ABHIṆHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Tidak ada butiran yang dapat ditelannya,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang umat awam dan seorang thera yang telah berumur [189]. Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, di Sawatthi terdapat dua orang sahabat, yang satu merupakan seorang bhikkhu; setiap hari […]
Baca selengkapnya...MAHILAMUKHA-JATAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Awalnya, dengan mendengar,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagawan ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta, yang mendapatkan kesetiaan Pangeran Ajātasattu, ia memperoleh keuntungan serta kehormatan darinya. Pangeran Ajātasattu membangun sebuah wihara untuk Devadatta di Gayāsīsa, dan setiap hari mempersembahkan [186] lima ratus mangkuk nasi wangi yang berusia […]
Baca selengkapnya...TITHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Gantilah tempatnya olehmu,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika Beliau berada di Jetawana, mengenai seorang mantan tukang emas yang telah menjadi bhikkhu dan tinggal bersama sang Panglima Dhamma (Sāriputta). Hanya seorang Buddha yang memiliki pemahaman isi hati dan dapat membaca pikiran manusia. Oleh karena itu, tanpa […]
Baca selengkapnya...ĀJAÑÑA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Tidak masalah kapan maupun dimana,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu lain yang juga menyerah dalam pelatihan dirinya. Namun dalam kasus ini, Beliau menasihati bhikkhu itu dengan berkata, “Bhikkhu, di kehidupan yang lampau, ia yang bijaksana dan penuh kebaikan tetap […]
Baca selengkapnya...BHOJĀJĀNĪYA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Meskipun dalam keadaan lemah,”dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai seorang bhikkhu yang menyerah dalam pelatihan dirinya. Saat menegur bhikkhu itu, Sang Guru berkata, “Bhikkhu, di kehidupan yang lampau, Ia yang bijaksana dan tekun dalam melakukan kebajikan, meskipun berada di tengah kepungan musuh […]
Baca selengkapnya...KUKKURA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [175] “Anjing-anjing yang dipelihara dalam istana raja,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai tindakan demi kebaikan kerabat, yang berhubungan dengan Buku Kedua Belas, dalam Bhaddasāla-Jātaka 59 . Cerita itu mengantarkan uraian Beliau tentang kisah kelahiran lampau ini. ____________________ Suatu waktu ketika Brahmadatta […]
Baca selengkapnya...KURUṄGA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [173] “Kijang ini mengetahui dengan baik,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta. Sekali ketika para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran, mereka duduk sambil mencela Devadatta dengan berkata, “Awuso56, dengan tujuan membunuh Sang Buddha, Devadatta menyewa pemanah, menjatuhkan batu besar dan melepaskan […]
Baca selengkapnya...NAḶAPĀNA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [170] “Saya menemukan jejak-jejak kaki,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru saat melakukan pindapata melewati Kosala, ketika tiba di Desa Naḷakapāna (Bambu Minum), dan menetap di Ketakavana dekat Kolam Naḷakapāna, di sekitar batang-batang rotan. Saat itu, setelah mandi di Kolam Naḷakapāna, para bhikkhu meminta para samanera mengambilkan […]
Baca selengkapnya...ĀYĀCITABHATTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [169] “Pikirkan tentang kehidupan setelah ini,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai persembahan korban karena sumpah yang diucapkan kepada para dewa. Menurut cerita yang disampaikan secara turun temurun, dewasa ini, penduduk yang akan melakukan perjalanan untuk berdagang, biasanya membunuh makhluk hidup dan […]
Baca selengkapnya...MATAKABHATTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Jika mengetahui hukuman,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai (perayaan) makanan untuk orang-orang yang telah meninggal. Saat itu, para penduduk membunuh kambing, domba, hewan-hewan lainnya, dan mempersembahkan mereka dalam sebuah ritual yang disebut perayaan makanan untuk mereka yang telah meninggal demi keselamatan […]
Baca selengkapnya...