Araka Jataka

No. 169

ARAKA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Hati dengan perasaan belas kasih yang tak terbatas,” dan seterusnya”. Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang Metta Sutta.

Pada suatu kesempatan, Sang Guru menyapa para bhikkhu: “Para Bhikkhu, cinta kasih dengan semua pengabdian pikiran, [61] merenungkannya, meningkatkannya, menjadikan sebuah alat pengembangan, menjadikan tujuan Anda satusatunya, pelatihan, menjadi yang baik, dengan harapan untuk menghasilkan sebelas berkah44, Apa saja sebelas ini?

Dia tidur dengan gembira dan dia bangun dengan gembira; dia tidak bermimpi buruk; orang-orang menyukainya; dewa melindunginya; api, racun dan pedang tidak dapat mendekatinya; dengan cepat dia menjadi terserap dalam pikiran; tampangnya menjadi tenang; dia mati tanpa rasa takut; tidak perlu kebijaksanaan yang lebih jauh, dia pergi ke alam brahma. Cinta kasih, Para Bhikkhu, dilatih dengan penolakan keduniawian dari harapan seseorang”—dan selanjutnya—“bisa diharapkan untuk menghasilkan Sebelas Berkah. Untuk menyanjung cinta kasih yang bisa menghasilkan sebelas berkah ini, Para Bhikkhu, seorang bhikkhu seharusnya menunjukkan cinta kasih kepada semua mahkluk hidup, dengan sengaja atau tidak, dia harus menjadi seorang teman terhadap yang ramah, juga teman terhadap yang tidak ramah, dan seorang teman terhadap yang biasa: demikianlah terhadap semuanya tanpa perbedaan, apakah diundang atau tidak, dia harus menunjukkan cinta kasih: dia harus menunjukkan rasa simpati dengan suka dan duka dan melatih ketenangan hati; dia harus melakukan pekerjaannya melalui empat kediaman luhur (brahmavih ā ra). Dengan melakukan seperti itu, dia akan mencapai alam brahma bahkan tanpa ‘jalan’ ataupun ‘buah’. Orang bijaksana di masa lampau, dengan melatih cinta kasih selama tujuh tahun, telah berdiam di alam brahma selama tujuh zaman, masing–masing dengan satu periode pasang surut45.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

____________________

Dahulu kala, di masa lampau, Bodhisatta dilahirkan di dalam keluarga Brahmana. Ketika tumbuh dewasa, dia meninggalkan kesenangan indriawi dan menjalankan kehidupan seorang petapa, dan mengembangkan empat kediaman luhur. Namanya adalah Araka, dan dia menjadi seorang Guru, dan tinggal di wilayah Himalaya, dengan sekelompok pengikut. Menasihati kelompok orang-orang bijaksananya, dia berkata, “Seorang petapa harus menunjukkan cinta kasih, haruslah dia menunjukkan cinta kasih, baik suka maupun duka, dan penuh ketenangan hati; selama pikiran cinta kasih ini ada, maka dicapai dengan tekad mempersiapkannya ke alam brahma.” Dan sambil menjelaskan berkah dari cinta kasih ini, dia mengulangi bait-bait berikut:—

Hati dengan perasaan cinta kasih yang tak terbatas
kepada segala sesuatu yang hidup,
di surga atas, di alam bawah, dan di tengah bumi ini.
Dipenuhi semua perasaan cinta kasih tanpa batas,
kemurahan hati tanpa batas,
demikian sebuah hati tidak akan pernah sempit dan terbatas.

[62] Demikianlah Bodhisatta menguraikan kepada murid-muridnya tentang melatih cinta kasih dan berkahnya. Dan tanpa terputus dalam meditasi (jhana)-nya, dia pun terlahir kembali di alam brahma, dan selama tujuh zaman, masing-masing dengan waktunya pasang surut, dia tidak lagi muncul di dunia ini.

____________________

Setelah menyelesaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, kelompok orang bijaksana adalah pengikut Sang Buddha sekarang, dan Aku sendiri adalah Guru Araka.”

____________________

Catatan kaki :

44 Kesebelas berkah dibahas di Question of Milinda, iv. 4. 16 (trans. in the S. B. E., i. hal. 279).

45 Lihat Childers, Dict. hal. 185 b. Kepercayaan ini masih ada. Dua orang pria yang mengunjungi Pemimpin Lamaism China dan Bhante Tinggi Buddhism di Pekin, tahun 1890, berbicara dengan mereka tentang kemunduran Buddhism di zaman ini. Keduanya mengakuinya, Buddhist menghubungkannya dengan keinginan dukungan pemerintah, sedangkan Lama itu mengira ini adalah karena periode peringatan dalam keagamaan; tetapi karena pasang mengikuti surut dia mengharapkan ada kebangkitan kembali. (Baptist Missionary Herald, 1890.)

Leave a Reply 0 comments