Catatan Devatasamyutta

Catatan Bab I 1. Devatasamyutta 1 Marisa, “tuan yang baik,” merupakan istilah yang biasanya digunakan oleh para dewa untik menyapa Sang Buddha, Para bhikkhu yang terkenal (lihat, misalnya, 40:10; IV 270,16), dan anggota-anggota komuniitas mereka sendiri (11:3;1 218,34); para raja juga menggunakan istilah itu untuk saling menyapa (3:12; 1 80,4). Spk menjelaskan bahwa itu adalah […]

Baca selengkapnya...

Riwayat Hidup Buddha Gotama – Bab VI – Tambahan

BAB VI TAMBAHAN KALAMA SUTTA A-I-191 Demikianlah telah kudengar: 1. Suatu ketika Yang Dirahmati (Sang Buddha) mengembara di negara Kosala dengan rombongan besar bhikkhu dan memasuki kota Kesaputta. Suku Kalama, yang menjadi penduduk kota Kesaputta mendengar bahwa Pertapa Gotama, seorang putra dari suku Sakya yang pergi bertapa, sekarang telah tiba di Kesaputta. Berita yang tersiar […]

Baca selengkapnya...

Setelah Membunuh

VIII. SETELAH MEMBUNUH 71 (1) Setelah Membunuh Di Savatthi. Sambil berdiri di satu sisi, devata tersebut berbicara kepada Yang Terberkahi dengan syair; 223 “Setelah membunuh apakah orang tidur dengan nyenyak? Setelah membunuh apakah orang tidak bersedih hati? Apakah satu hal, O Gotama, Yang engkau setujui pembunuhnya?”127 [Yang Terberkahi:] 224 “Setelah membunuh kemarahan, orang tidur nyenyak; […]

Baca selengkapnya...

Dibebani

VII. DIBEBANI 61 (1) Nama 203 “Apakah yang telah membebani segalanya? Apakah yang paling luas? Apakah satu hal yang memiliki Segalanya di bawah kendalinya?” 204 “Nama telah membebani segalanya: Tak ada yang lebih luas daripada nama.<87> Nama adalah satu hal yang memiliki Segalanya dibawah kendalinya.”121

Baca selengkapnya...

Usia Tua

VI. USIA TUA 51 (1) Usia Tua [Devata:] 183 “Apakah yang baik sampai usia tua? Apakah yang baik ketika mantap? Apakah yang merupakan batu mulia bagi manusia? Apakah yang sulit dicuri para pencuri?” [Yang Terberkahi:] 184 “Moralitas dalah yang baik sampai usia tua; Keyakinan adalah yang baik ketika mantap; Kebijaksanaan adalah yang merupakan batu mulia […]

Baca selengkapnya...

Riwayat Hidup Buddha Gotama – Bab V – Hari-hari Terakhir

BAB V HARI-HARI TERAKHIR Maha Parinibbana Suttanta (D.II-16) CULLAVAGGA XI (Vin. II; B.D.V) Ayasma Maha Kassapa bercerita kepada para bhikkhu : “Pada suatu waktu aku bersama-sama dengan kira-kira lima ratus bhikkhu sedang berada dalam perjalanan dari Pava menuju Kusinara. Kemudian aku berhenti di pinggir jalan dan mencari tempat duduk di bawah pohon yang rindang.” Pada […]

Baca selengkapnya...

Terbakar

V. TERBAKAR 41 (1) Terbakar Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Kemudian, ketika malam telah larut, satu devata dengan keelokan yang memukau, yang menerangi seluruh Hutan Jeta, mendatangi Yang Terberkahi. <65> Setelah mendekat, dia memberi hormat kepada Yang Terberkahi, berdiri di satu sisi,dan […]

Baca selengkapnya...

Kelompok Satullapa

IV. KELOMPOK SATULLAPA 31 (1) Dengan yang Baik Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Yang Terberkahi berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Kemudian, ketika malam telah larut, sejumlah devata yang termasukl kelompok Satullapa, dengan keelokan yang memukau, yang menerangi seluruh Hutan Jeta, menghampiri Yang Terberkahi.59 Setelah mendekat, mereka memberi hormat kepada Yang […]

Baca selengkapnya...

Riwayat Hidup Buddha Gotama – Bab IV – Masa Menyebarkan Dhamma

BAB IV MASA MENYEBARKAN DHAMMA   Mulai Menyebarkan Dhamma Pada suatu hari, Sang Buddha memanggil berkumpul murid-muridNya yang berjumlah enam puluh orang Arahat dan berkata, “Aku telah terbebas dari semua ikatan-ikatan, oh Bhikkhu, baik yang bersifat batiniah maupun yang bersifat badaniah, demikian pula kamu sekalian. Sekarang kamu harus mengembara guna kesejahteraan dan keselamatan orang banyak. […]

Baca selengkapnya...

Pedang

III. PEDANG 21 (1) Pedang Di Savatthi. Sambil berdiri di satu sisi, devata tersebut mengucapkan syair ini dihadapan Yang Terberkahi: 51 “Bagaikan dihantam oleh pedang, Seolah-oleh kepalanya terbakar, Seorang bhikkhu seharusnya berkelana dengan waspada Untuk meninggalkan nafsu indera.” [Yang Terberkahi:] 52 “Bagaikan dihantam oleh pedang, Seolah-olah kepalanya terbakar, Seorang bhikkhu seharusnya berkelana dengan waspada Untuk […]

Baca selengkapnya...