Category Archives for "Sutta Pitaka"

Istana Tempat Duduk, Keempat

4. KEEMPAT : ISTANA TEMPAT DUDUK, KEEMPAT (Catutthapithavimana) Tempat kejadian ini juga di Rajagaha. Cerita ini harus dipahami sama seperti cerita Istana Kedua, karena setelah perempuan itu memberikan tempat duduk dengan kain biru yang dibentangkan diatasnya, disana muncul juga baginya Istana yang terbuat dari batu permata hijau-laut. Yang lain sama seperti yang terdapat di Istana […]

Baca selengkapnya...

Istana Tempat Duduk, Kedua

2. KEDUA: ISTANA TEMPAT DUDUK, KEDUA (Dutiyapithavimana) Baik penjelasan maupun komentar mengenai cerita ini harus dipahami sama seperti cerita pertama. Hanya saja, inilah perbedaannya: Dikatakan bahwa seseorang perempuan yang tinggal di Savatthi melihat seorang Thera ketika beliau dating ke rumahnya untuk mengumpulkan dana makanan. Dengan pikiran yang penuh keyakinan, dia mempersembahkan sebuah kursi kepada beliau. […]

Baca selengkapnya...

Istana Tempat Duduk

1. PERTAMA : ISTANA TEMPAT DUDUK ( Pithavimana ) Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana di Vihara Anathapindika, ketika Raja Pasenadi dari Kosala melakukan Pemberian-Dana yang Tiada-Bandingnya selama tujuh hari bagi Sangha para bhikkhu dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya. Anathapindika – seorang bankir besar1 – juga memberikan dana selama tiga hari agar selaras […]

Baca selengkapnya...

Vimanavatthu

DAFTAR ISI CERITA-CERITA ISTANA ALAM DEWA (VIMANAVATTHU) Sumber : Judul asli : The Minor Anthologies of the Pali Canon Part IV Vimanavatthu : Stories of the Mansions Oleh : I.B. Horner Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh : Dra. Wena Cintiawati Dra. Lanny Anggawati Editor: Y.M. Jotidhammo Thera M.Hum. Rudi Ananda Limiadi, S.Si.,M.M. […]

Baca selengkapnya...

Penutup (Parayana Thuti Gatha)

PARAYANA THUTI GATHA (Penutup) Inilah yang dikatakan Sang Buddha ketika enam belas brahmana itu datang ke Vihara Batu Karang di Magadha untuk memohon Sang Buddha menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Jika kamu mengetahui apa arti sejati dari setiap pertanyaan itu, melihat apa yang tersirat dalam setiap pertanyaan dan hidup sesuai dengan Segala Sesuatu Sebagaimana Adanya, maka kamu […]

Baca selengkapnya...

Pingiya

16. PERTANYAAN PINGIYA Kemudian brahmana Pingiya berbicara: 1. ‘Saya sudah tua dan melapuk. Tubuhku lemah dan kulitku pucat. Saya hampir tidak dapat melihat dan pendengaran saya sudah payah. Jangan biarkan saya mati dalam keadaan masih bingung. Ajarkanlah pada saya Segala Sesuatu Sebagaimana Adanya sehingga saya tahu bagaimana meninggalkan kelahiran dan ketuaan.’ (1120) 2. ‘Lihatlah,’ jawab […]

Baca selengkapnya...

Mogharaja

15. PERTANYAAN MOGHARAJA Yang berikutnya bertanya adalah siswa brahmana yang bernama Mogharaja: 1. ‘Manusia Sakya,’ katanya, ‘telah dua kali saya menanyakan hal ini sebelumnya tanpa menerima jawaban dari Mata Kebijaksanaan. Tetapi pernah saya dengar bahwa bila dewa-kebijaksanaan ditanya untuk ketiga kalinya, dia akan memberikan jawaban. (1116) 2. Saya tidak tahu, Gotama yang masyhur, sikap apakah […]

Baca selengkapnya...

Posala

14. PERTANYAAN POSALA Kemudian siswa Posala bangkit untuk berbicara: 1. ‘Di dalam segalanya,’ dia berkata kepada Sang Buddha, ‘Engkau telah mencapai kesempurnaan. Tidak ada gerakan nafsu maupun jejak keraguan yang tersisa di dalam dirimu. Maka saya datang kepada Engkau untuk mengajukan pertanyaan ini, siapakah yang dapat menerangkan apa yang telah terjadi di masa lampau. (1112) […]

Baca selengkapnya...

Udaya

13. PERTANYAAN UDAYA Kemudian siswa brahmana Udaya berbicara: 1. ‘Telah pergi melampaui dalam segalanya,’ katanya, ‘adalah yang tertinggi di dalam segalanya. Ketika dia duduk bermeditasi, tidak ada racun yang menyakitinya, tidak ada debu yang menghalanginya: Dia telah melakukan apa yang harus dilakukan.[Pada orang inilah saya datang untuk bertanya, dan inilah pertanyaan saya:] Dapatkah Yang Mulia […]

Baca selengkapnya...
1 71 72 73 74 75 126