthapiṇḍika sedang dalam perjalanan kembali dari desa tempat ia menjadi kepala desa, ketika ia melihat para perampok di jalan. “Tidak baik untuk berkeliaran di jalan,” pikirnya, “saya […]

Baca selengkapnya...

Pannika Jataka

PAṆṆIKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Ia yang seharusnya memberikan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang upasaka penjual sayuran di Sawatthi, yang memperoleh nafkah dengan menjual bermacam-macam akar tanaman dan sayuran, labu dan sejenisnya. Ia mempunyai seorang putri yang baik, suci, dan cantik, namun ia selalu tertawa. […]

Baca selengkapnya...

Parosata Jataka

PAROSATA-JATAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center Jauh lebih baik dari seratus orang bodoh, walaupun mereka berpikir keras selama seratus tahun tiada henti, adalah satu orang yang, dengan mendengar (baik-baik), langsung mengerti. [411] Kisah ini hampir sama dengan kisah dalam Parosahassa-Jātaka (No.99), dengan satu-satunya perbedaan adalah ‘berpikir keras’ yang dapat dibaca di sini.

Baca selengkapnya...

Asatarupa Jataka

ASĀTARŪPA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Dalam samaran kegembiraan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Kuṇḍadhānavana dekat Kota Kuṇḍiya mengenai Suppavāsā, seorang upasika yang merupakan putri dari Raja Koliya. Pada saat itu, ia mengandung seorang anak selama tujuh tahun dalam kandungannya, selama tujuh hari waktu persalinannya disiksa oleh rasa sakit […]

Baca selengkapnya...

Parosahassa Jataka

PAROSAHASSA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Jauh lebih baik dari seribu orang bodoh,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai pertanyaan orang awam (puthujjana). [406] (Kejadian ini akan dijelaskan dalam Sarabhaṅga-Jātaka185.) Dalam suatu kesempatan tertentu para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran dan memuji kebijaksanaan Sāriputta, sang Panglima Dhamma, yang […]

Baca selengkapnya...
1 48 49 50 51 52 127