66. KEDUA : ISTANA RUMAH YANG KEDUA (Dutiya – agariyavimana) Sama di dalam semua hal dengan cerita sebelumnya.
Baca selengkapnya...7. Tabib dan Seorang Wanita (CERITA TENTANG BHIKKHU CAKKHUPALA) Ketika Sang Buddha bersemayam di Vihara Jetavana, Savatthi, datanglah seorang Bhikkhu yang bernama Cakkhupala, matanya buta. Ia menghadap Sang Buddha dan memberi hormat. Pada malam itu, ketika ia melatih meditasi dengan berjalan, karena matanya buta, dengan tidak sengaja ia menginjak beberapa serangga, sehingga serangga-serangga itu mati.
Baca selengkapnya...65. PERTAMA : ISTANA RUMAH (Agariyavimana) Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, hidup satu keluarga kaya yang luhur di Rajagaha, suatu sumber manfaat yang baik bagi para bhikkhuni. Ayah dan Ibunya, karena sepanjang hidup telah melakukan tindakan jasa atas nama Tiga Permata, meninggal dari sini dan terlahir di antara […]
Baca selengkapnya...64. KEEMPAT BELAS : ISTANA KERETA BESAR (Maharathavimana) Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Ketika Y.M. Maha-Moggallana mengadakan perjalana di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, beliau melihat dewa-muda, Gopala, yang sedang meninggalkan Istananya dan menaiki keretanya yang agung untuk pergi bersenang-senang dan berolah raga. Ketika dewa-muda itu melihat Thera tersebut, dia pun turun dari […]
Baca selengkapnya...6. “Engkau Akan Segera Meninggal” Pada waktu itu, Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Savatthi. Ketika itu lewatlah seorang pedagang kaya raya bernama Mahadhana. Ia membawa lima ratus kereta yang dipenuhi berbagai macam bahan baju yang indah-indah, yang dicelup dengan wewangian. Ia berangkat dari Benares untuk berdagang, menjual barang dagangannya itu ke Savatthi. Ketika […]
Baca selengkapnya...63. KETIGABELAS : ISTANA KENCANA KECIL (Cularathavimana) Setelah Sang Buddha mencapai Nibbana Akhir, relik Beliau dibagi-bagikan. Di bawah bimbingan Maha-Kassapa Thera yang agung, dipilihlah para bhikkhu untuk mengulang Dhamma; para siswa, yang masing-masing datang untuk musim penghujan bersama dengan kelompoknya, tinggal di tempat yang berbeda-beda karena memikirkan orang-ornag yang menerimanya. Dan Y.M. Maha-Kaccana tinggal di […]
Baca selengkapnya...62. KEDUABELAS : ISTANA GAJAH, KETIGA (Tatiyanagavimana) Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Huatan Bambu.1 Pada waktu itu, Tiga Thera Arahat dating ke suatu desa untuk melewatkan musim penghukan. Dan dari sana mereka pergi ke Rajagaha untuk memberikan penghormatan kepada Yang Terberkahi. Ketika melewati perkebunan tebu milik seorangbrahmana penjaganya : “Dapatkah kami tiba di […]
Baca selengkapnya...61. KESEBELAS: ISTANA GAJAH, KEDUA (Dutiyanagavimana) Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, seorang umat awam yang memiliki keyakinan menjalani kehidupan sesuai peraturan. Dia menjalankan hari-hari Upasatha, memberikan dana kepada Sangha dan pergi ke vihara untuk mendengarkan Dhamma dengan membawa dana. Setelah meninggal dari sini dia muncul di alam Tiga-Puluh-Tiga […]
Baca selengkapnya...5. Sesudah Badai Berlalu ….. Tenang Ketika itu Sang Buddha sedang bersemayam di Savatthi. Disana tinggal seorang ibu yang sering dipanggil dengan Kanamata atau ibu Kana. Ibu ini pengikut setia Sang Buddha, ia mempunyai seorang anak perempuan bernama Kana. Anak perempuannya ini sudah menikah dengan seorang laki-laki dari lain desa. Pada suatu waktu, Kana datang […]
Baca selengkapnya...59. KESEMBILAN : ISTANA JARUM, KEDUA (Dutiyasucivimana) Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Seorang penjahit pergi untuk melihat-lihat hutan itu, dan di sana dia melihat seorang bhikkhu yang sedang menjahit jubah dengan jarum yang telah dibuat di Hutan Bambu itu. Dia pun memberi beliau jarum-jarum dengan wadahnya. Pertanyaan yang sama diajukan kepada […]
Baca selengkapnya...