Kotisimbali Jataka

No. 412

KOṬISIMBALI-JĀTAKA209

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

 

“Kuangkat raja naga,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang kecaman terhadap nafsu (noda batin).

Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Pānīya-Jātaka.

Dalam kisah ini, Sang Guru yang mengetahui bahwa lima ratus bhikkhu itu sedang dikuasai oleh pikiran yang penuh dengan kesenangan indriawi di dalam koṭisanthāra, mengumpulkan mereka dan berkata, “Para Bhikkhu, adalah hal yang benar untuk mewaspadai apa yang pantas diwaspadai, noda batin mengelilingi diri seseorang seperti pohon beringin yang tumbuh mengelilingi sebuah pohon; dengan  cara ini di masa lampau, seorang dewa pohon yang berdiam di sebuah pohon koṭisimbali melihat seekor burung yang membuang kotorannya di pohon beringin setelah makan di cabang pohonnya, dan dewa pohon itu menjadi takut kalau-kalau kediamannya akan hancur,” kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

____________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai dewa pohon yang berdiam di pohon koṭisimbali.

Seekor raja burung garuda yang besarnya seratus lima puluh yojana dan mampu membelah air di lautan yang luas dengan kepakan sayapnya, menangkap ekor raja nāga (naga) yang panjangnya enam ribu byāma210, dan untuk membuat ular memuntahkan benda yang terdapat di dalam mulutnya, raja burung garuda terbang ke pohon koṭisimbali itu.

Raja naga berpikir, “Saya akan membuatnya menjatuhkan dan melepaskan diriku,” maka ia menyangkutkan tudungnya di sebuah pohon beringin dan membelitkan dirinya dengan kuat.

Disebabkan oleh kekuatan raja burung garuda dan besarnya ukuran tubuh raja naga, pohon beringin itu pun tercabut sampai ke akarnya. Tetapi raja naga tetap tidak melepaskan lilitannya pada pohon beringin itu. Burung garuda akhirnya mengangkat raja naga, pohon beringin dan semuanya ke puncak pohon koṭisimbali, kemudian ia meletakkan naga di batang pohon itu, mengoyak perutnya [398] dan memakan lemaknya. Selanjutnya ia membuang sisa-sisa bangkainya ke laut.

Kala itu, terdapat seekor burung yang terbang pergi ketika pohon beringin tersebut tercabut, dan bertengger di dahan pohon koṭisimbali. Dewa pohon yang melihat burung ini, menjadi gemetar ketakutan, dengan berpikir, “Burung ini akan membuang kotoran di batang pohonku; pohon beringin yang lainnya atau pohon ara211 akan tumbuh dan menjalar di seluruh pohonku: demikian kediamanku akan hancur.” Pohon itu bergetar sampai ke akarnya dikarenakan dewa pohon yang bergemetaran.

Burung garuda mengetahui getaran tersebut dan mengucapkan dua bait kalimat untuk menanyakan alasannya:—

Kuangkat raja naga yang panjangnya enam ribu byāma:
Panjang tubuhnya dan besar badanku dapat Anda tahan
dan Anda tidak gemetar menahannya.

Tetapi sekarang Anda menahan burung kecil ini,
begitu kecilnya dibandingkan dengan diriku:
Anda gemetar ketakutan;
mengapa demikian, pohon koṭisimbali ?

Kemudian dewa pohon mengucapkan empat bait kalimat berikut untuk menjelaskan alasannya:—

Daging adalah makananmu, wahai raja,
buah adalah makanan burung:
Benih pohon beringin dan ara akan ditunaskannya,
dan pohon bodhi juga, dan batangku akan dikotorinya;

Mereka semua akan tumbuh
di bawah cabang-cabang pohonku,
dan saya akan kehilangan pohonku
karena akan tertutupi oleh mereka semua.

[399] Pohon-pohon lain, yang dulunya berakar kuat
dan bercabang banyak,
dengan jelas menunjukkan bagaimana benih
yang dibawa oleh burung mampu menghancurkan mereka.

Pertumbuhan tanaman parasit
akan mengubur segala pohon hutan yang besar:
Itulah alasannya, wahai raja,
mengapa saya gemetar ketakutan
ketika melihat apa yang akan menimpaku.

Setelah mendengar perkataannya, burung garuda mengucapkan bait terakhir berikut ini:—

Adalah benar untuk merasa takut
dengan apa yang pantas untuk ditakuti,
berjaga-jaga akan bahaya yang mungkin datang:
Orang bijak, di kedua kehidupan, selalu waspada
jika itu memang pantas untuk diwaspadai.

Setelah berkata demikian, dengan kekuatannya, burung garuda mengusir burung kecil itu pergi dari pohon tersebut.

____________________

Setelah uraian-Nya selesai, Sang Guru memaklumkan kebenarannya, dengan berkata: “Adalah benar untuk mewaspadai apa yang pantas diwaspadai,” dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Setelah kebenarannya dimaklumkan, [400] lima ratus bhikkhu itu mencapai tingkat kesucian Arahat:— “Pada masa itu, Sāriputta adalah burung garuda dan saya sendiri adalah dewa pohon.”

____________________

Catatan kaki :

209 Bandingkan No. 370, di atas.

210 PED: a fathom; 6 kaki.

211 Pilakkha; Ficus infectoria.

Leave a Reply 0 comments