Mayhaka Jataka

No. 390

MAYHAKA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

 

[299] “Kita harus merasa bahagia,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang saudagar pendatang.

Di kota Savatthi terdapat seorang saudagar pendatang yang kaya raya dan memiliki harta benda yang berlimpah ruah, ia tidak menikmati kekayaannya sendiri ataupun membagikannya kepada orang lain.

Jika makanan yang disajikan adalah makanan pilihan yang enak, ia tidak akan memakannya, ia hanya akan makan bubur hancuran beras dengan bubur masam.

Jika pakaian sutra yang diberi wewangian diberikan kepadanya, ia tidak akan mengenakannya, ia hanya akan mengenakan pakaian yang kasar.

Jika sebuah kereta yang dihiasi dengan permata dan emas ditarik oleh kuda-kuda yang berdarah murni dibawakan untuknya, ia akan menyuruh orang membawanya pergi, ia akan naik ke dalam kereta usang yang sudah hampir rusak ditutupi dengan payung dedaunan sebagai atapnya.

Selama hidupnya, ia tidak memberikan derma ataupun melakukan jasa-jasa kebajikan lainnya, dan ketika meninggal, ia terlahir di Neraka Roruva. Tidak ada yang mewarisi harta benda miliknya, dan anak buah raja membawanya ke istana dalam waktu tujuh hari tujuh malam.

Setelah hartanya selesai dibawa ke dalam istana, raja pergi ke Jetavana sehabis menyantap sarapan pagi, dan memberi penghormatan kepada Sang Guru. Ketika ditanya mengapa ia tidak melayani Sang Buddha secara teratur, raja menjawab, “Bhante, seorang saudagar pendatang meninggal di Savatthi. Tujuh hari dihabiskan hanya untuk membawa harta bendanya ke dalam rumah saya, yang ditinggalkannya tanpa ahli waris. Walaupun ia memiliki semua kekayaan itu, semasa hidupnya ia tidak pernah menikmatinya sendiri ataupun membagikannya dengan orang lain; kekayaannya seperti kolam teratai yang dijaga oleh para raksasa. Suatu hari ia menemui ajalnya setelah menolak makan makanan pilihan berupa daging dan sebagainya. Mengapa orang yang kikir dan tidak memiliki kebajikan seperti itu dapat memperoleh semua kekayaan itu, dan atas alasan apa ia tidak cenderung berpikir untuk menikmatinya?” Itu adalah pertanyaan yang diajukan kepada Sang Guru.

“Paduka, alasan mengapa ia dapat memperoleh kekayaannya tetapi tidak menikmatinya adalah ini,” dan atas permintaan raja, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.
____________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi raja di Benares, ada seorang saudagar yang sangat kikir di Benares, ia tidak memberikan atau menyediakan apa pun kepada siapa pun.

Suatu hari di tengah perjalanan ketika hendak pergi untuk mengunjungi raja, ia bertemu dengan seorang Pacceka Buddha bernama Tagarasikhi yang sedang berkeliling mencari derma makanan. Ia memberi penghormatan kepadanya dan bertanya, “Bhante, sudahkah Anda mendapatkan derma makanan?” Pacceka Buddha menjawab, “Apakah saya tidak sedang meminta derma, Saudagar?” [300] Saudagar itu memberi perintah kepada seorang pelayannya, “Pergilah dan bawa ia ke rumahku, persilakan ia duduk di tempatku, dan isilah pattanya dengan makanan yang telah disediakan untukku.” Pelayan itu membawanya ke rumah, mempersilakannya duduk dan memberitahu istri saudagar itu. Istrinya memberikan makanan pilihan dengan rasa yang sangat lezat ke dalam pattanya. Kemudian Pacceka Buddha membawa makanannya keluar dan pergi dari rumah itu.

Sekembalinya dari istana, saudagar itu bertemu dengannya lagi di jalan dan menanyakan apakah ia telah mendapatkan derma makanan. “Saya sudah mendapatkannya, Saudagar.” Saudagar itu, yang melihat ke dalam pattanya, tidak dapat menyesuaikan pikirannya dari sebelum dan sesudah berdana, berpikir, “Jika pelayan atau pekerjaku yang memakan makanan ini, mereka sebelumnya pasti telah melakukan sesuatu yang sangat berjasa bagiku. Ini adalah sebuah kerugian bagiku!” Ia tidak dapat membuat pikiran pascadananya (sesudah berdana) menjadi sempurna. Memberikan derma (berdana) akan membuahkan hasil yang baik hanya bagi orang yang membuat ketiga pikirannya sempurna:—

Kita harus merasa bahagia pada saat hendak memberi,
pada saat memberi, dan pada saat sesudah memberi,
jangan pernah menyesali apa yang telah kita selagi kita masih hidup,
maka anak kita tidak akan terlahir mati.

Bahagia sebelum memberi,
pada saat memberi, dan sesudah memberi,
itulah dana yang sempurna.

Demikianlah saudagar pendatang itu mendapatkan harta benda yang berlimpah dikarenakan ia memberikan derma kepada Pacceka Buddha Tagarasikhi, tetapi ia tidak dapat menikmatinya dikarenakan ia tidak dapat menyempurnakan pikirannya sesudah memberikan derma itu.

“Bhante, mengapa ia tidak mempunyai anak (ahli waris)?” Sang Guru berkata, “Wahai raja, ini adalah penyebabnya mengapa ia tidak mempunyai anak,” dan atas permintaan raja, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.
____________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di dalam sebuah keluarga saudagar yang memiliki kekayaan sebesar delapan ratus juta.

Ketika dewasa, setelah orang tuanya meninggal, ia yang mengurus adiknya dan menjadi kepala keluarga. Ia membangun sebuah balai distribusi dana di depan pintu rumahnya dan hidup sebagai seorang perumah tangga yang banyak berdana. Ia dikaruniai seorang putra.

Ketika putranya dapat berjalan sendiri, ia melihat keburukan dari kesenangan indriawi dan kebaikan (berkah) dari pelepasan keduniawian, maka setelah mengalihkan semua kekayaan, bersama dengan anak dan istrinya kepada adiknya, [301] ia menasihatinya (adiknya) untuk tetap melanjutkan kegiatan berdana itu. Kemudian ia menjadi seorang petapa dan tinggal di Himalaya setelah memperoleh kesaktian dan pencapaian meditasi.

Adiknya, yang melihat putra saudaranya tumbuh dewasa, berpikir, “Jika putra abangku tetap hidup, kekayaannya akan dibagi dua. Saya harus membunuhnya.” Maka pada suatu hari, ia membunuhnya dengan menenggelamkannya ke dalam sungai.

Setelah ia selesai mandi dan sampai di rumah, kakak iparnya bertanya kepadanya, “Di mana putraku?” “Tadinya ia bermain-main di sungai, tetapi setelah mencoba mencarinya di sana, saya tidak dapat menemukannya.” Kakak iparnya menangis dan tidak bisa mengatakan apa-apa.

Bodhisatta yang mengetahui masalah tersebut, berpikir, “Akan kubuat orang-orang mengetahui masalah ini,” dan kemudian dengan terbang di udara dan turun di kota Benares, dengan pakaian bagus di bagian luar dan dalam, ia berdiri di pintu. Ketika tidak melihat balai dananya, ia berpikir, “Orang jahat itu telah menghancurkan balai dana.” Adik Bodhisatta, yang mendengar kedatangannya, datang dan memberi penghormatan kepadanya. Dengan membawanya ke lantai atas, ia memberikan makanan enak kepadanya. Dan ketika makanannya selesai disantap, duduk dengan ramahnya, Bodhisatta berkata, “Putraku tidak kelihatan, di manakah ia berada?” “Ia sudah mati, Bhante.” “Bagaimana caranya?” “Di tempat ia mandi, tetapi saya tidak tahu cara pastinya.” “Tidak tahu? Anda adalah orang yang kejam! Saya mengetahui perbuatanmu, bukankah Anda membunuhnya dengan cara ini? apakah Anda akan dapat menyimpan semua harta itu ketika dihancurkan oleh raja dan yang lainnya? Apa bedanya kamu dengan burung Mayha?” maka Bodhisatta memaparkan khotbah dengan ketenangan seorang Buddha dan mengucapkan bait-bait kalimat berikut:—

Ada seekor burung yang bernama Mayhaka,
ia tinggal di dalam gua gunung:
Di pohon bodhi yang berbuah,
‘milikku, milikku,’ suara yang dikeluarkannya.

[302] Burung-burung lainnya terbang berkelompok mendatanginya
ketika ia bersuara demikian:
Mereka memakan buah-buahnya
meskipun suara sedih Mayha tetap terdengar.

Demikian pula halnya yang akan terjadi
kepada seseorang yang mendapatkan harta berlimpah,
tetapi tidak membagikannya dengan adil
di antara dirinya dan keluarganya.

Kebahagiaan tidak akan dinikmatinya meskipun sekali,
dalam pakaian ataupun makanan,
Wewangian atau untaian bunga yang menyenangkan;
ataupun kebaikan dari sanak keluarganya.

‘Milikku, milikku,’ jeritnya sewaktu menjaga
hartanya dengan tamak:
Tetapi para raja, perampok,
atau ahli warisnya yang menginginkan kematiannya
akan merampas hartanya:
meskipun rengekannya tetap terdengar.

Seorang yang bijak, yang mendapatkan kekayaan berlimpah,
haruslah membantu sanak keluarganya:
Dengan demikian ia akan mendapatkan ketenaran
baik di kehidupan ini maupun di kehidupan berikutnya.

[303] Demikianlah Sang Mahasatwa memaparkan kebenaran kepadanya dan membuatnya kembali memberikan derma. Kemudian Bodhisatta kembali ke Himalaya, melakukan meditasi tanpa terputus, dan terlahir kembali di alam brahma.
____________________

Setelah uraian-Nya selesai, Sang Guru berkata, “Demikian, Paduka, saudagar asing itu tidak mempunyai anak dikarenakan ia membunuh putra dari saudaranya sendiri,” kemudian Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Sang adik adalah saudagar pendatang, dan saya sendiri adalah abangnya.”

Leave a Reply 0 comments