VIII. RIBUAN 1. (100) Daripada seribu kata yang tak berarti, adalah lebih baik sepatah kata yang bermanfaat, yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (101) Daripada seribu bait syair yang tak berguna, adalah lebih baik sebait syair yang berguna, yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya. Cerita terjadinya syair ini:… 3. (102) […]
Baca selengkapnya...VII. ARAHAT 1. (90) Orang yang telah menyelesaikan perjalanannya yang telah terbebas dari segala hal, Yang telah menghancurkan semua ikatan, maka dalam dirinya tidak ada lagi demam nafsu. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (91) Orang yang telah telah sadar dan meninggalkan kehidupan rumah tangga, tidak lagi terikat pada tempat kediaman. Bagaikan kawanan angsa yang meninggalkan […]
Baca selengkapnya...VI. ORANG BIJAKSANA 1. (76) Seandainya seseorang bertemu orang bijaksana yang mau menunjukkan dan memberitahukan kesalahan-kesalahannya, seperti orang menunjukan harta karun, hendaklah ia bergaul dengan orang bijaksana itu. Sungguh baik dan tidak tercela bergaul dengan orang yang bijaksana. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (77) Biarlah ia memberi nasehat, petunjuk, dan melarang apa yang tidak baik, […]
Baca selengkapnya...V. ORANG BODOH 1. (60) Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga, satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah; sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh yang tidak mengenal Ajaran Benar. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (61) Apabila dalam pengembaraan seseorang tak menemukan sahabat yang lebih baik atau sebanding dengan dirinya, maka hendaklah ia […]
Baca selengkapnya...IV. BUNGA-BUNGA 1. (44) Siapakah yang akan menaklukkan dunia ini beserta alam Yama dan alam Dewa? Siapakah yang akan menyelidiki Jalan Kebajikan yang telah diterangkan dengan jelas, seperti seorang perangkai bunga yang pandai memilih bunga? Cerita terjadinya syair ini:… 2. (45) Seorang Sekha (siswa yang masih berlatih) akan menaklukkan dunia ini beserta alam Yama dan […]
Baca selengkapnya...III. PIKIRAN 1. (33) Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap; pikiran susah dikendalikan dan dikuasai. Orang bijaksana meluruskannya bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (34) Bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air dan dilemparkan ke atas tanah, pikiran itu selalu menggelepar. Karena itu cengkeraman dari Mara harus ditaklukkan. Cerita […]
Baca selengkapnya...II. KEWASPADAAN 1. (21) Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan; kelengahan adalah jalan menuju kematian. Orang yang waspada tidak akan mati, Tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (22) Setelah mengerti hal ini dengan jelas, orang bijaksana akan bergembira dalam kewaspadaan dan bergembira dalam praktek para ariya. Cerita terjadinya […]
Baca selengkapnya...BAB SEBELAS Kelompok Sebelas 207. Meditasi Keturunan Murni Pada suatu ketika Yang Terberkahi berdiam di Natika di Aula Batu Bata. Kemudian Y.M. Sandha menghampiri Yang Terberkahi … dan Yang Terberkahi berkata kepadanya: “Bermeditasilah dengan perenungan yang dilakukan oleh kuda keturunan murni, Sandha. Janganlah bermeditasi dengan perenungan kuda jantan liar.”
Baca selengkapnya...BAB SEPULUH Kelompok Sepuluh 182. Manfaat-manfaat Perilaku Bermoral Pada suatu ketika Yang Terberkahi berdiam di Savatthi di Hutan Jeta di Vihara Anathapindika. Pada waktu itu Y.M. Ananda menghampiri Yang Terberkahi, memberi hormat kepada Beliau dan bertanya:1 “Bhante, apakah manfaat perilaku bermoral, dan apakah perolehannya?” “Tidak adanya penyesalan, Ananda, adalah manfaat dan perolehan perilaku bermoral.” “Dan, […]
Baca selengkapnya...BAB SEMBILAN Kelompok Sembilan 175. Meghiya Pada suatu ketika Yang Terberkahi berdiam di Calika, di Bukit Calika. Di sana, Y.M. Meghiya – yang pada waktu itu adalah pendamping Yang Terberkahi1 – menghampiri Yang Terberkahi, memberi hormat kepada Beliau, dan berkata sambil berdiri di satu sisi: “Bhante, saya ingin pergi ke Jantugama untuk mengumpulkan dana makanan.” […]
Baca selengkapnya...