
Nama-nama Buddhis – M
MATTHAKUNDALI – Sotapatti :
Lihat cerita ADINNAPUBBAKA.
MAHAKALA – Arahatta :
Mahakala dan Culakala adalah saudagar bersaudara. Dalam perjalanan mereka berkesempatan mendengarkan khotbah Dhamma Sang Buddha. Setelah mendengarkan khotbah tersebut Mahakala mohon kepada Sang Buddha untuk diterima dalam pasamuan bhikkhu. Culakala juga ikut bergabung. Istri-istri Culakala merayu dan berusaha agar suaminya kembali sebagai perumah tangga. Karena Culakala tidak bersungguh-sungguh masuk anggota Sangha maka ia tergoda dalam rayuan istri-istrinya dan kembali sebagai perumah tangga. Berbeda dengan Mahakala, ia bersungguh-sungguh latihan pertapaan, tekun bermeditasi dengan obyek kelapukan dan ketidak kekalan, mantap dan kuat dalam keyakinannya terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha, maka akhirnya ia memperoleh ‘Pandangan Terang’ dan mencapai kesucian tingkat Arahat. Walaupun istri-istrinya berusaha keras utnuk merayunya, ia tidak tergoda sedikitpun, bahkan meninggalkan istri-istrinya dan pergi menuju Sang Buddha.
Pada kejadian ini Sang Buddha membabarkan syair :
Seseorang yang hidupnya hanya ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya tidak terkendali, yang makannya tidak mengenal batas, malas serta tidak bersemangat; maka mara (Penggoda) akan menguasai dirinya, bagaikan angin menumbangkan pohon yang lapuk.
Seseorang yang hidupnya ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya terkendali, sederhana dalam makanan, penuh keyakinan serta bersemangat, maka Mara (Penggoda) tidak dapat menguasai dirinya bagaikan angin yang tidak dapat menumbangkan gunung karang.
( Dhammapada I , 7-8 )
MOGGALANA (KOLITA) – Arahatta :
Dua orang pemuda yaitu Upatissa dan Kolita pergi mengembara untuk menemukan Dhamma yang sebenarnya. Pertama-tama mereka berguru kepada Sanjaya, tetapi tidak puas. Suatu hari Upatissa bertemu Assaji Thera dan belajar tentang hakekat Dhamma. Sang Thera mengucapkan syair awal, “Ye Dhamma hetuppabhava”, yang berarti “Segala sesuatu yang terjadi berasal dari suatu sebab”. Mendengar syair tersebut mata batin Upatissa terbuka dan ia langsung mencapai kesucian Sotapatti Magga dan Phala. Kemudian Upatissa menemui Kolita lalu menjelaskan dan mengulangi syair tersebut, Kolita juga mencapai tingkat kesucian Sotapatti pada saat akhir syair diucapkan. Mereka mengajak bekas guru mereka yaitu Sanjaya untuk mengikuti jejak mereka, tetapi ditolak. Upatissa dan Kolita dengan 250 orang pengikutnya pergi menghadap Sang Buddha di Veluvana. Disana ia ditahbiskan dan bergabung dalam pasamuan bhikkhu. Upatissa sebagai anak laki-laki dari Rupasari dikenal sebagai Sariputta. Kolika sebagai anak laki-laki dari Moggali dikenal sebagai Moggalana. Dalam tujuh hari setelah menjadi anggota Sangha, Moggalana mencapai tingkat kesucian Arahat, Sariputta juga mencapai tingkat kesucian Arahat dua minggu setelah menjadi anggota Sangha. Kemudian Sang Buddha menjadikan mereka dua murid utama Nya. Kedua murid ini menceritakan kepada Sang Buddha tentang pertemuannya dengan Assaji Thera dan pencapaian tingkat kesucian Sotapatti, juga tentang bekas guru mereka yang menolak ajakan mereka yaitu Sanjaya. Sang Buddha menjelaskan bahwa kesalahan Sanjaya adalah keangkuhannya, yang menghalanginya untuk melihat kebenaran sebagai kebenaran, ia telah melihat ketidak benaran sebagai kebenaran dan tidak akan pernah mencapai pada kebenaran sesungguhnya.
Pada kejadian ini Sang Buddha membabarkan syair :
Mereka yang menganggap ketidak-benaran sebagai kebenaran, dan kebenaran sebagai ketidak-benaran, maka mereka yang mempunyai pikiran keliru seperti itu, tak akan pernah dapat menyelami kebenaran.
Mereka yang mengetahui kebenaran sebagai kebenaran dan ketidak-benaran sebagai ketidak-benaran, maka mereka yang mempunyai pikiran benar seperti itu, akan dapat menyelami kebenaran.
( Dhammapada I , 11-12 )
MEGHIYA – Sotapatti :
Dalam perjalanan pulang setelah menerima dana makanan, Meghiya Thera tertarik pada hutan mangga yang menyenangkan, indah dan tenang serta dirasa cocok untuk tempat berlatih menditasi.
Setelah tiba di vihara, ia menghadap Sang Buddha dan menyampaikan keinginannya agar diperbolehkan pergi kesana. Karena ia terus memohon kepada Sang Buddha akhirnya Sang Buddha mengijinkannya. Segera Maghiya Thera pergi ke hutan mangga untuk berlatih meditasi, tetapi pikirannnya sukar berkonsentrasi. Sore harinya ia kembali dan lapor kepaada Sang Buddha mengapa sepanjang waktu pikirannya dipenuhi nafsu indria, pikiran jahat, pikiran kejam. Atas pertanyaan itu Sang Buddha membabarkan syair :
Pikiran itu mudah goyah dn tidak tetap; pikiran susah dikendalikan dan dikuasai. Orang bijaksana meluruskannya bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.
Bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air dan dilemparkan keatas tanah, pikiran itu selalu menggelepar. Karena itu cengkeram dari Mara harus ditaklukkan.
( Dhammapada III , 1-2 )
Setelah khotbah Dhamma berakhir, Meghiya Thera mencapai tingkat kesucian Sotapatti.
MIGARA – Sotapatti :
Visakha merupakan cucu dari hartawan Mendaka. Ketika Visakha berusia tujuh belas tahun, Sang Buddha berkunjung ke Bhoddiya. Hartawan Mendaka mengajak Visakha dan lima ratus pengawalnya untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Visakha, kakeknya dan semua lima ratus pengawalnya mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Ketika Visakha dewasa, ia menikah dengan Punnavaddhana, putra Migara. Suatu hari ketika Migara makan siang, seorang bhikkhu berhenti untuk berpindapatta tapi Migara menolaknya. Visakha melihat hal ini lalu berkata: “Maafkan saya, teruslah berjalan Bhante, ayah mertua saya hanya makan makanan basi.” Migara sangat marah mendengarnya, lalu mengusir menantunya. Visakha tidak mau pergi bahkan memanggil wali yang dikirim ayahnya untuk memutuskan apakah Visakha bersalah. Setelah mendengarkan penjelasan Visakha, wali tersebut mengatakan bahwa Visakha tidak bersalah. Kemudian Visakha mengatakan, kalai ia tidak diijinkan untuk berdana makanan kepada pengikut Buddha, ia akan meninggalkan rumah. Lalu Migara mengijinkan untuk mengundang Sang Buddha dan pengikutnya. Keesokan harinya Sang Buddha dan murid-muridNya diundang ke rumah Visakha untuk menerima dana makanan, ayah mertuanya dipanggil untuk ikut berdana makanan, tetapi Migara menolak, untuk kedua kalinya Migaradipanggil Visakha untuk mendengarkan Sang Buddha berkhotbah. Ayah mertuanya merasa tidaks eharusanya menolak untuk kedua kalinya. Tapi guru Migara yaitu pertapa Nigantha tidak mengijinkan dia pergi. Mereka memutuskan mendengarkan dibalik tirai. Setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, Migara mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Dia sangat berterima kasih kepada Sang Buddha dan juga menantunya. Sebagai bentuk rasa terima kasihnya ia mengatakan akan menjadikan Visakha sebagai ibunya dan Visakha kemudian dikenal sebagai Migaramata.
Pada kejadian ini Sang Buddha membabarkan syair :
Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga; demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.
( Dhammapada IV, 10 )
MAHAKAPPINA – Arahatta :
Lihat cerita ANOJA.
MENDAKA – Sotapatti :
Lihat cerita CANDAPADUMA.
MAHADHANA – Sotapatti :
Saudagar Mahadhana dari Baranasi bermaksud menghadiri sebuah festival di Savatthi dengan membawa lima ratus kereta yang penuh dengan kain dan barang dagangan. Ia menunda perjalanannya selama tujuh hari karena hujan yang lebat dan air sungai yang tidak kunjung surut, ketika ia sampai di tepi sungai dekat Savatthi, Mahadhana menjadi terlambat mengikuti festival. Karena datang dari jauh ia tidak ingin kembali ke rumah dengan dagangannya yang masih utuh. Akhirnya ia memutuskan untuk menghabiskan mhujan, musim dingin dan musim panas di tempat itu dan mengajak semua pelayannya ikut serta. Saat Sang Buddha berpindapatta, Beliau mengetahui keputusan Mahadhana itu, dan tersenyum, maka Ananda bertanya kenapa Sang Buddha tersenyum, Beliau menjawab, “Ananda, tahukah kau pedagang itu? Dia mengira bahwa dia dapat tinggal di sini dan menjual semua barangnya sepanjang tahun. Dia tidak menyadari bahwa ia dapat meninggal dunia di sini dalam waktu tujuh hari. Apa yang harus dilakukan hendaknya dilakukan hari ini. Siapa dapat mengetahui seseorang akan meninggal dunia esok ? Kita tidak dapat berkompromi waktu dengan Raja Kematian. Orang yang selalu waspada tiap pagi dan malam, yang tidak terganggu oleh kekotoran batin, penuh semangat, yang hidup hanya untuk satu malam, adalah pengguna waktu yang baik.” Kemudain Sang Buddha menyuruh Ananda mendatangi Mahadhana dan menjelaskan bahwa ia harus meninggalkan kelalaian dan menjadi waspada. Mahadhana menjadi sadar dan merasa takut tentang kematian. Sehingga selama tujuh hari ia mengunjungi Sang Buddha dan para bhikkhu untuk berdana makanan. Pada hari ke tujuh Sang Buddha berkhotbah tentang penghargaan dana.
Disini aku akan berdiam pada musim hujan, disini aku akan berdiam selama musim gugur, dan musim panas. Demikianlah pikiran orang bodoh yang tidak menyadari bahaya (Kematian).
( Dhammapada XX , 14 )
Pada saat khotbah Dhamma berakhir, Mahadhana mencapai tingkat kesucian Sotapatti.
Saat perjalanan pulang ia terserang sakit kepala dan akhirnya meninggal dunia.
MAHAPANTHAKA – Arahatta :
Mahapanthaka telah menjadi Arahatta ketika adik laki-lakinya Culapanthaka masuk pasamuan bhikkhu. Mahapanthaka menyuruh adiknat tersebut keluar dari pasamuan bhikkhu karena tidak dapat mengingat satu syairpun meskipun sudah empat bulan. Maka para bhikkhu lainnya bertanya kepada Sang Buddha, mengapa meskipun ia seorang Arahanta, mengusir adiknya dari vihara. Kepada mereka Sang Buddha menjawab,”Para bhikkhu! Para Arahanta tidak mempunyai keinginan jahat sepetti nafsu dan kebencian dalam diri mereka. Murid-Ku Mahapanthaka melakukan hal seperti itu dengan pengertian demi keuntungan saudaranya dan bukan karena keinginan jahat.”
Pada kejadian ini Sang Buddha membabarkan syair :
Seseorang yang nafsunya, kebenciannya, kesombongannya dn kemunafikannya telah gugur, seperti biji lada yang jatuh dari ujung jarum, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
( Dhammapada XXVI , 25 )