Masuk ke Arus Dhamma

MASUK KE ARUS DHAMMA

ENTERING THE STREAM OF DHAMMA

Oleh : Phra Acariya Thoon Khippanno

Alih bahasa :
Dra. Yasodhara Wena Cintiawati
Dra. Sujata Lanny Anggawati

Penerbit :
Wisma Sambodhi
Klaten

Marilah kita bahas dahulu arti judul ‘ MASUK KE ARUS DHAMMA ‘ , agar kita bisa memahaminya dengan pengertian yang sama. Semua pengikut Dhamma ingin masuk ke arus Dhamma, tetapi mungkin kita berbicara tentang hal yang berbeda. Sebenarnya hanya ada satu arti yang benar. Anda dapat mempertimbangkan, mengkaji ulang dan merenungkan penjelasan ini dengan bijaksana sebelum anda memutuskan benar atau tidaknya.

Para Orang Suci, dari tingkat Sotapanna dan seterusnya, adalah mereka yang telah masuk ke arus Dhamma. Walaupun para Sotapanna ( yaitu mereka yang mencapai tingkat pertama dari empat tingkat kesucian ) belum sepenuhnya suci, mereka telah cukup tercerahkan untuk dapat melihat dengan jelas jalan yang benar, yang menuju Nibbana, yang merupakan Tujuan Akhir atau hapusnya dukkha secara total. Dengan kata lain, mereka jelas telah memasuki arus yang menuju ke Nibbana tanpa ada kemungkinan berbalik. Waktu pertama kali masuk ke jalan ini, mereka mengetahui hal itu dengan sendirinya. Pada titik ini, mereka menjadi Sotapanna dan dianggap sebagai nitayapuggala, yaitu orang yang maju menuju ke Nibbana dan tidak akan pernah kembali ke tingkat orang biasa. Walaupun mungkin terlahir lagi di dunia ini, mereka tidak akan mengalami lebih dari tujuh kehidupan sebelum mencapai Nibbana.

Sang Buddha mengajarkan dengan jelas dan nalar cara memasuki arus Dhamma. Pada jaman beliau, para muridnya berlatih sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan dan mencapai kesucian. Jika kita ingin mencapai tujuan yang sama dengan mantap kita harus mengikuti Ajaran Sang Buddha. Dengan begitu kita akan masuk ke arus Dhamma persis seperti orang – orang pada jaman Beliau. Seperti apa Pencapaian – pencapaian Kesucian di masa lampau, seperti itu pulalah di masa kini dan selamanya.

Mereka yang mencapai tingkat kesucian mana pun akan tahu sendiri. Tidak ada keraguan sama sekali. Mereka tidak perlu bertanya kepada siapa pun juga. Pada jaman Sang Buddha pun, mereka yang telah masuk ke dalam arus Dhamma tidak perlu bertanya kepada Sang Buddha tentang tahap atau tingkat yang telah mereka capai. Bahkan mereka tidak dapat melukiskan kepada Sang Buddha apa yang mereka ketahui. Dan emosi mereka tidak bergejolak karena dipuji atau karena pencapaian mereka dikenali. Inilah yang dimaksud dengan ‘ masuk ke arus Dhamma ‘. Para Pemasuk arus tahu sendiri tingkat Dhamma mereka dan tidak bergembira dengan kata – kata pujian. Mereka juga tidak akan bersedih bila dikritik.

Di masa kini pun, para Sotapanna mengetahui, melihat dan memahami Dhamma persis seperti para Sotapanna pada jaman Sang Buddha, tidak peduli apa pun kebangsaan, bahasa, jenis kelamin, usia maupun statusnya. Jalan menuju masing – masing tingkat Dhamma tetap tidak berubah walaupun waktu berlalu. Ajaran Sang Buddha telah dipilih dan diajarkan kepada makhluk dunia secara terbuka dan sempurna. Ini merupakan satu – satunya Ajaran di dunia yang mengajar manusia untuk mencapai Tujuan Akhir, Nibbana atau hapusnya penderitaan secara total. Ini merupakan Ajaran yang telah terbukti lewat praktek. Pencapaian – pencapaian Kesucian tidak berubah sesuai dengan pemahaman tiap orang dan tidak pernah menjadi kadaluarsa. Siapa pun yang mengatakan bahwa dewasa ini tidak ada lagi Pencapaian Kesucian, dia adalah orang buta ; dan jangan biarkan orang buta menjadi guru anda. Pencapaian Kesucian ini tetap mungkin. Namun sangat sedikit orang yang dapat mencapainya, karena jalan yang benar menuju tingkat itu tidak dapat diselewengkan sedikit pun. Orang yang pandangan – pandangannya menyeleweng dari jalan ini akan kehilangan kesempatan untuk mencapai Tujuan Akhir. Karena itu, pandangan – pandangan salah akan mengacaukan dan menjauhkan manusia dari Pencapaian Kesucian, serta menghalangi mereka masuk ke arus Dhamma di dalam kehidupan ini.

Seorang guru dengan pandangan – pandangan yang salah dapat membawa berpuluh – puluh, beratus – ratus, bahkan beribu – ribu pengikutnya menuju jalan yang salah. Jadi, salah pandangan amat berbahaya untuk Pencapaian Kesucian. Dewasa ini, pandangan – pandangan salah sulit dibetulkan karena tidak ada Buddha yang dapat memberitahukan penilaian mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, para pengikut Dhamma harus menentukan sendiri. Informasi yang salah berakibat pada praktek yang salah ; sebaliknya informasi yang benar akan mengarahkan seseorang menuju arus Nibbana, dengan kecepatan yang bergantung pada ketekunannya dalam berlatih. Untuk menentukan guru mana yang benar atau salah, anda harus menimbang dengan pemahaman dan kekuatan penalaran anda sendiri. Hal ini tidak berada di luar jangkauan kemampuan anda. Benar dan salah bukanlah hal yang tersembunyi dan misterius.

KETENANGAN MENTAL HANYA MENEKAN KEKOTORAN – KEKOTORAN BATIN
UNTUK SEMENTARA SAJA.

Siswa Dhamma harus merenungkan segala sesuatu dengan bijaksana. Mereka harus memahami Ajaran Sang Buddha dengan akal sehat sampai sepenuhnya paham. Misalnya, mereka harus memahami hubungan antara pelatihan pengembangan konsentrasi ( samatha kammatthana ) dan pengembangan kebijaksanaan ( vipassana kammatthana ). Mereka harus mempelajari kisah – kisah pengikut di jaman Sang Buddha yang berlatih dan mencapai kesucian. Kedua latihan ini saling mendukung dan tak seorang pun dapat mencapai kesucian dengan melatih salah satunya saja.

Ada bukti yang menunjukkan betapa terampilnya para pertapa pra Buddhist yang berlatih konsentrasi. Mereka terampil dalam tingkat – tingkat jhana Alam Materi Halus ( rupajhana ) atau jhana Alam Tanpa Materi ( arupajhana ). Mereka dapat masuk dan meninggalkan tingkat – tingkat itu dengan terampil, serta mempertahankan keadaan – keadaan tenang itu selama yang mereka inginkan. Walaupun demikian, tidak ada pertapa yang dilaporkan telah mencapai kebijaksanaan sehingga mereka dapat mengetahui dan melihat kebenaran. Tidak ada pertapa yang dengan cara itu mencapai Tujuan Akhir, Nibbana. Pencapaian tertinggi mereka hanyalah keadaan penyerapan ketenangan mental atau kesaktian – kesaktian luar biasa, seperti misalnya penglihatan dan pendengaran supranatural, kemampuan membaca pikiran, atau kesaktian – kesaktian lainnya. Tetapi tidak pernah ada pertapa yang menjadi Orang Suci hanya lewat mediasi ketenangan saja.

Sebelum mencapai pencerahan, Sang Buddha sendiri dengan terampil mempraktekkan mediasi samatha di bawah bimbingan dua guru pertapa, tetapi setelah merenung dengan akal sehat, beliau menyadari bahwa bukan meditasi samatha saja yang beliau cari. Itulah yang terjadi jika orang sudah memiliki kebijaksanaan dasar, yang membantunya menyadari bahwa meditasi samatha saja bukanlah sarana untuk terbebas dari kekotoran batin, nafsu keinginan ( tanha ) dan ketidaktahuan ( avijja ). Itulah sebabnya tidak ada pertapa yang dapat membebaskan diri dari kekotoran batin, nafsu keinginan, emosi yang kuat, kebodohan batin ( moha ) dan ketidaktahuan. Ketenangan mental selama meditasi, seberapa pun dalamnya, hanyalah suatu sarana sementara untuk menekan kekotoran batin dan nafsu keinginan. Setiap kali pikiran bergejolak, maka ketamakan ( lobha ), kebencian ( dosa ), kebodohan batin, emosi yang kuat, serta nafsu keinginan muncul kembali dengan kekuatan penuh.

Jika dewasa ini ada yang mengatakan bahwa dia mempraktekkan Dharma, bahwa dia adalah siswa Sang Buddha atau mengikuti langkah Sang Buddha, mungkin dia sebenarnya hanya sekadar melatih meditasi ketenangan seperti seorang pertapa. Bagaimana dia dapat mengembangkan kebijaksanaan jika hanya melatih ketenangan mental saja ? Kebijaksanaan dapat dikembangkan hanya melalui proses yonisomanasikara, suatu refleksi atau perenungan analitis yang bijaksana dan menyeluruh mengenai segala hal. Jika anda masih bingung tentang kedua praktek ini, meditasi ketenangan dan meditasi pengembangan kebijaksanaan, berarti pandangan dan pemahaman anda belum sejalan dengan kebenaran. Pandangan salah di awal akan membawa ke praktek yang salah dan mengakibatkan hasil yang salah. Maka interprestasi yang salah tentang kebenaran dapat menutupi jalan menuju Pencapaian Kesucian, yang merupakan tujuan praktek ini.

SETIAP ORANG MEMILIKI KEBIJAKSANAAN DASAR.

Anda mungkin bertanya – tanya bagaimana kebijaksanaan dapat berkembang jika pikiran tidak sedang berada dalam keadaan konsentrasi yang tenang ( samadhi ). Jawabannya adalah memang ada kebijaksanaan yang muncul di dalam pikiran yang tenang, yang disebut vipassananana, yang merupakan hasil dari praktek Dhamma. Ini merupakan jenis kebijaksanaan yang dicari setiap pengikut Dhamma, tetapi kebijaksanaan semacam ini sangat sulit dikembangkan. Namun jika berhasil dikembangkan, ini merupakan kebijaksanaan tertinggi yang cukup kuat untuk memotong arus dunia. Kebijaksanaan inilah yang akan menghapus semua keraguan dan ketidakpastian di dalam pikiran, serta mencabut akar semua jenis kemelekatan ( upadana ) terhadap diri sendiri. Ini merupakan kebijaksanaan yang muncul di ambang pencerahan. Siapa pun yang mendapatkan kebijaksanaan ini sudah akan sampai ke tahap Pencapaian Kesucian tertentu dan tak lama lagi akan menjadi Orang Suci, paling tidak tingkat Sotapanna.

Inilah yang dimaksud dengan kebijaksanaan yang muncul di dalam suatu pikiran yang tenang. Kebijaksanaan ini berada di luar imajinasi orang biasa karena merupakan kebijaksanaan tertinggi dan terdalam, kebijaksanaan yang dapat mengubah orang biasa menjadi Orang Suci ( Ariya ). Inilah kebijaksanaan yang dimiliki orang bijak, orang yang berpengetahuan, yang memahami prinsip – prinsip Kebenaran, prinsip – prinsip  sebab akibat, secara jelas. Kebijaksanaan ini berada diluar khayalan – khayalan orang biasa dan terjadinya tidak dapat dipaksakan. Jika anda tidak berlatih sejalan dengan prinsip – prinsip Pandangan Benar, tidak akan ada cara untuk memunculkan kebijaksanaan ini di dalam diri anda.

Jika anda tidak memahami cara melatih Konsentrasi yang Benar ( sammasamadhi ) untuk mengembangkan pikiran yang tenang, yang mendukung munculnya vipassananana, bagaimana mungkin kebijaksanaan tertinggi ini dapat muncul di dalam diri anda ? Anda harus mengetahui praktek konsentrasi dengan jelas dan dapat membedakan konsentrasi yang benar dari konsentrasi yang salah atau yang bersekutu dengan moha. Jika pelatihan anda masuk ke dalam kategori yang salah, atau yang bersekutu dengan moha, maka kebijaksanaan tertinggi tidak akan pernah muncul di dalam diri anda.

Seorang siswa Dhamma pada tingkat ‘ taman kanak – kanak ‘ akan jatuh bangun di sepanjang jalan. Dia tidak tahu apa yang benar atau yang salah, tidak tahu apa Pandangan Benar atau Pandangan Salah itu, Pada tahap ini, bagaimana dia bisa mengharapkan munculnya kebijaksanaan tertinggi ? Oleh karena itu, siswa Dhamma harus memperhatikan hal – hal yang mendasar saat berlatih. Dia harus memahami arti pengembangan ketenangan ( samatha ) dan pengembangan kebijaksanaan ( vipassana ) yang sebenarnya. Mana yang harus dilatih dahulu, samatha atau vipassana ? Yang mana pun boleh, karena yang satu mendukung yang lain ! Anda harus tahu keadaan pikiran anda sendiri. Jika pikiran anda sedang tidak ingin berpikir, maka berlatihlah konsentrasi. Setelah pikiran cukup tenang, beralihlah ke perenungan. Bilamana pikiran anda tidak dapat berkonsentrasi walaupun anda sudah berusaha keras untuk memusatkannya pada nafas atau pengulangan mental, maka tiba waktunya bagi anda untuk merenung.

Apa yang harus direnungkan bergantung pada apa yang menarik pikiran anda pada saat itu. Renungkanlah hal itu sampai anda melihat dengan jelas sifat hakiki semua hal, yaitu Tiga Corak : anicca ( tidak kekal ), dukkha ( tidak memuaskan ) dan anatta ( tanpa inti / diri ). Apa pun yang muncul di pikiran dapat dianalisis sampai ke sifat hakikinya. Jika pikiran sudah lelah merenung, biarkanlah pikiran beristirahat dengan cara memindahkannya ke pelatihan konsentrasi. Anda dapat melatih samatha dan vipassana dengan postur tubuh apa pun.

Di dalam pelatihan Dhamma, anda harus menyisihkan waktu untuk meletakkan fondasi yang baik. Anda telah memiliki kebijaksanaan dasar, tetapi anda menggunakannya hanya dalam pengertian duniawi tanpa adanya batasan, serta tanpa tujuan akhir. Inilah jenis kebijaksanaan yang hanyut tanpa ujung pangkal di sepanjang arus dunia ini. Mereka yang mulai menyadari bahwa pikiran telah hanyut dari satu hal ke hal lain tanpa henti berarti mulai memiliki kebijaksanaan di dalam Dhamma. Jadi kita mulai dengan kebijaksanaan duniawi yang dimiliki semua orang, tidak peduli apa kebangsaan, bahasa atau pendidikannya. Jenis kebijaksanaan ini tidak membutuhkan guru. Dengan kebijaksanaan duniawi ini, mereka yang berpendidikan tinggi dapat menciptakan pesawat ruang angkasa untuk pergi ke bulan, dll. Kebijaksanaan duniawi ini dapat digunakan untuk menciptakan atau menghancurkan dunia. Dalam batas – batas tertentu, semua orang memilikinya. Untuk memperolehnya, praktek konsentrasi tidak diperlukan.

LANDASILAH KEBIJAKSANAAN DASAR ANDA DENGAN PANDANGAN BENAR.

Bagaimanapun juga, kebijaksanaan duniawi ini merupakan fondasi utama di dalam praktek Dhamma. Kita membutuhkannya untuk memahami Dhamma pada saat mendengarkan khotbah atau mempelajari Dhamma dasar. Pemahaman Dhamma yang mendasar membutuhkan kebijaksanaan duniawi. Pelatihan – pelatihan Dhamma, seperti misalnya berdana, menjalankan sila ( peraturan ) yang berjumlah lima, delapan, sepuluh atau dua ratus dua puluh tujuh tidak dapat dicapai bila tidak dimulai dari tingkat kebijaksanaan duniawi yang mendasar. Sila anda tidak dapat murni tanpa adanya kebijaksanaan untuk memahami maksudnya. Pelatihan konsentrasi juga membutuhkan kebijaksanaan untuk mengetahui tingkat – tingkat konsentrasi yang berbeda : konsentrasi sesaat ( khanika samadhi ), konsentrasi akses ( upacara samadhi ), konsentrasi penuh ( appana samadhi ), jhana Alam Materi Halus dan Alam Tanpa Materi. Orang harus menggunakan kebijaksanaan untuk membedakan konsentrasi yang benar dari yang salah atau konsentrasi yang bersekutu dengan moha, agar konsentrasi yang salah tidak muncul. Orang membutuhkan kebijaksanaan untuk mempelajari dan memahami hal – hal seperti Lima Penghalang – nafsu indra, kemauan jahat, kemalasan dan keraguan dan mencari cara agar pikiran terbebas dari Lima Penghalang itu.

Ringkasnya, setiap langkah di dalam praktek Dhamma membutuhkan kebijaksanaan. ‘ Kebijaksanaan ‘ di sini menyiratkan inteligensi menyeluruh di dalam praktek Dhamma. Mereka yang berlatih Dhamma harus selalu waspada dan menganalisis cara pelatihan mereka dengan bijaksana. Mereka harus siap memecahkan setiap masalah yang muncul di dalam pelatihan dan menanggulangi setiap penghalang yang menganggu perkembangan mental mereka. Inilah yang disebut ‘ pandai ‘ dalam praktek Dhamma.

KEYAKINAN MEMERLUKAN KEBIJAKSANAAN.

Keyakinan atau rasa percaya pada seseorang atau pada suatu pernyataan harus muncul baru setelah dipertimbangkan secara cermat dan bijaksana. Jangan percaya secara membuta pada apa pun juga. Ketika membaca buku, anda harus berpikir secara kritis untuk melihat apakah cukup beralasan mempercayai apa yang anda baca itu. Pilihlah bagian – bagian yang masuk akal saja untuk diikuti. Memilih merupakan proses kebijaksanaan untuk membedakan ‘ yang benar ‘ dari ‘ yang salah ‘. Anda harus memilih buku yang mengandung prinsip – prinsip yang masuk akal. Ini disebut ‘ saddhananasampayut ‘, yang artinya ‘ keyakinan yang berdasarkan perenungan ‘. Penggunaan kebijaksanaan lewat perenungan yang analitis atau kritis tentang sebab akibat di dalam segala hal ini akan membantu anda memperoleh pemahaman yang benar. Dengan demikian, anda terhindar dari pemahaman yang salah serta keraguan di dalam praktek Dhamma.

Pada zaman Sang Buddha, mereka yang mencapai tahap – tahap kesucian seperti Sotapanna ( Pemasuk Arus ), Sakadagami ( Yang Kembali Sekali Lagi ), Anagami ( Yang Tak Kembali Lagi ) atau Arahat ( Yang Tersucikan ) semua menggunakan kebijaksanaan duniawi dengan cara yang telah dijelaskan di sini. Tanpa kebijaksanaan semacam itu, mereka tidak akan dapat memahami Ajaran – ajaran Sang Buddha pada tahap pertama pelatihan. Dengan kebijaksanaan ini, mereka merenungkan Ajaran – ajaran Sang Buddha, seperti misalnya Empat Elemen ( dhatu ), Lima Khanda dan Tiga puluh dua Bagian Tubuh, Sifat – sifat Tubuh yang Menjijikkan ( asubha ), dll, sampai mereka memahami sifat hakiki hal – hal tersebut. Dengan berulang – ulang merenungkannya, mereka mengajar pikiran untuk mengembangkan Pandangan Benar sesuai dengan Kebenaran. Hasilnya, mereka menjadi lebih bijaksana. Akhirnya mereka mencapai Tahap Kesucian.

Begitulah cara Orang – orang Suci di jaman Sang Buddha mengembangkan pikiran. Tanpa kebijaksanaan dasar di awalnya, mereka tidak akan pernah menapakkan kaki di jalur pelatihan yang benar. Jika ada yang ingin berdebat mengenai ini, coba sebutkan satu Orang Suci yang mulai berlatih tanpa kebijaksanaan dasar apa pun.

Dalam proses perkembangan mental, gunakanlah kebijaksanaan untuk merencanakan pelatihan anda di sepanjang Jalan Suci menuju Pencapaian Kesucian. Dengan demikian, pelatihan anda akan maju tanpa rintangan, kecemasan atau keraguan. Pelatihan ini akan terarah langsung ke tujuan akhir, bagaikan seorang sopir yang telah mempelajari peta dengan cermat sebelum mulai perjalanannya. Dia dapat melaju dengan kecepatan penuh tanpa rasa was – was akan tersesat. Kalau tidak, dia mungkin akan berputar – putar tak menentu atau membuang banyak waktu karena harus berhenti di sana sini untuk bertanya di sepanjang jalan. Jika dia bertanya kepada orang yang juga tidak tahu jalan, bisa jadi dia malahan berputar – putar dan tidak akan sampai tujuan. Tetapi jika dia kebetulan bertanya kepada orang yang memang tahu jalan dan mau memberi petunjuk, ini merupakan keberuntungan. Jika orang yang benar – benar tahu memberitahukan jalannya tetapi dia tidak mau percaya, hal ini sungguh patut disayangkan.

Pelatihan Dhamma membutuhkan kebijaksanaan untuk merenungkan jalan itu dengan cermat agar tidak salah. Jika anda menentukan arah dengan lurus, pelatihan akan maju dengan lancar dan anda dapat mengerahkan segenap usaha untuk pelatihan itu. Walaupun kekotoran batin dan godaan mungkin datang, anda sudah siap dan sadar sehingga dapat melawan dengan tekad dan ketekunan. Tekad anda yang kuat akan dapat mengalahkan kekotoran batin dan godaan itu. Jika anda dapat melewatinya, maka dapat dikatakan bahwa anda telah memberikan kehidupan anda kepada Dhamma.

BISIKAN GODAAN.

Godaan memiliki satu jurus tipuan yang telah berhasil mengelabuhi banyak orang di masa lampau. Jika jurus lain gagal, godaan memutuskan untuk menggunakan jurus terakhir yang sering membawa hasil. Ia akan membisikkan ke pikiran : “ Kau belum mengumpulkan cukup jasa di dalam kehidupan lampau untuk bisa mencapai Tujuan Akhir di dalam kehidupan ini. Usahamu, betapa pun kerasnya, percuma saja. Engkau harus mengumpulkan lebih banyak jasa sampai benar – benar sempurna. Hanya yang telah sepenuhnya menyempurnakan dirilah yang dapat maju ke tahap akhir. Jadi kau harus berpraktek sesuai kapasitasmu sendiri “.  Kepada orang awam, godaan menambah pesan lain, yaitu tanggung jawab keluarga. “ Siapa yang akan menjaga anak – anakmu ? Siapa yang akan membantu mereka mencari pekerjaan ? Siapa yang akan membantu mereka di dalam perkawinan ? Bagaimana kau dapat berlatih Dhamma padahal masih amat banyak pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor yang harus dikerjakan ?”

Biasanya jurus – jurus ini 99,9 % berhasil dan mereka yang berusaha berlatih Dhamma cenderung menyerah kalah. Mereka akan merasa cukup puas melakukan kebaikan – kebaikan untuk mengumpulkan jasa, sambil menunggu datangnya waktu yang tepat di masa depan yang masih jauh. Tanpa disadari, mereka ini telah kalah. Mereka juga telah kalah di dalam banyak kehidupan sebelumnya. Mereka jatuh kedalam jurus – jurus tipuan yang selalu sama.

Keraguan dan ketidakpastian merupakan penghalang bagi pelatihan seseorang. Misalnya, jika dia ragu apakah Pencapaian Kesucian masih mungkin dicapai di zaman ini, atau apakah dia memiliki kesempurnaan spiritual untuk mencapainya, maka dia tidak akan cukup berani untuk mengerahkan segala usahanya dalam berlatih. Sebaliknya, dia cenderung akan berlatih secara teratur. Oleh karena itu, keraguan, kemalasan dan kurangnya keyakinan menghalangi pelatihan dan Pencapaian Kesucian. Walaupun seseorang menganggap dirinya siswa Dhamma, mungkin sebenarnya dia hanya bereksperimen dengan Dhamma, secara coba – coba, tanpa keyakinan. Dengan begitu, tidak mungkin dia memperoleh hasil – hasil pelatihan, karena Kebenaran hanya dapat muncul di dalam diri mereka yang berlatih dengan serius.

Jadi, tidak adanya keyakinan menunda sukses pelatihan. Siswa Dhamma bisa menjadi tidak yakin dalam menjalankan sila. Dia mungkin terus menerus meragukan moralitasnya sendiri lewat kata – kata maupun perbuatan. Inilah yang terjadi pada orang yang menjalankan sila tanpa kebijaksanaan. Mengenai konsentrasi, dia berlatih tanpa keyakinan. Dia selalu menyuruh orang lain untuk memeriksa apa yang terjadi di dalam pikirannya selama pelatihan. Di dalam beberapa kasus, dia mungkin menafsirkan apa yang terjadi kepadanya sebagai pencapaian tingkat pengetahuan atau kebijaksanaan ini dan itu atau bahkan sebagai pencapaian tahap kesucian. Inilah yang terjadi jika seseorang melatih konsentrasi tanpa kebijaksanaan, tanpa pemahaman mengenai sifat alami pikiran.

Kebingungan semacam ini disebabkan oleh keterangan yang salah tentang pelatihan konsentrasi. Pada umumnya, ada kesalahpahaman yang menyatakan bahwa kebijaksanaan secara otomatis akan muncul bila pikiran terkonsentrasi. Jika konsentrasi menjadi salah atau kotor, siapa atau apa yang dapat membantu bila orang itu sendiri tidak memiliki kebijaksanaan untuk membantu dirinya keluar dari sana ? ‘ Orang harus menjadi pendukungnya sendiri ‘. Artinya, orang harus bergantung kepada kebijaksanaannya sendiri. Kebijaksanaan orang lain hanyalah petunjuk. Ibaratnya, seorang ibu dapat mengulurkan tangan untuk menolong anaknya berjalan. Dia dapat memberi bantuan. Tetapi anak itu sendiri yang harus berusaha untuk berdiri di atas kedua kakinya.

Demikian pula, kebijaksanaan harus dikembangkan oleh setiap orang. Tak seorang pun dapat berharap bisa mengambil kebijaksanaan orang lain untuk dirinya sendiri. Apa pun yang kita dapatkan dari orang lain haruslah direnungkan dengan akal sehat sebelum hal itu menjadi kebijaksanaan kita sendiri. Maka kita harus menjadi pemikir yang bijaksana, yang selalu menyelidiki dan menganalisis segala hal setiap saat. Dengan demikian, kita melatih diri untuk menjadi pendukung bagi kita sendiri di dalam berlatih Dhamma.

PEMAHAMAN RASIONAL.

Seorang siswa Dhamma harus melatih dirinya untuk dapat melihat segala hal secara bijaksana dan jelas. Dia harus belajar untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah di dalam pikirannya. Dia memerlukan taktik yang benar untuk memecahkan masalah pikirannya sendiri. Bila suatu masalah muncul, dia harus menganalisisnya sampai masalah itu dapat dilihatnya dengan jelas. Yang paling penting, dia harus memeriksa masalah itu dengan jujur sampai penyebab sejatinya terungkap. Jika dia ingin mengangkat pikirannya dari emosi – emosi duniawi yang rendah, dia harus berusaha agar pikirannya dapat melihat masalah dengan benar. Bila pikirannya tidak terkontrol, dia harus dapat secara tajam melihat kesalahan – kesalahan mental di masa lampau serta penderitaan yang disebabkan oleh emosi – emosi itu. Lewat kesalahan – kesalahan itu dia dapat belajar untuk tidak membiarkan hal yang sama terjadi lagi. Jika dia selalu penuh sati, dia akan menjadi terampil dalam pemahaman rasional. Dengan pemahaman ini, dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terbawa arus emosi duniawi yang rendah seperti sebelumnya. Dia menyadari sumber – sumber dukkha ketika memahami bahaya dan penderitaan yang diperolehnya dari perasaan penuh nafsu serta nafsu – nafsu indria.

Kita senang membiarkan pikiran terbawa arus kenangan masa lampau tanpa ada perlawanan apa pun. Kita dilahirkan di bumi ini dan masih ingin dilahirkan lagi. Kita lupa dan tak peduli dengan dukkha yang muncul di dalam siklus kehidupan yang berulang – ulang ini. Pikiran menjadi amat terbiasa dengan nafsu keinginan dan selalu bergumul dengan kesenangan – kesenangan indria. Karena itu, pikiran ingin terus mengalami sensasi – sensasi semacam itu lagi dan lagi. Akibatnya adalah cerita lama yang sama mengenai rasa sakit dan penderitaan. Maka kita perlu memahami siklus kehidupan yang berulang – ulang ini. Gunakanlah kehidupan ini sebagai contoh untuk bukti kebenaran dan paksalah pikiran anda untuk mengakuinya. Walaupun kekotoran batin dan nafsu keinginan selalu dapat membuat berbagai alasan agar pikiran menyelewengkan Kebenaran, akhirnya ia toh harus menyerah kepada Kebenaran yang diungkapkan oleh kebijaksanaan. Kelahiran, usia tua, sakit dan kematian adalah penderitaan. Empat Elemen dan Lima Khanda diri rupa ( materi ), vedana ( sensasi ), sanna ( persepsi atau ingatan ), sankhara ( aktivitas berkehendak atau bentuk – bentuk pikiran ) dan vinnana ( kesadaran ) adalah dukkha. Kehilangan orang dan benda yang dicintai adalah dukkha. Semua ini penuh ketidakpastian dan bukan diri. Inilah kebenaran kehidupan yang harus kita renungkan dengan cermat lewat kebijaksanaan. Cepat atau lambat pikiran harus menerimanya.

PAHAMILAH KEHIDUPAN PARA SUCI.

Sebagai siswa Dhamma, anda harus mempelajari pelatihan Para Suci agar anda tahu bagaimana mereka mencapai tingkat kesucian dan kemudian mengikuti cara – cara itu. Waktu berlatih, mereka memusatkan diri pada pengembangan konsentrasi dan pengembangan kebijaksanaan. Dewasa ini banyak orang yang memang berlatih konsentrasi, tetapi kebanyakan tidak paham tentang pengembangan kebijaksanaan. Beberapa masih menunggu kebijaksanaan muncul dengan sendirinya di dalam pikiran yang tenang. Mereka yang berpikir demikian akan mati tanpa pernah memperoleh kebijaksanaan apa pun. Inilah yang terjadi jika orang salah mengerti  tentang praktek ini.

Pada jaman Sang Buddha, para siswa melatih konsentrasi ( samatha ) bersama dengan kebijaksanaan ( vipassana ), secara bergantian. Beberapa cenderung berlatih samatha lebih dari vipassana atau sebaliknya, bergantung pada latar belakang atau kecenderungan pribadi masing – masing. Dengan melatih keduanya bersama, banyak yang menjadi Orang Suci. Oleh sebab itulah Sang Buddha menentukan kedua pelatihan ini, beserta banyak contoh keberhasilannya, sebagai landasan bagi seluruh umat Buddha sepanjang masa.

Jadi, setelah berlatih konsentrasi, lakukanlah perenungan untuk mengembangkan kebijaksanaan. Bila pikiran telah lelah merenung, kembalilah ke konsentrasi. Kedua pelatihan ini harus dilakukan bergantian dan dapat dilakukan dalam empat postur ( berdiri, berjalan, duduk dan berbaring ). Inilah cara asli praktek Dhamma. Anda dapat mulai dengan pengembangan konsentrasi atau pengembangan kebijaksanaan. Seperti halnya berjalan, anda dapat mulai melangkah dengan kaki kiri atau kaki kanan.

Tidak jadi masalah kaki mana yang anda langkahkan dahulu. Selama kedua kaki mengkoordinasikan langkah – langkahnya, anda akan dibawa ke mana anda ingin pergi. Saat berlatih Dhamma, tidak jadi masalah pelatihan mana yang anda lakukan lebih dahulu, asalkan kekotoran batin, nafsu keinginan dan ketidaktahuan hilang dari pikiran anda.

Ada beberapa cara untuk mengembangkan konsentrasi, tetapi semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memusatkan pikiran sampai pikiran mendapatkan ketenangan. Namun, pengembangan kebijaksanaan lebih rumit. Beberapa teknik akan dibabarkan di sini sebagai pengantar agar anda dapat mengejar pengembangan kebijaksanaan anda sendiri.

BERLATIH VIPASSANA BERARTI MENGGUNAKAN KEBIJAKSANAAN.

Berlatih Vipassana berarti menggunakan kebijaksanaan untuk merenungkan prinsip – prinsip Kebenaran. Apa pun yang dapat membantu mengungkapkan Kebenaran harus digunakan pada waktu kita merenung, menyelidiki, memahami dan menganalisis segala hal sampai ke sifat alaminya. Kita menggunakan kebijaksanaan untuk mengajar pikiran agar dapat mengetahui dan melihat Kebenaran. Pikiran harus dapat menyadari pemahaman yang salah di dalam pikiran itu sendiri, yang disebabkan oleh kekotoran batin dan nafsu keinginan. Prosedurnya adalah : menggali ke dalam sifat alami kekotoran batin sampai pikiran menangkap jurus – jurus tipuannya dan akibat – akibatnya yang merugikan, serta memahami dukkha yang disebabkan oleh kekotoran – kekotoran itu. Lewat pintu indria mana pun penglihatan, pendengaran, dll, kekotoran batin menyerang pikiran, kita sudah lebih dahulu mengetahui akibat – akibatnya yang jahat karena kita memiliki kebijaksanaan.

Maka kebijaksanaan harus cukup cepat memergoki suatu kekotoran batin atau nafsu keinginan ( tanha ) yang muncul dan kebijaksanaan harus bertindak dengan tepat. Bila kekotoran batin dan tanha bekerja ke satu arah, kebijaksanaan harus bekerja ke arah yang berlawanan. Jangan biarkan kekotoran batin tinggal di pikiran anda cukup lama sehingga meragi dan berubah menjadi racun. Jadi, kebijaksanaan harus selalu menjadi ‘ penjaga ‘ yang bertanggung jawab, yang menjaga agar kekotoran batin atau tanha tidak membawa pikiran ke arah yang salah. Kebijaksanaan harus menunjukkan dengan gamblang jahatnya kekotoran batin dan tanha itu sehingga pikiran menjadi cukup pandai untuk bisa melihat kerugian – kerugian yang ditimbulkannya.

Dengan demikian, kebijaksanaan merupakan agen utama untuk memecahkan masalah pikiran. Kapan pun kekotoran batin menggoda pikiran, kebijaksanaan menenangkannya. Kekotoran batin dan tanha telah begitu banyak merugikan pikiran. Mengapa anda tidak menyadarinya dan mencari jalan keluarnya ? Karena kekotoran batin, pikiran telah menderita di dalam sekian banyak kehidupan yang tidak terhitung banyaknya. Jadi, mengapa anda tidak terbangun, menyadari fakta itu, lalu bangkit untuk melawan kekotoran batin ?

Dengan jelas, Sang Buddha telah membuka jalan dan menunjukkan cara untuk berjuang. Dengan mengikuti cara itu, banyak siswa beliau telah menjadi Orang Suci. Sang Buddha menciptakan berbagai cara mengajar sesuai dengan kepribadian siswa, ibarat berbagai obat yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang berbeda – beda. Anda harus menggunakan obat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit khas anda. Obat – obat lain, walaupun mungkin sangat mahal, tidak akan berguna kalau tidak cocok untuk penyakit itu. Semua Ajaran Sang Buddha memiliki kualitas yang tinggi untuk menghilangkan kekotoran batin, nafsu keinginan dan ketidaktahuan, tetapi anda harus bijaksana dalam memilih teknik yang cocok untuk anda. Anda harus tahu teknik mana yang tepat untuk jenis kekotoran yang harus anda tangani. Dengan demikian, pelatihan anda akan maju dengan pesat.

TANGANILAH MASALAH PADA TITIK YANG BENAR.

Dhamma apa pun, tidak peduli seberapa baiknya anda telah mempelajari dan memahaminya, tidak akan berguna jika tidak merupakan Dhamma yang dapat melawan kekotoran batin dan nafsu keinginan pada waktu ia muncul. Menggunakan Dhmma yang salah untuk kekotoran batin atau nafsu keinginan tertentu adalah seperti menggunakan obat yang salah untuk suatu penyakit. Lalu anda mungkin bertanya : “ Apakah baik berteori tentang Dhamma ? “ Jawabannya adalah : “ Ya “, Tetapi bila tiba waktunya untuk menggunakannya, anda perlu menggunakan Dhamma yang tepat, bukan hanya sembarang Dhamma, agar masalah anda teratasi. Jika kekotoran batin dan nafsu keinginan menggunakan jurus tipuan tertentu untuk menghancurkan pikiran anda dan anda menggunakan Dhamma yang salah untuk melawannya, maka masalah anda tidak akan terpecahkan. Akhirnya anda mengeluh bahwa praktek Dhamma tidak berguna. Ini bagaikan dokter tanpa pengalaman yang memandangi suatu film sinar X yang kabur. Karena tidak dapat menentukan di mana sumber penyakitnya, dia tidak dapat menyembuhkan penyakit itu pada pusat penyebabnya, baik lewat operasi atau pengobatan. Yang dapat dilakukannya hanyalah memberikan obat – obatan umum. Penyakit itu tidak hilang.

Mereka yang berlatih Dhamma tanpa kebijaksanaan tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana kekotoran batin dan nafsu keinginan menyerang pikiran mereka. Kebanyakan meditator lebih pandai dalam teori daripada dalam praktek. Bila benar – benar berhadapan dengan nafsu keinginan dan kekotoran – kekotoran batin, mereka sama sekali tidak dapat memukul balik kekotoran dan nafsu keinginan itu, karena kebijaksanaan mereka tidak cukup tajam untuk dapat menyelesaikan masalah itu. Karena tidak tahu cara memukul balik masalah meditasi, akhirnya mereka berlatih secara tidak teratur bagaikan si pandir kikuk yang ditertawakan oleh kekotoran batin dan nafsu keinginan.

Ketika mempraktekkan Dhamma, kita harus selalu memggunakan sati ( perhatian yang penuh kewaspadaan ) dan panna ( kebijaksanaan ), serta berada satu langkah di depan kekotoran batin dan nafsu keinginan. Betapa pun halusnya kekotoran batin dan nafsu keinginan itu, kebijaksanaan dapat menghalanginya. Maka kebijaksanaan adalah alat utama bagi siswa Dhamma. Perhatian kewaspadaan ( sati ), pemahaman yang jernih ( sampajanna ), dan kebijaksanaan ( panna ) merupakan prinsip – prinsip yang dapat dipelajari secara teoritis oleh siapa pun. Akan tetapi apakah semua itu benar – benar sudah terpateri di pikiran secara praktek ? Hal ini harus kita amati sendiri di dalam pikiran kita masing – masing. Seperti yang dinyatakan di dalam ungkapan bahasa Pali :

Natthi panna sama abha “ Tidak ada sinar yang lebih terang daripada kebijaksanaan “.

Kita mengetahui prinsip – prinsip dasar pelatihan dan kita semua sudah memiliki kebijaksanaan biasa untuk memulainya. Kita harus menggunakan kebijaksanaan ini untuk membangun jenis kebijaksanaan yang ‘ terang ‘, yang muncul hanya di dalam diri beberapa orang saja. Siapa pun yang memperoleh kebijaksanaan atau penerangan ini akan segera mengetahui Kebenaran. Dan semua keraguan akan lenyap dari pikirannya, pikiran yang melihat dan tahu segala hal dengan jelas. Pada saat sati, sampajanna dan panna muncul di dalam diri seseorang, tidak akan ada lagi kesalahan dan praktek bukan lagi merupakan kerja terka – terka.

Ibarat memiliki lampu sorot sendiri ke mana pun kita pergi, kita dapat melihat dengan jelas jalan mana yang menuju ke kiri, yang mana menuju ke kanan, jalan mana yang harus diikuti, jalan mana yang tidak boleh diikuti dan apa arti semua tanda di jalan itu. Apabila demikian, bagaimana kita dapat tersesat ? Begitu pula, bila pikiran kita memiliki sati, panna dan sampajanna, praktek pasti akan berjalan lancar. Tidak ada penghalang yang dapat mencegah kita mencapai tujuan yang kita inginkan.

KEBIJAKSANAAN MENGUNGKAPKAN KEBENARAN.

Terangnya kebijaksanaan membuat kita menemukan arus Dhamma. Ketika pikiran yang jernih diterangi dengan sinar kebijaksanaan , perenungan akan menguak tabir Kebenaran. Kita akan melihat dan tahu segala hal dengan jelas seperti apa adanya : bahwa hal – hal yang kita lekati dan kita anggap sebagai ‘ milik kita ‘ sebenarnya tidak demikian. Semuanya itu tidak abadi, terkena perubahan sesuai dengan sifat alaminya sendiri. Benda apa pun yang pernah kita anggap sebagai ‘ milik kita ‘ sebenarnya hanya dapat diandalkan untuk sementara waktu saja. Bila waktunya tiba, semua benda itu, termasuk juga tubuh kita, pasti hancur sesuai dengan hukum anicca ( ketidakkekalan ).

Ada contoh – contoh jelas yang dapat kita gunakan untuk bahan pertimbangan. Ketika melayat orang mati, kita harus selalu merenungkan Kebenaran akan dukkha ( ketidakpuasan ), anicca ( ketidakkekalan ) dan anatta ( tidak adanya ‘ aku ‘ / ‘ diri ‘ ). Sang Buddha mengatakan bahwa kita tidak dapat menghindar dari kepastian berpisah dengan orang – orang yang kita cintai. Kita semua pasti berpisah satu sama lain. Kita akan menderita karenanya, tidak peduli apa pun kepercayaan kita, karena itulah sifat sejati dari eksistensi. Mereka yang tahu dan melihat Kebenaran akan memahami bahwa semua di dunia ini hanyalah muncul dan lenyap. Tetapi mereka yang dipenuhi kebodohan batin akan melekat erat dengan hal – hal duniawi yang tidak kekal.

Pikiran sudah sangat lama tersesat di dunia ini. Untuk membawanya kembali ke jalur yang benar, kita harus memikirkan apa yang menyebabkan kebodohan batin itu. Misalnya, lobha ( keserakahan ) dan dosa ( kebencian, penolakan ) berdiam di pikiran dan baru muncul hanya jika ada hal – hal dari luar yang menggoda pikiran sehingga pikiran menunjukkan kekotorannya. Karena sejatinya lobha dan dosa berada di dalam, kita harus mengajar pikiran untuk bisa melihat bahaya dan penderitaan yang ditimbulkannya. Bila pikiran tahu dan melihat Kebenaran, pikiran sendirilah yang akan melepas lobha dan dosa yang ada di dalamnya.

Kebijaksanaan yang dibutuhkan untuk mengajar pikiran yang dipenuhi kebodohan batin ini harus cukup tajam untuk menyakinkan pikiran mengenai penyebab – penyebab dukkha, sampai pikiran tidak lagi dapat menerima lobha dan dosa. Pikiran mulai melihat lobha dan dosa sebagai racun, binatang berbisa, atau api yang merugikannya. Bila kita sudah tahu bahwa ia amat berbahaya, apakah kita mau mendekatinya ? Jadi, buatlah pikiran tahu dan melihat bahaya dosa dan lobha. Begitu pikiran menyadari hal ini, dengan rela ia akan mengusir lobha dan dosa itu sendiri.

Demikianlah penjelasan ringkas yang dapat anda pakai sebagai pegangan dalam menggunakan kebijaksanaan untuk menangani dosa, moha dan lobha anda sendiri, ketika hal – hal tersebut muncul sebagai reaksi terhadap sesuatu kejadian.

KEBIJAKSANAAN HARUS SELALU MENJAGA PIKIRAN.

Jika kebijaksanaan selalu menjaga pikiran, perkembangan mental akan maju dengan lancar. Apa pun yang kita renungkan, di dalam maupun diluar, dekat atau jauh, kasar atau halus, disukai atau tidak disukai, kita tahu dan dapat melihatnya dengan jelas. Kita pasti dapat menemukan sifat hakikinya secara cepat. Pada waktu menganalisa tubuh menjadi elemen – elemennya ( padat, cair, panas dan gerak ) sehingga kita dapat melihat sifat dasarnya yang tidak indah / menjijikkan, kita harus mulai dengan imajinasi kita. Kemudian kita gunakan imajinasi itu searah dengan sifat sejati elemen – elemen itu. Atau misalnya ketika kita melihat sifat yang tidak indah / menjijikkan pada tubuh orang lain, kita harus menyadari bahwa sifat yang sama juga berlaku untuk tubuh kita sendiri. Dengan menggunakan imajinasi, kita melihat bahwa tubuh kita juga mempunyai sifat yang sama. Bila tubuh ini diuraikan dan bagian – bagiannya kemudian dilihat, rambut, kuku, gigi, kulit, daging, otot, tulang, dsb, seperti apa semua itu ? Apa warnanya, bagaimana tekstur dan baunya ? Usahakan agar anda dapat melihat semuanya dengan jelas di dalam imajinasi anda. Jika hal ini sering kita lakukan dengan cepat dan jelas kita akan dapat memunculkan di pikiran bagian tubuh mana pun yang ingin kita lihat atau amati. Apakah kita sedang berdiri, berjalan, duduk atau berbaring, jika kita ingin melihat bagian tubuh mana pun, bagian itu akan muncul dengan jelas di dalam pikiran, bahkan lebih jelas daripada bila dilihat dengan mata.

Jika kita terampil ‘ melihat ‘ diri kita sendiri di dalam pikiran, kita dapat juga melakukan hal yang sama untuk tubuh orang lain. Meskipun baru tahap awal, dengan cara melihat sifat tidak indah tersebut kita dapat segera merasakan bahwa keterampilan ini mengurangi nafsu sensual di pikiran.

Untuk merenungkan anatta di tubuh, mulailah dengan ‘ diri ‘ anda. Uraikan apa yang anda anggap ‘ diri ‘ itu menjadi bagian – bagian yang lebih kecil. Bertanyalah kepada diri sendiri perihal setiap bagian itu, misalnya rambut, kuku, gigi, kulit, dsb. Apakah rambut yang kelabu atau hitam di kepala itu benar – benar ‘ milik ‘ anda ? Bukankah itu hanya sekadar komponen tubuh yang cepat atau lambat akan terbakar di krematorium sampai yang disebut ‘ rambut ‘ itu lenyap ? Lakukan hal yang sama untuk bagian tubuh yang lain. Kemudian yakinkanlah pikiran anda mengenai samaran ‘ diri ‘ ini, yang sebenarnya hanya merupakan perpaduan dari empat elemen, plus pikiran yang berdiam di dalamnya. Ketika pikiran meninggalkan tubuh, tubuh terurai menjadi elemen – elemen aslinya. Bagian – bagian itu tidak lagi ada dan ‘ diri ‘ pun lenyap. Tidak ada yang disebut ‘ milik kita ‘, atau ‘ milik mereka ‘. Segera setelah nafas berhenti, tubuh tidak dapat lagi merasa dan itulah akhir dari ‘ diri ‘. Tubuh menjadi kosong sesuai dengan hukum anatta. ( Demikianlah penjelasan ringkas mengenai metode perenungan. Dari sini anda dapat mengembangkannya, dengan menggunakan kebijaksanaan anda.

Untuk merenungkan empat bagian pikiran : vedana ( perasaan, sensasi ), sanna ( ingatan, pencerapan ), sankhara ( buah pikir yang terpadu, aktivitas berkehendak ) dan vinnana ( kesadaran, yang mengetahui ), kita harus sepenuhnya memahami setiap bagian ini.

Bagian pertama, vedana, sering sekali disalah artikan sebagai rasa sakit tubuh saja. Kemudian dianggap bahwa rasa sakit dapat diatasi dengan melakukan konsentrasi agar kesegaran kembali lagi. Kebahagiaan di dalam konsentrasi merupakan sesuatu yang dikejar, tanpa menyadari bahwa itu pun hanyalah vedana sukkha vedana ( perasaan bahagia atau menyenangkan ). Padahal kesenangan pun bersifat tidak menentu, yang segera akan menurun dan berubah menjadi penderitaan lagi. Mereka yang memahami hal ini tidak akan melekat pada rasa senang maupun rasa sakit.

Vedana terdiri dari tiga jenis : menyenangkan, menyakitkan atau netral. Setiap saat, pikiran mengalami salah satu dari vedana ini. Penderitaan yang disebabkan oleh kata – kata atau perbuatan orang, kehilangan harta benda atau status atau ketidakpuasan sensual, merupakan vedana yang tidak diinginkan ( disebut ‘ anittharammana ‘, yang berarti ‘ emosi yang tidak menyenangkan ‘ ). Tetapi orang mencari dan melekati jenis vedana yang lain, yaitu kesenangan, yang sangat berbahaya, karena dengan mudah sekali ia menghalangi jalan menuju Pencapaian Kesucian.

JANGAN TERPERANGKAP DALAM KESENANGAN.

Siswa – siswa Dhamma cenderung terperangkap dalam kesenangan karena mereka selalu menginginkannya. Mereka mencari apa pun yang memberi kesenangan walaupun kadang – kadang harus menderita karenanya. Setiap manusia menginginkan kesenangan, tetapi apakah sebenarnya kesenangan itu ? Seandainya saya harus menjelaskannya secara rinci, penjelasannya akan memenuhi satu buku yang sangat tebal. Soalnya, kesenangan seorang anak berbeda dengan kesenangan remaja. Kesenangan keluarga dan kesenangan orang yang sudah tua tidak sama. Tetapi walaupun bentuknya tampak berbeda, setiap orang menginginkannya dan tak seorang pun ingin menderita. Kesenangan merupakan kenyamanan dan keenakan yang diperoleh seseorang dari sumber – sumber berikut ini : penglihatan, suara, bau, cita rasa, sensasi – sensasi sentuhan dan objek – objek mental.

Keenakan dan kenyamanan ini merupakan suatu perangkap umum yang menjerat siswa Dhamma. Kita harus merenungkannya dengan cermat, disertai kebijaksanaan. Kesenangan yang kita cari merupakan suatu ilusi. Ia tidak kekal dan tidak stabil. Ia tidak dapat tetap sama. Sebaliknya ia selalu berubah menjadi penderitaan dan kita harus berusaha keras untuk membuatnya berlangsung sedikit lebih lama lagi. Begitu kita lengah, ia berubah menjadi penderitaan dan kita harus berjuang lagi untuk memperolehnya kembali. Ini terjadi berulang – ulang dalam suatu siklus sukha dan dukkha yang tak pernah berakhir.

DUNIA MENYEMBUNYIKAN DHAMMA.

Telah lama sekali kita dilahirkan berulang – ulang di dunia ini. Di dalam kehidupan lampau, kita mengalami sukha dan dukkha, persis seperti yang kita alami di dalam kehidupan ini. Di dalam kehidupan yang akan datang, kita akan mengulangi hal itu lagi. Mengapa kita tidak merenungkan fakta ini dengan bijaksana ? Berapa banyak penderitaan yang telah ditimbulkan oleh kesenangan – kesenangan sensual ? Secara membuta kita dibodohi oleh kesenangan sensual. Tanpa henti kita mencari dan berupaya untuk terus menerus mendapat kesenangan – kesenangan duniawi. Pikiran yang menginginkan kesenangan sensual adalah bagaikan samodra yang tak pernah penuh dan selalu bisa menerima lebih banyak air. Merindukan kesenangan sensual merupakan ciri manusia duniawi. Binatang dan manusia sama – sama menjadi tersesat di dunia karena hal ini. Maka Ajaran – ajaran Sang Buddha merupakan alat untuk membantu kita menemukan jalan keluar dari dunia ini.

Dunia menyembunyikan Kebenaran. Jadi kita harus menggunakan kebijaksanaan untuk memerangi kebodohan batin dan menguak tabir ke arus Dhamma. Bila pikiran tersesat di dunia ini, kebijaksanaan akan membantu mencerahkannya. Kita harus menggunakan kebijaksanaan untuk merenungkan apa yang membodohkan pikiran, sampai tidak ada lagi sesuatu pun di pikiran yang menyebabkan timbulnya kebodohan batin baru. Seperti yang dinyatakan dalam ungkapan bahasa Pali :

Natthi loke raho nama ( ‘ Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi atau yang rahasia di dunia ini ‘ ).

Karena kebijaksanaan telah menguak itu semua. Kita melihat Kebenaran dunia dengan jelas : Semua keadaan duniawi tidak kekal adanya. Setiap orang di dunia harus menanggung penderitaan. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang merupakan milik kita. Harta benda duniawi tidak selamanya milik kita. Kita hanya bisa menggunakannya untuk sementara dan kemudian meninggalkan harta kekayaan itu di dunia ketika kita pergi. Jika pikiran dipenuhi kebodohan batin dan melekat kepada sensasi duniawi yang menyenangkan, ia pasti akan menderita. Maka kita harus menggunakan kebijaksanaan untuk merenung. Kita harus berusaha mencabut akar penderitaan dan kemelekatan terhadap kesenangan dari pikiran kita. Dengan cara ini kita akan menemukan arus Dhamma.

GUNAKAN INGATAN SECARA BIJAKSANA.

Sanna, yang artinya ingatan atau pencerapan, adalah bagian pikiran yang kedua. Ini juga bersifat anicca dan anatta.

Walaupun ingatan berguna untuk menghancurkan kekotoran batin dan nafsu keinginan, kita harus belajar untuk menggunakannya dengan bijaksana. Kita harus selektif mengenai apa yang harus diingat dan apa yang tidak usah diingat. Kita tidak boleh menaruh perhatian pada apa pun yang akan menambah kekotoran batin dan nafsu keinginan ; apa pun yang akan merugikan pikiran, misalnya gambar – gambar yang merangsang dan objek – objek sensual yang dapat menggoda pikiran sehingga pikiran kehilangan kontrol diri dan lepas dari Dhamma.

Para bijaksana akan menaruh perhatian pada usia tua, sakit, penderitaan dan kematian makhluk hidup, untuk mengembangkan Dhamma di dalam pikiran. Mereka akan mengingat gambar – gambar mental itu dengan baik dan mengulangnya setiap kali membuka atau menutup mata, dalam posisi apa pun mereka berada, agar mereka terus menerus diingatkan akan Kebenaran ini. Mereka akan selalu mengulang hal – hal ini dan merenungkannya dengan bijaksana, sampai pikiran mereka menerima bahwa suatu hari mereka juga akan menderita kondisi – kondisi yang sama. Betapa pun cantik atau buruknya kita, kaya atau miskinnya kita, semua yang dilahirkan di bumi ini pasti akan menghadapi hal – hal itu. Demikianlah caranya orang dapat menggunakan ingatan untuk praktek Dhamma.

Sebelum menjadi Bhikkhu, Pangeran Siddharta telah melihat orang tua, orang sakit dan orang mati. Beliau mematrikan gambar – gambar itu dengan kokoh di ingatannya dan merenungkan dirinya dalam kondisi – kondisi itu, sampai pikirannya sadar serta dapat melihat bahaya dan kerugian kelahiran. Lalu beliau meninggalkan istana untuk mencari Kebenaran sampai menjadi Buddha, yang Ajarannya telah diturunkan kepada kita. Maka bagi seorang bijaksana, sanna dapat berfungsi sebagai sarana menemukan arus Dhamma.

PIKIRAN MEMBAKAR DIRINYA SENDIRI LEWAT BUAH – BUAH PIKIRNYA.

Bagian pikiran berikutnya, sankhara yang berarti buah pikir yang terpadu atau tindakan – tindakan yang berkehendak, merupakan perpaduan dan asosiasi buah – buah pikir yang menggairahkan pikiran. Akibatnya kita menjadi gelisah sesuai dengan khayalan – khayalan kita sendiri. Pikiran menghubungkan kejadian – kejadian masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang melalui asumsi dan kenangan semaunya dan sesukanya sendiri. Misalnya, pikiran dapat mencipta cerita sendiri tentang orang yang kita cintai dan membayangkan hal – hal yang disukainya, seolah – olah semua itu benar – benar terjadi. Dengan begitu, pikiran lalu terseret ke dalam buah – buah pikir yang diciptakannya sendiri. Sankhara mempunyai cara sendiri untuk menambahkan rangsangan pada imajinasi, sehingga pikiran menjadi terpengaruh dan dibuat gila oleh hal – hal itu. Melamun dan berkhayal membodohi pikiran, membuat kesan – kesan yang dalam di pikiran dan menciptakan perasaan – perasaan sukha dan dukkha.  

Kerja sankhara didukung dan digerakkan oleh kekotoran batin dan nafsu keinginan. Pikiran yang moha dan diliputi ketidaktahuan tidak menyadari bahwa ia sebenarnya membakar dirinya sendiri sampai terbenam di dalam kesenangan yang diciptakan oleh sankhara. Setelah melamunkan sesuatu, pikiran ingin merasakan realitas hal – hal yang dilamunkannya itu. Pikiran yang dipenuhi moha seperti itu menjadi sangat buta sehingga ia sama sekali tidak memiliki sati atau panna yang sebenarnya tersembunyi di dalamnya. Jika sudah begini, pikiran akan menuju ke mana ? Pikirkanlah hal ini dan cobalah untuk melindungi diri anda darinya.

Ketika sankhara sedang bekerja, ia bekerja untuk masa depan dan juga masa kini. Sankhara bekerja dengan baik terutama untuk masa depan, karena pikiran selalu menginginkan lebih banyak kenikmatan sensual. Jika pikiran tidak puas dengan keadaan sekarang, ia mengharap – harapkan kesenangan di masa depan. Jika pada saat ini seseorang hanya mempunyai rumah yang kecil, dia bermimpi tentang rumah yang lebih besar di masa depan. Jika dia miskin di saat ini, dia mungkin ingin menjadi kaya raya di masa depan. Jika pada saat ini pasangan hidupnya tidak cukup baik, ia berharap pasangan hidup yang lebih baik di masa depan. Buah – buah pikir tentang masa depan memungkinkan sankhara bekerja melaju dengan kecepatan penuh, membayangkan masa depan yang luar biasa sempurna dalam kekayaan, status, popularitas dan kenikmatan sensual di dunia ini. Tetapi semua rencana ini hanyalah khayalan – khayalan. Di dalamnya, pikiran menjadi tersesat dan kehilangan kontak dengan realitas. Karena tidak mempunyai cukup kebijaksanaan, maka pikiran dibodohi dan diporak porandakan oleh kekotoran batin dan sankhara.

Oleh karena itu, kita harus menggunakan kebijaksanaan untuk merenung dan menemukan jalan guna mencegah pikiran terhanyut dalam arus kekotoran duniawi, nafsu keinginan dan sankhara. Kita harus sering merenung agar sadar akan dukkha dan kerugian yang disebabkan oleh sankhara. Dengan demikian kita dapat mewaspadainya.

MEMAHAMI PARASIT DI PIKIRAN.

Vinanna, bagian pikiran yang terakhir, merupakan kesadaran yang meliputi segala di dalam khanda fisik dan mental. Selama orang masih hidup, vinanna menyebar di seluruh tubuh dan di semua bagian pikiran, yaitu vedana, sanna, sankhara dan juga di vinanna itu sendiri. Vinanna adalah sinar yang datang dari pikiran, seperti panas yang datang dari api. Apa yang ditangkap vinanna bergantung pada apa yang kita terima melalui organ – organ indria, mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran. Kelima khanda ( kelompok ), yaitu rupa ( materi ), vedana, sanna, sankhara dan vinnana ( batin ) di kontrol oleh vinanna. Khanda – khanda ini sendiri bukanlah kekotoran batin dan nafsu keinginan, tetapi mereka merupakan ‘ tempat tinggal ‘ kekotoran – kekotoran itu. Jadi, tujuan kita adalah terbebas dari kekotoran batin dan nafsu keinginan yang telah tersembunyi di dalam lima khanda itu.

‘ Walaupun nafsu keinginan, kekotoran batin dan ketidaktahuan hanyalah parasit di dalam khanda, mereka menguasainya dan melekat padanya sebagai ‘ aku ‘ dan ‘ milikku ‘ Kekotoran, nafsu keinginan dan ketidaktahuan ini telah lama sekali berkuasa dan berpegang teguh pada rasa kepemilikannya. Bahkan pikiran utama pun sudah berada di dalam sapuan kekotoran, nafsu keinginan dan ketidaktahuan. Akibatnya, pikiran memiliki seluruh sifat – sifat buruk itu, sesuai dengan pepatah : “ Berkumpullah dengan burung nasar, maka anda akan menjadi nasar. Berkumpullah dengan gagak, maka anda akan menjadi gagak “. Pikiran utama telah amat lama berhubungan dengan kekotoran batin, sehingga sudah menyatu. Dibutuhkan kebijaksanaan dan pemahaman untuk memisahkannya. Jika kita melakukan pendekatan pada titik yang benar, pemisahan menjadi mudah. Jika tidak, pemisahan tetap sulit.

MENDEKATI MASALAH PADA TITIK YANG BENAR MEMBUAT MASALAH MUDAH DIPECAHKAN.

Cara memecahkan kesulitan adalah dengan memisahkan kekotoran batin dari pikiran. Sang Buddha telah mengatakan hal ini dengan sangat jelas. Banyak pengikut Sang Buddha mengikuti Ajaran beliau dan berhasil menangani masalah – masalah mereka. Ajaran itu sudah ada, maka sekarang segalanya bergantung kepada kita. Dapatkah kita menggunakannya dengan benar ? Jika anda menangani masalah dengan benar, pelatihan anda akan maju dengan pesat. Jika tidak, kita akan terus berputar – putar di dunia ini. Kita semua tahu bahwa Sang Buddha menemukan Kebenaran Tertinggi, yaitu Empat Kesunyataan Mulia. Beliau mengajarkan Kebenaran itu kepada para siswanya sehingga banyak yang menjadi tercerahkan. Dewasa ini kita belajar tentang Empat Kesunyataan Mulia persis seperti mereka, tetapi mengapa kita tidak dapat memecahkan masalah di dalam pikiran kita ? Apakah kita sudah berlatih secara serius ? Apakah karena kita tak mau meninggalkan teman dan keluarga, takut mereka menderita tanpa kita ? Atau apakah kita takut meninggalkan kesenangan – kesenangan di dunia ini ? Apa yang sesungguhnya kita cemaskan ? Jelas kita lihat bahwa semua orang berakhir di kuburan atau di tempat pembakaran mayat. Kita semua hanya menunggu giliran. Mengapa kita tidak memikirkan hal ini ? Kita telah memiliki kebijaksanaan. Mengapa tidak kita gunakan sekarang ? Mengapa kita amat pandai berpikir tentang hal – hal lain yang sebenarnya membuat hati panas ? Di dalam praktik Dhamma, di manakah kebijaksanaan kita ? Mengapa kita sering berpikir bahwa kita tidak memiliki kebijaksanaan ? Bagaimana kita dapat ditarik ke jalur yang benar ? Seandainya ada seseorang yang mencoba menarik kita keluar dari lubang yang dalam dengan seutas tali, tangannya akan lelah dan sakit dan dia akan putus harap karena kita menolak tarikan itu.

Empat Kesunyataan Mulia merupakan pendekatan yang penting di dalam pelatihan dan ia berada di dalam diri kita masing – masing. Tetapi kebijaksanaan kita belum menembus masuk ke dalam Kesunyataan itu. Pengetahuan kita akan Kesunyataan itu hanyalah sekadar pengetahuan dari buku, belum merupakan perwujudan nyata yang berasal dari dalam pikiran kita sendiri. Sekadar pengetahuan teori seperti ini tidak akan bisa membebaskan pikiran dari kekotoran, nafsu keinginan dan ketidaktahuan.

Di dalam teori, Empat Kesunyataan Mulia dikelompokkan berpasangan . Kelompok pertama terdiri dari dua Kesunyataan Mulia yaitu penderitaan ( dukkha ), dan penyebab penderitaan ( samudaya ). Kelompok kedua terdiri dari berhentinya dukkha ( nirodha ) dan Jalan Mulia Berunsur Delapan ( magga ) untuk menuju berhentinya dukkha. Pengelompokan ini membantu studi. Tetapi di dalam praktik, Kesunyataan Mulia yang terakhir, yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan, merupakan yang terpenting. Ia mencakup seluruh praktik, seperti suatu pepatah Thailand yang berbunyi : “ Jejak kaki seekor gajah menutupi semua jejak kaki yang lain “. Inilah jalan utama. Jika orang mulai di jalur yang benar atau jika kompasnya beres, perjalanan itu akan menuju ke arah yang benar. Untuk mudahnya, Jalan Mulia Berunsur Delapan dipadatkan menjadi tiga kelompok : peraturan – peraturan moralitas ( sila ), konsentrasi ( samadhi ) dan kebijaksanaan ( panna ). Masing – masing Dhamma ini berkisar dari yang mendasar sampai menengah dan tingkat tinggi. Terserah kepada anda apakah anda ingin mencapai tingkat dhamma yang tinggi atau hanya puas tetap tinggal di tingkat dasar. Jika ingin hanya berada di tingkat dasar, anda tidak perlu bergegas, karena anda tidak mengarah ke Tujuan Akhir. Anda sudah puas dengan mengumpulkan jasa kebaikan saja dan tidak merasa perlu menghilangkan kekotoran, nafsu keinginan dan kebodohan dari batin.

JALAN ITU BERMULA DENGAN KEBIJAKSANAAN.

Mereka yang dalam kehidupan ini ingin mencapai hasil akhir dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu Pencapaian Kesucian, harus berlatih sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan seperti yang disebutkan aslinya. Sang Buddha mengajarkannya kepada para pengikut beliau dan banyak yang mencapai Kesucian. Beliau mulai dengan kebijaksanaan sebagai fondasi. Mereka yang mendengarkan Dhamma Sang Buddha telah memiliki kebijaksanaan dan dapat menggunakannya untuk memahami beliau. Jika mereka tidak memiliki kebijaksanaan sama sekali, bagaimanakah mereka dapat memahami penalaran di balik setiap Ajaran Sang Buddha ?

Langkah pertama disebut ‘ Pandangan Benar ‘. Jika orang memilikinya, perenungan berikutnya benar juga. Inilah sebabnya Sang Buddha meletakkan Pandangan Benar sebagai butir yang pertama, yang segera diikuti oleh Pikiran Benar. Keduanya merupakan dasar kebijaksanaan yang diperlukan untuk latihan masa depan.

Praktik sila ( moralitas ), baik yang Lima, Delapan, Sepuluh atau 227 sila, membutuhkan kebijaksanaan. Mereka yang menjalankan sila harus bijaksana dan cukup memiliki perhatian untuk mengontrol pikiran, kata – kata dan tindakan mereka dengan cara yang benar. Mereka harus tahu bagaimana bertingkah laku tanpa melanggar sila – sila itu. Jika mereka kebetulan melanggar satu sila, mereka harus cukup waspada untuk segera menyadarinya dan dengan cepat kembali ke jalur yang benar. Singkatnya, kemurnian sila bergantung pada kebijaksanaan.

Pada waktu melatih konsentrasi, anda harus menggunakan kebijaksanaan untuk memahami hal – hal yang sesuai atau berlawanan dengan konsentrasi agar anda tidak tercebur ke dalam konsentrasi yang salah. Dibutuhkan kebijaksanaan untuk membetulkan konsentrasi yang salah atau yang bersekutu dengan kebodohan dan kemudian mengubahnya menjadi Konsentrasi Benar. Setelah pikiran menarik diri dari ketenangan meditasi, orang tidak perlu memikirkan apa tingkat meditasi yang telah dicapainya, karena ini akan membuang – buang waktu. Sebaliknya, dia harus terus menggunakan kebijaksanaan untuk merenung sesuai dengan prinsip – prinsip Kebenaran.

Kebijaksanaan dalam Pandangan Benar dan Pikiran Benar digunakan untuk merenungkan dukkha diri sendiri dan dukkha orang lain. Hal ini dimaksudkan untuk menggoreskan kesan di pikiran akan adanya dukkha di dalam semua hal. Jika dukkha muncul, orang biasanya mencari jalan untuk menguranginya, tanpa menyadari bahwa jalan yang mereka ambil itu sebenarnya justru mengakibatkan lebih banyak dukkha. Setiap orang yang dilahirkan di dunia ini pasti terkena dukkha. Lalu untuk eksistensi di dalam kehidupan sehari – hari, mereka mencari sesuatu yang dapat meringankan dukkha tubuh dan pikiran. Dukkha yang umum adalah kesulitan di tempat kerja, kekecewaan karena hal – hal tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, kehilangan orang – orang atau harta benda yang kita cintai, sakit dan penderitaan karena kemelekatan terhadap khanda – khanda tubuh dan pikiran.

Gunakan kebijaksanaan untuk merenungkan akibat – akibat jahat dari dukkha. Walaupun mungkin memiliki banyak asset, uang dan harta, anda tidak akan terkecualikan dari dukkha. Gunakan penderitaan yang pernah anda alami sebagai contoh untuk mengajar pikiran dan memperingatkannya tentang dukkha yang tersembunyi di masa mendatang yang bahkan lebih buruk. Dunia penuh dengan dukkha. Tidak ada kebahagiaan yang tidak dicampuri dukkha. Jadi anda harus mencari jalan keluar untuk meringankan dukkha. Seringlah merenungkan dukkha untuk membuat pikiran menerima bahwa sifat hakiki kehidupan adalah menyedihkan dan dipenuhi dengan dukkha. Kumpulkan fakta – fakta ini dan analisislah untuk mencapai penyebab dukkha yang sebenarnya, yaitu kelahiran. Bila tidak ada kelahiran, tidak ada dukkha. Dukkha jelas – jelas dirasakan oleh setiap orang yang dilahirkan, maka sebenarnya pikiran dapat diajar untuk melihat dukkha dan mengembangkan rasa takut akan bahaya – bahayanya. Pikiran kemudian akan ingin mencari cara untuk melindungi dirinya dari dukkha. Caranya adalah : tidak dilahirkan kembali selama – lamanya.

KEBIJAKSANAAN YANG TAJAM AKAN MUDAH MENGHANCURKAN NAFSU KEINGINAN.

Bila kebijaksanaan makin tajam, orang dapat makin jelas mengetahui dan melihat penyebab – penyebab kelahiran ulang : Nafsu keinginan akan kesenangan indriya ( kamatanha ), nafsu keinginan akan eksistensi ( bhavatanha ) dan nafsu keinginan akan tidak adanya eksistensi ( vibhavatanha ). Nafsu – nafsu ini membawa pikiran berputar – putar di Tiga Alam Eksistensi. Jika kita dapat menghancurkan tiga jenis nafsu keinginan ini dari pikiran, siklus kelahiran akan terputus dan tidak akan ada lagi dukkha. Nafsu merupakan ‘ bahan bakar ‘ kelahiran ulang. Jika nafsu – nafsu itu melekat erat di pikiran dan pikiran melekati nafsu – nafsu itu, maka kemelekatan ini akan membawa kita kembali ke dunia tanpa henti. Kemelekatan ini sudah menjadi amat kuat sehingga nafsu keinginan dan pikiran kelihatannya menjadi satu dan merupakan hal yang sama. Jika kebijaksanaan tidak cukup halus dan tajam, tidak ada cara untuk memisahkan mereka, seperti air dan alkohol yang dicampur di dalam minuman. Orang tidak dapat memisahkannya hanya dengan sepotong kain saring, tidak peduli seberapa halusnya kain saring itu atau berapa ratus kali dia menggunakan kain itu. Untuk memisahkannya, dibutuhkan metode yang lebih baik dan lebih halus. Maka untuk memisahkan nafsu keinginan dari pikiran, kebijaksanaan yang biasa tidaklah cukup. Kita harus menggunakan kebijaksanaan pada tingkat vipassananana.

Nafsu keinginan terhadap sensualitas terdiri dari nafsu keinginan terhadap objek – objek sensual dan suasana hati sensual. Objek – objek sensual termasuk uang, harta kekayaan dan benda fisik, baik yang hidup maupun yang tidak hidup. Suasana hati sensual mencakup emosi yang kuat, nafsu, kenikmatan indria, terpikat pada lawan jenis, dan suasana – suasana hati sensual lainnya.

Nafsu keinginan akan eksistensi berarti keinginan untuk dilahirkan di suatu keadaan tertentu. Misalnya, beberapa orang ingin dilahirkan sebagai manusia karena mereka ingin bersama lagi dengan teman – teman dan sanak keluarganya. Mereka merasa hangat dan bahagia di antara orang – orang yang mereka cintai dan tidak ingin berpisah dari mereka. Jika salah satu meninggal dunia, mereka akan merasa sangat tersiksa. Inilah keadaan pikiran yang melekat pada keadaan eksistensinya sendiri. Kehilangan siapa pun yang dicintai pasti akan membawa kesedihan yang besar. Selain itu, ada orang yang sangat ingin berada di dalam alam – alam surgawi. Ini semua merupakan jenis keinginan untuk eksistensi.

Keinginan untuk non eksistensi merupakan keinginan untuk tidak dilahirkan kembali dalam keadaan tertentu. Misalnya mereka yang berada di surga atau di Alam Arupa berada di dalam keadaan eksistensi yang bahagia, dan dengan demikian tidak ingin dilahirkan lagi sebagai manusia. Mereka yang berada di alam manusia tidak ingin dilahirkan lagi di alam binatang atau alam peta ( makhluk halus yang kelaparan ). Ini semua merupakan bentuk nafsu keinginan akan non eksistensi karena takut dilahirkan di suatu alam yang tidak diinginkan.

Pikiran yang diilhami dengan ketiga jenis nafsu keinginan ini tersesat di dalam Tiga Alam Eksistensi. Untuk menangani pikiran yang penuh nafsu keinginan seperti ini, orang harus menggunakan kebijaksanaan untuk menghancurkan kebodohan batin di pikiran dan melepaskan pikiran dari nafsu keinginan. Makin kuat nafsu keinginan dan kemelekatan itu, makin banyak kebijaksanaan yang dibutuhkan. Kebijaksanaan dapat memperingatkan pikiran yang bodoh agar waspada dan menyadari pemahaman yang salah, penderitaan yang diakibatkannya, dan bahaya nafsu. Selama pikiran masih dikuasai nafsu, kebijaksanaan harus terus menerus digunakan untuk menyakinkan pikiran bahwa dukkha kelahiran, usia tua, sakit dan mati semuanya berasal dari nafsu. Ajarlah pikiran untuk memahami dukkha seperti orang tua mengajar anaknya. Orang tua dapat menderita jika anak – anak mereka tidak tahu apa yang benar atau salah, jika mereka bertingkah laku salah karena ketidaktahuan dan kesalahpahaman. Karena itu orang tua perlu mengajar dan membimbing anak mereka ke arah yang benar. Dengan demikian anak – anak akan belajar dan tahu bagaimana bertingkah laku.

Siswa Dhamma harus menggunakan kebijaksanaan untuk mengajar pikiran agar dapat melihat moha di dalam semua nafsu sensual yang melibatkan penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap dan sensasi – sensasi sentuhan, agar dapat mengenal akibat – akibatnya yang merugikan dan menyadari bahwa kelahiran adalah dukkha. Para siswa harus merenungkan dukkha mereka sendiri dengan kebijaksanaan. Mereka harus mengingatkan diri akan kekerasan – kekerasan hidup yang telah mereka alami. Semua ini perlu direnungkan dengan bijaksana.

Anda harus menggunakan kebijaksanaan untuk merenungkan dukkha dan kemudian mengajar pikiran : “ Beginilah cara nafsu menyebabkan dukkha di pikiran. Inilah jenis dukkha yang ada jika kita dilahirkan “. Bila anda sering mengajar pikiran dengan cara ini, lambat laun pikiran akan memahami dan menerima penalaran kebijaksanaannya, dan akan memperoleh kebijaksanaan pemahaman di dalam pikiran itu sendiri. Pikiran akan melihat fakta bahwa ia telah menjadi bodoh karena mengikuti nafsu – nafsunya. Ketika pikiran mengetahui dan melihat dukkha serta kerugian yang disebabkan oleh nafsu keinginan, pikiran itu sendirilah yang akan melepas nafsu – nafsu yang ada di dalamnya.

SUKSES DAPAT DICAPAI DI DALAM KEHIDUPAN INI.

Sebagai pengikut Dhamma, anda harus selalu waspada dan penuh perhatian, karena anda tidak tahu berapa banyak waktu yang masih anda miliki di dalam kehidupan ini. Anda harus meningkatkan usaha untuk mencapai Dhamma setinggi mungkin. Jika anda memiliki keyakinan yang kuat serta menggunakan sati dan kebijaksanaan untuk merenungkan segala hal, maka pencapaian Dhamma di dalam kehidupan ini bukan hal yang mustahil. Tetapi anda harus mengerahkan seluruh usaha ke dalam praktik, sekalipun hal ini mengubah kehidupan anda. Anda tidak boleh memanjakan diri, terlalu banyak tidur dan makan. Jangan hidup acak – acakan. Waspadalah selalu dan carilah strategi – strategi yang benar untuk mengajar pikiran dengan bijaksana.

Pikiran anda sebenarnya sangat buta mengenai Dhamma, sehingga anda harus mengajarnya agar tahu dan dapat menerima Kebenaran akan dukkha, anicca dan anatta. Luruskan pandangan pikiran tentang Empat Elemen dan Lima Khanda yang secara salah telah diterima sebagai ‘ diri ‘. Luruskan pandangan pikiran tentang kemelekatan terhadap hal – hal yang anda nyatakan sebagai milik anda. Ajarlah pikiran lewat penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sensasi – sensasi sentuhan dan objek – objek mental yang anda sukai, yang sebenarnya dapat menyebabkan dukkha. Kesenangan duniawi apa pun yang dianggap hebat oleh masyarakat harus anda gunakan sebagai bahan perenungan sampai anda menyadari bahwa kesenangan itu akan menyebabkan dukkha.

Meskipun tidak mudah melepaskan pikiran dari kenikmatan semacam itu karena pikiran telah sangat lama buta, anda harus berulang – ulang merenungkan hal ini, sampai anda terbiasa dan perenungan itu menjadi kebiasaan. Tidak ada cara yang dapat membebaskan pikiran dari pemahaman yang salah dalam waktu yang singkat. Anda perlu sering – sering mengajar pikiran. Lambat laun pikiran akan tahu dan dapat melihat Kebenaran.

Kebijaksanaan pada tahap ini hanyalah kebijaksanaan dasar yang belum seluruhnya efektif.

Kebijaksanaan ini masih berada di tingkat pemahaman sifat sebab dan akibat, yang merupakan awal dari Jalan Mulia Berunsur Delapan : Pandangan Benar dan Pikiran Benar. Ibaratnya, baru tahap pemeriksanaan sebelum membangun jalan. Pemeriksaan ini melibatkan penandaan rute dan perencanaan anggaran untuk memastikan bahwa pembangunan dapat maju tanpa ada masalah. Pandangan Benar dan pikiran Benar membuka jalan menuju Pencapaian Kesucian dan Nibbana. Perencanaan inilah yang akan menentukan arah anda sejak dari awal.

Pastikan bahwa anda telah benar – benar mengetahui arti Pandangan Benar. Pandangan apa yang benar ? Apakah arti Pikiran Benar ? Buah – buah pikir apa yang benar ? Terlebih dahulu anda harus membuat rencana dengan bijaksana. Rencanakan langkah praktik berikutnya, sehingga anda dapat maju langsung ke Nibbana. Dengan cara ini, tidak ada kemungkinan tersesat. Jika anda tidak menggunakan kebijaksanaan seperti yang dijelaskan, nantinya anda akan menemui banyak masalah. Praktik akan menjadi rumit dan anda akan kehilangan jalan. Anda akan menjadi ragu – ragu tentang praktik dan perlu bertanya kepada orang – orang mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Jika anda beruntung, anda mungkin bertanya kepada orang yang tepat dan dapat menemukan jalan keluar. Tetapi jika anda bertanya kepada orang yang ‘ buta ‘, yang juga tersesat seperti anda, anda lagi – lagi berputar – putar dalam lingkaran dan tidak akan pernah menemukan jalan keluar selama hidup anda.

PERKEMBANGAN KEBIJAKSANAAN ADALAH PROSES RASIONAL.

‘ Vipassana ‘ adalah kebijaksanaan yang muncul dari dalam pikiran. Pikiran memahami dan menerima hubungan sebab akibat sebagaimana dianalisis oleh kebijaksanaan. Ketika merenung dengan bijaksana, pikiran memahami Kebenaran akan anicca, dukkha dan anatta. Ketika pikiran dan kebijaksanaan bekerja sama demikian ini, hal itu disebut ‘ praktik Vipassana ‘. Bila pikiran melihat makin jelas, kebijaksanaan menjadi makin jernih. Ketika kebijaksanaan tumbuh lebih terang, pikiran tumbuh lebih terang juga.

Kebijaksanaan adalah bagaikan sinar. Jika suatu ruangan tidak memiliki sinar sama sekali, tak seorang pun dapat bekerja di sana. Jika ada sedikit sinar, pekerjaan dapat dilakukan tetapi agak lamban. Jika ada lebih banyak sinar, lebih banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan. Dan jika ruangan itu terang benderang, maka pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat.

Orang yang tidak tahu cara berlatih dan yang kebijaksanaan Dhammanya tidak cukup tajam untuk dapat berpraktik dengan benar harus mempelajari Dhamma dan merenungkannya sampai dia yakin metode mana yang benar. Dia harus belajar dari orang lain untuk memastikan jalan pelatihan mana yang benar dan kemudian mempraktikkannya secara terus menerus. Dengan demikian, lambat laun dia akan tahu dan melihat Kebenaran. Jika dia mulai dengan strategi yang baik, kebijaksanaannya akan menumbuhkan suatu penalaran yang benar, dan lambat laun praktik akan memperoleh momentum. Pada tingkat ini, praktik tidak lepas dari hal – hal mendasar dan akan berhasil baik karena pengetahuan dan kebijaksanaan orang itu mulai didasari Pandangan Benar dan Pikiran Benar. Dengan kata lain, pandangan dan perenungannya berdasar pada Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ketika dia meningkatkan praktiknya, pengetahuannya akan Kebenaran berkembang. Jika dia mempelajari strategi – strategi baru lagi, dia menjadi makin bijaksana dan makin tercerahkan. Dia mengetahui dan melihat makin banyak Kebenaran dengan kepercayaan diri yang makin besar pula.

Pastikan bahwa praktik anda tidak menuju ke arah yang salah. Jika anda tahu bagaimana memecahkan masalah, tidak akan ada kesalahpahaman. Hasilnya, Konsentrasi yang anda praktikkan itu akan merupakan Konsentrasi Benar. Jika anda merenung dengan kebijaksanaan, kebijaksanaan itu akan sesuai dengan Kebenaran. Apa pun yang ingin anda pahami, pemahaman anda akan cukup nalar dan reflektif sehingga semua keraguan akan Dhamma akan lenyap.

Pada tingkat ini, praktik telah mencapai samatha ( konsentrasi ) dan vipassana ( kebijaksanaan ) yang benar dan orang itu telah memasuki Jalan Mulia ( magga ). Makin dia maju dengan teknik konsentrasi dan kebijaksanaan, makin dekat pula dia dengan kebijaksanaan transenden yang dapat diraih, yang memungkinkan dia masuk ke dalam arus Dhamma.

KEBIJAKSANAAN TRANSENDEN MUNCUL DI TAHAP INI.

Kebijaksanaan transenden ( vipassananana ) muncul hanya pada pengikut Dhamma yang sudah berada di tepi Pencapaian Kesucian. Setelah muncul, kebijaksanaan ini akan bertahan sampai orang itu sepenuhnya terbebaskan. Ini berarti : tahu dan melihat secara benar ( nanadassana ), dengan tingkat kebijaksanaan yang sepenuhnya jernih. Pada titik ini, Kebenaran terungkap sepenuhnya dan orang itu tahu dengan jelas Kebenaran akan dukkha, anicca dan anatta. Tidak lagi ada misteri atau penghalang yang menyembunyikan Kebenaran ini di pikirannya. Tidak ada lagi pemahaman yang salah. Dia memiliki pengetahuan sempurna yang melarutkan semua keraguan. Pengetahuan pada saat pencerahan ini bukanlah pengetahuan biasa yang muncul dari khanda vinanna. Ini merupakan pengetahuan khusus yang terjadi hanya pada mereka yang telah berlatih.

Pengetahuan ini disebut ‘ buddho ‘, yang berarti : ‘ yang tahu, yang telah sadar dan yang telah berkembang ‘. Buddho adalah ‘ mengetahui ‘ ( nana ) yang dibarengi ‘ melihat ‘ ( dassana ). Maka ini disebut nana dassana, yaitu : Pengetahuan bersama dengan visi, visi bersama dengan pengetahuan, mengenai segala hal seperti apa adanya, melihat bagaimana kebaikan dan kejahatan berputar mengelilingi Tiga Alam Kehidupan Alam Indria, Alam Rupa dan Alam Arupa. Pengetahuan ini melihat bagaimana ketiga alam ini saling mengkondisikan karena kebaikan dan kejahatan hanya dapat berputar di dalam siklus kelahiran ulang. Orang – orang terpedaya dalam siklus ini karena mereka terpedaya oleh kebaikan dan kejahatan. Mereka menginginkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang datang sebagai akibat dari kebaikan. Tetapi ketika penyebab – penyebab kebaikan habis, mereka didorong oleh kekotoran batin dan nafsu keinginan untuk melakukan tindakan – tindakan jahat, sehingga mereka berputar ke arah kejahatan. Jadi kita harus memotong kemelekatan terhadap kedua sisi itu, karena jika kita berusaha untuk melekat pada kebaikan, kejahatan pasti mengikuti bila terbangun.

Pada saat ini, perenungan merefleksikan dukkha semua makhluk. Sebenarnya tidak ada satu tempat pun di dalam siklus yang terbebas dari dukkha. Selama pikiran memiliki nafsu keinginan, ia memiliki bahan bakar untuk dukkha yang datang bersama kelahiran. Pengetahuan pada titik ini akan melihat dengan jelas penyebab dukkha yang membawa kelahiran. Di sini pemutusan nafsu keinginan bukan lagi merupakan masalah, bagaikan kegelapan yang dihalau oleh sinar. Pengetahuan ini dengan jelas akan melihat bagaimana makhluk telah berputar – putar di dalam Tiga Alam Kehidupan. Penyebab utamanya adalah avijja ( ketidaktahuan ), yang menyebabkan sankhara ( bentuk – bentuk pikiran, faktor kehendak ). Dari sankhara muncul vinanna ( kesadaran, faktor spiritual ). Dari vinanna muncul nama rupa ( materi dan batin ). Nama rupa merupakan tempat bagi ayatana ( indria ). Ayatana adalah ‘ pintu ‘ phassa ( kontak ). Phassa menyebabkan vedana ( perasaan, sensasi ). Vedana mengundang tanha ( nafsu keinginan ). Tanha merangsang upadana ( kemelekatan ). Upadana menyebabkan bhava ( keadaan – keadaan eksistensi ). Bhava menyebabkan jati ( kelahiran ). Jati membawa sakit dan usia tua yang menyebabkan kematian. Begitulah selengkapnya proses mengapa kita lahir dan mati berulang – ulang di dalam Ketiga Alam Kehidupan. Kita berputar – putar di dalam kelahiran dan kematian, kelahiran dan kematian, di dalam siklus dukkha. Di dalam siklus ini, tidak ada sesuatu pun yang dapat kita kukuhi sebagai milik kita yang sebenarnya. Bahkan tubuh kita pun harus kita tinggalkan di dunia ini untuk membusuk dan kembali ke elemen – elemen asalnya. Sama sekali tidak ada substansi di dalam perputaran kelahiran dan kematian ini. Jika kini kita tahu dan melihat Kebenaran dengan jelas, kita akan siap memutus semua kemelekatan dan tidak ada kemelekatan yang dapat bertahan hidup di dunia ini lagi. Inilah kebijaksanaan transenden yang sebenarnya, yang merupakan hasil dari praktik. Ungkapan ‘ terwujudnya penghentian ( nirodha ) secara total ‘ menjadi jelas pada titik ini.

Tidak lagi ada rahasia di dunia ini, karena kebijaksanaan transenden cukup kuat untuk melebur semua pengetahuan yang salah dan pandangan yang salah di dalam pikiran utama. Jika kebijaksanaan ini muncul di dalam diri seseorang, ia akan menyingkirkan semua keraguan di dalam hatinya. Bahkan seandainya Sang Buddha ada di sana, orang tidak perlu bertanya kepada beliau tentang hal itu, karena dia sepenuhnya mengetahui apa semuanya itu. Jadi, meskipun seseorang mendapat hasil dari praktik ini untuk pertama kalinya, dia akan mengetahui hal itu dengan sendirinya ketika pengetahuan itu muncul, tanpa harus minta dukungan penilaian siapa pun. Ungkapan ‘ Orang merupakan pendukungnya sendiri ‘ pada titik ini berarti bahwa tidak ada orang lain yang dapat memutuskan.

Ketika pengetahuan transenden telah menebarkan pemahaman totalnya untuk mencakup semua hal yang terpadu di dunia ini, tahap berikutnya adalah beralih ke penghentian ( nirodha ).

ARUS DUNIA TERPOTONG SEPENUHNYA.

Nirodha ini belum pernah diharapkan sebelumnya dan merupakan suatu proses yang lembut. Hanya orang itu sendiri yang bisa dengan jelas mengetahui bagaimana terjadinya. Nirodha terjadi secara internal dan juga eksternal. Yang internal adalah berhentinya kesadaran ( vinanna ). Yang eksternal adalah berhentinya semua media indria ( mata, telinga, hidung, lidah dan sensasi sentuhan ). Ketika vinanna berhenti, semua komunikasi lewat indria – indria itu terputus dari dunia luar. Pada titik ini, tidak ada sensasi dan tidak ada kontak dengan rangsangan luar. Tidak ada penglihatan, suara, bau, cita rasa atau sensasi sentuhan. Pikiran tidak mempunyai hubungan dengan persepsi apa pun. Tidak ada gerak tubuh, tidak ada ucapan, tidak ada aktivitas mental, karena tidak ada vinanna yang mengkoordinasikan tubuh dan pikiran. Inilah berhentinya vinanna secara total. Karena itu, tidak akan ada lagi kesenangan ( sukha ) atau rasa sakit ( dukkha ) baik fisik maupun mental. Inilah nirodha, berhentinya dukkha.

Ketika mencapai tahap ini, orang yang berlatih Dhamma akan tahu dengan sendirinya. Dia tahu bahwa kebijaksanaan transenden seperti yang dijelaskan di atas akan melaju tanpa jeda menuju nirodha. Mulai saat itu, yang ada hanyalah kemajuan menuju kemurnian pikiran yang mutlak.

KESADARAN TOTAL.

Selama aktivitas mental dan indria berhenti, kesadaran pikiran masih ada di sana. Ini merupakan ‘ kesadaran ‘ yang terbebas dari vinanna, karena vinanna memahami melalui indria. Inilah ‘ kesadaran ‘ yang berada di luar pengetahuan konvensional apa pun juga. Ini merupakan sesuatu yang unik, yang tidak condong ke pengetahuan duniawi atau Dhamma. Tidak ada prakiraan di dalam ‘ kesadaran ‘ ini. Tidak ada kata yang dapat melukiskannya. Namun dapat dikatakan bahwa pepatah ‘ Pikiran murni itu bersinar ‘ akan tampak jelas pada titik ini.

Jangan membuang – buang waktu dengan menerka – nerka seperti apa pikiran murni itu. Bahkan di dalam meditasi yang terdalam pun, pada tahap di mana pikiran menjadi amat sangat halus dan tenang, itu pun masih bukan pikiran ‘ bersinar ‘ dalam pengertian ini. Pikiran apa pun yang belum terpisah dari kekotoran yang disebabkan oleh nafsu jasmani dan nafsu – nafsu lainnya tidak akan dapat mengalaminya. Tidak peduli betapa pun halusnya pikiran berada di dalam konsentrasi, pikiran masih memiliki ‘ bahan bakar ‘ untuk kelahiran ulang.

KEBERANIAN MUNCUL DAN KEKOTORAN BATIN TERHAPUS DARI PIKIRAN.

Setelah periode yang cukup lama, nirodha digantikan oleh suatu keberanian pikiran yang luar biasa. Keberanian ini melibatkan kekuatan sati dan kebijaksanaan yang luar biasa. Pikiran menjadi amat kuat sehingga ia dapat segera menghancurkan apa pun yang menghalanginya. Selama ada keberanian ini, kesadaran dan sensasi berfungsi kembali. Orang tahu bahwa pikiran bisa sangat kuat dan bersifat merusak, tetapi pikiran dapat juga memotong arus duniawi, arus kelahiran ulang, arus penyebab – penyebab kelahiran, arus lingkaran eksistensi, arus ketidaktahuan dan arus Tiga Alam Kehidupan. Semua arus inilah yang telah membawa orang tak henti – hentinya kembali ke dunia ini.

Keberanian yang muncul pada titik ini dapat melakukan apa pun. Orang dapat duduk bermeditasi selama berhari – hari dan bermalam – malam. Tidak ada hal yang sebanding kuatnya dengan keberanian pikiran ini.

Pada tahap ini, orang tahu bahwa di dalam dirinya sedang terjadi asavakkhayanana, yaitu pemahaman tentang proses berhentinya racun – racun mental dan terhapusnya kekotoran – kekotoran mental. Bagi orang yang mencapai tahap ini, berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring bukan merupakan penghalang baginya untuk mencapai Tujuan akhir, Nibbana. Nibbana muncul dalam sekejap, dan dia sepenuhnya tahu bahwa semua kekotoran batin telah lenyap dari pikirannya. Inilah hasil praktik yang diinginkan semua siswa Dhamma.

K E S I M P U L A N.

Titik berat penjelasan di buku ini terutama terletak pada cara – cara pengembangan kebijaksanaan bagi seorang siswa Dhamma. Kebijaksanaan ini dapat digunakan di dalam perenungan untuk memperoleh fondasi Jalan Mulia, yaitu Pandangan Benar dan Pikiran Benar. Memiliki fondasi yang baik akan memudahkan latihan selanjutnya.

Berikut ini adalah pokok – pokok kesimpulannya :

1. Teknik konsentrasi ( misalnya mengulang suatu mantra ) bertujuan mencapai pikiran yang damai, bukan untuk visi Neraka, Surga, objek atau manusia tertentu. Di dalam meditasi, visi – visi semacam itu merupakan ilusi – ilusi kesengajaan yang menipu pikiran dan akan gampang menuju pada konsentrasi salah yang menghalangi Tujuan Akhir, Nibbana.

2. Kebijaksanaan tidak muncul secara otomatis dari konsentrasi. Ia berkembang ketika anda merenung dengan menggunakan kebijaksanaan duniawi biasa yang telah anda miliki. Pada jaman Sang Buddha, mereka yang mencapai Nibbana memulainya dengan kebijaksanaan biasa. Lalu mereka melakukan perenungan dan penalaran untuk mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, sesuai dengan Jalan Mulia. Pelatihan yang benar melibatkan perenungan cermat yang disertai kebijaksanaan.

3. Banyak orang mengatakan bahwa kebijaksanaan datang secara otomatis dari pikiran yang tenang. Kepada siapa dan di mana Sang Buddha pernah mengajarkan begitu ? Di dalam Kitab Suci Buddhis, adakah contoh mengenai Para Suci ( Ariya ) yang mengembangkan kebijaksanaan lewat praktik konsentrasi saja ? Cerita – cerita tentang mereka yang mencapai kesucian menunjukkan bahwa semuanya sudah memiliki kebijaksanaan sebelum bermeditasi. Tanpa kebijaksanaan, bagaimana mereka dapat memahami Ajaran – ajaran Sang Buddha ? Studi dan perenungan Dhamma membutuhkan kebijaksanaan. Praktik konsentrasi itu sendiri pun juga membutuhkan studi sebelumnya. Setelah selesai melatih konsentrasi, dia harus merenung dengan bijaksana dan juga sebaliknya. Begitulah cara kebijaksanaan berkembang. Ketika kebijaksanaan mencapai titik penuhnya, ia menjadi transenden.

4. Ketika kebijaksanaan tertinggi ini berkembang di dalam diri seseorang, berarti dia sudah berada di tepi Tujuan Akhir karena kebijaksanaan ini mampu memutus semua nafsu, kebencian dan ketidaktahuan yang ada di pikiran.

Kita semua menginginkan hasil akhir dari perkembangan kebijaksanaan, tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi jika kita belum memahami pelatihan secara jelas ? Jika kita ingin kebijaksaan transenden muncul, kita perlu meletakkan fondasi yang benar dan berlatih dengan bijaksana seperti yang telah dijelaskan di atas.

Semoga anda dapat memahami latihan dan maju pesat.

A P P E N D I X

CARA – CARA PENGEMBANGAN KONSENTRASI.

MEDITASI JALAN ( CANKAMA )

PERSIAPAN UNTUK JALAN CANKAMA

Lebar jalur untuk jalan cankama sebaiknya kira – kira 1 meter dan panjangnya 15 meter. Jalur itu harus halus sehingga orang yang sedang berjalan tidak khawatir akan tersandung. Sebelum mulai, berdirilah di satu ujung jalur menghadap ke ujung lainnya. Satukan kedua telapak tangan ( anjali ) di dada atau di dahi sebagai tanda penghormatan kepada Sang Buddha. Kemudian buatlah tekad berikut :

‘ Aku berniat untuk berlatih jalan cankama sebagai suatu penghormatan untuk kemurnian Buddha, Dhamma dan Sangha ; juga untuk keluhuran – keluhuran orang tuaku, guru – guruku serta mereka yang telah berbaik padaku. Semoga aku dapat mengembangkan kewaspadaan, ketenangan dan kemampuan untuk tahu dan melihat Kebenaran dengan jelas.

Semoga manfaat tindakanku ini memberi inspirasi semua makhluk untuk saling memaafkan dan hidup berbahagia ‘.

Kemudian turunkan kedua tangan di depan tubuh, tangan kanan menggenggam bagian belakang telapak tangan kiri seperti ketika orang sedang berdiri dalam sikap serius. Jagalah pikiran agar tetap netral. Jangan biarkan pikiran condong kepada hal – hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Berpikirlah, “ Mulai detik ini, aku akan menyingkirkan semua pikiran lain kecuali niat untuk melatih jalan cankama “. Kemudian ikutilah langkah – langkah berikut :

1. Dengan penuh perhatian, tariklah nafas perlahan – lahan, sambil berfikir ‘ Bud ‘

Dengan penuh perhatian, hembuskan nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ dho ‘

Dengan penuh perhatian, tariklah nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ Dham ‘

Dengan penuh perhatian, hembuskan nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ mo ‘

Dengan penuh perhatian, tariklah nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ San ‘

Dengan penuh perhatian, hembuskan nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ gho ‘

2. Lakukan itu 3 – 7 kali, atau lebih, untuk menyatukan Buddho, Dhammo dan Sangho ke dalam pikiran.

3. Kemudian lakukan bagian ‘ Bud ‘ – ‘Dho ‘ saja dan mulailah berjalan sesuai dengan salah satu dari cara – cara berikut ini.

CARA PERTAMA UNTUK BERJALAN CANKAMA.

Dengan penuh sati, ayunkan satu kaki, sambil berpikir ‘ Bud ‘, dan kemudian ayunkan kaki satunya sambil berpikir ‘ dho ‘. Lakukan ini terus sementara anda berjalan di sepanjang jalur. Setiap kali perhatian anda tidak pada langkah, anda tahu bahwa anda telah kehilangan sati, dan anda harus mulai lagi sampai pikiran anda kokoh tertancap pada setiap langkah. Jangan berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat. Berjalanlah dengan kecepatan biasa.

Inilah metode pengembangan konsentrasi di mana tindakan berjalan digunakan sebagai objek perhatian. Ketika anda sampai di ujung jalur, berbaliklah. Selalulah berbalik ke kanan dan berjalanlah bolak balik berulang – ulang.

CARA KEDUA UNTUK JALAN CANKAMA.

Dalam metode ini, objeknya bukan berjalan, melainkan pernafasan. Berpikirlah ‘ Bud ‘ ketika anda menarik nafas dan ‘ dho ‘ ketika anda menghembuskan nafas. Dengan cara ini, anda berkonsentrasi pada nafas dan kata parikamma ‘ Bud ‘ – ‘ dho ‘ sebagai latihan konsentrasi. Ketika anda sudah lelah berjalan, berdirilah di tempat, tetapi teruslah menancapkan pikiran pada ‘ Bud ‘ – ‘ dho ‘ seperti sebelumnya.

CARA KETIGA UNTUK JALAN CANKAMA.

Dalam metode ini, orang berkonsentrasi pada satu bagian tubuhnya. Pilihlah suatu bagian yang terasa mudah diperhatikan. Bagian tubuh ini akan digunakan sebagai objek perhatian, dimana sati dan sifat ‘ tahu ‘ pikiran akan tinggal bersama.

Bagi seorang pemula, pertama – tama berlatihlah dengan membayangkan penampilan fisik bagian tubuh tertentu itu : misalnya warna, tekstur dan lokasinya. Dengan melakukannya berulang – ulang, anda dapat menancapkan pikiran pada bagian itu dengan lebih cepat dengan atau tanpa menutup mata. Jika anda telah cukup terampil untuk bagian itu maka anda kemudian dapat berpindah, melakukan hal yang sama untuk bagian – bagian lain. Melihat bahwa semua bagian tubuh memiliki sifat – sifat dasar yang sama, lewat metode ini anda akan memiliki fondasi yang baik untuk perkembangan kebijaksanaan atau pandangan terang ( vipassana ). Metode ini tidak menggunakan objek langkah kaki, melainkan nama bagian tubuh, misalnya taco yang artinya ‘ kulit ‘ atthi yang artinya ‘ tulang ‘ sebagai kata parikamma.

CARA KEEMPAT UNTUK JALAN CANKAMA.

Dalam metode ini, anda berkonsentrasi pada objek – objek mental yang muncul di dalam pikiran, baik yang kasar maupun halus, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Anda hanya sekadar memperhatikan saja munculnya objek – objek mental. Jangan sekali – kali berpikir tentang sumbernya karena anda malahan akan lebih melipat gandakan dan menguatkan perasaan itu. Objek mental apa pun mempunyai penyebab. Maka anda harus cukup memiliki perhatian untuk mengetahui dan melihat dengan jelas penyebab suatu objek mental. Amatilah bagaimana objek itu berkembang.

Penyebab yang dimaksudkan di sini adalah penyebab dari dalam, yang sudah lama berada di dalam pikiran. Ada bahan bakar siap pakai di dalam pikiran, yaitu nafsu keinginan ( tanha ) yang menginginkan lebih banyak objek indria dan suasana sensual. Pikiran sudah lama sekali selalu menginginkan makanannya dalam bentuk penglihatan, suara, bau, cita rasa dan sensasi – sensasi sentuhan, selama kehidupan lampau yang tak terhitung banyaknya. Begitu juga, di dalam kehidupan sekarang ini pikiran menginginkan objek – objek mental yang ‘ panas ‘ melalui mata, telinga, hidung, lidah dan tubuh. Semua ini telah terpateri secara mendalam di pikiran dan berfungsi sebagai penyebab dari semua objek mental. Bentuk, suara, bau, cita rasa dan sensasi – sensasi sentuhan hanya memicu penyebab dari dalam. Jika orang memahami sesuatu lewat indria, pikiran cenderung melekati persepsi itu dan memikirkannya sampai hal itu melekat erat di pikiran.

Objek mental adalah tempat beradanya pikiran. Maka jika anda berkonsentrasi pada suatu objek mental, anda sebenarnya mengamati pikiran itu sendiri. Sementara mengamatinya, anda harus sadar bila keserakahan, kemarahan, emosi yang kuat atau kebodohan batin muncul di pikiran. Anda harus mempunyai sati yang cukup untuk dapat melihat ‘ penyerang ‘ apa pun yang ada di pikiran dan meredakannya sampai lenyap. Tetapi yang penting, anda jangan sampai membiarkan pikiran memikirkan sumber objek mental, yang bisa berupa bentuk, bunyi, bau, cita rasa, sentuhan atau iri hati, karena perasaan anda akan menjadi lebih kuat dan ini akan lebih merugikan pikiran. Cara yang benar adalah berkonsentrasi semata – mata pada objek mental ketika objek itu muncul di pikiran. Tancapkan perhatian pada objek itu sampai anda dapat dengan jelas melihat objek itu seperti apa adanya. Segera saja objek itu akan kehilangan kekuatannya dan mati. Inilah ‘ perang di dalam ‘ atau konfrontasi antara sati dan objek mental. Apakah anda akan menang atau kalah tergantung pada kekuatan sati anda.

Di Akhir jalan cankama, berdirilah di satu ujung jalur menghadap ke ujung yang lain. Sekali lagi, satukan telapak tangan ( anjali ) untuk memberi hormat kepada Buddha seperti ketika anda mulai dan katakan :

‘ Aku telah menyelesaikan jalan cankama sebagai penghormatan untuk kemurnian Buddha, Dhamma dan Sangha. Semoga latihan ini menjadi berkah bagi diriku sendiri dan juga orang tuaku, guru – guruku dan semua yang telah berbaik kepadaku. Semoga makhluk – makhluk surgawi, binatang – binatang besar dan kecil, serta mereka yang tidak menyukaiku, juga mendapatkan berkah lewat tindakan yang bermanfaat ini ‘.

Kemudian tinggalkan jalur itu dengan penuh perhatian untuk melanjutkan pelatihan konsentrasi duduk.

MEDITASI DUDUK

PERSIAPAN UNTUK DUDUK.

Tempat duduk untuk latihan meditasi haruslah rapi dan bersih sehingga tidak ada kekhawatiran selagi kita duduk. Sebelum mulai, berilah hormat kepada Sang Buddha dengan mengulang beberapa paritta, bisa secara ringkas atau lengkap sesuka hati. Di akhir paritta, doakanlah diri sendiri dan makhluk lain. Bagi seorang awam, bertekadlah menjalankan Pancasila ( Lima Sila ) untuk menjaga kemurnian pikiran selama pelatihan konsentrasi. Ini merupakan suatu cara untuk menyingkirkan kecemasan akan tindakan – tindakan yang tidak baik di masa lampau, baik lewat fisik maupun ucapan.

Pada saat ini, orang harus yakin akan kemurnian silanya dan melupakan tindakan – tindakan jahatnya di masa lampau. Sebaliknya, dia harus mengingat kebaikan – kebaikan tindakan lampaunya, seperti misalnya berdana, menjalankan sila, memikirkan hal – hal yang baik bagi orang lain dan sebagainya, agar pikiran berada di dalam suasana bahagia.

Jika orang tidak dapat secara resmi menyatakan tekad di hadapan seorang Bhikkhu untuk menjalankan Panca Sila, dia dapat membuat komitmen sendiri di mana pun juga, karena pada intinya niat untuk melepas tindakan yang tidak baik secara fisik dan lisan itulah yang dihitung sebagai ‘ menjalankan sila ‘.

KOMITMEN UNTUK MENJALANI PANCA SILA.

Orang membuat suatu komitmen dengan diri sendiri untuk menjalankan Pancasila dengan mengucapkan paritta berikut :

Namo tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Namo tassa Bhagavato Arahato sammasambuddhassa

Namo tassa Bhagavato Arahato sammasambuddhassa

Buddham saranam gacchami

Dhammam saranam gacchami

Sangham saranam gacchami

Dutiyampi Buddham saranam gacchami

Dutiyampi Dhammam saranam gacchami

Dutiyampi Sangham saranam gacchami

Tatiyampi Buddham saranam gacchami

Tatiyampi Buddham saranam gacchami

Tatiyampi Buddham saranam gacchami

Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami

Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami

Kamesumicchacara veramani sikkhapadam samadiyami

Musavada veramani sikkhapadam samadiyami

Suramerayamajjapamadatthana veramani

Sikkhapadam samadiyami

Mereka yang tidak dapat menghafal bahasa Pali di atas dapat sekadar mengatakan :

1. Saya tidak akan membunuh kehidupan apa pu.

2. Saya tidak akan mencuri.

3. Saya tidak akan melakukan perzinahan.

4. Saya tidak akan berbohong.

5. Saya tidak akan minum alkohol atau apa pun yang memabukkan.

Anda harus jujur pada diri sendiri dan pada komitmen anda. Itulah cara yang benar untuk menjalankan sila.

Setelah itu, katakan yang berikut ini tiga kali :

Imani panca sikkhapadani samadiyami cetanaham silam vadami.

Kemudian namaskara 3 kali untuk memberi hormat kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Para Bhikkhu dan samanera harus menjaga kemurnian sila dan vinaya. Jangan sampai ada kekhawatiran sewaktu berlatih konsentrasi.

Sekarang anda siap untuk mulai. Ingatlah bahwa samadhi duduk dapat dilakukan sebelum atau sesudah jalan cankama. Jika tidak enak berlatih jalan cankama, anda dapat berlatih konsentrasi hanya dengan duduk saja.

Bagi pria, duduklah bersila dengan menaruhkan kaki kanan di atas kaki kiri. Bagi wanita, duduklah dengan cara yang sama seperti pria atau anda dapat duduk dengan kedua kaki terlipat ke satu sisi ( postur khas wanita Thailand yang duduk di lantai ). Yang penting, pilihlah posisi duduk yang nyaman. Kemudian relakslah dan satukan kedua tangan di depan dada atau dahi ( anjali ) sebagai tanda penghormatan kepada Buddha dan buatlah komitmen demikian ini :

‘ Aku sekarang berniat melatih samadhi duduk sebagai suatu penghormatan kepada kemurnian Buddha, Dhamma dan Sangha ; dan lain – lain seperti waktu jalan cankama.

Kemudian taruhlah tangan anda di pangkuan, telapak tangan kanan di atas tangan kiri, kedua telapak menghadap ke atas. Pertahankan tubuh bagian atas agar tegak. Jagalah agar batin waspada dan penuh perhatian. Jangan biarkan pikiran berkeliaran keluar, karena ini akan mengundang nafsu – nafsu indria, kejengkelan, niat jahat dan lain – lain ke dalam pikiran yang akan menyebabkan depresi, frustasi dan keresahan. Sebaliknya, berpikirlah : ‘ Pada saat ini aku akan berhenti memikirkan hal – hal di luar. Aku akan menjaga agar pikiranku berada di masa kini saja ‘.

CARA SAMADHI DUDUK YANG PERTAMA.

1. Dengan penuh perhatian tariklah nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ Bud ‘.

Dengan penuh perhatian hembuskan nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ dho ‘.

Dengan penuh perhatian tariklah nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ Dham ‘.

Dengan penuh perhatian hembuskan nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ mo ‘.

Dengan penuh perhatian tariklah nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ San ‘.

Dengan penuh perhatian hembuskan nafas perlahan – lahan, sambil berpikir ‘ gho ‘.

2. Lakukan nomor 1 di atas 3-7 kali, atau lebih untuk membawa Buddho, Dhammo, Sangho masuk ke dalam pikiran bersama – sama.

3. Kemudian lakukan hanya bagian ‘ Bud ‘ – ‘ dho ‘ saja. Bernafaslah dengan normal. Pusatkan perhatian pada kata parikamma dan nafas anda. Teruslah memperhatikan, jangan biarkan perhatian anda menyeleweng. Ingat : Tariklah nafas sambil berpikir ‘ Bud ‘, hembuskan nafas sambil berpikir ‘ dho ‘.

Bila anda tidak bernafas dengan penuh perhatian, misalnya anda berpikir ‘ Bud ‘ sebelum nafas masuk, berarti anda telah kehilangan sati. Pada saat anda tidak menghembuskan nafas bersama ‘ dho’ dengan penuh perhatian, sati anda telah kacau. Maka anda harus memusatkan perhatian dengan kokoh pada nafas dengan kata parikamma yang cocok. Ulangilah ini sampai anda terampil. Seorang meditator yang terampil dapat menjaga pikirannya pada nafas dan kata parikamma untuk jangka waktu yang lama. Ini merupakan cara yang baik, karena dia tahu kapan kehilangan sati. Pada mulanya ini memang sulit, tetapi bila sering berlatih akan menjadi lebih mudah. Inilah suatu sarana untuk menguatkan sati dan sifat pikiran yang ‘ tahu ‘, dengan menggunakan nafas sebagai objek pelatihan. Seorang meditator yang terampil dapat menghilangkan kata parikamma dan tetap dapat mempertahankan sati pada nafas. Pikiran yang terlatih demikian ini akan mengalami ketenangan yang makin dalam dan sati akan menjadi makin kuat.

CARA SAMADHI DUDUK YANG KEDUA.

Dalam metode ini, kata parikamma ‘ Bud ‘ – ‘ dho ‘ dihilangkan. Pusatkan pikiran pada nafas saja. Perhatikan ketika nafas berat dan amati sampai nafas menjadi lebih halus.

Sadarilah ketika nafas sudah halus dan amatilah sampai nafas menjadi lebih halus, amat sangat halus. Pada titik ini orang telah mencapai ekaggatarammana, kesatuan pikiran. Nafas yang halus merupakan tanda pikiran yang halus. Ketika pikiran mencapai tahap ini, orang mungkin mengalami banyak perwujudan pikiran yang tenang : misalnya, tubuh, kaki, tangan atau kepalanya mungkin terasa lebih besar. Jika ini terjadi, jangan takut. Teruslah mengamati nafas halus anda dengan penuh perhatian, hanya nafas halus saja. Setelah kira – kira lima menit, sensasi tubuh yang membesar itu akan lenyap. Dalam kasus – kasus lain, beberapa meditator mungkin merasa lebih tinggi ; beberapa mungkin merasa lebih pendek ; beberapa merasa berputar – putar ; beberapa merasa condong ke satu sisi atau sisi yang lain. Tetaplah memperhatikan nafas dengan penuh perhatian. Abaikan berbagai cetusan pikiran itu. Semua ini hanya muncul dan akan segera berlalu.

Kadang – kadang nafas anda mungkin begitu halusnya sehingga kelihatannya lenyap. Pada titik ini, mereka yang takut mati akan menarik diri dari samadhi. Sebenarnya hal ini merupakan suatu petunjuk bahwa pikiran sudah sepenuhnya terkonsentrasi. Janganlah takut. Terus sajalah mengamati nafas halus, hanya nafas halus saja sampai akhirnya anda tidak bernafas sama sekali. Inilah titik di mana tubuh kelihatannya tidak ada. Yang tertinggal hanya sifat pikiran yang ‘ tahu ‘. Kadang – kadang sinar yang benderang atau sedikit terang muncul di sekeliling atau bahkan tubuh lenyap. Sinar benderang ini sebenarnya mengungkapkan sifat pikiran ‘ yang tahu ‘. Kebenderangan dan keringanan pikiran pada titik ini akan merupakan pengalaman yang paling menakjubkan di dalam kehidupan seseorang. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang sebanding. Ketenangan semacam ini berlangsung kira – kira sepuluh menit dan kemudian nafas kembali seperti semula. Kebahagiaan dan rasa ringan pada tubuh dan pikiran yang dialami seseorang tidak bisa dibandingkan dengan hal – hal biasa. Ketenangan itu sedemikian besar sehingga mereka yang tidak memiliki cukup kebijaksanaan akan cenderung merindukannya lagi. Tetapi mereka yang sebelumnya sudah memiliki cukup latihan pengamatan akan merenungkannya dengan bijaksana dan menggunakannya sebagai dasar untuk mengembangkan kebijaksanaan lagi. Mereka tidak akan melekati kebahagiaan pikiran yang tenang di dalam samadhi, tetapi menggunakan samadhi sebagai alat untuk perkembangan kebijaksanaan yang lebih efisien.

Ada satu saran bagi para pembaca yang telah berlatih konsentrasi dengan niat yang kokoh, dengan harapan kebijaksanaan akan muncul di dalam pikiran yang tenang. Jika anda belum pernah mengembangkan pengamatan ke dalam berbagai aspek Dhamma, walaupun konsentrasi anda berkembang mencapai keadaan samadhi penyerapan samapatti atau pencapaian meditatif ini hanya akan menghasilkan kebahagiaan tubuh dan pikiran. Bila konsentrasi lebih maju, beberapa orang mungkin mengembangkan kekuatan super normal ( abhinna ), misalnya : kesaktian melihat kejadian – kejadian di masa lampau dan di masa depan, kemampuan untuk melihat dari jauh dengan ‘ mata batin ‘ atau mendengarkan dari jauh dengan ‘ telinga batin ‘, kesaktian untuk melakukan hal – hal luar biasa, untuk membaca pikiran orang atau bahkan pikiran binatang. Setelah memperoleh kekuatan – kekuatan super normal semacam ini, mungkin mereka lalu menyatakan diri sebagai Arahat.

Pada jaman Sang Buddha, ada 30 Bhikkhu yang telah berlatih konsentrasi sampai pikiran mereka mencapai ketenangan penuh. Mereka mengalami kebahagiaan tubuh dan pikiran yang berlangsung beberapa hari, sampai – sampai mereka merasa yakin bahwa mereka telah menghancurkan kekotoran batin, tanha dan moha mereka dan menjadi Arahat. Mereka kemudian bermaksud memberitahukan Sang Buddha tentang hal itu. Ketika Sang Buddha mengetahui kedatangan mereka, beliau menyuruh Phra Ananda menemui di pintu masuk untuk memberitahu mereka agar tidak langsung menemui Sang Buddha. Mereka diminta pergi ke tempat pemakaman. Menuruti pesan Sang Buddha, 30 Bhikkhu tersebut memasuki tanah pekuburan. Pada saat itu, di sana tergeletak jasad telanjang seorang wanita cantik yang baru saja meninggal. Tubuh mati itu kelihatan seperti wanita yang tertidur. Bhikkhu – Bhikkhu itu memandanginya, mula – mula dengan rasa ingin tahu, tetapi kemudian dengan penuh nafsu keinginan dan nafsu seks ! Pada titik ini, dengan rasa malu mereka menyadari bahwa mereka belum Arahat karena pikiran mereka masih memiliki emosi – emosi yang kuat, nafsu dan ketidaktahuan. Mereka kemudian berulang – ulang merenungkan apa yang telah terjadi, sampai mereka semuanya menjadi tercerahkan di sana, di tanah pekuburan itu.

Anda dapat melihat bagaimana ketenangan dalam samadhi dapat menipu anda. Pada jaman Sang Buddha, ada banyak kasus yang mirip kasus 30 Bhikkhu itu. Jika hal itu terjadi di masa sekarang, 30 Bhikkhu itu tidak akan memiliki kesempatan memperbaiki kesalahan. Mereka akan menjadi Arahat palsu sepanjang hidupnya. Di jaman ini tidak ada mayat – mayat segar yang tergeletak di tanah pekuburan untuk membuat hal yang sama terjadi. Jadi, mereka yang dengan sabar berlatih konsentrasi dan menunggu kebijaksanaan muncul dengan sendirinya dari pikiran yang tenang harus berhenti sejenak untuk berpikir lebih dalam. Apakah ada Bhikkhu di jaman Sang Buddha yang menjadi seorang arahat dengan melatih konsentrasi saja ? Kenyataannya, semua Arahat di jaman dahulu telah terlebih dahulu melatih perenungan demi perkembangan kebijaksanaan.

Sekarang ini beberapa guru yang baik masih ada. Mereka berlatih perenungan dan konsentrasi secara bergantian. Setelah menarik diri dari ketenangan, mereka menyelidiki segala hal sampai pada Kebenaran tertinggi, yaitu, dukkha, anicca dan anatta. Mereka tidak menunggu kebijaksanaan muncul dengan sendirinya. Jadi anda harus menyadari perbedaan ini dan berlatih sesuai dengannya. Tanpa ada benih kelapa, tidak mungkin anda menanam pohon kelapa meskipun anda telah menyiapkan tanah yang sangat subur. Orang mendapatkan pohon yang benar hanya dari bibit yang benar.

CARA SAMADHI DUDUK YANG KETIGA.

Didalam metode ini anda memusatkan perhatian pada satu bagian tubuh. Pilihlah bagian mana pun yang mudah untuk divisualisasikan. Ini akan digunakan sebagai daerah di mana sati dan sifat alami pikiran yang ‘ tahu ‘ berlabuh. Nafas dan kata parikamma hanya memainkan peran pendukung. Bagian tubuh itu benar – benar diperhatikan sehingga dapat dilihat oleh pikiran dengan jelas. Jika dia mencemaskan nafas dan kata parikamma, perhatiannya akan terbelokkan dan dia tidak dapat melihat bagian tubuh itu dengan jelas. Bagian yang dipilih dapat merupakan suatu bekas luka, dapat terletak di tubuh sebelah depan atau belakang, yang mana pun asalkan dirasa pas untuk dijadikan fokus. Pertama – tama pikirkanlah lokasi, warna dan teksturnya. Jika anda tidak dapat melihatnya dengan jelas, berarti niat dan sati anda belum cukup kokoh. Sebaiknya pilihlah suatu bagian yang kecil sehingga anda dapat memusatkan perhatian pada daerah yang kecil itu, sama seperti berkonsentrasi pada lubang jarum saat memasukkan benang ke dalamnya.

Pertama – tama, gambarkan bagian tubuh yang kecil itu di pikiran. Lakukan berulang – ulang sampai pikiran anda dapat melihat bagian itu dengan segera dan secara alami. Sekarang anda dapat merefleksikannya dengan cara apa pun yang anda sukai : misalnya, melihatnya membusuk, memisahkannya dari tulang, dan lain – lain. Ini merupakan suatu dasar yang baik untuk perenungan guna mengembangkan kebijaksanaan. Metode mengamati suatu bagian tubuh secara terfokus bertujuan untuk memberikan tempat berlabuh pada pikiran. Sama halnya dengan seekor burung yang membutuhkan suatu cabang untuk beristirahat setelah terbang. Maka dipilihlah bagian tubuh sebagai suatu tempat istirahat bagi pikiran yang berkelana.

CARA SAMADHI DUDUK YANG KEEMPAT.

Di dalam metode ini pikiran berkonsentrasi pada objek – objek mental yang muncul di pikiran, seperti pada metode jalan cankama yang keempat. Hanya kali ini konsentrasi dilakukan dalam posisi duduk dan ini lebih baik karena tidak ada gerakan tubuh. Pikiran dapat berkonsentrasi pada objek – objek mental dengan lebih baik. Sadarilah ketika pikiran dalam keadaan bahagia, menderita atau netral. Ketahuilah bila muncul suatu emosi yang kuat dan nafsu keinginan. Ketahuilah muncul dan lenyapnya perasaan – perasaan. Ketahuilah mana yang merupakan penyebab dan mana yang akibat. Amati bahwa semuanya berlanjut dalam siklus, dari masa lalu ke masa kini ke masa yang akan datang. Objek – objek mental itu berganti – ganti menjadi penyebab dan akibat dan terus berguling – guling tanpa henti. Beberapa perasaan lama disalahtafsirkan sebagai yang baru karena orang tidak menyadari siklus yang terus berjalan. Jadi orang sebenarnya diputar – putar dalam roda dunia oleh objek – objek mental yang menggelapkan ini. Kekotoran batin, keserakahan dan kebodohan batin merupakan penyebab cinta dan kebencian yang muncul dan bertahan di pikiran.

Maka, mengembangkan sati dengan objek mental sebagai objek pelatihan merupakan praktik yang baik untuk meningkatkan pengamatan terhadap hukum sebab akibat pada semua kejadian. Dengan mengetahui bagaimana suatu objek mental muncul, orang dapat mencari jalan untuk memotong arus. Dia dapat memotong jembatan kekotoran atau keserakahan. Jika orang tidak tahu penyebabnya, dia tidak tahu bagaimana mencegahnya. Untuk membuat pisau tajam, orang mengasahnya. Untuk menghilangkan panas, orang mematikan api. Begitu juga, untuk membebaskan diri dari penderitaan, orang harus menghancurkan penyebab – penyebabnya.

Pikiran adalah tempat di mana objek mental berada, seperti panas ada di api. Jadi, jika anda ingin melihat pikiran anda, lihatlah melalui objek – objek mental. Amatilah objek pikiran yang muncul. Teruslah mengamatinya sampai penyebabnya terungkap. Kemudian berhentilah mengamati, sekarang analisislah seperti tentara di medan pertempuran. Bila seorang tentara telah menemukan musuhnya, dia berhenti mencari dan dengan cepat menembaknya. Bila seorang pemburu telah menemukan buruannya, dia langsung menembaknya. Bila seseorang melihat sesuatu terbakar, dia segera mematikan apinya.

Begitulah metode pemahaman dalam usaha membunuh kekotoran – kekotoran batin dan nafsu – nafsu keinginan yang menyebabkan keserakahan akan sensualitas. Dengan cara ini, kebijaksanaan dapat menghancurkan lingkaran setan itu. Praktik ini memungkinkan seseorang menemukan ‘ kantor pusat ‘ kekotoran batin dan nafsu keinginan. Lalu kebijaksanaan, keyakinan dan usaha dapat disatukan untuk menyerang dan menghancurkan kantor pusat itu secara tuntas. Dalam dunia tinju, seorang petinju mempunyai target untuk menjatuhkan lawan. Jika kali ini dia kalah, dia akan berusaha menang lain kali. Di dalam praktik Dhamma, anda harus memiliki tekad yang kokoh untuk mengembangkan kebijaksanaan. Kalau tidak, kekotoran batin dan nafsu – nafsu keinginan akan merupakan pemenang yang abadi.

Untuk menjadi siswa Dhamma yang kuat, anda harus bertujuan menghancurkan musuh utama anda, yaitu kekotoran batin. Arahkan pikiran anda ke dalam, menuju objek – objek mental, dan rencanakan untuk membersihkan semua kekotoran batin dari pikiran anda.

DAFTAR KATA.

Acariya            Guru ; instruktor tetap.

Anagami          Yang tidak kembali lagi ; Orang yang telah mencapai tingkat kesucian ketiga.

Anatta             Tanpa – jiwa ; Tak berjiwa ; Tanpa – diri.

Anicca             Tidak kekal ; Berubah.

Arahant           Yang mulia ; Yang sempurna, orang yang telah mencapai Nibbana.

Arammana       Objek – indra ; Objek kesadaran.

Ariyasacca       Kesunyataan Mulia.

Arupajhana      ( Empat ) Penyerapan Alam Tanpa – bentuk.

Atta                 Diri ; Jiwa ; Ego ; Jelmaan pribadi.

Bhava              Menjadi ; eksistensi ; Proses menjadi ; Keadaan eksistensi.

Bhavatanha     Nafsu keinginan untuk eksistensi ; Nafsu keinginan untuk tumimbal lahir.

Brahma            Makhluk dewa di Alam Bentuk atau Alam Tanpa – bentuk.

Cankama         Berjalan mondar mandir sebagai metode pengembangan konsentrasi.

Citta                Pikiran ; Keadaan kesadaran.

Dhamma
1. Doktrin ; Ajaran Sang Buddha.

2. Norma ; Hukum ; Alam.

3. Kebenaran ; Realitas Akhir.

4. Di luar yang biasa, khususnya Nibbana.

5. Kebenaran ; Keluhuran ; Moralitas ; Perilaku yang baik ; Tingkah laku yang benar.

6. Tradisi ; Praktik ; Prinsip ; Peraturan ; Tugas.

7. Keadilan ; Tidak memihak.

8. Benda ; Fenomena.

9. Objek yang dapat dikognisi ; Objek – pikiran ; Ide.

10. Keadaan mental ; Faktor Mental ; Aktivitas mental.

11. Kondisi ; Penyebab ; Yang bersebab.

Dhatu              Elemen ; Kondisi alami ; Yang membawa tanda sifatnya sendiri.

Dukkha
1. Penderitaan ; Kesengsaraan ; Duka ; Rasa sakit ; Sakit ; Kesedihan ; Kesulitan ; Ketidaknyamanan ; Ketidakpuasan ; Situasi bermasalah ; Stress ; Konflik.

2. Rasa sakit fisik atau tubuh.

Ekaggata         Kemanunggalan pikiran.

Jhana               Meditasi, penyerapan ; Keadaan perenungan mendalam yang dicapai oleh meditasi.

Kama               Nafsu – indra ; Nafsu keinginan ; Sensualitas ; Ojek kenikmatan indra ; Kenikmatan sensual.

Kamatanha      Nafsu sensual ; Nafsu terhadap kenikmatan sensual.

Kamavacara    Yang termasuk Alam Indra.

Khanda           Kategori ; Kumpulan.

Kilesa              Kekotoran ; Ketidakmurnian ; Keburukan.

Magga             Sang Jalan ; Jalan Mulia ; Jalan Mulia Berunsur Delapan ; Jalan menuju Akhir Penderitaan.

Micchaditthi    Pandangan salah ; Pandangan keliru.

Nana                Pengetahuan ; Pengetahuan sejati ; Kebijaksanaan ; Pandangan terang.

Nibbana           Nirvana ; Padamnya api keserakahan, kebencian dan kebodohan ; Yang Tak Terkondisi ; Tujuan Akhir ; Tujuan Agung Buddhisme.

Nirodha           Berhentinya atau Padamnya Penderitaan.

Panna              Kebijaksanaan ; Pengetahuan ; Inteligensi ; Pandangan terang ; Pemahaman ; Akal sehat.

Parikamma      Pengulangan mental ; Hapalan.

Pariyatti           Kitab Suci ; Studi Kitab Suci ; Ajaran yang harus dipelajari.

Peta                 Hantu dari orang yang sudah mati.

Rupajhana       Penyerapan dari Alam Materi – Halus.

Sila                  Sikkhapada.

1. Moralitas ; Perilaku moral.

2. Peraturan ; Aturan moralitas ; Aturan pelatihan.

Sacca               Kebenaran Sejati ; Kebenaran.

Sakadagami     Yang – Kembali – Sekali – Lagi ; Yang telah mencapai tingkat kesucian kedua pada Sang Jalan dan hanya akan terlahir di bumi sekali lagi sebelum mencapai Nibbana.

Samadhi          Konsentrasi ; Kemanunggalan pikiran.

Samatha          Ketenangan ; Keheningan ; Kesunyian hati.

Sammati          Konvensi ; Persetujuan ; Anggapan ; Kebenaran konvensional.

Samsara           Harfiah : Menyala terus ; Lingkaran Kelahiran Ulang ; Lingkaran Eksistensi ; Roda Tumimbal ; Roda Kehidupan.

Samudaya       Penyebab Penderitaan ; Asal Mula Penderitaan.

Sangho            Para Bhikkhu Buddhis ; Siswa yang Suci.

Sankhara         1. Sesuatu yang terkondisi ; Yang berkomponen ; Yang terkondisi ; Dunia fenomena ; Semua yang terbentuk karena penyebab – penyebab yang ada sebelumnya.

2. Aktivitas berkehendak ; Bentukan – bentukan mental ; Kecenderungan ; Dorongan hati yang berkehendak ; Dorongan hati dan emosi ; Kehendak ; Semua faktor mental kecuali perasaan dan persepsi yang memiliki kehendak sebagai faktor konstannya.

Sati                  Kewaspadaan ; Perhatian ; Pengamatan yang tak melekat ; Kesadaran.

Sotapanna       Pemasuk – arus ; Orang yang telah mencapai tingkat Kesucian pertama.

Tanha              Nafsu ; Nafsu keinginan ; Rasa haus.

Tilakkhana       Tiga corak ; Tiga Tanda Keberadaan ; Juga disebut Sifat – sifat Umum ( yaitu : ketidakkekalan, ketidakpuasan dan kebodohan batin ).

Tipitaka           Harfiah : Tiga Keranjang, Tiga Pembagian Kitab Suci Buddhis, yaitu : Vinaya, Sutta dan Abhidhamma ( biasanya dikenal sebagai Pali Canon ).

Vatta               Lingkaran kelahiran ulang ; Lingkaran eksistensi ; Siklus kelahiran ulang.

Vibhavatanha  Nafsu untuk non eksistensi.

Vipassana        Pandangan terang ; Perenungan ; Pengembangan pandangan terang.

Yogavacara     Orang yang mempraktikkan palatihan spiritual ; Meditator.