Category Archives for Tipitaka

Kisah Kumbhaghosaka

Kisah Kumbhaghosaka, Seorang Bankir Suatu ketika, ada suatu wabah penyakit menular menyerang kota Rajagaha. Di rumah bendahara kerajaan, para pelayan banyak yang meninggal akibat wabah tersebut. Bendahara dan istrinya juga terkena wabah tersebut. Ketika mereka berdua merasa akan mendekati ajal, mereka memerintahkan anaknya Kumbhaghosaka untuk pergi meninggalkan mereka, pergi dari rumah, dan kembali lagi pada […]

Baca selengkapnya...

Kisah Samavati

Kisah Samavati Kerajaan Kosambi waktu itu diperintah oleh Raja Udena dengan permaisurinya Ratu Samavati. Ratu Samavati mempunyai 500 orang pengiring yang tinggal bersamanya di istana. Ia juga mempunyai pelayan kepercayaan, Khujjuttara, yang setiap harinya bertugas untuk membeli bunga. Suatu hari terlihat Khujjuttara sedang menanti tukang bunga langganannya, Sumana. Tetapi yang dinantinya tak kunjung datang, sedang […]

Baca selengkapnya...

Brahmana Vagga

XXVI. BRAHMANA 1. (383) O, brahmana, berusahalah dengan tekun memotong arus keinginan dan singkirkanlah nafsu-nafsu indria. Setelah mengetahui penghancuran segala sesuatu yang berkondisi, O, brahmana, engkau akan merealisasi nibbana, ‘Yang Tak Terciptakan’. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (384) Bila seseorang brahmana telah mencapai akhir daripada dua jalan semadi (pelaksanaan Meditasi Ketenangan dan Pandangan Terang), maka […]

Baca selengkapnya...

Bhikkhu Vagga

XXV. BHIKKHU 1. (360) Sungguh baik mengendalikan mata; sungguh baik mengendalikan telinga; sungguh baik mengendalikan hidung; sungguh baik mengendalikan lidah. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (361) Sungguh baik mengendalikan perbuatan; sungguh baik mengendalikan ucapan; sungguh baik mengendalikan pikiran; Seorang bhikkhu yang dapat mengendalikan semuanya akan terbebas dari semua penderitaan. Cerita terjadinya syair ini:… 3. (362) […]

Baca selengkapnya...

Tanha Vagga

XXIV. NAFSU KEINGINAN 1. (334) Bila seseorang hidup lengah, maka nafsu keinginan tumbuh, seperti tanaman Maluwa yang menjalar. Ia melompat dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, bagaikan kera yang senang mencari buah-buahan di dalam hutan. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (335) Dalam dunia ini, siapapun yang dikuasai oleh nafsu keinginan rendah dan beracun, penderitaannya […]

Baca selengkapnya...

Naga Vagga

XXIII. GAJAH 1. (320) Seperti seekor gajah di medan perang dapat menahan serangan panah yang dilepaskan dari busur, begitu pula Aku (Tathagata) tetap bersabar terhadap cacian; sesungguhnya, sebagian besar orang mempunyai kelakuan rendah. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (321) Mereka menuntun gajah yang telah terlatih ke hadapan orang banyak. Raja mengendarai gajah yang terlatih ke […]

Baca selengkapnya...

Niraya Vagga

XXII. NERAKA 1. (306) Orang yang selalu berbicara tidak benar dan juga orang yang setelah berbuat kemudian berkata, “Aku tidak melakukannya” akan masuk ke neraka. Dua macam orang yang mempunyai kelakuan rendah ini, mempunyai nasib yang sama dalam dunia selanjutnya. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (307) Bila seseorang menjadi bhikkhu dengan mengenakan jubah kuning tetapi […]

Baca selengkapnya...

Pakinnaka Vagga

XXI. BUNGA RAMPAI 1. (290) Apabila dengan melepaskan kebahagiaan yang lebih kecil orang dapat memperoleh kebahagiaan yang lebih besar, maka hendaknya orang bijaksana melepaskan kebahagiaan yang kecil itu, guna memperoleh kebahagiaan yang lebih besar. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (291) Barangsiapa menginginkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri dengan menimbulkan penderitaan orang lain, maka ia tidak akan […]

Baca selengkapnya...

Magga Vagga

XX. JALAN 1. (273) Di antara semua jalan, maka “Jalan Mulia Berfaktor Delapan’ adalah yang terbaik; di antara semua kebenaran, maka ‘Empat Kebenaran Mulia’ adalah yang terbaik. Di antara semua keadaan, maka keadaan tanpa nafsu adalah yang terbaik; dan di antara semua makhluk hidup, maka orang yang ‘melihat’ adalah yang terbaik. Cerita terjadinya syair ini:… […]

Baca selengkapnya...

Dhammattha Vagga

XIX. ORANG ADIL 1. (256) Orang yang memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa tidak dapat dikatakan sebagai orang adil Orang bijaksana hendaknya memeriksa dengan teliti mana yang benar dan mana yang salah. Cerita terjadinya syair ini:… 2. (257) Orang yang mengadili orang lain dengan tidak tergesa-gesa, bersikap adil dan tidak berat sebelah, yang senantiasa menjaga kebenaran, […]

Baca selengkapnya...