No. 481 TAKKĀRIYA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Saya mengatakannya,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Kokalika. Selama satu musim hujan, dua orang siswa utama149 yang berkeinginan meninggalkan rombongan untuk tinggal terpisah, meminta izin dari Sang Guru dan pergi ke kerajaan tempat dimana Kokalika berada. Mereka pergi […]
Baca selengkapnya...No. 480 AKITTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Sakka, Tuan semua makhluk hidup,” dan seterusnya— Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang dermawan baik hati yang tinggal di kota Savatthi. Dikatakan bahwa laki-laki tersebut mengunjungi Sang Guru dan selama tujuh hari memberikan banyak derma kepada rombongan saṅgha yang mengikuti […]
Baca selengkapnya...No. 479 KĀLIṄGA-BODHI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Raja Kāliṅga,” dan seterusnya—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang pemujuaan pohon bodhi yang dilakukan oleh Ananda Thera. Ketika Sang Tathagata telah berangkat melakukan perjalanan dengan tujuan mengumpulkan orang-orang yang karmanya telah matang untuk mengubah hidupnya, para penduduk kota Savatthi pergi ke […]
Baca selengkapnya...No. 477 CULLA-NĀRADA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [219] “Tidak ada kayu yang dipotong,” dan seterusnya— Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang godaan dari seorang wanita yang kasar. Dikatakan bahwa ada seorang wanita berusia enam belas tahun, putri dari seorang penduduk kota Savatthi, yang mungkin dapat membawa keberuntungan bagi […]
Baca selengkapnya...No. 476 JAVANA-HAṀSA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Mari, angsa,” dan seterusnya—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Daḷḥadḥamma Suttanta atau cerita perumpamaan dari orang kuat. Sang Bhagava berkata, “Andaikan, para bhikkhu, berdiri empat orang pemanah di empat penjuru mata angin, mereka adalah orang-orang yang kuat, sudah terlatih dengan baik, […]
Baca selengkapnya...No. 475 PHANDANA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “O manusia yang berdiri,” dan seterusnya—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di tepi sungai Rohiṇī, tentang suatu pertengkaran keluarga. Situasi cerita ini akan dijelaskan secara lengkap di dalam Kuṇāla-Jātaka128. Dalam kesempatan ini, Sang Guru menyapa sanak keluarganya, O raja, dan berkata :
Baca selengkapnya...No. 472 MAHĀ-PADUMA-JĀTAKA119 Sumber : Indonesia Tipitaka Center [187] “Tidak ada raja yang seharusnya,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Ciñcamāṇavikā 120. Ketika Dasabala mencapai kebijaksanaan yang maha tinggi untuk pertama kalinya, setelah para siswanya bertambah banyak, dewa dan manusia yang tidak terhitung jumlahnya mengalami tumimbal lahir […]
Baca selengkapnya...No. 471 MEṆḌAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center Masalah dari Meṇḍaka ini akan diceritakan di dalam Ummagga-Jātaka118. ____________________ Catatan kaki : 118 Vol. VI. No. 546, hal. 329.
Baca selengkapnya...No. 469 MAHĀ-KAṆHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Seekor anjing pemburu yang sangat hitam,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang hidup untuk kebaikan dunia. Dikatakan pada suatu hari, para bhikkhu duduk berkumpul di dhammasabhā membicarakan sesuatu. “Āvuso,” kata seorang dari mereka, “Sang Guru pernah berteman dengan orang […]
Baca selengkapnya...No. 468 JANASANDHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [176] “Demikianlah yang dikatakan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang perintah dari raja Kosala. Dikatakan bahwa dahulu kala raja dimabukkan oleh kekuasaan dan mengabdikan dirinya kepada kesenangan duniawi, tidak memerintah dengan adil, dan menjadi tidak acuh dalam melayani Sang […]
Baca selengkapnya...